Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
90. Kamu Anak Baik


__ADS_3

Sssssshhhreeeeeeet!!!!


Rioooon dengan sekuat tenaga menghentikan laju larinya, "Eeeeerrrggghhhgggg!"


Cyyyyyiiiiiiittttt!


Papi Ridho merem, dia ngeri kali aja mereka nabrak sesuatu yang ada di depannya.


Tapi setelah beberapa saat, papi Ridho membuka mata dan mereka akhirnya bisa berhenti dengan tepat di depan sebuah cahaya putih yang kini meledak.


Ddddduaarrrrrr!


"Astaghfirullah!" spontan papi Ridho mengusap dadanya.


"Ya ampun, udah brentinya mendadak, bikin gue kaget pula! hhh .. hhh," dada Tion naik turun, dengan hidung yang kembang kempis.


"Turun, Pih!" ucap Rion yang masih ngos-ngosan. Ya iyalah, dia udah lari ratusan kilometer, untung sepatu dia nggak jebol. Eh, si papi masih nyaman aja nemplok di punggungnya.


Hap!


Papi Ridho turun.


Peri Keket yang ada di kantongnya pun terbang, mendekati Arion.


"Aku lupa memberitahu, kalau ... aku tidak bisa menembus kastil itu! aku hanya bisa sampai disini,"


"Kenapa?"


Peri Keket menggeleng, "Mungkin da kekuatan yang melindungi tempat itu,"


Kalau dilihat secara kasat mata, nggak ada pagar ataupun sesuatu yang menyelimuti bangunan itu.


Berkat pedang Rion yang bercahaya, papi Ridho jadi bisa ngeliat ke sekeliling. Dia mundur beberapa langkah buat ngambil ranting pohon yang jatuh di tanah.


Papi Ridho mendekat, "Buat apa, Pih?"


"Nah yang kayak gini nih kamu perlu belajar dari papi yang udah jadi alumni kesasar di alam ghoib! nih liat ya?"


'Punya papi gini amat ya Allah, jiwa coolnya luntur kalau udah gabung sama anak dan istri!' batin Rion.


"Ck, papi. Papi ngapain maju-maju?" Rion mencegah papinya, dia takut papinya kenapa-napa. Orang cahaya penunjuk jalan aja mledak pas di depan situ. Apa kabar mereka yang cuma orang biasa?


"Kita perlu ngecek, Rion! apa yang terjadi kedua pria yang ganteng dan sama-sama menawan ngelewatin daerah ini, kamu lihat kan? nggak ada pembatas atau apapun disini," papi Ridho ngulurin tangannya.


Dan....


Krekkk!


Ranting itu terpotong menjadi dua.


Papi Ridho maupun Rion kompak bergidig ngeri, ngebayangin kalau mereka melewati daerah yang kalau diperhatikan dengan seksama, disana ada dua pohon yang berjejer, berhadapan seperti sebuah pembatas.


"Huufhh gimana nih?!!" Rion tambah stres.


"Ini bangunan pasti udah dibacain mantra sihir!" tambah Rion.


"Simpan pedangmu itu!" kata papi.


Rion melemparkan pedangnya ke udara, dan sesuatu jatuh dari atas.


Hap!"

__ADS_1


Benda itu segera ditangkap oleh tangan Rion.


"Sebuah liontin berbentuk pedang," Rion menyimpannya di dalam saku.


"Rion kali ini kita nggak bisa hanya menggunakan kekuatan, tapi juga harus menggunakan taktik atau strategi..." kata papi Ridho.


Mata mereka berusaha beradaptasi dengan keadaan sekitar yang gelap gulita. Masih untung bulan bersinar terang, jadi masih ada yang menghiasi langit malam yang lagi aepi bintang.


"Terus apa yang harus kita lakuin?" Rion menatap wajah papinya yang hanya terlihat samar-samar.


"Kamu teriakin aja namanya! dia pasti keluar," papi nunjuk kastil tua yang berdiri kokoh yang nggak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Yang bener aja, Piih?!! yang ada aku bisa digondol penyihir itu dong"?


"Lah kan emang itu tujuannya! biar kamu bisa masuk kesana, tanpa harus ngeluarin tenaga!" kata papi Ridho enteng bener.


"Papi aja kalau gitu! dia kan juga suka sama papi!"


"Papi kan udah punya mami, Rion! bisa dikruwes bibir papi yang ada! Lagian ini kan cuma buat bohong-bohongan Rion!"


"Ya walaupun bohong-bohongan, Rion juga Ogah, Pih! Rion yakin, itu perempuan udah tua ******. Nggak mau ah, nggak pokoknya!"


"Ya iya sih..." papi Ridho mumet gimana muter otak supaya bisa masuk ke menara itu terus bawa kabur Rissa, dan balik ke dunia nyata bareng Rion juga.


'Pantesan nih bocah nggak balik-balik, ternyata ada aja rintangan dalam hidupnya!' batin si papi.


Kedua pria beda usia itu aaling memandang, kemudian kompak nengok peri Keket.


"O-oow? kenapa kalian melihatku seperti itu?" peri Keket mundur beberapa senti, dia terbang dengan sayapnya.


"Bisa kah kamu menolong kami berdua? pasti ada jalan lain untuk masuk ke sana," ucap papi Ridho pada peri Keket.


Srakkkk!


Sreeekk!


Sreeekk!


Mereka mendengar langkah kaki seseorang. Papi Ridho menaruh telunjuknya di bibir, dia menyuruh peri Keket mau pun Rion mepet ke pohon. Mereka bersembunyi.


Apa mungkin ada kang paket? entahlah, mereka masih mengawasi sampai saat ini.


"Apa mungkin ada orang yang akan lewat sini? ke kastil itu?" bisik Rion.


"Bisa jadi bisa jadi," sahut papi nggak kalah lirihnya.


Dari kejauhan mereka ngeliat ada sebuah cahaya lentera yang menembus hutan yang gelap. Karena saking heningnya, mereka pun bisa mendengar suara langkah kaki dan gumaman seseorang.


Sedangkan Anna yang disuruh nyiapin makan malam disuruh nangkep rusa malam-malam begini, katanya Dorothy pengen makan hati rusa.


"Kemana lagi aku harus mencari rusa? bahkan aku tidak yakin ada binatang itu di hutan ini! Dasar nenek tua! makin lama makin ngelunjak!" gumam Anna.


Dia memegang sebuah panah dan juga lentera buat menerangi jalannya.


"Jangankan Rusa, ular pun akan bersembunyi jika langit sudah gelap begini, ini bahkan sudah melebihi jam makan malam!"


Seketika dia keinget sama adiknya, "Sabar Alfrida, kakak akan membebaskan kamu! walaupun aku harus mengorbankan puteri kesayangan raja. Aku tau setelah ini kita akan menjadi orang paling dicari karena menjadi penghianat istana, tapi tidak masalah. Kakak akan membawamu ke negeri seberang. Dan kita akan memulai hidup yang baru disana. Tidak ada Alfrida dan Anna, kita akan menjadi orang lain. Tidak akan ada orang yang mengenali kita, Alfridaaa..." Anna menangis dalam kesendiriannya. Dia meletakkan lentera di tanah. Dia jongkok, merasa lelah dengan apa yang dilakukannya saat ini.


"Hiksss ... kakak akan bawa kamu pergi, Alfrida. Sebentar lagi kita akan terbebas. Kau harus bertahan dan jangan menyerah!" lanjutnya


Dan hal itu kedengeran si telinga papi Ridho, dan si papi kasih kode-kode mata yang dijawab kedua bahu Rion yang diangkat dan dan diturunin secara bersamaan.

__ADS_1


"Masa kamu nggak tau sih?" kali ini papi yang gregetan sama anaknya.


"Apaaaa?" Rion lirih, dia beneran nggak ngerti.


Papi Ridho nunjuk ke arah gadis yang lagi jongkok, sambil nangis. Dia sembunyiin wajahnya di kedua tangan yang ditekuk memeluk lulutnya.


"Ya terus?" Rion masih belum nangkep.


Ngeliat anaknya yang dikode 'hah hoh hah hoh' aja, papi Ridho pun bergerak dengan langkah yang nyaris nggak kedengeran. Dia jalan dengan penuh kehati-hatian.


"Piiihhh, papiiiiihhh!" panggil Rion, bisik-bisik. Tapi sang papi boro-boro nengok. Dia malah fokus mendekati gadis yang menjadi kaki tangan Dorothy.


Anna yang lagi nangis bombay nggak nyadar kalau dibelakangnya lagi berdiri sesosok pria tampan dan menawan disegala jurusan.


Gadis itu membuang nafas, dia mengusap air matanya menggunakan lengan bajunya.


"Aku harus mencari rusa itu!" gumam Anna.


Dan ketika dia mengangkat wajahnya, Anna melihat sebuah bayangan si belakangnya. Sengan ragu Anna berdiri dengan mengangkat lenteranya.


"Jangan takut! kami akan membantumu!" ucap papi Ridho.


Anna pun berbalik, dan betapa terkejutnya dia saat melihat pria yang berdiri dengan gagahnya.


"Aku akan membantumu membebaskan adikmu malam ini juga! asalkan kau juga membantu kami" lanjut papi Ridho. Sedangkan Anna masih mematung, nggak tau apa yang dilakukan.


Rion dan peri Keket pun ikut mendekat ke arah papi Ridho.


"Kau?" mata Anna membulat saat melihat Arion.


Pria yang kini sangat diinginkan oleh Dorothy.


"Aku harus pergi! anggaplah aku tidak melihat kalian disini! kalian bisa meninggalkan tempat ini!" kata Anna yang agak takut gitu ngeliat tatapan tajam Rion.


"Anna .. kita mempunyai tujuan yang sama, lebih menguntungkan jika kamu berpihak pada kami, Anna..." ucap papi Ridho dengan suara cool dan bikin hati adem.


"Anna?" Rion kayak familiar dengan nama itu.


"Astaga, kau?! kau ini pelayan puteri Odellia?!!" Rion menunjuk wajah gadis yang memegang lenteranya. Dia berjalan mundur.


"Rion?!" papi Ridho menggeleng. Dia nggak mau anaknya ini bikin Anna merasa terintimidasi.


"Anna! kita memiliki tujuan yang sama. Kamu ingin membebaskan adikmu yang ditahan penyihir itu, dan kami juga ingin membebaskan Rissa, beserta puteri Odellia, dan satu gadis lain yang ada disana!"


"Kamu tidak perlu menjadi budak Dorothy, karena kami akan membantumu untuk membebaskan Alfrida! aku yakin dia sudah menunggumu, adikmu sudah menunggumu, Anna!" papi Ridho berusaha ngebujuk Anna.


"Kau bisa saja---" Rion yang baru ngomong tiga kata langsung dibekep sama papi nya.


"Kami akan membantumu, kamu bisa hidup bebas setelah ini! kamu bisa pergi ke negeri mana pun yang kamu inginkan bersama Alfrida. Kamu mau kan?" lanjut papi Ridho.


Anna mengangguk pelan, tapi seketika dia ngeliat ke arah Rion.


"Tenang saja, kami berada di pihakmu!" papi Ridho ngomong sangat lembut. Dia ngulurin tangannya, Anna akan mundur. Tapi tangan papi Ridho udah tanggung ngelus kepalanya, "Aku yakin kamu anak yang baik," kata papi Ridho.


Usapan di kepalanya membuatnya teringat dengan mendiang ayahnya yang juga selalu melakukan hal itu sembari mengucapkan kalimat yang sama, 'Kamu anak yang baik...'


Seketika hati Anna pun tersentuh, dia mengangguk tanda persetujuan dengan papi Ridho yang kini menurunkan tangannya kembali.


"Aku Ridho dan bocah kamvret ini, Rion..." papi Ridho pun ngelepasin bekepannya.


"Astaga, papi! suka banget deh bekep-bekep orang!" Rion protes, padahal dia juga sama kayak gitu.

__ADS_1


"Oh ya, dan ini peri Cathlyn!" papi Ridho mengenalkan saat peri Keket ningkring di bahunya.


Papi Ridho lantas menengok ke arah kasti tua, "Yang pertama kita harus lakukan adalah, masuk ke dalam sana...." lalu dia menoleh lagi menatap Anna. Gadis itu hanya mengangguk.


__ADS_2