
Krekkkk!
Krekkkk!
Es yang menjadi dasar mereka berpijak pecah dan pecahan itu merembet menuju Rissa berdiri.
Meisya dan yang lain yang melihat fenomena itu pun segera menyingkir, termasuk Rissa.
Tanpa pikir panjang Rion melepaskan matelnya begitu saja dan segera berlari seiring dengan patahan es yang menjalar menuju Rissa. Bahkan Thomas kalah cepat dengan Rion yang bergerak bagaikan seekor kucing besar yang sedang berlari.
Tapi sayangnya...
Bleeeeesssss!
Lapisan yang dipijak Rissa tiba-tiba amblas.
Byuurrrrrrr!
Rissa terjebur ke dalam danau yang air nya bercampur dengan bongkahan es.
Rion yang melihat itu segera memekik, "Rissaaaaa!" namun suaranya tenggelam bersama dirinya yang ikutan nyebur ke dalam lubang yang sama dengan Rissa.
"Rissaaaaa, Aaariooooon!" Thomas memilih jalan yang berlawanan dengan arah retakan supaya nggak ikutan amblas juga.
Thomas segera menyuruh beberapa orang yang ikut dengannya buat nyari bantuan Sedangkan dia mencoba buat ngeliat kondisi Rissa.
Jangankan buat mendekat, bahkan dia ngerasa was-was banget takut semua es yang dipijaknya tiba-tiba amblas berjamaah.
Sedangkan Rion yang berenang mencoba meraih Rissa yang semakin tenggelam karena mantel yang dikenakannya menyerap air dan membuatnya semakin susah mencapai permukaan.
Rissa mulai kelabakan, air es menghujamkan rasa sakit sampai ke tulangnya.
Hap!
Rion berhasil meraih tubuh Rissa yang seakan ditarik oleh sesuatu, masuk ke dalam danau yang gelap.
Mata wanuta itu membulat sempurna, menatap Rion kaget, saat tau kalau pria yang berasal dari masa lalu nya itu ikutan nyemplung ke dalam danau yang berisi es sedangkan gelembung udara keluar dari hidung Rissa. Rion memberi kode kalau dia akan membuka mantel yang dipakai Rissa. Wanita itu hanya mampu mengangguk.
Dengan susah payah Rion membuka mantel dan melepaskannya dari tubuh Rissa.
Namun sayang, Rissa merasakan kalau udah nggak bisa lagi menahan napas di bawah air yang bikin seluruh badannya hampir mati rasa. Dengan cekatan Rion melingkarkan tangannya di perut Rissa, berniat membawanya naik ke permukaan.
Tapi...
Sreeeeeetttt!
Rion melihat ada bayangan hitam yang melewati mereka.
__ADS_1
Dia mengusap kalungnya dan mengubahnya menjadi pedang cahaya biru.
Dan tanpa diprediksi sebelumnya, kaki Rissa ditarik oleh sesuatu, sampai dia terlepas dari Rion.
Sreeeeeeetttttt!
Tangannya terjulur otomatis saat dia terbawa masuk lebih dalam danau beku itu. Sementara Rissa yang udah hampir kehabisan nafas, berusaha mennggerakkan kakinya berharap bisa melepaskan diri dari cengkraman di kaki nya.
Rion yang melihat Rissa terlepas darinya pun segera berenang mengejar Rissa yang nggak mungkin bisa teriak.
Ternyata ada satu tumbuhan yang mengikat dan menarik kaki Rissa ke dalam danau. Rion menahan pergelangan kaki Rissa yang terikat.
Pria tampan itu mengayunkan pedangnya dan mengarahkan cahaya biru ke arah kaki Rissa.
Pyaaaaaaarrrr!
Cahaya itu seperti memotong tumbuhan yang mengikat kaki Rissa, lantas Rion segera meraih tubuh wanita yang kini udah mulai lemes, mata Rissa hampir tertutup. Rion menggeleng.
'Please, elu harus bertahan!' batin Rion.
Rion menggoyangkan bahu Rissa, 'Rissa bangun, Rissaaaa! lu harus tetep sadar!' dia menepuk pipi wanita itu berkali-kali.
'Rissaaaaaa, please! jangan pingsan!' Rion menggoyangkan bahu Rissa sambil satu tangannya memegang pedangnya.
Melihat kondisi Rissa yang semakin lemah pun anpa pikir panjang, Rion mendekatkan wajahnya, dia menyalurkan nafasnya pada Rissa.
Mata Rissa yang hampir tertutup kini terbuka sedikit demi sedikit, dia terkejut dengan apa yang dilakukan Rion padanya.
'Elu harus bertahan!' batin Rion.
Rion bukan hanya merasakan nafasnya berkurang karena ddengan sukarela dia bagi dengan Rissa, tapi ada perasaan dan seyruman seperti aliran listrik yang mengalir dalam darahnya. Namun bukannya ingin melepaskan diri, Rion malah bertahan pada poaisinya saat ini.
Tapi lagi-lagi iklan pun lewat.
Sreeeeeettt!
Bayangan hitam itu lewat lagi tapi kali ini dengan suara tawa yang membuat telinga rasanya peng-pengan, "Hahahahahhahaaha,"
Rion menjauhkan wajahnya dari Rissa, dia mengayunkan pedangnya dan mengarahkan pedangnya pada bayangan hitam itu.
Sebuah cahaya biru menyerang makhluk yang sama yang Rion temui di unit apartemennya.
Namun bayangan yang lebih mirip selendang hitam itu pergi menjauh darinya menuju dasar danau. Rion ingin mengejar dan memberinya pelajaran, tapi dia nggak mungkin meninggalkan Rissa ditengah kondisi wanita itu yang kian melemah.
Danau yang hening, sepi, gelap dan semakin membuat suasana tambah mencekam.
Saat tangan Rion terangkat, sesosok makhluk hitam itu berputar mengelilingi Rissa dan Rion seperti sebuah kain yang berputar membuat Rion nggak bisa melihat apaoun selain warna hitaam.
__ADS_1
'Sialaaan, makhluk ini kurang kerjaan! rupanya dia mau main-main sama gue!' Rion hanya mengumpat dalam hati.
Rion mendekap tubuh Rissa dengan kuat, dia nggak mau kecolongan.
Mau pergi sejauh apapun, ke belahan dumia manapun nyatanya itu nggak mampu melunturkan perasaan Rion terhadap Rissa.
Nyatanya, pria itu selalu melindungi wanitanya meskipun dia tau apa yang dilakukannya ini akan membuatnya semakin sulit melepas bayang-bayang Rissa.
'Gue yakin, kita pasti bisa keluar dari danau ini. Elu harus bertahan, elu nggak boleh kalah!' Rion menatap Rissa yang menggelengkan kepalanya. Kemungkinan dia emang udah makin kehabisan nafas.
Rion mengayunkan tangan kanannya yang menggenggam pedang lalu dia ayunkan benda bercahaya biru itu. Dan dengan terpaksa Rion melepaskan tubuh Rissa sejenak untuk menangkap kain hitam yang berputar membentuk sebuah tornado di bawah air.
'Eeerrrhhhhhh?!!' Rion berusaha menangkap kain itu namun gagal, 'Siaaaalan!'
Dan ketika Rion nggak sengaja mendongak, dia melihat ada celah disana.
'Gue harus secepetnya bawa Rissa keluar dari sini! ini nggak boleh ditunda!' Rion melihat wajah Rissa sekilas.
Dia kembali menangkap tubuh Rissa dan mengayunkan pedangnya ke atas.
Sedangkan di permukaan, Thomas mencengkram kerah seseorang, karena dia bilang kalau kemungkinan akan sulit menemukan orang yang tenggelam di danau beku. Air di dalam sana bahkan sangat dingin, dan sangat beresiko untuk menyuruh orang menyelam. Dan Thomas yang mendengar penjelasan itu pun memukuli orang itu dengan kasar, sampai dia harus di pisahkan oleh orang-orang yang ada disana.
"Risssaaaaaaa?!!" pekik Thomas dia meraupkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dan...
Tjomas mendengar sesuatu mundul dari air.
"Arrrrghhhhhh, uhukkk!" dia mendengar seseorang terbatuk.
"Itu suara Rion?!" Thomas segera menyingkirkan tangannya.
Dia melihat Arion yang muncul bersama Rissa.
"Thomassssss?!!" teriak Rion.
"Ariooooon?!" mata Thomas terbelalak saat kedua orang yang dicemaskannya itu akhirnya keluar dari air juga.
"Aaarrrrgh!!" Rion mengangkat dan mendorong badan Rissa dari bawah.
Tanpa pikir panjang Thomas menarik badan Rissa dari atas, "Happ, dapattt!" pria itu berhasil mengangkat badan Rissa yang mirip ikan yang lagi direndem es.
"Eerghh," sedangkan yang lain mencoba membantu Rion keluar dari lubang yang amblas itu.
Thomas segera merebahkan Rissa di atas lempengan es yang masih kuat untuk dipijak.
"Awaasssss?!!" Rion segera mengambil posisinya, dia bahkan nggak sengajaembuat Thomas sedikit tersingkir.
__ADS_1
"Bernafaslah!" Rion segera memompa jantung Rissa dengan kedua tangannya, dengan sesekali membuka mulut wanita itu dan mentransferkan nafasnya.
"Please, keep breathing?!" Rion panik.