Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
125. Hari Yang Seharusnya Membahagiakan


__ADS_3

Hari yang harusnya membahagiakan, dirasakan Rion biasa aja. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya pemuda itu bisa ngerasain diwisuda juga. Selaras dengan temen-temennya yang berusaha mengejar keberhasilan Rion, pemuda itu mencoba untuk merasakan euforia sahabat dekatnya yang juga merasakan indahnya wisuda. Mereka nggak tau aja, sebentar lagi mereka semua akan dihadapkan pada keruwetan-keruwetan hidup yang bikin mereka nggak akan bisa mundur meskipun satu langkah.


"Gue nggak nyangka bakalan sukses bareng kalin semua!" ucap Slamet yang terakhir-terakhiran udah down parah, karena skripsi yang nggak kelar-kelar.


Untungnya ada tangan dingin Rion yang mau ngebantuin, jadilah Slamet bisa tertolong.


"Nggak tau deh gimana murkanya emak gue, kalau tau anaknya wisudanya mundur, kecewa banget sih pasti..." ucap Slamet yang dengan bangganya memakai jubah wisudanya.


"Lah kan elu kebanyakan ngapelin Amanda! punya pacar sih ounya pacar, tapi bukannya suport malah ngajakin ribut mulu. Kagak bahagia hidup lu!" kata Eza ngompor-ngomporin.


"Eza ada benernya juga loh, Met! elu terlalu menomor satukan Amanda, sedangkan elu lupa sama kewajiban elu sebagai mahasiswa tingkat akhir," Adam nambahin ucapan Eza.


"Cinta boleh, tapi lu harus pakai logika dong dalam hal mencintai seseorang!" tambah Adam.


"Tuh denger, mulut bang Eza tuh bau surga. Yang keluar dari sini itu bisa bikin manusia yang salah jalan kayak elu bisa berbalik ke jalan yang lurus!" kat eza nggak tau diri.


"Jangan ngadi-ngadi lu jadi orang!" Slamet pengen nabok mulutnya Eza.


"Gue penasaran, lu ama Eza bakalan kayak gini sampe tua nggak ya?" Adam merangkul kedua temennya yang kalau ketemu suka banget cakar-cakaran.


"Kayaknya sampe punya anak cucu, gue bakalan sering ribut ama dia," kata Slamet.


"Rumah gue bakalan jauhhhh, samoe elu harus naik pesawat jet, kalau mau ke rumah gue!" Eza merepet lagi.


"Kalian bisa diem nggak sih? rapetan dikit rapetan dikit!" Thalita daritadi kesel, foto yang dia ambil nggak ada yang bagus.


"Pokoknya gue bakalan cari rumah yang jauh dari Slamet!" kata Eza lagi.


"BAAAAANG EZAAAAAAAA! JANGAN NGOMONG TERUS, JADI JELEK KAN FOTONYAAAAAAA!" teriak Thalita yang udah kepanasan.


"Iya bidadarikuuuuu, abang Eza siap mingkem..."


"Oke ya, satu ... dua ... tiiiii-gaaaa!" seru Telolet yang mengabadikan beberapa momen wusuda kakak sepupunya.


"Dasar pelit senyum!" gumam Thalita saat melihat potret Rion yang ekspreainya lempeng aja.

__ADS_1


"Eeeh eehhh tungguuuu, mami belum fotoooooo!" mami Ribet dengan kebaya dan sanggulnya.


"Pelan-pelan, Sayang!" kata papi Ridho yang gagah dengan jasnya.


"Fotoin tante sama Rion!" suruh mami Reva, dan dia otomatis ngibasin tangannya macam ngusir ayam. Temen-temennya Rion suruh pada minggir gitu.


Thalita dengan handalnya menjepret momen itu beberapa kali sampai akhirnya ada foto yang di approved sama mami Reva, "Oke, bagus!" katanya.


Lagi asik-asik poto, ada pengumuman kalau semua peserta wisuda beserta tamu undangan dimohon untuk masuk ke dalam gedung.


"Ayo, Sayang! kita udah disuruh masuk!" mami Reva heboh sendiri mengajak kedua pria gagah di tangan kanan dan kirinya.


'Selamat Rion...' suara hati seorang gadis yang bersembunyi dan melihat Rion dari kejauhan.


Gadis itu Rissa, dia menyempatkan diri untuk melihat Rion memakai jubah wisudanya. Dia pergi saat melihat Rion masuk ke dalam sebuah gedung.


Rion duduk di barisan paling depan, karena dia diminta untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai lulusan terbaik tahun ini.


Rion berdiri dan berjalan ke arah podium saat namanya dipanggil. Mami Reva nggak kuat menaha air matanya saat kalimat demi kalimat meluncur dari bibir Arion.


Sedangkan kata-kata Rion ini lumayan menggelitik di hati papi Ridho, 'Dia bahkan lebih dewasa dari yang aku kira!' suara batin papi.


Acara berjalan dengan lancar sampai akhirnya penyerahan ijazah, nama Arion disebut pertama sebagai lulusan terbaik dengan IPK sempurna, membuat mami nya meneteskan air matanya lagi.


"Anak kita ternyata pinter ya, Piiih?" ucap mami Reva saat melihat Rion bersalaman dengan para dosennya.


"Ya kan turunan papinya!"


"Terus maksud papi, mami nggak pinter gitu? semua yang baik-baik itu adanya di papi semua gitu? iya?" mami merepet.


Papi Ridho ketar-ketir, "Bukan gitu, Sayang!"


"Eh itu, kenapa dia lempeng begitu? ckk! harusnya kan ada selebrasi apa kek," papi nunjuk anaknya yang abis dibenerin tali toganya, nggak tengok kanan kiri langsung turun aja dari panggung.


"Ck, kok makin kesini jadi mirip sama sepupu kamu sih, Va?" celetuk papi.

__ADS_1


"Iya juga ya..." lirih mami Reva yang menyadari kalau Rion kok makin lama makin dingin.


Beda sama Eza yang jejingkrakan, menggenggam tangan seraya teriak 'Yas Yes Yas Yes Uhuy!' sampe bikin malu emak bapaknya yang dateng.


Disitu mami Reva menyadari sesuatu, 'Apakah aku udah mengambil hal yang berharga di hidup anakku? sampai dia sedatar itu sekarang?' batinnya.


Acara seremonial selesai, mami Reva ngajak temen-temennya Rion buat makan siang bareng.


"Loh, Ibu Bapak kamu kok nggak diajak?" tanya mami Reva pada Slamet dan Eza.


"Kecapean, Tante. Jadi mau balik ke penginapan aja. Kebetulan orangtuanya Slamet dan saya nginep di tempat penginapan yang sama,"


"Dimana? kalau nggak Om bookingin hotel di deket sini, biar nggak capek! sebentar, yah?" ucap papi Ridho.


"Nggak usah, Om!" kata Slamet, padahal dalam hati mah seneng. Kapan lagi nyenengin orangtua dengan nginepin mereka di tempat yang bagus, ya kan?


"Sebentar!" kata papi Ridho yang menjauh dari temen-temen Rion.


Nggak lama dia kembali, "Slamet, Eza, itu ada temen Om namanya Arsen. Nanti dia yang akan mengantar orangtua kalian ke hotel,"


"Dimana orangtua kalian? biar Om ketemu dulu," lanjut papi.


Dengan kebaikan hatinya, papi Ridho dan mami Reva bersalaman dengan orangtua dari para sahabat Rion. Mereka berbincang sebentar sebelum Arsen datang dan membawa orangtua Slamet dan Eza ikut bersamanya menuju sebuah hotel.


Adam yang kayaknya nggak nungguin siapa-siapa pun di deketin papi Ridho, "Orangtua kamu mana, Dam? Om juga ingin ketemu,"


"Nggak dateng, Om!" sahut Adam.


"Tadi sempet dateng sebentar, yapi ada kerjaan lain!" lanjut Adam yang nggak mau keliatan menyedihkan.


Papi Ridho segera menepuk pundak Adam, memberikan dukungan.


"Dalam hati, mereka pasti sangat mendambakan hari ini! percayalah, setiap orangtua pasti ingin hadir di setiap moment penting anaknya!" ucap papi Ridho.


"Yuk, kita gabung sama yang lain!" lanjut papi Ridho.

__ADS_1


__ADS_2