
Rion menerima satu pack tisu basah yang belum dibuka. Gadis itu duduk di sampingnya.
"Gue nggak tau harus percaya sama elu atau nggak?" batin Rion, sambil bersihin mukanya.
Meskipun dia meragukan kebenaran atas sosok Lorenza, tapi nyatanya saat gadis itu mendapat masalah, nyatanya Rion malah melindunginya. Laki-laki tampan itu nggak tau kenapa dia bisa begitu care dengan Loren, bahkan sejak awal mereka bertemu.
"Makasih udah nolongin aku,"
"Sama-sama! kan elu yang bilang, kalau nggak ada satu pun orang yang boleh tau kebenaran soal kita..." Rion memandang gadis yang ada di sampingnya.
"Ya..." Loren hanya bisa menjawab seadanya.
Sedangkan Mova yang kepo, ngintip dari dalam tenda apa yang dilakukan dua orang yang duduk di depan api unggun.
"Ishhh, harusnya gue yang disana!" gumam Mova ngenes, ngejar Rion udah bertahun-tahun. Sampai dia masuk kegiatan yang Rion suka supaya bisa deket terus, tapi apadaya Rion yang hatinya sedingin es batu, malah bisa lumer sama si anak baru.Sungguh mengenaskan!
"Mereka ngomongin apa sih? serius banget!" Mova pengen tau banget.
"Kak Mova, tutup dong tendanya, dingin tau!" ucap Anisa.
"Brisik lu! yang namanya di gunung ya dingin, kalau mau panas deket kompor!" Mova kesel, adegan ngintipnya diinterupsi adek tingkat.
Sementara Loren menatap langit, Rion malah melihat sekelilingnya. Penggemarnya bertambah banyak.
"Apa yang mereka lihat sih? heran gue!" gumam Rion.
"Kamu!"
"Ya selain gue maksudnya, apa gue semenawan itu sampai mereka nggak punya sosok lain di dunia mereka yang bisa dijadiin idola?" Rion geleng-geleng kepala.
"Ya memang kamu semenarik itu!" kata Loren datar, tapi sukses bikin Rion nat nut hatinya.
"Akang Riooooon ... hihihi" sesosok astral yang memanggil namanya. Dia melambai dari atas pohon.
"Akang akang? elu pikir gue akang gendang?" Rion ngedumel, nyautin panggilan dari salah satu penggemarnya.
Dia ogah ngeliat tuh etan yang baju putihnya banyak bercak darah, Rion masih memegang teguh prinsip bahwa mereka makhluk yang nggak boleh diladenin, soalnya ntar suka pada ngelunjak, kayak elu, ehek?!
Loren cuma naikin ketawa dalam hati dengan celetukan laki-laki yang duduk
Dan Mova tau-tau keluar dari tendanya. Loren menoleh ke belakang, "Ngapain dia keluar?" gumam Loren.
"Siapa?" Rion ikutan muter tuh leher. Dan dia ngeliat Mova, berdiri dengan muka keselnya.
__ADS_1
Tapi sebagai ketua, Rion harus peduli sama aggota dan mengesampingkan segala rasa suka ataupun nggak suka. Jadi dia negur tuh si Mova, "Mau kemana, Mov?"
"Mau---"
Loren yang nebak si Mova mau pipis, langsung berdiri. Kayak rikuh gitu Mova gimana ngomongnya, pikir Lorenza.
"Biar aku temenin..." ucap Loren, dia jalan ke arah Mova.
Rion nyusulin, dia kasih Loren senter, "Bawa, kalau udah selesai cepetan balik ke tenda!"
Mova yang dibilangin suruh cepetan balik ke tenda ya seneng banget dong. Dia pikir itu ucapan buat dia, tapi sebenernya bukan.
Rion bilang gitu ditujukan buat Loren, jadi disini yang ke GR-an ya si Mova ini.
Ya udah, Loren dan Mova jalan menuju tempat yang aman lah buat pipis.
Tapi ketika mereka mau sampai, Mova tiba-tiba berbalik dan mendorong badan Loren sampai membentur batang pohon yang gede.
"Akkkh!" Loren memekik, dia kaget dengan yang dilajukan Mova.
Senter yang dipegang gadis itu pun jatuh ke tanah, "Kamu mau apa?"
"Elu tuh anak baru, jadi janga bebal kalau dibilangin senior!" kata Mova, dia menahan leher Loren dengan tangannya.
"Dibilangin? dibilangin apa?"
Ya kali nggak tertarik mereka udah sosor bebek angsa, masak dikuali.
"Aku nggak deketin dia," ucap Loren.
Bisa aja, Loren mendorong bahkan menendang Mova dengan kekuatan yang dia punya. Tapi nggak, selama gadis itu nggak mencelakainya. Dia nggak akan menggunakan kekuatan atau sihirnya sama sekali.
Tapi tanpa Mova sadari ada satu etan yang jalan di belakang Slamet, ngikutin mereka berdua. Gadis pendaki yang sama-sama suka sama Rion.
"Tidak kah kamu ingin membuatnya jera?" ucap si pendaki astral, tapi sayangnya Mova bulan tipe orang yang bisa melihat apalagi mendengarnya.
"Apa? elu ngeliatin apa?" tanya Mova, dia agak ketar-ketir takut Rion muncul. Soalnya Loren matamya ngeliat ke salah satu sudut, dia nggak fokus menatap Mova.
"Aku nggak ngeliatin apa-apa," jawab Loren.
Sedangkan yang lainnya pada ngetawain para betina yang berebut pejantan, pejantan tangguh.
Dan setelah puas ngelabrak si Loren, Mova nglepasin gadis itu dan ngloyor pergi dengan membawa senter yang sempet jatuh tadi.
__ADS_1
Sementara Loren yang ditinggalin dalam keadaan gelap gulita pun nggak kurang akal. Dia menjulurkan dan menggerakkan satu telapak tangannya yang menengadah, "Datanglah bola cahaya," ucapnya.
Seketika sebuah bola cahaya berwarna merah muncul dan mebergerak menuntun Loren untuk kembali ke tenda.
Sedangkan Rion yang duduk di depan api unggun bingung saat ngeliat Mova balik sendirian.
"Lorennya mana?" Rion to the point.
Mova ngeliat ke belakang, celingukan kayak nyariin si Loreng, "Perasaan tadi dibelakangku kok,"
"Ya udah gue cari dia dulu!" Rion ngambil senter dan jalan aja nyariin Loren. Mungkin Rion lupa kalau gadis itu bukan gadis biasa, dia bisa menjaga dirinya melebihi siapapun.
"Rioooooonnnn!"
"Elu masuk tenda aja, udah malem!" Rion nengok ke belakang, mencegah Mova buat ikut.
Dan jika Rion pergi dari area tenda berarti dia udah nggak terlindungi lagi.
"Bang Riooonnn!" ada yang manggil-manggil dan itu bukan suara manusia. Dia ketawa-ketawa nggak jelas.
Tapi Rion mengacuhkannya, melanjutkan mencari Loren, "Ren, Loren? Rion sebuag cahaya berwarna merah dari kejauhan.
Loren yang mendengar suara Rion lantai menyembunyikan kembali bola cahaya merahnya.
"Loren?" Rion mendekati Loren yang diam di tempat. Gadis itu yang silau dengan cahaya senter, menutupi matanya.
"Sorry!" Rion mengarahkan senternya ke arah lain.
"Kok elu malah disini? bukannya balik ke tenda bareng Mova?" tanya Rion.
"Engh, ita aku ketinggalan. Dia jalannya cepet banget!" ucap Loren.
"Udah malem, besok pagi-pagi buta kita harus naik ke puncak!" kata Rion.
Dan ketika mereka akan balik ke tenda, mereka mendengar suara ringkikan kuda.
"Elu denger?" tanya Rion, dan Loren ngangguk.
Kedua mata Rion waspada, tangannya menggenggam tangan gadis yang berhasil ditemukannya. Sementara punggung mereka saling menempel, Rion dan Loren mengawasi berlawanan arah.
Kini mereka mendengar suara derap kaki kuda yang berlari ke arah mereka, "Awaaaaaaaasssss!" Rion menarik Loren untuk menghindar di balik pohon yang besar.
Bukan kuda yang sebenarnya, karena wujud mereka tiba-tiba hilang dalam kegelapan.
__ADS_1
"Rion..." lirih suara Loren.
Rion pun menyadari ada satu sosok yang kini berdiri di belakang mereka.