
Arion membaringkan Rissa di sebuah tempat tidur di dalam sebuah penginapan.
Rion duduk di bawah sementara matanya memperhatikan wajah Rissa yang sebenernya itu bukan Rissa yang sesuangguhnya, melainkan Odellia.
Sosok ratu pun memperhatikan Arion, dia merasa kalau laki-laki yang membawa putrinya ini bukan orang jahat. Dan Rion yang masih bisa lihat perhantuan pun sempat nengok ke belakang, dia merasa ada kehadiran makhluk lain. Tapi sang ratu yang hampir ketauan pun segera pergi, dia akan mencari penyihir yang sudah mencelakai Odellia. "Aku tidak akan membiarkan Odellia dalam bahaya," ucap sang ratu yang sekarang terbang entah kemana.
Rion masih memperhatikan wajah gadis yang terbaring dan nggak berdaya, "Kayaknya ada yang beda dari kamu, Rissa...." gumam Rion lirih. dia melihat rambut yang terlihat janggal.
"Apa melintasi waktu membuat rambut kamu juga ikutan berubah?" Rion berpikir keras.
Ada perasaan aneh saat melihat Rissa, emang namanya hati nggak bisa dibohongin ya, Yon?
Sementara Rissa KW belum sadar, Rion pergi beli roti sama air. Karena cuma itu yang cocok sama kantongnya saat ini. Pokoknya tuh duit harus dicukup-cukupin.
Tapi baru juga mau nyari roti, dia ketemu tuh sama pedagang tepung. Dia minta buat Rion angkut karung lagi, katanya pekerjanya lagi nggak berangkat. Karena cuan di depan mata, dan Rissa juga belum sadar pikirnya, ya udah dia bantuin tuh Jerad buat angkut beberapa karung tepung. Padahal mah, dia juga capek pengen istirahat, ditambah lagi langit udah mulai sore.
"Terima kasih, ini bayaranmu," kata Jerad, dia memberikan sejumlah uang pada Arion.
"Terima kasih, Tuan..." kata Arion yang pergi dari toko penjual tepung. lalu dia lanjutin beli roti sama air sama satu buah apel yang dia beli dari pedagang yang kayaknya kagak laku buahnya. Dia dapet bebrapa buah apel dengan harga yang murah, ya lumayan aja kata Rion ceunah. Walaupun ya, Rion pengennya nasi padang, Cuma berhubung nggak ada ya udah belinya seadanya aja udah.
Jadi sekarang duitnya bertambah banyak dong ya, cukuplah buat nambahin sewa kamar malam ini. Setelah mendapatkan makanan, Rion balik lagi ke tempat penginapan, dan pas dibuka. rperempuan yang dia pikir Rissa udah bangun.
"Rissaaaa? elu udah---"
"SIAPA KAMU? KENAPA KAMU BAWA AKU KESINI? APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN?" Rissa KW histeris, Rion jadi keder dengan sikap Rissa yang ada di depannya. Gadis itu melihat pakaiannya.
"Tenang, Rissa. Ini gue Arion. Masa elu nggak inget sih? masa gara-gara rambut elu yang berubah elu jugajadi lupa sama gue, Sa? gue udah nyari elu kemana-mana, dan sekarang gue nemuin elu. Kok malah gue yang dituduh yang nggak-nggak..." Rion mencoba menjelaskan.
"Rambut?" Odellia yang menyamar menjadi orang biasa pun baru menyadari sesuatu, "Astaga kenapa aku bisa lupa. Kalau aku sedang di luar istana..."
Odellia nggak begitu ngerti apa yang diucapkan pemuda yang ada di hadapannya, tapi yang jelas dia bingung dengan keadaannya yang tiba-tiba berada di tempat asing, "Kenapa aku bisa ditempat seperti ini?" Odellia bergumam sendiri.
__ADS_1
"Kamu lagi nonton sulap, ngecium mawar, abis itu pingsan! masa kamu nggak inget? apa gara-gara mawar itu kamu jadi hilang ingatan?" Rion mencecar Odellia dengan pertanyaan.
Setelah dirasa Rissa lebih tenang. Rion mendekat.
"Gue seneng akhirnya gue ketemu elu, Rissa. Dan dengan begitu kita bisa pergi dari tempat ini, kita balik ke masa kita, ke dunia kita yang sebneernya..." Rion duduk di pinggiran ranjang.
Dan mendengar nama Rissa dia baru inget kalau dia sekarang kan lagi bertukar posisi dengan Rissa. Dan waktu itu Rissa bilang mau nyari temennya yang namanya Arion. Ya ya ya, Odellia sekarang inget semuanya.
"Aku tidak mungkin bilang siapa aku yang sebenarnya, bisa gawat!" ucap Odellia dalam batinnya.
"Rissa?" panggil Rion.
"Sebaiknya kamu istirahat aja deh, itu ada roti sama air jangan lupa dimakan. Gue mau keluar..." kata Rion yang kayaknya mau cari angin bentar.
"Tunggu Arion...." cegah Rissa KW.
Sedangkan di dunia nyata. Mami Reva lagi ngobrol berdua sama Om Karan di ruang kerjanya.
"Kenapa? apa ada yang membuat kamu tidak nyaman? atau Luri mengatakan sesuatu yang bikin kamu tersinggung?" Om Karan menutup leptopnya dan menghampiri kakak sepupunya yang duduk di sofa.
"Nggak ada. Luri nggak pernah bilang sesuatu yang bikin aku tersinggung kok. Cuma aku tau diri aja lah, lagian aku tinggal disini udah sebulan, udah mirip orang yang nggak punya rumah..." kata mami Reva.
"Rumahku ya rumah kamu, Va. Kamu tidak perlu merasa sungkan, lagipula kita masih dalam pencarian Arion. Aku tidak mau kamu di rumah sendirian dan malah berbuat hal-hal yang bikin orang pusing," Om Karan menatap mami Reva dalam.
"Kita lagi mengusahakan Rion supaya bisa balik lagi ke tengah-tengah kita," lanjutnya.
Sementara tante Luri yang bawain kopi buat suaminya mendadak berhenti saat mendengar suara Om Karan dan mami reva lagi ngobrol berdua di ruang kerja.
Dia yang tadinya mau ngetok pintu jadi ragu.
Tapi ngeliat kopi yang ada di tangannya, mubadzir juga kalau dibawa balik ke dapur akhirnya dia ketok aja tuh pintunya.
__ADS_1
Tok...!
Tok...!
Tok...!
"Ya, masuk!" seru Om Karan.
Perlahan tante Luri membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Eh, ada mbak reva ternyata..." ucap tante Luri seraya mendekat, "Maaf aku ganggu ya?"
"Nggak kok, kita cuma ngobrol biasa..." kata mami reva.
"Oh ya, Mas. Aku bawakan kopi..." Luri duduk disamping Om Karan
"Iya, makasih ya...." Om Karan senyum sekilas.
"Kalau gitu aku balik ke kamar, permisi..." mami Reva bangkit dan jalan keluar. yang penting dia udah nyampein keinginannya buat balik ke rumah, biar nanti pengajian dilakuin di rumah mereka. Mami reva, ke dapur dia mau bikin kopi susu.
Pas dia seduh kopi dan creamer dia jadi keinget sama anaknya, " Kamu kan suka banget ya, Rion kopi buatan mami..." mami reva ngusap air mata disudut matanya. ya, satu-satunya yang bisa dibuat mami Reva tanpa takut gagal ya itu bikin minuman, mau panas mau dingin pokoknya mami Reva juaranya. Tapi kalau disuruh masak, jangan berani-berani kalau nggak mau sakit perut.
Mami Reva balik ke kamarnya, disana udah ada papi Ridho yang lagi sibuk sama tabletnya, dia naruh benda yang ada di tangannya pas ngeliat istrinya udah balik ke kamar mereka.
"Udah?" tanya papi ridho yang emang udah tau kalau istrinya keluar buat ngomong empat mata sama Om Karan.
" Udah..." mami Reva nyodorin secangkir kopi susu pada papi Ridho.
"Tapi aku belum bilang sama pak Sarmin buat minta pak sarmin tinggal sama kita," kata reva yang duduk di ranjangnya.
Papi Ridho nyeruput kopinya sedikit sebelum ngucap," Kalau itu biara aku yang ngomong sama pak haji..." kata papi Ridho yang ngusap kepala mami Reva dengan satu tangannya.
__ADS_1