
Angin besar seakan menyerang sebuah bangunan yang ditinggali papi Ridho dan mami Reva. Ya angin itu berputar di halaman rumah itu saja.
Dan sebuah cahaya biru turun dari langit membuat sebuah ikatan magnet antara si cahaya biru dengan kalung yang saat ini memancarkan cahaya yang sama.
"Aarrghhh," Rion memekik dan sontak melepaskan pegangan tangannya pada istrinya. Dia terbawa oleh kalung yang terangkat dan membawanya mendekati pusaran angin itu.
Rissa hiteris, "ARIOOOOON...!" teriaknya. Rissa berusaha mengejar Arion yang diseret dengan tangan memegang kalung yang mencekik lehernya.
"RION...?!" papi Ridho nggak tinggal diam, dia berusaha mengejar putranya.
Namun...
Drrrrrtttttt!
Paoi Ridho melepaskan Rion saat merasakan aliran listrik yang membuatnya terkejut.
Badan Rion condong ke belakang, sedangkan kakinya terus berusaha untuk mengerem, 'Astaga, ada apa ini?! ada apa dengan kalung ini?!' batin Rion yang tangannya udah berdarah karena mencoba melepaskan kalung yang memberikannya sengatan listrilk dan juga rasa dingin yang bersamaan.
"Arion!" Rissa menangis dan mencoba menggapai suaminyaaa.
"Jangan sebtuh Rion, papi akan mencari sesuatu untuk menarik Rikn!" kata papi Ridho yang berlari masuk ke dalam.
Mami Reva yang udah sampai di lantai atas, kaget dengan jendela yang terbuka dan beberapa kali ber terbuka dan tertutup seperti diamuk oleh angin.
"Ada apa ini?" ucapnya mendekati jendela, dan melihat sebuah pusaran angin yang disertai dengan petir.
Matanya membelalak saat melihat anaknya terseret dan sudah sejengkal dengan pusaran itu.
"JANGAN MENDEKAAAAATTT, RISSAAA...! Aaaaaarrgghhhhhh," teriak Rion.
"ARION? ANAKKU...?!" mami Reva yang kecewa dengan sikap anaknya lantas lari keluar dari kamarnya dengan tangis, ketakutan.
__ADS_1
"ARIONNNN, MAAFKAN MAMI, RIOOON?!!" mami Reva turun sampai dia ngagk sengaja tergelincir dan jatuh dari tangga.
"REVAAAAAAAA....?!" papi Ridho yang melihat istrinya terguling dari lantai atas pun segera meraih tubuh istrinya yang mengeluarkan darah di bagian kepala.
"Revaaaa? sadar Revaaaa?!!" papi Ridho yang tangannya penuh dengan darah pun gemetar memangku badan istrinya. Sedangkan di luar masih jelas teriakan Rion yang kenceng tapi nggak bikin tetangga kanan kiri pada keluar buat nyari tau ada apa di luar.
"Arion?!!" hati papi Ridho bimbang, dia bingung mana yang harus ditolongnya lebih dulu. Istrinya atau anak yang disayanginya.
"Reva bangun, Revaaaa?!" papi Ridho menggoyangkan tubuh istrinya, dia putus asa. Karena jeritan Rion terdengar sangat jelas disambut dengan tangisan Rissa yang terdengar histeris.
"Revaaaaarrghhhhhhh?!" teriak papi, dia takut kalau Reva akan meninggalkannya berbarengan dengan Rion yang sedang ditarik oleh kekuatan yang datang secara tiba-tiba.
"Aku akan kembali, aku nggak bisa membiarkan Rion pergi..." ucap papi Ridho yang meletakkan istrinya di bawah.
Papi Ridho mencari barang di gudang, dengan tangan yang penuh dengan darah dia mulai mencari barang yang sekiranya bisa menarik Rion tanpa harus menyentuhnya, "Dapat!" tangan papi Ridho menyambar sebuah tambang atau tali dan sebuah tongkat yang biasa digunakan buat ngeganti lampu.
Sementara di luar, tangan Rion sudah licin karena cairan merah yang berasal dari telapak tangan yang mencoba menahan kalung yang terjulur menariknya masuk ke dalam pusaran angin.
"Aarrrrrrghhhh," Rissa menarik badan Rion dari belakang. Meskipun rasa sakit menghujam dirinya, dia menahan itu demi bisa mempertahankan Rion agar tidak ikut terseret ke dalam pusaran kekuatan yang dia sama sekali nggak tau dimana kekuatan itu berasal.
"Ng-nggakk, rrhhhggg!" Rissa terus melingkarkan tangannya di perut Rion.
"Aaarrghhhhhhhhhh?!!" Rissa merasakan ribuan es menghujam tubuhnya, sakit.
"Aaku akan menahanmu, jadi jangan menyerah. Lepaskan kalung itu, Rion!" kata Rissa.
"Sulit!" Tangan Riin sudah berlumuran darah.
"Bertahanlah," Rissa melepaskan pelukannya dan beralih pada kalung yang ada di leher Rion.
Namun baru menyentuhnya saja, dia merasakan sakit yang teramat sangat, "Aaarrghhhkkk?!!" Rissa terjatuh saat tersengat kalung itu.
__ADS_1
Sreetttt!
Perlahan kaki Rion maju, mendekat dan semakin dekat dengan pusaran angin yang ditengahnya terdapat cahaya biru yang beberapa kali menggelegar seperti petir.
"Aku menginginkannya kembali," suara menggema disitu dengan diiringi suara petir dan kilat yang saling menyambar.
"Ariooooonnnn?!" teriak Rissa saat bola matanya melihat suaminya hampir menyentuh pusaran angin itu.
"ARIOOOOIN, BERTAHANLAH, NAK?!" papi Ridho melemparkan tali yang dia buat lingkaran di ujungnya.
Namun sayang...
Begitu tali itu dilemparkan, tubuh Rion sudah terambil oleh kekuatan yang memaksanya masuk ke dalam pusaran, "Aaaarrrrrrrghhh!" tubuh Rion mengejang saat berada di dalam sana.
"Aarionnnnn?!!" Rissa yang terjatuh berteriak dengan air mata yang membasahi pipinya, dia lantas bangun dan berlari.
"Risssaaa, jangan, Naaaaaaaaak?!!" teriak papi Ridho saat melihat menantunya menyusul Arion.
Lemas sudah kaki papi Ridho, dia menangis sejadi-jadinya, merasa sangat tidak berguna.
Dia melihat tubuh Rion ditangkap oleh Rissa, Kepala merek mendongak ke atas sedangkan keduantangan mereka saling menggenggam.
Kedua tubuh itu terangkat ke atas, dengan jeritan yang saling bersahutan
"ARIONNN," teriak seseorang dari arah depan, dia Karan Perkasa.
Papi Ridho yang ngeliat Om Karan berlari dengan wajah yang cemas pun heran, karena seolah pria itu sudah mengetahui apa yang terjadi, "Astagaa, kita harus menolongnya!"
"Arionh..." suara mami Reva yang keluar dengan sebagian wajah yang berlumuran darah.
"Revaaaa," teriak kedua pria itu bersamaan.
__ADS_1
Dia melihat anak kesayangannya kini bersama seorang gadis di dalam pusaran yang membuat mereka mengambang.
"Arion, Arion...!" teriaknya memanggil putra semata wayangnya.