
Pendakian dilanjutkan lagi, selama itu pula energi Loren sedikit demi sedikit terbuang.
Mungkin karena capek juga ngusirin makhluk halus, dan jumlah mereka yang semakin banyak. Akhirnya Loren ngebiarin dulu deh, itu makhluk ngikutin mereka naik naik ke puncak gunung.
Sampai akhirnya Slamet yang paling belakang, ngerasa kalau tepat di belakang dia ada suara langkah kaki dan suara napas orang yang ngos-ngosan, dan sesekali berdehem.
Tanpa banyak kata, Slamet ngitungin tuh temen-temennya dari depan sampai belakang, dan jumlahnya pas kok 15, berarti yang dibelakangnya ini bukan rombongan dia.
"Mungkin pendaki lain," batin Slamet, dia tetep berpikiran positip.
Bukannya Rion nggak tau, laki-laki itu tau kok kalau ada yang jalan di belakang Slamet makanya dia tiba-tiba teriak gini, "Tetap fokus, perhatikan jalan kalian. Tetap melihat ke depan dan jangan ada yang nengok ke belakang!"
Lah, yang lain juga bingung, "Kenapa nggak boleh tengok belakang?"
"Udah, turutin aja!" sahut Adam pada salah satu perempuan yang namanya Anisa yang kebetulan ikut.
Sedangkan di depan Eza, Thalita mulai ngeluh betisnya pegel, "Duuuhhh, masih lama nggak sih? kaki guweh udah mulai pegel, haus juga..." Telolet ngeluh.
"Katanya cuma setengah jam buat nyampe di pos?" Thalita kembali bersuara.
"Kan gue bilang jangan ikut, elunya maksa. Dikira naik gunung kayak tawaf di mall?" Rion menimpali. Ya, posisi Telolet emang persis di belakang Rion, karena senyebelinnya si Telolet tetep aja kalau dia kenapa-napa ujung-ujungnya ngrepotin Rion juga.
Eza yang ada di belakang Thalita pun ikut komentar, "Paling bentar lagi nyampe, tahan-tahanin dulu aja,"
"Deeuuuhhh! tuan putri, udah tau nggak biasa naik gunung malah ikutan!" Mova nyautin, kesel dia. Karena seharusnya dibelakang punggung lebar dan kokoh itu bukan si gadis manja, melainkan dirinya. Tapi apa daya, Rion yang nyuruh gadis bernama Thalita itu buat selalu di belakangnya, dan Mova hanya bisa pasrah meratapi nassiib yang sedemikian kejamnya gitu sama dia.
Tapi sedikit banyak Mova jadi sering denger Rion ngomong, lumayan aja deh buat menghibur hati yang dongkol.
Nggak lama mereka sampe di pos 2. Para ciwik-ciwik pun bergegas ke toilet, yang pada pengen beser ya cepetan beser, pokoknya Rion cuma ngasih waktu setengah jam buat mereka istirahat.
"Gimana? elu masih kuat? atau mau tinggal aja di pos?" Rion bicara pada Loren, dia menempelkan kalungnya tepat di dada.
"Energinya semakin lama semakin besar, kamu yakin akan bawa mereka sampai ke puncak?"
"Apa sebahaya itu?" Rion bertanya.
Tapi nggak ada jawaban dari Loren.
"Ren?" Rion mengedarkan pandangannya pada Loren, tapi nggak ada.
Karena Loren melihat sesuatu sedang mengawasi mereka, Loren menggerakkan tangannya. Setika dia mengejar sosok yang bersembunyi di bawah rerimbunan pohon.
Sedangkan Rion mulai mencari gadis itu, sampai dia sendiri lupa untuk sekedar minum.
__ADS_1
"Rion lu mau kemana?" tanya Mova, dia bawa minuman buat Rion, eh tuh orang malah mlengos aja. Boro-boro disautin, noleh aja nggak.
"Huufh!" Mova gedeg banget, "Harusnya gue bisa deketin, eh kok malah buyar semua rencanaaaaaaaaa!"
Meninggalkan Mova yang uring-uringan nggak jelas, Rion nyari Loren. Nah, dia ketemu Thalita sama Eza, "Za, lu liat Adam, nggak?"
"Ada noh lagi selonjoran," Eza nunjuk sembarangan.
Abis dia nunjuk terus dia kempit tuh telunjuk di keteknya, di luar baju loh yaaaaa.
"Kenape lu?" Rion heran.
"Takut telunjuk gue tiba-tiba bengkok!" sahut Eza.
"Lu kira si Adam kuburan? nunjuk dia terus jari lu bisa bengkok?" Rion nggak habis pikir dengan ucapan sahabatnya yang sengklek itu.
"Kapan nyampenya sih?" giliran Thalita yang nanya.
"Bentar lagi, kita cari tempat buat bikin tenda," Rion nyautin tapi matanya ngeliat ke arah Adam, dan syukurlah Loren udah muncul.
Rion mendekatkan liontin ke dadanya, berharap suara hatinya yang terdalam bisa terdengar oleh Loren, "Lu kenapa? kalau nggak kuat lu tinggal disini sama Thalita, nggak usah ikutan naik!" Rion mulai perhatian tipis-tipis.
"Sebelum jam 5, kamu harus nemuin tempat buat diriin tenda," suara Loren terdengar di telinga Rion.
Mata Lorenza menelisik setiap sudut, "Nggak akan aku biarkan kalian mengganggunya,"
.
.
.
Matahari mulai bergerak ke arah barat, Rion memimpin kembali pendakian, sampai mereka menemukan daratan yang lumayan luas. Setelah kurang lebih dua jam lebih berjalan, akhirnya Rion berteriak, "Kita berhenti disini!"
"Yang cowok, bantuin gue pasang tenda!" seru Rion lagi.
Karena jumlah cowok lebih banyak dari cewek ya udah mereka yang ngerakit tenda sedangkan yang cewek duduk ongkah-ongkah.
Apalagi Telolet, dia mijitin kakinya sendiri, "Alemong gede nih betis!" Loren cuma bisa nahan tawanya saat wajah lelah Thalita nggak bisa dikondisikan.
"Minum dulu bidadariku!" Eza menyodorkan air mineral dengan botol kecil.
"Ini air beneran, kan?"
__ADS_1
"Ya iyalah, masa air kobokan?" Eza naikin alisnya.
"Ezaaaaaa! jangan modus mulu! sini bantuin, jangan ngedeprok mulu ya elu!" Slamet treakan nggak ada adab.
"Sebentar ya bidadariku! itu manusia hutan memanggil diriku!" ucap Eza sok kegantengan.
"Ezaaaaaa!"
"Iya iyaaa, ih!" Eza ngedumel aja, bantuin Slamet sambil bibir dimonyong-monyongin.
Sementara Thalita membuka botol yang di pegangnya.
Dan...
Glek!
Glek!
Glek!
Thalita minum sampai tandas. Kesegaran meluncur ke kerongkongannya yang kering bak gurun pasir.
"Kok elu kliatan pucet, Ren?" tanya Thalita yang menyadari wajah Loren terlihat pucat nggak merona seperti biasanya.
"Masa sih? nggak kok. Mungkin karena kena hawa dingin aja,"
"Oh, bisa jadi sih! emang dingin," Thalita mengusap kakinya, merasakan pegal yang teramat menyiksa.
"Daripada kalean cuma ghibah-ghibah nggak jelas, mending sono cari kayu bakar!" Mova nyindir.
"Ya elu aja yang cari! kok nyuruh guweh?" Thalita nggak takut kena gertakan senior.
"Ck! bener-bener, ya---"
"Biar aku aja yang cari. Kamu istirahat aja Thalita..." Loren bangkit dan berjalan menyusuri hutan seorang diri.
Loren tau kalau Thalita ini, saudara sepupu Rion. Waktu di kantin, Thalita sempet cerita kalau sepupunya namanya Arion kuliah di kampus itu juga jurusan arsitektur katanya. Loren sih manggut-manggut aja, nggak heran juga, karena mereka berdua memiliki kesamaan sifat dan karakter.
Dan Loren juga tau kalau sikap jutek Mova sama Thalita itu karena si Mova ini syuukaa sama Rion, udah ketebak itu sama si Loreng.
Jangankan si Mova, noh mbak kunti yang lagi nongki di pohon, dia juga lagi mengagumi kegantengannya Rion.
Loren mulai menjauh dari rombongan, dia satu persatu munguti ranting pohon yang dia temukan dijalan.
__ADS_1
Sampai akhirnya dia mendengar sebuah suara...