Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
23. Berkemah Di Tengah Hutan


__ADS_3

Sementara Reva merasakan batinnya sama sekali nggak tenang. Ridho lagi keluar bentar, ketemu orang di lobby. Sementara dia udah capek dan lagi rebahan aja gitu di kamar. Padahal Ridho juga merasakan hal yang Reva rasakan, batinnya begitu gelisah. Dan rencananya lusa Ridho bakal ngajak Reva balik karena urusan mereka hampir selesai.


"Aku telfon dedek Karan aja lah!" mami Reva nempelin hape di kupingnya.


Om Karan yang baru aja pulang dari kantor dan disambut oleh istri dan anak tunggalnya, pun melipir menjauh. Om Karan memberi kode kalau dia akan mengangkat telepon lebih dulu.


"Ya, ada apa, Va?" tanya Om Karan.


"Aku..."


"Ada apa? apa ada masalah?"


"Ya, aku lagi di Jepang sama Ridho. Dan aku nggak tenang banget ninggalin Rion di rumah,"


"Terus?"


"Aku bisa minta tolong nggak? kamu ke rumahku, liatin si Rion! dari kemarin aku keinget Rion terus. Aku takut bocah nakal itu kenapa-napa!" mami Reva ngomong dalam satu tarikan napas.


"Kamu nggak usah khawatir, saya kesana sekarang!" Om Karan menutup teleponnya.


Sedangkan mami Reva lega, akhirnya adik sepupunya bakalan tengokin Arion, bocah kamvret yang bikin perjalanan maminya cenat cenut nggak karuan.


Sedangkan Om Karan yang baru tau kalau pasangan sengklek lagi ke luar negeri, langsung nyamperin istri dan anaknya.


"Kanaya, ayah pergi dulu ya"


"Ayah mau kemana? bukannya nggak baik ya kalau keluar rumah maghrib-maghrib?" Kanaya yang masih duduk di bangku SMP ingetin ayahnya.


"Ayah mau ke rumahnya kakak Arion," Om Karan mengelus anaknya yang terpaut 7 tahun dari keponakannya, Arion.


"Memangnya ada apa sama Arion, Mas?"


"Tidak ada apa-apa, hanya mengecek keadaan anak itu! orangtuanya sedang berada di Jepang," jelas Om Karan.

__ADS_1


"Kamu sama Kanaya makan duluan saja. Mungkin nanti saya mau ajak Arion makan di luar," lanjutnya. Sedangkan tante Luri manut aja apa kaya suaminya.


Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di tengah alas alias hutan, Rion dan teman-temannya sedang menggelar acara makan bersama. Dia nyuruh Adam buat masak makanan yang enak. Rion sengaja minta Adam membeli daging wagyu yang diiris tipis, buat mereka masak dengan bumbu teriyaki dan yang masak pada tereakan, terutama si Eza.


"Met, jangan dibolak-balik mulu itu daging! nanti nggak enak!" tegur Eza.


Slamet santai aja ngaduk masakan di wajan, "Makin sering diaduk malah makin enak!"


"Kebanyakan tangan malah nggak enak, tau!" Eza nggak mau kalah.


"Kalian bisa diem nggak? gue masaknya jadi nggak konsen," Adam angkat bicara.


Sedangkan Rion ogah misahin, biar aja. Biar si Telolet tau, pria macam apa yang lagi pedekate sama dia. Rion malah minggir dari grup yang lagi pada sak masak.


Lagian segini banyak orang yang cicit cuit dan suka bikin keributan ya mereka-mereka doang, kalau yang lain mah otak masih pada waras, alhamdulillah.


Apalagi anggota yang baru gabung kaya Bruno, Faisal dan Hanan, tuh bocah emang dasarnya pendiem, nggak bakal berani buat nyautin atau nimpalin obrolannya para senior. Mereka lebih milih sibuk ngitungin bintang di langit dan menikmati suasana malam yang dingin.


"Masih lama nggak tuh masaknya?" tanya Anisa yang masih nunggu makanan, dia udah kelaperan banget soalnya.


Loren, Thalita dan satu lagi cewek namanya Galuh yang dipasrahin masak nasi juga nggak kalah lapernya, cuma gimana belum ada yang mateng.


"Lu beli sono di warung!" celetuk Telolet, "Sekalian gue nitip, ayam geprek level 4!"


"Kita kan lagi di hutan, mana ada warung!"


"Nah itu tau! jadi ya sabar!" ucap Thalita.


"Thalita, kayaknya airnya udah---" ucapan Loren disrobot Telolet.


"Kata si Galuh kayak gini kok. Katanya suruh diaduk-aduk?" tanya Thalita.


"Api nya jangan terlalu besar nanti gosong! Awas, itu bentar lagi udah bisa diangkat! " Galuh ngingetin beras yang lagi mereka aron. Gadis itu mengambil alih.

__ADS_1


Mereka berempat masak nasi nggak begitu banyak, cuma buat syarat makan malem aja. Dan grup pemasak nasi agak jauh dari api unggun, soalnya mereka masak pakai gas portable, takutnya kesamber api bisa bahaya.


Malam semakin lama semakin dingin, Loren menengok ke arah Rion yang lagi duduk. Wajah tampannya disinari cahaya warna oren yang berasal dari api unggun, menambah nilai kegantengan laki-laki itu.


"Lagi liatin siapa, Ren?" Thalita menyadari kalau Loren lagi memperhatikan seseorang.


"Lu ada hubungan apa sama bang Rion? guweh liat elu berdua akrab banget," Telolet meluk badannya sendiri, dia kedinginan.


"Nggak ada kok," jawab Loren cepat.


Si Mova sengaja pasang kuping, pengen denger juga jawaban si Loreng ini. Dan ternyata satu! garis senyum mengembang setelah mendengar kalau Loreng nggak lagi menjalin hubungan sama Rion, "Yes, pintu kesempatan gue masih ngablak-ngablak!" batin Mova kegirangan.


Tanpa sepengetahuan Mova, Loreng menjawab seperti itu supaya Mova nggak banyak berpikiran buruk, karena itu bisa membawa pengaruh dalam pendakian ini.


Masih untung itu beras sekarang berada di tangan yang tepat. Ada Galuh yang bisa masak nasi pakai mode jadul, yang masaknya harus diaron dulu baru tuh di tingkringin pakai panci yang ada sarangnya. Nggak bisa dibayangkan kalau itu beras di tangan Telolet? Berakhir jadi bubur juga belum tentu, apalagi jadi nasi?


Telolet dipasrahin ngaduk aja, hampir gosong itu adonan nasinya. Jadi mending sekarang tuh bocah jangan pegang apa-apa, daripada amsyong.


Sedangkan Rion masih teringat dengan satu burung hinggap di tanah dan melihatnya dengan tatapan yang aneh, "Apa benar yang dikatakan si Slamet?"


Rion sontak menoleh ke belakang saat dia merasa ada yang sedang mengawasi kegiatan mereka, "Masih aja nggak mau pergi?" Rion kembali menatap api unggun setelah melihat satu sosok pendaki astral yang sempet jalan dibelakang Slamet.


"Ren ... Loren?" Rion mendekatkan kalungnya ke dada.


"Ya?"


Sesaat Rion terdiam, dia bingung mau ngomong apa.


Tiba-tiba Loren bicara, "Hati-hati, dia begitu tertarik sama kamu?"


"Yang dibelakang gue??" Rion menunggu jawaban dari Loren.


"Itu salah satunya!"

__ADS_1


__ADS_2