Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
121. Belum Berakhir


__ADS_3

Menyusul mobil papinya dari belakang, Rion yang gantengnya paripurna dan sempurna di segala jurusan baik dalam kota maupun luar kota itu, lari menuju rumahnya.


Udah lama nggak olahraga bikin Rion lari bentar aja udah grojosan, keringet udah banjir sebadan-badan.


Nyampe di dalam rumah dia copot tuh sepatu, kalau satu senti aja tuh sepatu masuk ke dalem, bisa dilempar tuh alas kaki ke genteng plus dibonusin maminya yang merepet dua jam, ngalah-ngalahin orang yang lagi konser.


"Mami kenapa?" tanya Rion saat maminya nyender di bahu papinya dengan keadaan yang lemes puol.


"Lemes dia, keluar terus makanannya,"


"Nggak bawa ke rumah sakit aja, Pih? biar diinfus!"


"Rumah sakit? nggak ada, nggak ada! aku nggak mau ke rumah sakit, Mas! ntar disuntik, nggak mau nggak mau!" mami Reva bangun dari bahu suaminya.


"Jangan percaya mulut bocah itu! tenang aja, aku nggak akan bawa kamu ke rumah sakit kok, Sayang. Kan aku dokternya..."


Sedangkan Rion cuma bisa senyum dia ngambil air di kulkas, dia tuang ke gelas dan meminumnya.


Glek!


Glek!


Glek!


"Wajah mami pucet, Rion takut ada apa-apa sama mami. Kalau mau ke rumah sakit kabari Rion, ntar Rion yang anter," kata Rion.


"Nggaaaaaaakkkk!" teriak maminya.


Sedangkan Rion udah kabur duluan ke kamarnya, dia celingukan ternyata si Telolet udah pindah ke kamarnya.


Dan pas Rion mau ke kamar mandi pintunya dikunci.


'Kenapa dia nggak pakai kamar mandinya sendiri? kenapa dia harus nebeng kamar mandi gue?!!" Rion kesel banget.


Dan pas dibuka lagi...


Ceklek!


Pintunya gampang banget dibuka, nggak kayak tadi.


"Telolet?! lu di dalem?" panggil Rion diiringi ketukan pintu.


Tapi nggak ada jawaban.


"Gue masuk nih!" ucap Rion lagi.


Nggak ada jawaban apa-apa dari dalem, Tion pun masuk dan emang nggak ada siapa-siapa.


"Nggak mungkin pintu ini rusak, kan?" gumam Rion.


Dia pun nggak mau mikirin soal pintu yang tiba-tiba kekunci dan bisa kebuka sendiri, Rion buka baju dan mengguyur badannya dengan rintikan air hangat yang keluar dari shower.


Lagi fokus sampoan, tiba-tiba dia ngerasa kalau ada yang menyentuh punggungnya. Rion yang tau itu bukan halu-halu belaka, segera menyudahi mandi paginya dan nengok ke belakang.


Kosong!

__ADS_1


Nggak ada siapa-siapa.


'Mungkin makhluk iseng!' batin Rion.


Rion meraih handuknya, dan segera menggosok rambutnya pakai handuk.


"Bukannya semuanya udah berakhir? ataukah ini arti dari mimpiku semalam? kalau apapun yang terjadi disana nggak mengubah apapun tentang gue yang bisa ngeliat makhluk ghoib?" gumam Rion.


Rion yang udah seger lantas penasaran, "Jangan-jangan yang semalam ke kamar gue bukan Telolet?"


Dia yang udah rapi dan wangi pun pergi, melesat ke kamar sepupunya yang seringnya bikin emosi itu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Teloleeet? buka pintunya!" gedor Rion.


Ceklek!


"Ada apaa?" Thalita kreyep-kreyep.


Rion fokus pada baju piyama panjang yang dipakai Thalita.


"Kok lu pakai baju itu?" tanya Rion.


"Baju? piyama? emang kenapa?" Telolet ngecek bajunya kali aja yang robek.


"Nggak ngerti ah, nggak jelas!" Telolet mau nutup pintu tapi dicegah Rion.


"Nanya apaan?"


"Semalem elu masuk ke kamar gue?" tanya Rion.


Thalita memutar matanya, dia mencoba mengingat-ingat, "Mungkin..."


"Kok mungkin sih?"


"Iya iya aku masuk dan tisur di sana, abisnya aku takut habis nonton film horor!" jawab Thalita, dan sesaat kemudian hati Rion lega banget.


"Dah sana tidur lagi!"


Grepp!


Rion nutup pintu dari luar.


"Syukurlah yang glosoran di kamar gue bukan setan!" ucap Rion dia kemudian menuruni anak tangga.


Perutnya mendadak ingin diisi lagi, dan ternyata ada bau-bau masakan yang tercium di hidungnya.


"Nggak mungkin mami yang masak kan?" gumam Rion. Langkahnya terhenti saat melihat pria yang mirip dengannya gagah dengan sebuah celemek hitam yang menutupi badannya.


"Rion? sini bantuin papi,"

__ADS_1


Rion gelengin kepala, "Papi ajah, nanti malah rasanya nggak karuan,"


"Bener juga, katanya kalau masakan nggak boleh banyak tangan. Nanti papi mau anterin kakek Sarmin ke kampung halamannya, kamu janga kelayaban ya? jagain mami. Dia lagi sakit,"


"Sakit maagh doang kan?"


"Tak ulek nih kamu bilang sakit magh doang?!" papi nunjukin ulekan.


"Mami itu sakit magh akut, dia sampe nggak bisa masukin makanan ke dalam perutnya. Jadi tolong kamu sama Thalitha gantian jagain. Pejetin kakinya, pastiin minumnya terpenuhi," papi kelewat telaten banget.


Baik nenek Rumi dan juga nenek Ivanna, udah pulang kemarin. Dianter sama supir-aupirnya Om Karan. Emang kalau soal bantu membantu Om Karan emang sat set banget, apalagi sama nenek Ivanna. Om Karan udah anggep nenek Ivanna kayak ibunya sendiri.


"Jadi selain papi rajin nge-gym, otot papi terbentuk karena sering ngulek begini, Rion!" ucap papi yang lagi bikin sop iga kesukaan mami.


"Kalau masak sop iga, jangan lupa dipreato dulu iganya, biar empuk!" papi ngejelasin cara masak yang dia tau.


"Gimana? kamu udah nyari kampus mana yang sreg buat kamu?"


"Udah,"


"Kok cepet banget? udah nggak sabar ya pengen keluar dari rumah?!" celetuk papi yang lagi matiin panci prestonya.


Deg!


'Kok papi tau?' batin Rion.


"Nggak usah heran. Papi dulu juga gitu, pengen tau rasanya merantau. Pengen tau gimana rasanya kangen masakan nenek,"


"Tapi kayaknya aku nggak bakal kangen masakan mami!"


"Bisa dikruwes kamu kalau mami denger!" papi Ridho nakut-nakutin. Papi matiin kompornya.


Dia ambil mangkok dan mengisinya dengan nasi, terus ditumplekin tuh di atas piring.


"Papi cinta banget sama mami?"


"Banget lah, kalau nggak? nggak mungkin papi bisa beryahan sampai sejauh ini," ucap papi yang masukin iga sapi yang habis di presto ke panci sup, dia lanjut masak lagi tuh.


"Apa yang papi suka dari mami?"


"Apa ya?" papi Ridho tampak mikir keras.


"Apa ya?" papi masih belum nemuin jawabannya.


"Berarti nggak ada hal baik dari mami yang bikin papi jatuh cinta?"


"Heh, mulut kamu! hati-hati kalau ngomong, masa iya nggak ada hal baik dari mami?! sembarangan kamu!"


"Terkadang kita nggak butuh sebuah alasan untuk sebuah perasaan cinta, Rion. Yang jelas, cuma mami kamu yang bisa bikin papa yang cool bisa jadi somplak begini. Dan nggak tau kenapa, papi pengen ngelindungi mami kamu terus. Kalau ditanya kenapa ya, papi nggak tau..." jawab papi Ridho.


"Tapi kalau ngeliat kamu, sifat kamu. Papi kayak ngeliat cerminan mami kamu, Rion. Walaupun muka, tetep miripan sama papi. Tapi tindak tandukmu dan cara kamu bertahan, cara kamu care sama orang, semua itu persis kayak mami kamu. Dia terlalu care sama orang, sampai terkadang dia membahayakan dirinya sendiri hanya untuk menolong oranglain," jelas papi yang ngelepas celemeknya dan mulai mematikan kompornya.


"Papi anterin makanan buat mami. Tunggu papi, ya? kita sarapan bersama!" ucap papi Ridho.


Rion hanya ngangguk.

__ADS_1


"Minta tolong mbak Rina supaya pindahin supnya!" ucap papi yang udah ngeloyor bawa nampan.


"Ya!" sahut Rion singkat.


__ADS_2