
Habis dikasih minyak angin, akhirnya mami Reva pun sadar.
Begitu melek dia langsung nangis kejer, ya gimana anak atu-atunya jatuh dari pohon masih mending. Lah ini jatuh dari nung-nung gunung. Apalagi kan mami Reva ini udah nggak bisa liat apa-apaan lagi ya, udah terkabul tuh permintaaannya dulu yang pengen hidup damaibtanpa ngeliat Etan Lucknut.
Eh taunya, bakat terpendam atau gangguan itu malah diturunin ke anak mereka yang sekarang lagi puyeng nyari jalan keluar.
"Mass...? Rion, Mas...!" mami Reva menatap kedua mata suaminya yang biasanya bikin adem, sekarang jadi bikin nangis. Karena muka Rion kan fotocopy-an nya kangmas Ridho.
Plek ketiplek banget mukanya papi Ridho pas muda ya itu si Rion itu. Jadi mami Reva mewek lagi. Nggak ada waktu mami Reva buat marahin keponakannya, Thalita. Pokoknya yang diinget ya si Rion ini terus.
Papi Ridho mendekap istrinya, "Kita cari Rion bareng-bareng ya? kita cari dia sampai ketemu!"
Sementara itu pak Sarmin yang udah sepuuuh banget sekarang diurusin sama anaknya yang tadinya kerja di luar pulau sekarang menetap di rumahnya pak Sarmin, namanya Seno. Kalau bu Ratmi udah meninggal setahun yang lalu, makanya Seno sama istrinya tinggal buat ngurus pak Sarmin yang masalahnya cuma satu, kesepian.
"Kalau kalian sudah tenang, baru kita bicara..." kata pak Sarmin.
Udah nggak selera yang namanya makan, walaupun Seno sama istrinya udah menjamu mereka ya, tapi namanya juga lagi bertamu karena ada perlunya jadilah mereka berkumpul di ruang tamu dengan perut yang masih kosong, cenderung keruyukan.
Sementara Thalita kicep, dia nggak berani ngomong takut disalahin.
Pak Sarmin menghembuskan napasnya sejenak, "Hal yang saya takutkan akhirnya terjadi juga,"
"Maksud pak haji bagaimana? apa yang terjadi sama anak saya? hikks," tanya mami Reva.
"Kalian tentu ingat, bagaimana Arion waktu itu dilahirkan. Kelahiran anak itu disambut oleh para setan dan iblis," ucap pak Sarmin, membuka memori bagaimana perjuangan Reva saat itu.
"Penjagaanmu selama ini memang membuat anak kalian terhindar dari hal buruk, namun ketika dia sudah dewasa, penjagaanmu tidak akan lagi sama. Arion sendiri yang harus menjaga dirinya," pak Sarmin menatap mata Ridho yang sudah merah karena nggak tidur semalaman.
"Dia memang jatuh, tapi jatuh dalam pusaran kegelapan bersama seseorang yang juga memiliki jiwa seperti Arion. Mereka masuk ke dalam gerbang hutan kegelapan, dimana tidak ada cahaya yang bisa masuk ke dalam sana," pak Sarmin dengan susah payah menyampaikan ini.
"Jadi anak kami masih hidup, Pak haji?" papi Ridho menatap pria yang sudah sangat sepuh itu.
Dia mengangguk, "Untuk saat ini iya,"
Semua orang bernafas lega termasuk Om Karan dan juga Thalita.
"Tapi bukannya yang jatuh hanya anakku, kenapa pak haji bilang Rion jatuh bersama seseorang?" papi Ridho bingung.
Ya kan sihirnya Rissa kan udah hilang ya, jadi yang ada dipikiran semua orang sekarang, yang jatuh itu ya Rion, nggak ada orang lain lagi.
__ADS_1
"Dia seperti Rion, para iblis menghendaki mereka. Terutama anakmu, dia yang paling diinginkan..." kata pak Sarmin.
"Lalu kita, kita harus bagaimana untuk menolong Rion?" mami Reva nggak sabaran.
Pak Sarmin hanya menggelengkan kepalanya, "Hanya kuasa Tuhan yang mampu meolongnya,"
Dan seketika mereka tertunduk lemas, baru aja dikasih harapan lalu sekarang dihempaskan begitu saja.
Mami Reva nangiiiis lagi, anaknya masih hidup di negeri antah berantah tapi dia sama sekali nggak bisa menariknya kembali.
Sementara di hutan kegelapan.
"Disini kayak gini terus apa ya? gelap mulu kek masa depan elu!" Rion merepet sama bola ajaib yang nggak ada salahnya sama sekali.
"Jauh amat? Jangan-jangan aku dikerjain oleh oknum yang nggak bertanggung jawab lagi?" Rion ngomong sendiri sambil jalan ngikutin arah anak panah.
"Kalau gue dikerjain, berarti elu yang harus membasmi makhluk-makhluk itu, ya?" Rion sempet-sempetnya ngancem bola ajaib yang membantu memberikan secercah penerangan baginya.
Pengen berhenti, tapi dia takut kalau cahaya merah itu lama-lama hilang. Dan kalau benar itu kode dari Rissa, dia bisa kehilangan jejak gadis itu.
"Rissa, Rissa ... jawab gue dong!" Rion jalan dengan gempornya sambil terus menempelkan kalung di dadanya.
"Rionh..." lanjut gadis itu yang swpertinya udah nggak ada tenaga lagi.
Rion berhenti seketika, "Rissa, kamu yang mengirimkan panah buat aku?"
"Rion, kamu harus pergi. Kamu harus cari pintu untuk kembali ke dunia nyata," Rissa dengan suara lirih.
"Rissa? Rissaaaa?" suara Rissa seperti suara kaset ndat ndet, kayak sinyal radio yang cakadut.
"Jangan cari aku!" ucap Risaa.
Dan setelah itu, seberapa keras memanggil gadis itu. Dia udah nggak ngejawab.
"Ooh, Shiiiiiittt!" Rion menendang tanah , saking frustasinya.
"Gue yakin terjadin sesuatu dengan Rissa. Gue nggak akan ninggalin elu disini, Rissa. Gue bakal cari elu sampe ketemu dan kita akan keluar dari sini bersama-sama," Rion menengadahkan kepalanya, melihat langit yang gelap gulita.
Rasa lelah yang sempat mendera, kini hilang seketika. Dia terus berjalan mengikuti arah cahaya merah.
__ADS_1
Rion berhenti seketika, "Tunggu dulu, kalau tangan gue sakti. Harusnya kaki gue juga sakti dong! masa cuma tangan doang?"
Sretttttt!
Rion mengeluarkan pedang cahayanya, "Astaga, kenapa gue bisa lupa kalau gue bisa lari kenceng! Rion, Rion, ngapain elu daritadi jalan sampe gempor!" Rion merasa dia bego banget.
Dan...
Sekarang Rion berlari bagaikan seekor hyena, dia membawa pedang cahaya biru bersamanya. Saking kencengnya dia lari, seakan kakinya terangkat seperti melayang beberapa kali.
Laki-laki dengan perawakan atletis itu kemudian berhenti saat melihat ujung dari cahaya merah.
"Hhhhh ... hhh..." Rion ngos-ngosan.
"Rissaaaaa...?!!" Rion mengedarkan pandangannya, mencari sosok gadis itu tapi nggak ada.
"Nggak mungkin terjadi sesuatu dengan Rissa kan? nggak mungkin gue terlambat kan?"
Krekkkk??!
Wuuuzhhhh!
Turunlah sesosok perempuan yang mirip dengan Rissa.
Tapi Rion yakin ini bukan Rissa yang dia cari.Laki-laki tampan menawan itu mundur beberapa langkah.
"Aku minetta, aku nggak bisa lama-lama disini, bawalah senjata ini bersamamu!" Minetta menyerahkan sebuah busur dan anak panah pada Rion.
"Minetta?" gumam Rion, ya dia pernah dengar Rissa berbicara dan menyebut nama Minetta saat di tenda.
"Rissa sudah bersepakat untuk menukar jiwanya denganmu!" ucap Minetta dengan linangan air mata.
"Nggak, nggak mungkin. Dimana Rissa? katakan dimana Rissaaa?!!!" mata Rion membulat dia berusaha memegang Minetta, namun kosong.
Perempuan itu bisa dilihat namun tanpa bisa disentuh.
"Siapa elu yang sebenernya?"
"Aku Minetta, yang menjaga Rissa selama ini, dan sekarang aku pun akan lenyap ketika Rissa menyerahkan jiwanya pada iblis! nyatanya dia lebih memilih mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu!" kata Minetta membuat Rion menggeleng nggak percaya.
__ADS_1
"Nggak, nggak. Itu nggak boleh sampai terjadi!"