Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
96. Apa Yang Kau Berikan Padaku?


__ADS_3

Dorothy bangun dengan wajah yang sangat murka, "APA YANG KAU BERIKAN PADAKU, GADIS BODOH?!!!!"


Anna yang melihat wanita itu bangkit pun hanya mundur satu langkah demi satu langkah, bukan gentar. Tapi dia ingin menutup pintu.


Grep!!


'Aku harap kau hidup dengan baik, Alfrida?!!' batin Anna. Dia tau resiko apa yang diambilnya saat ini.


"KAU MAU MAIN-MAIN DENGANKU, HEM?! SIALAAAN?!!!' Dorothy secepat kilat berada di depan Anna, dia menjambak rambut panjang gadis itu, dan membenturkan kepalanya ke tembok.


"KAU?" mata Dorothy berubah menjadi hitam legam, seperti warna ikan yang sudah disulap oleh Anna. Daging ikan itu dibentuk menyerupai hati rusa. Dan ketika Dorothy memakannya, ada rasa panas dari tenggorokan dan menjalar ke perutnya.


Dia telah memakan hewan yang dijadikannya kembarannya sendiri. Jadi ketika Dorothy mendapat serangan sihir, namun ikan itu masih hidup, maka Dorothy nggak akan kenape-kenape alias kebal dia. Dorothy udah membelah jiwanya, dan menaruhnya pada ikan itu.


"Ya ... aku! aku yang menyajikan ikan yang kau pelihara puluhan taun itu. Sekarang mungkin dia mennagis meminta tolong di dalam perutmu itu!" kata Anna. Dia sengaja mengulur waktu supaya, mereka yang ada di menara bisa keluar dari jalur bawah tanah yang dia tunjukkan tadi.


Dorothy memegang lehernya sendiri dia seperti ikan yang kelabakan kekurangan air, "Bagaimana ini? astaga kenapa kau---"


"Aku pernah mendengarmu bicara pada ikan itu! kau dan dia adalah satu jiwa yang sama, pantang bagimu untuk menyakitinya..."  Anna menyerobot ucapan Dorothy.


"Kau, kau akan kembali pada bentuk aslimu, Dorothy!" seru Anna.


Seketika Dorothy menggerakkan tangannya, barang-barang yang ada d kamar itu pada tersapu dengan angin.


"Beraninya kau melakukan ini padaku! dasar penghianat!" Dorothy mengeluarkan sihirnya untuk mengikat Anna. Penyihir itu berpikir cepat, dia harus melakukan penyerapan energi itu saat ini juga.


Tanpa diminta sang cermin yang masih berdiri kokoh disaat benda-benda yang lain semua pada bergeser, menunjukkan sebuah pemandangan yang membuat Dorothy semakin murka.  Peri Keket yang melihat Anna diikat segera mendekat dan memainkan sihirnya untuk melepaskan gadis itu.


"Akkhh!" Anna terjatuh, dia terbatuk.


"Makhluk kecil nakal! tidak ada yang mengijnkanmu untuk menyentuh gadis ituuu?!!!" Dorothy mngerakkan jarinya, peri Keket seakan ditarik secara paksa dan berakhir di tangan Dorothy. Wanita penyihir itu menjapit baju peri keket dengan jarinya.


"Makhluk menjijikkan!" Dorothy memasukkan makhluk mungil itu ke dalam sebuah guci, kemudian menutupnya.


"Heeeeeyyy!!! nenek tuaaaa! lepaskan akuuuuu!!" peri Keket teriak saat dia terjebak di dalam sebuah guci kecil yang sudah dibacakan mantra oleh Dorothy.


"Astaga, bagaimana ini? papi dan Arion dalam bahaya!" gumam peri Keket. Berusaha memanggil teman-temannya untuk datang kemari, "Hey dimana kalian? aku terjebak disini," ucap sang peri.


Anna yang melihat itu pun mencoba meraih guci tempat peri


Sreeettttt!


Braaakk!


Dorothy menerbangkan Anna kemudian membantingnya ke lantai, "Gadis Sialaaaaaannnn!!!' teriaknya. Anna sadar, kali ini dia mungkin nggak bisa selamat dari amukan Dorothy.


Sementara papi Ridho melepaskan ikatan pada tangan Defne dan puteri Odellia, Rion dengan cekatan melakukan hal yang sama pada Rissa. Dia melepas kain yang mengikat mulut gadis yang selama ini dicarinya dengan susah payah.

__ADS_1


"Maaf gue udah bikin elu nunggu lama," kata Rion saat berhasil membebaskan kaki dan tangan Rissa.


"Yang terpenting kamu sekarang udah ada disini..." Rissa menatap kedua mata yang kalau ngeliat bagaikan mata elang, tajemnya bukan maeeen.


Rion segera memeluk gadis itu sesaat setelah semua ikatan sudah terlepas.


"Eheemmm!" suara deheman papi Ridho.


"Waktunya berpelukan ntar-ntaran aja! sekarang waktunya kita pergi dari sini," lanjutnya


Papi Ridho bergerak pada gadis yang lupa Rion lepasin ikatan talinya, "Kamu pasti Alfrida, bukan?" tanya papi Ridho lembut. Sambil ngelepasin ikatan kaki dan tangan yang membuat pergelangan tangan dan kakinya membiru.


Gadis itu mengangguk.


"Kamu tidak perlu taut, aku bukan orang jahat. Aku akan membebaskan kamu dari sini,"


"Tidak Semudah itu, sayangku...!" Dorothy datang dengan wajah mulai menua.


Nenek sihir itu menggerakkan tangannya dan membawa Anna bersamanya. Gadis itu melayang dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Alfridaaaaa!" teriak Anna saat melihat adiknya berdiri dengan susah payah.


"Kakak...!" Alfrida ingin maju, tapi dihalangi oleh tangan papi Ridho.


"Jangan gegabah," papi Ridho kini berdiri di depan Alfrida.


Sedangkan Puteri Odellia dan Defne pun ikut berkumpul, mereka menatap tajam ke arah Dorothy yang udah kesetanan. Sementara Rion, dia menggeggam tangan Rissa, dan itu nggak luput dari pandangan kedua gadis lan yang juga menaruh hati padanya.


"Jangan memandang seperti itu nenek tua!" Arion melindungi gadisnya, dia berdiri di depan Rissa


"Arion, hahhha- akkh! sial, kenapa rahangku mau copot!" Dorothy yang gagal ketawa pun memegangi rahang bawahnya.


"Hey, aku bahkan bisa lebih muda darimu, percayalah!" ucap Dorothy sok kecantikan.


"Hemmh, hah ... bahkan aku bisa merasakan wangi awet muda disini," penyihir itu memandang satu persatu gadis yang ada di ruangan itu.


Puteri Odellia memandang Dorothy dengan tatapan muak,.


"Ada apa puteri Odellia? apa kau sudah tidak sabar untuk menyerahkan kecantikan dan usia mudamu padaku? tentu aku tidak akan sungkan menerimanya," Dorothy perlahan maju, dan yang lain bergeser secara teratur.


Arion membawa pedang di tangannya, dia berdiri dengan terus menggandeng Rissa bersamanya. Berasa mau nyebrang ya, Yon?


Sreeeeeeet!


Ada kekuatan yang membuat gandengan itu terlepas.


"Rissa," pekik Rion.

__ADS_1


"Aku tidak suka ada yang menggandeng tangan pangeranku...!" kata Dorothy, sedangkan Arion mual mendengar ucapan si nenek sihir.


Rion memutar pedangnya dan menyerang Dorothy dengan cahaya birunya, "Hyaaaa!"


Dorothy dengan santainya mengeluarkan kaca dan mengembalikan cahaya biru milik Arion. Seketika mereka yang ada di pihak Rion pun akhirnya berpencar, menghindari cahaya biru yang hampir menyerang balik mereka.


"Hahahah, kau ingin bermain-main dulu pangeranku?" Dorothy ketawa tipis-tipis, takut kesleo ceunah.


Rion memegang pedangnya, "Ada apa dengan pedangku?" Rion merasakan ada yang menarik pedangnya.


Sekuat tenaga dia pertahankan pedang itu, walaupun rasanya sangat berat, "Eerrrghh!"


Melihat itu Rissa dan puteri Odellia akan membantu, tapi secepat itu pula Dorothy mengangkat tangannya ke atas. Kedua gadis itu melayang di udara.


"Risssaaaa?!!" Rion sekilas melihat ke atas, puteri Odellia yang mendengar hanya nama Rissa yang disebut Arion pun merasa cemburu.


Papi Ridho yang ngeliat itu hanya bisa ngucap, "Masalah anak muda!"


Sedangkan papi Ridho menyadari, jika tarikan yang Rion rasakan di pedangnya ada hubungannya dengan kedua mata Dorothy yang memandang anaknya .


Papi Ridho bergerak dengan cepat ke arah belakang nenek sihir.


Greeeeppp!!


Tangan papi Ridho menutup Dorothy dari belakang.


Dan seketika tarikan pedang itu berhenti.


"Aarrghh, aku tidak bisa melihat!" seru Dorotu, yang menarik tangannya dan berusaha melepaskan tangan papi Ridho yang menutupi matanya.


Braaaaakkkk!!!


Rissa dan Odellia yang sempet melayang kini terhempas begitu saja.


"Aawwwwkkk, sakit!" pekik puteri Odellia.


Defne membantu puteri raja untuk bangun sedangkan Alfrida, dia dengan langkah ragu mendekati kakaknya, Anna.


Anna menggeleng, dia menyueuh Alfrida untuk segera pergi dari sini, "Pergi, se-ka-rang!" lirih Anna.


"Bawah tanah!" lanjutnya dengan gerakan mulut. Anna menangis, dia menyuruh adiknya untuk menyelamatkan diri.


Alfrida menggeleng, pipinya sudah banjir air mata.


"Jangan bodoh!" Anna dengan gerakan mulutnya.


Dia mencoba memegang Anna, dan saat itu juga dia terpental ke tembok.

__ADS_1


Braaakkk!!


Gadis yang nggak kalah kurus dari Anna pun pingsan.


__ADS_2