Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
55. Seperti Odellia


__ADS_3

Namun apa mau dikata, ternyata Defne luluh juga.


"Tinggalah disini untuk sementara, dan jangan sampai meninggalkan jejak. Paman dan bibi jarang sekali kesini," kata Defne saat mereka sampai di ruangan penyimpanan rumput untuk para domba, dan jerami karena di sampingnya ada kandang kuda.


"Maksud elu, gue disuruh tinggal bareng kuda? yang bener aja! seumur-umur gue belum pernah tinggal sama binatang," kata Rion.


"Kudanya ada disebelah, dan ini hanya tempat penyimpanan jerami dan rumput. Kalau kau tidak suka, silakan pergi!" Defne ketus.


"Ya ... ya, aku mau kok! lagian udah nggak ada pilihan lain," Rion secepatnya mengkonfirmasi, supaya si Defne nggak ngusir dia.


"Kalau ada yang datang, cepat bersembunyi. Kecuali jika kau mendengar kode 'Wek Wek' dariku," kata Defne.


"Apa? 'Wek Wek'? apa nggak ada kode yang lebih bagus dari itu?" Rion geleng-geleng kepala.


"Istirahatlah, aku akan pergi ke pasar," ucap Defne.


"Terima kasih," Lirih Rion saat Defne menutup pintu dari luar.


Rion melihat sekitar, "Ini nggak ada binatang melata kan ya? kayak ular misalnya..." gumam Rion. Dia duduk di sebuah kursi disamping meja yang terbuat dari kayu.


"Kenapa aku bisa sampai terpisah sama Rissa? kalau aku disini, berarti Rissa juga terdampar di negeri ini kan? masa iya aku doang yang nyasar?" Rion duduk sambil numpangin kaki kiri diatas kaki kanannya.


Sama dengan Rissa, rion pun mengecek kalung pedang miliknya, "Kok nggak ada?" Rion baru menyadari kalau dia nggak pakai kalung lagi.


"Apakah, kemampuanku udah hilang bersamaan dengan bola cahayaku yang musnah di dunia ghoib?" Rion berpikir.


"Terus gimana caranya aku bisa nyari Rissa kalau kayak giniiii? astagaaaaaaaa...?!" Rion menggebrak meja.


Brakkkkk!


Badannya lemes seketika, makin lama lagi dia bisa pulang ke dunia nyata.


Sedangkan di negeri yang sama dengan Rion.


Rissa masih bersembunyi di dalam kolong. dia melihat beberapa kaki wanita masuk ke dalam kamar sang puteri. Dia tutup mulutnya mencoba mengatur napasnya supaya nggak ketauan. Kayaknya wanita-wanita itu para pelayan yang mengambil pakaian kotor dan juga menaruh makanan, soalnya kayak ada bau-bau yang bikin perut Rissa keruyukan.


'Please perutku jangan bunyi, aku takut mereka bisa mendengarnya...' kata Rissa dalam hatinya. Sekarang bukan mulutnya aja yang dia pegang, tapi perutnya juga, Rissa merasakan lapar yang teramat sangat.


Setelah pekerjaan mereka selesai, beberapa pasang kaki wanita itu pergi keluar dan menutup pintu secara perlahan.

__ADS_1


'Astaga, sampai kapan aku harus bersembunyi disini?' batin Rissa.


Setelah beberapa lama menunggu akhirnya ada suara pintu di buka, dan terdengar suara sepatu menghentak lantai.


"Rissa ... keluarlah, in aku Odellia..."


Rissa pun perlahan keluar dari kolong tempat tidur, masih untuk selimutnya menjuntai menutupi kolong ranjang, jadi dia bisa aman bersembunyi disana.


"Ikut aku, kita harus bicara..." kata Odelia, yang mempunyai sedikit rencana untuk orang yang dengan ajaib berada di kamarnya.


Rissa mengikuti kemana Odeliia pergi, kamar ini begitu luas, sampai ada meja khusus untuk oellia makan.


"duduklah," Odellia menunjuk kursi yang berhadapan dengan dirinya.


Begitu Rissa duduk, ada suara 'kruuuuk, kruuuk' yang berasal dari perut Rissa.


"Astaga, kau lapar? sudah kuduga, makanlah dulu, baru kita akan bicara," Odellia tertawa.


"Aku akan mengunci pintu, supaya kau bisa makan dengan tenang," lanjut sang puteri. Odellia pergi ke arah pintu sedangkan Rissa mulai mengambil makanan yang tersaji di hadapannya. Ketika suap demi suapan masuk ke dalam mulutnya, dia merasa perutnya semakin membaik.


Odellia kembali, dia duduk memperhatikan Rissa yang makan dengan lahapnya.


"Pakaianmu sungguh aneh..." kata Odellia.


"Jangan makan sambil bicara karena itu dianggap tidak sopan," kata Odellia, Rissa yang mendengarnya langsung kicep. Dia fokus aja makan, dan meneguk minumannya setelah perutnya udah kenyang.


Rissa mengelap mulutnya dengan sapu tangan putih yang disiapkan di meja itu.


"Baiklah, kau sudah kenyang sekarang?" tanya puteri Odellia.


"Sekarang ceritakan kenapa kau bisa datang kemari..." lanjutnya


Rissa bingung harus memulainya darimana, lagian dia udah ngejelasin juga secara singkat, atau mungkin sang puteri lupa setelah menemui seseorang tadi.


"Singkatnya saja, aku bersama temanku, kami masuk ke dalam dunia para iblis, lalu saat kita akan pulang. Kami masuk ke dalam pusaran waktu yang salah, akhirnya bukannya kembali ke dunia kami yang sesungguhnya, kami malah terhempas ke negeri ini. Itu juga kalau dia ikut nyasar kesini, tapi tidak mungkin kalau dia saja yang bisa pulang sedangkan aku tidak. Kemungkinan dia ada di negeri ini, tapi aku juga tidak tau dimana..." Rissa berharap Odellia mempercayai ucapannya.


"Siapa nama temanmu itu?"


"Arion," kata rissa lugas.

__ADS_1


"Arion? nama yang bagus..." gumam Odellia.


"Apa?" Rissa menaikkan satu alisnya, heran.


Odellia menggeleng, "Tidak apa-apa..."


"Baiklah, sepertinya kau orang jujur, dan aku mempercayaimu. Untuk saat ini kau boleh tinggal disini bersamaku. Dan sekarang ganti lah bajumu, kau bisa memakai pakaianku..." kata Odellia.


"Tentu kau harus mandi dulu..." Odellia menyuruh Rissa untuk berdiri.


"Tapi..."


"Tidak ada satu orang pun sanggup menolak keinginanku," Odellia, mendorong Risa ke kamar mandi yang ada di kamarnya.


Sedangkan Rissa yang awalnya akan mencari Rion pun hanya bisa pasrah, "Gimana aku bisa mencari Rion kalau aku ditahan di istana ini?" gumam Rissa.


Rissa mulai berendam, pikirannya mengawang- awang, terutama pada bagian sosor menyosor saat di alam para iblis, " Astaga, kenapa aku ingatan itu muncul di pikiranku saat ini?!! sadar, rissa sadarrrr...?!!" Rissa menepuk pipinya sendiri.


Rissa melanjutkan mandinya, setelah selesai, dia membalut badannya dengan kain yang diijadikan handuk.


Tok!


tok!


"Apa kau sudah selesai? kalau sudah, keluarlah!" kata Odellia dibalk pintu.


Rissa pun keluar dengan badan yang segar. Dia melihat ada gaun diatas ranjang super besar dan super empuk itu.


"Pakailah, akan terasa aneh jika kau memakai baju dari negaramu," kata Odellia.


Rissa pun menurut, 'Aku nggak tau apa yang kamu rencanakan, tapi semoga itu nggak membuat aku dalam kesulitan," kata Rissa dalam hatinya.


Odellia, mengikat tali yang berada di punggung Rissa.


"Akkh! jangan terlalu kencang, aku nggak bisa bernafas," kata Rissa.


"Maaf, tapi aku suka jika diikat dengan kencang. Ini akan membuat tubuhmu lebih menawan, tapi baiklah akan ku longgarkan,"


Mendengar kata menawan dia pun teringat dengan Arion Putra Menawan, 'Semoga tuhan mempertemukan kita, jika kamu berada di negeri yang sama denganku saat ini, Arion...' batin Rissa.

__ADS_1


Odellia mendandani Rissa seperti dirinya, "Sempurna!" puji Odellia.


"Sekarang kau dan aku sudah tidak bisa dibedakan lagi, kecuali rambut hitammu itu. Tapi tidak masalah, kita akan mencari alasannya yang tepat!" ucap Odellia.


__ADS_2