Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
26. Truth Or Dare?


__ADS_3

Semua orang yang ikut dalam pendakian ini, mereka semua duduk melingkari api unggun yang bikin badan anget.


"Selamat malam teman-teman, gue Arion Putra Menawan. Gue ketua Mapala di periode ini. Gue ucapkan selamat bergabung, semoga Mapala selalu kompak dan berjaya. Jangan lupa untuk JANGAN PILIH EZA DI PEMILIHAN KETUA TAHUN DEPAN, TERIMA KASIH!" Rion mengakhiri pidato singkatnya.


Semua orang tepuk tangan kecuali Eza yang pengen nyekek temennya itu.


"BANG-KE emang si Yono!" Eza kesyel, sedangkan yang laen ketawa ngeliat muka Eza sungguh nggak bisa lagi dikondisikan.


"Elu bilang apa tadi?" Thalita nengok pada Eza .


Pria itu langsung meringis, "Nggak kok nggak bidadarikuuuuh!" Eza yang kesel lupa disampingnya ada gebetan.


"Asik, gue punya satu kartu lagi buat ngancem dia," Thalita senang karena tau kakak sepupunya itu tergabung dalam kegiatan yang pasti ditentang oleh tantenya, Reva.


"Sebelum menikmati santap malam, alangkah baiknya kita berdoa dulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa dimulai!" Rion memimpin doa, "Selesai!"


"Selamat makan!" seru Rion.


Dan semua yang ada disitu mulai menikmati makanan malam di tengah hawa dingin pegunungan.


Rion yang ada disamping Loren, menyodorkan makananya yang masih utuh.


"Apa?" Loren hanya menatap Rion, mereka berkomunikasi dengan bahasa kalbu.


"Makan punyaku barangkali elu masih lapar," Rion melirik makanan Loren yang hampir habis.


"Aku udah kenyang, lagian kamu juga butuh asupan supaya ada tenaga," kata Loren.


"Oke deh kalau gitu!"


Setelah makan, mereka membuat game truth or dare. Game yang paling dibenci Rion, karena apa? Dia nggak suka ditanya-tanya tentang privacy-nya, yang kedua ogah juga dikasih tantangan yang aneh-aneh.


"Gue nggak ikutan!" Rion mau bangkit tapi di cegah Slamet.


"Nggak bisa dong! semua harus ikut termasuk elu, kan elu ketuanya!"


"Ya bener tuh!" teriak yang lainnya.


Sraaak!


Sreeek!


Ngikkkkkkkik


Ada suara kuda, Rion sontak nengok.


"Kita mulai sekarang aja! nggak seru kalau kita masuk tenda jam segini!" seru Adam.


Nggak tau siapa yang niat banget bawa botol bekas kecap, supaya bisa main permainan yang udah legend banget dari jaman kura-kura ninja.

__ADS_1


Sedangkan Rion memastikan mereka masih di bawah cahaya biru, "Masih aman lah, ya?" gumamnya dalam hati.


Dan sekarang permainan pun dimulai...


Botol diputar dan berhenti menunjuk ke arah Faisal.


"Gue yang nanya!" Eza angkat tangannya, "Truth or dare!"


"Truth!" jawab Faisal.


"Buat Faisal, jawab yang jujur. SENIOR LU YANG NAMANYA SLAMET GANTENG APA NGGAK?" seru Eza bikin geger.


"NGGAAAAK!" seru Faisal.


"Pulang lewat mana Lu, Sal?!!!" ancam Slamet, walaupun yang dikatakan Faisal emang bener. Tapi kan sakitnya sampe ke tulang-tulang. Yang lain langsung 'gerrrrrr' ketawa.


"Ampun, Bang! gue kan cuma jawab jujur," Faisal ada takut-takutnya sama Slamet.


"Jangan lu marahin Faisal. Marahin noh si Eza!" ucap Adam, yang dituduh cuma cengar-cengir nggak ngerasa salah.


Sekarang giliran Faisal yang muter botol kecapnya, dan seeeeet botol itu nunjuk ke arah Loren.


"Truth or Dare?" tanya Faisal.


Rion yang penasaran nengok ke arah gadis yang menggerai rambut panjangnya.


"Truth!" sahut Loren.


"Gue ambil dare buat dia!" ucap Rion, dan sekarang bikin orang krik-krik seketika.


Faisal langsung kicep, saat melihat tatapan tajam sang ketua.


"Dare-nya apa, Saaaal?" Devan ngomporin Faisal.


Sedangkan Faisalnya sendiri, dia nggak berani lah mau ngasih tantangan buat Rion. Kurang ajar emang, bukannya ditolongin malah dijorokin kayak gini.


"Biarin aja si Loren jawab. Kan dia udah milih truth? gue juga penasaran, karena gue juga pernah denger dia ngomong sendirian sama pohon!" Mova nyeletuk.


"Mana tantangannya, Sal?" Rion bertanya pada Faisal mengacuhkan pertanyaan Mova.


"Ayo, Sal. Kapan lagi ngerjain ketua?" Eza ngomporin, dia tau nih kalau Rion nggak biasanya kayak gitu.


Dia paling dingin terhadap cewek, nggak ada cewek yang dinotice sama Rion, tapi kali ini dia mau ngelindungin Loren dari pertanyaan yang sebenernya tinggal jawab iya atau nggak .


"Hem, ya. Hem, tantangannya, pakai pemerah pipi selama acara api unggun!" ucap Faisal


"Oke!" sahut Rion gentle.


Sedangkan Loren heran kenapa Rion mau-mau aja dibikin seperti badut, dengan pipi dimerahin pake blush on punya Thalita. Kita jadi heran nih sama Thalita, dia mau naik gunung apa ngemall. Segala perlengkapan make up dia bawa semua. Dan Eza, dia yang paling seneng tuh liat Rion dikerjain.

__ADS_1


Kemudian Botol diputar lagi dan satu persatu dapet gilirannya, sampai akhirnya botol itu menunjuk ke arah Telolet.


"Truth or Dare?" tanya Mova pada gadis manja.


"Dare!" sahut Thalita


Telolet ogah banget milih kejujuran. Pasti itu betina bakalan nanya-nanya sesuatu yang males banget buat dijawab.


"Oke, I dare u ... untuk jalan dari sini ke pohon yang sana!" Mova menunjuk pohon besar yang diatasnya ningkring para penggemar Rion dari lintas dunia lain. Cirinya, rambut panjang, daster putih dan muka pucet kayak orang anemia. Banyak tuh pada berjejer, lagi nontonin mereka dari atas pohon.


"Nggak ada tantangan yang lain apa? ini kan udah malem, jalan kesana juga gelap!" Telolet nggk berani buat ambil tantangan.


"Tenang aja bidadariku, biar bang Eza yang gantiin jalan kesana!" kata Eza niruin tindakan Rion.


Dan yang lain nyorakin tuh orang, bisa banget ngegombalin gebetan di depan orang banyak.


"Nggak ada. Nggak ada yang keluar dari area tenda ini. Udah malam, sebaiknya kita tidur! besok pagi kita akan lanjut mendaki!" sebuah perintah meluncur dari bibir Rion.


Lagian emang udah hampir jam 12 malam, jadi logis lah kalau Rion nyuruh mereka pada istirahat. Padahal, laki-laki tampan dan menawan itu nggak mau kalau Thalita atau Eza keluar dari simpul perlindungan yang dibuatnya bersama Loren. Karena diluar banyak makhluk yang mengintai mereka.


Ya udah, mereka semua pada bubar. Masuk tuh satu-satu ke dalam tenda. Menyiksakan Rion aja yang masih betah di depan api unggun. Dia malah menambah kayu, supaya api terus menyala.


"Nggak istirahat lu?" tanya Adam dia duduk di samping sahabatnya.


"Bentar lagi," Rion melipat tangannya di depan dada, menghalau rasa dingin yang mendera saat ini, "Oh ya, gue pinjem hape lu dong!" kata Rion.


"Buat apa?"


"Buat ngecek nomor orang!" sahut Rion cepat.


Adam tanpa curiga menyerahkan hapenya, "Jangan buka-buka gallery!" ucapnya.


"Iyaaa, ngapain juga gue ngubek-ngubek gallery foto lu? nggak penting baget!" Rion mulai mencari kontak Lorenza.


Dan...


Lorenza yang ada di kontak nomor milik Adam, berbeda orangnya dengan Lorenza yang dikenalin sama dia.


Setelah mendapatkan kontak Lorenza yang lain, Rion ngembaliin hapenya Adam.


"Dam? temen atau saudara elu yang namanya Lorenza ada berapa sih?" tanya Rion.


"Nggak ada lagi, cuma satu lah! kenapa emang?"


"Nggak apa-apa,"


"Gue masuk tenda duluan ya? udah nggak kuat, dingin banget!" Adam lalu meninggalkan Rion dalam beberapa analisa pikiran yang mengarah pada gadis bernama Lorenza.


"Jadi bener, dia bukan Lorenza melainkan Rissa!" batin Rion.

__ADS_1


Dan tiba-tiba ada satu tangan yang menyodorkan tisu basah padanya. Rion mendongak, ada Loren disana.


"Buat bersihin muka kamu," ucap gadis itu.


__ADS_2