Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
52. Sudah Tidak Murni Lagi


__ADS_3

Papi Ridho melihat ditangannya tersisa 3 cahaya, yang itu berarti dia udah nggak mungkin masuk dan nolongin Rion, akhirnya dia melemparkan sisa cahaya yang ada ditangannya, dengan memikirkan wajah anaknya. Dan seketika, Ridho merasakan perlahan tangannya berubah menjadi transparan. "Semoga cahaya itu bisa menolongmu, Nak!" ucap papi ridho


Sedangkan di dunia nyata, Reva makin ketakutan saat makin lama, wajah Ridho makin pucat. Ada lingkaran hitam di matanya.


Selama ini hari ke-4, jiwa papi Ridho berkelana. Dan selama itu pula, doa bersama dilakukan tiap malam.


"Va, lebih baik kamu makan dulu. Kamu udah seharian ini tidak makan,"kata Om Karan.


Gimana aku mau makan sedangkan suami dan anakku aja nggak tau kapan baliknya,"kata mami Reva,"


Om Karan menaruh piring, dia menyuruh asisten rumah tangganya buat bawa piring itu ke belakang, sedangkan dia masih duduk di ruang tengah dimana Ridho berbaring beralaskan karpet. Bangun-bangun pasti encok tuh papi!


Sebenernya kemarin semua dilakukan dengan cara yang cepat, makanya nggak ada waktu buat pindah ke akamar atau gimana. papi Ridho, langsung rebahan dan mulai mejamin matanya. dan sampai sekarang mata itu nggak juga terbuka. Begitu juga dengan pak sarmin yang sekarang duduk bersila, dengan membaca doa-doa.


Tiba-tiba, ada sebuah tarikan nafas dalam dari papi Ridho dengan mulut yang terbuka. Macam orang yang lagi kecekik gitulah.


"Ridho... kamu kenapa??!! Ridhooooooooo!" saking paniknya, mami Reva menggoyang-goyangkan badan suaminya.


"Reva, kamu yang tenang, Reva!" Om Karan menahan tangan Reva supaya nggak menggoyang tubuh Papi ridho.


"Iya, Mbak. Mbak yang tenang dulu..." tante Luri menimpali ucapan suaminya.


Segitu perhatiannya, Om Karan,.sampai-sampai dia selalu disamping Reva yang nungguin suaminya bangun dari tidur panjangnya.


"Pak, Pak Sarmin, Ridho kenapa, Pak?"  tanya Om Karan saat melihat, tubuh papi Ridho seperti mengejang.


Namun nggak ada jawaban dari pak Sarmin, bibirnya terus bergerak. Ada raut wajah seakan menahan rasa sakit yang teramat sangat.


Lagi-lagi, kalau bukan Luri yang jadi istri Om Karan, pasti udah cekcok sound 123 mulu. Ya gimana nggak, Om Karan sebegitu sayangnya sama Reva dan keponakannya. Semua acara kirim doa buat Rion, semua suruhan Om Karan yang ngurusin. Dia mah fokus sama Reva yang nangis mulu, mami reva yang ngerasa kalau dia nggak bisa berbuat apa-apa.


"Uhukkkkk," Papi Ridho terbatuk. dia membuka matanya perlahan.


"Mas, Mas Ridho? kamu masih hidup, Mas? kamu udah sadar? kamu udah bangun?" mami reva menyerbu papi ridho dengan banyak pertanyaan, lantas melepaskan tangan Om Karan yang sedari tadi menggenggam tangannya.


Papi ridho memiringkan badannya, dia merasakan dadanya seperti terbakar, "Akkkh, sakit..." ucapnya.


Mami Reva mengelus wajah pucat papi Ridho, dia segera memangku kepala suaminya. Sedangkan Om Karan beralih pada pak Sarmin begitu juga Luri.


"Pakdhe....." panggil Luri.


Pak sarmin tertunduk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


"Pak Sarmin kenapa?" tanya Om Karan pada istrinya.


Luri hanya bisa menggeleng, "Saya nggak tau, Mas..."


Pria tua itu tetap duduk dan menahan apapun yang dirasakannya kini,


Sementara di rumah bu Wati.


"Aada apa Biyung? kenapa Biyung gelisah? ada apa dengan Rissa? dia baik-baik saja kan?" tante Karla nanya nggak sabaran.


Bulir keringat membasahi kening bu Wati, "Ya, awalnya. tapi semua berubah...." ucap bu Wati.


"Berubah? apa nya yang berubah?"


"Biyung melihat ada nenek kamu disana, dia berusaha menyelamatkan Rissa, tapi anakmu itu. Anakmu nggak akan pergi, dia menjadikan dirinya tameng untuk melindungi seseorang..." kata bu Wati.


"Melindungi siapa? siapa, Biyung?' tante Karla makin panik.


"Dia gadis baik. Terlalu baik..." bu Wati nggak bisa menhaan tangisnya, saat dia mengingat tentang penglihatannya tentang cucunya yang kini mengambang diatas 8 bola cahaya yang saling berputar.


"Dera, suamimu sudah melakukan perjanjian dengan iblis. Dia menumbalkan anak yang dikandung Reva, namun karena lain suatu hal, anak reva terlindungi dan selamat. Dan saat ini, anakmu Rissa berusaha menggantikan posisi anak Ridho dan Reva,"


"Dari dulu, Biyung diberi tau nenekmu kalau Rissa bukan anak sembarangan, Karla. Dan jika iblis itu gagal mendapatkan Arion, maka Rissa yang harus jadi penggantinya..."


"Kenapa? kenapa harus anak Ridho?" tante Karla terkejut dengan fakta yang baru aja di dengarnya.

__ADS_1


"Karena Dera menaruh dendam dengan Reva,"


"Kenapa aku baru tau?"


"Biyung juga baru tau setelah dimimpikan nenekmu, Karla. Awalnya biyung kira karena ada Arion, maka Rissa akan selamat. Ternyata iblis itu begitu serakah, dia menginginkan keduanya, meskipun kekuatan Rissa sudah melemah..."ucap Biyung.


"Kita harus selamatkan Rissa, Biyung! masa bodo dengan anaknya Ridho, yang jelas, Rissa harus keluar dari sana!" tante Karla memegang kuat tangan ibunya, dia nggak mau kehilangan Rissa.


Sedangkan Thalita yang ditinggal di rumah tantenya itu hanya bisa termenung sepanjang waktu. Dia sudah berangkat ke kemapus lagi, tapi ya gitu kelar ngampus dia langsung pulang. Dan malam ini dia lagi bengong aja di kamar Rion.


"Lu dimana sih, Bang? kenapa elu selalu nyebelin? elu seenaknya pergi gitu aja, bikin orang khawatir!" gumam Rissa mengambil satu foto di meja Rion.


Prangggggg!


Tiba-tiba foto Rion terjatuh.


Braakkkkk!!


Jendela terbuka dengan sendirinya, angin kencang masuk membuat tirai saling berterbangan.


Thalita berjongkok, dia mengambil foto selembar foto Rion tertimpa pecahan kaca dari pigura.


"Semoga bukan pertanda buruk," ucapnya.


Sedangkan di dunia kegelapan...


Arion mengingat kebersamaannya dengan Rissa.


'Aku relakan bola cahaya ini...' Rion bergumam dalam hatinya.


Dan bola cahaya itu pun bergerak menjauh dari Rion.


"Hahahhahahaha," sang raja iblis tertawa penuh kemenangan.


Rion segera menghampiri tubuh Rissa yang masih mengambang diudara, dia mengambil tubuh itu dan menjauh dari immortal fire.


Mata Rissa terbuka, bukan karena si iblis memenuhi janjinya, tapi karena ada dua kekuatan lain dari neneknya dan juga pak Sarmin yang berusaha menangkal serangan api dari raja iblis. Rissa hanya pingsan sesaat, sedangkan nenek Darmi yang jiwanya masih terbelit pun semakin melemah.


9 bola cahaya kini sudah lengkap. Mereka berputar dalam satu orbit. Sedangkan sang raja iblis, mematahkan tanduknya untuk menyatukan kekuatan yang bola cahaya dengan dirinya.


"Syukurlah, elu udah balik lagi!" Rion segera menyosor Rissa. Yeuuuhhh, Rion. Kagak tau tempat lu!


Dua melepaskan wajahnya dan segera membantu Rissa buat berdiri.


"Kita harus cari jalan keluar buat pergi dari sini!"


"Jangan bilang kamu udah kasih bola cahaya milik kamu, Rion?" Risaa menatap Rion tajam.


Rion hanya bisa mengangguk, dan seketika badan Rissa tambah lemes.


"Kalau begitu, nggak akan ada lagi jalan buat pulang," ucap Rissa lirih.


Sang Raja iblis membacakan satu kalimat dalam buku pengubah takdir, "KINI AKU SANG RAJA IBLIS, TELAH MEMPUNYAI 9 BOLA CAHAYA. SEKARANG GILIRANMU (TAKDIR) UNTUK MENULISKAN SEJARAH TENTANGKU, RAJA IBLIS SANG PENGUASA DUNIA...! HAHAHHAHAHAHAHA,"


Namun bukannya bola cahaya berputar dan berpendar, menyatu melebur menjadi satu, ke sembilan bola itu malah terpental dari immortal fire.


"KEDUA BOLA TIDAK MURNI!" suara wanita muncul dari api keabadian.


Satu persatu pemilik bola cahaya muncul, dan mereka menerima bola cahaya mereka masing-masing termasuk Rion dan juga Rissa .Bola cahaya mereka kembali. Namun, satu persatu bola cahaya itu pecah. Rion dan Rissa melindungi wajahnya dengan tangan.


"API KEABADIAAN TIDAK SUKA DIBOHONGI!" suara wanita itu membuat satu angin yang besar.


"APAAAAAAAA?!!" sang raja terbelalak, "TIDAK MUNGKIN, 9 JIWA MURNI SUDAH AKU TEMUKAN DAN SAATNYA KAU MEMBUATKU HIDUP DALAM KEABADIAN!" sang raja keukeuh.


Dan terpampang nyata gambar Rion dan Rissa. Ketika mereka berdua saling melindungi satu sama lain. Mereka bersedia untuk mengorbankan diri untuk melihat salah satu diantara mereka bisa hidup dan pergi dari dunia kegelapan. Dan tanpa mereka sadari, sudah terselip rasa cinta diantara keduanya. Itu yang membuat Rissa dan Rion udah nggak dianggap murni lagi.


"API KEABADIAN TIDAK MENERIMA CINTA DAN KESETIAAAN! KALIAN SEMUA AKAN HANCUR BERSAMA-SAMA!" ucap immortal fire.

__ADS_1


Suasana malam sangat mencekam.


Angin dan asap putih mulai keluar dari segala penjuru.


3 cahaya milik papi Ridho menyasar, mencari Rion. Dan setelah ketemu, cahaya itu mendekat ke arah Rion. Mereka bergerak bersamaan.


"Pergilah dari sana, Naaaak!" ucap seorang kakek.


Sedangkan akar yang membelit jiwa nenek Darmi terlepas dengan sendirinya.


Wanita renta itu pergi menjauh.


Pohon satu persatu tumbang.


Braakkkkk!!!


Kawanan kupu-kupu datang, mendekati Rion.


"Portalnya sudah terbuka!" ucap peri Keket.


"Dari mana aja lu?" Rion malah protes dengan kehadiran peri Keket.


"Aku harus mendekatkan radarku agar temen-temanku bisa menemukanku!" ucap si peri.


"AAARRRRRGHHHH!" sang raja berteriak.


Rion udah nggak biaa memanggil senjata apaoun, bola cahaya udah pecah, dia udah nggak punya kekuatan apa-apa lagi.


"Nenek buyut?" Rissa memandang nenek Darmi nggak percaya.


"Cepat pergi, Rissa, sebelum pintu itu tertutup untuk selamanya!"


"Kita pergi bersama-sama, Nek!"


"Tentu, tentu aku akan pergi, tapi ke alamku yang baru! cepat, bergeraklah, kamu masih punya kesempatan untuk ke.bali ke dunia nyata!" nenek Darmi menyuruh cucunya untuk pergi.


Angin semakin ganas.


Rion, Rissa, ke-7 jiwa pemilik bola cahaya dan juga nenek Darmi semuanya berlari, menghindar dari amukan api keabadian.


"Hhhhh, hhhh..." Rissa berlari dengan di gandeng Rion.


Braaakkkk!


Braaakkkk!


"Aaaaaaarggghhhhh!" pekikan suara sang raja iblis bikin kuping ngang ngung, saking kencengnya.


3 cahaya kemudian hilang saat tepat berada dalam beberapa pintu portal.


"Ini kita masuk ke pintu yang mana iniii?" tanya Rion.


Masing-masing jiwa masuk ke dalam pusaran yang berbeda-beda, begitu juga nenek Darmi.


Tinggal Rissa dan Rion yang masih nggak tau ke pusaran mana mereka harus masuk.


Braakkkkk!


Braaakkkk!


Dunia kegelapan seakan hancur. Bunyi gemuruh bikin kuping peng-pengan.


"Kita masuk bersama-sama," Rion menarik Rissa sebelum langit dunia kegelapan runtuh.


"Aaaaaakkkkkhhhh," Rissa memekik, begitu juga Rion, "Aaaaaaaaa..."


Mereka berpegangan saat tersedot kembali ke dalam sebuah pusaran waktu.

__ADS_1


__ADS_2