Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
83. Bersembunyilah


__ADS_3

Keadaan Istana sangat kacau.


Serangan burung-burung gagak kiriman dari Anna pun berebut untuk mencari kedua perempuan yang memiliki wajah yang serupa.


"Maaf, aku harus melakukannya!" ucap Anna yang melihat istana dari kejauhan.


"Aku hanya melakukan tugas, aku terpaksa..." kata Anna yang mengusap airmatanya, kemudian berjalan mendekat, dan berniat masuk ke dalam bangunan yang menjadikannya pelayan khusus puteri Odellia.


Sedangkan Dorothy yang lagi berdiri di depan sebuah kaca ajaibnya tertawa saat melihat ribuan burung bukan hanya memadati Istana, melainkan menyerang para pengawal tanpa ampun. Bahkan kini kawanan burung itu udah mulai masuk ke dalam bangunan kastil yang megah.


"Hahaha, rasakan kau Abraham! aku yakin, burung gagak itu akan mencari dimana puteri dan ratu mu! hahahahaha aaaaa---"


Krekkk!


Suara tulang rahang Dorothy. Dia yang nggak sengaja membuka mulutnya terlalu lebar pun memekik, "Aaaaawh!"


Rahang nya kesleo. Rasain dah lu! makanya kalau mangap mbok ya jangan lebar-lebar.


Dorothy kini tertawa setengah tertahan, "Tamatlah riwayatmu, Abraham! kau akan mendapatkan balasanmu, karena sudah berani menolakku. Padahal aku sudah memberikan seluruh hatiku padamu, Yang Mulia..."


Penyihir wanita itu lagi nonton kegaduhan yang sengaja dia ciptakan melalui seorang gadis bernama Anna.


"Rasakan kalian! burung gagak itu, mereka akan mengejarmu. Dan saatnya aku menonton puteri yang tertukar mendapat karma buruknya," Dorothy sekarang melihat puteri Odellia yang udah balik lagi berpenampilan sebagai puteri raja.


Dorothy yang udah mangap, nggak jadi ketawa lebar. Dia takut rahangnya kenapa-napa.


Sedangkan pangeran yang lagi jalan diikuti para pengawal, tiba-tiba kedatangan sekawanan burung berwarna hitam.


"Arrrrrghhh!" pangeran Clift mengayunkan pedangnya, membuat burung-burung itu berjatuhan dengan cairan merah membasahi pedang milik pangeran tampan.


"Sial, pasti nenek sihir itu yang melakukan ini!" dada pangeran naik turun, ngos-ngosan.


Dia segera berlari menuju kamar puteri Odellia.


Sedangkan kupu-kupu hitam jelmaan peri Keket pun masuk ke dalam kamar puteri.


"Arioooon?" teriak peri Keket, dia segera mengubah wujudnya.


"Ulet Keket?"


"Kunci semua jendela dan pintu!"


"Iya, tapi kenapa? apa yang sedang terjadi?" Rion mencecar peri yang ketemu sama dia di hutan kegelapan.


"Ribuan burung gagak menyerang Istana!" sahut sang peri.


"Aaaaapaaaaa?!!!" teriak puteri Odellia.


"Bagaimana dengan ayah? dan kenapa burung-burung itu datang kemari?" sang puteri panik, dia mengkhawatirkan keadaan raja.


"Ku pikir kau sudah mengetahui semuanya puteri?" peri Keket nengok ke arah puteri Odellia sebelum terbang ke arah Rissa.


"Aku tidak mengerti maksudmu!" puteri Odellia memandang sang peri mungil

__ADS_1


"Ayahmu pasti banyak yang menjaga, kau tidak perlu cemas!" kata Rion yang segera memastikan jendela-jendela sudah dikunci dibantu Defne dan juga Rissa yang keliling buat ikut ngecekin.


"Rissa kau harus segera pergi dari Istana, ada kekuatan jahat yang mengincarmu!" kata peri Keket.


"Aku pasti akan segera pergi dari sini, karena Arion sudah bersamaku..." lirih Rissa.


Sementara yang lain nutupin jendela, papi Ridho bergerak ke arah pintu. Tapi baru juga beberapa langlah tiba-tiba ada suara teriakan, "Pangeran Clift datang,"


Dan seketika sosok pria muda yang berkharisma masuk ke dalam kamar itu. Dan segera menutup pintunya.


Matanya membulat seperti onde-onde saat melihat papi Ridho dengan pakaian yang aneh menurutnya.


Sreeeeettt!


Pangeran menarik pedangnya, yang udah bersih dari cairan merah. Tapi keliatan beberapa cakaran menghiasi wajahnya.


"Siapa kau? kenapa kau bisa ada disini?" pangeran Clift memandang papi Ridho sebagai sebuah ancaman. Dia mengarahkan ujung pedangnya pada papi Ridho.


"Wow, wow, tenang anak muda!" papi Ridho mengangkat kedua tangannya.


"Turunkan pedangmu, pangeran Clift! Dan


Jangan coba-coba untuk menyakitinya.!" seru puteri Odellia yang menghampirinya.


"Ternyata kau sudah kembali puteri? bagaimana dengan liburanmu? menyenangkan?" pangeran Clift terkesan.


"Kau---"


"Aku disini, pangeran..."lirih Rissa.


Pangeran Clift mendekat, "Apa kau baik-baik saja?"


Rissa mengangguk, "Ya..."


Rion pun menanangkap tangan pangeran saat akan menyentuh wajah Rissa.


"Jangan setuh dia!" Rion memperingatkan. Dia menangkap tangan pangeran Clift.


"Sebaiknya kalian jangan bertengkar, sikap kalian sungguh kenak-kanakan!" ujar Defne.


Papi Ridho hanya bisa geleng kepala, urusan anak muda. Dia nggak mau ngrecokin, dia cuma pengen tau gimana cara Rion mempertahankan sesuatu yang disukainya.


'Emang beneran anak papi kamu, Rion!' dalam hati papi Ridho sangat bangga.


"Kau---"pangeran Clift melihat tajam ke arah Rion.


Namun puteri Odellia menyela, "Jaga sikapmu pangeran!"


Braaakkkk!


Braakkkkk!


Suara jendela yang seperti hantam oleh sesuatu dari arah luar.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa keadaan menjadi sekacau ini?" puteri Odellia melihat ke arah jendela.


"Kau bertanya pada siapa?" pangeran melirik puteri Odellia yang asli, padahal sikapnya pada Rissa begitu lembut. Entahlah pangeran Clift merasa kalau dia lebih nyaman dengan Rissa daripada dengan Odellia.


"Tentu aku bertanya padamu!"


"Seseorang ingin berbuat jahat padamu. Sebenarnya aku tidak berhak memberitahukan hal ini, tapi mungkin sudah saatnya kau mengetahui apa yang terjadi selama ini," kata pangeran.


"Cepat katakan!"


"Dorothy, penyihir jahat. Dia mengincarmu, ingin mencelakaimu. Bahkan saat itu ratu mengorbankan dirinya untuk melindungimu. Dan aku menerima perjodohan ini bukan karena aku menyukaimu, tapi aku hanya menghargai hubungan baik antara ayahku dengan raja Abraham, mereka ingin ada seseorang yang melindungimu," kata pangeran.


"Namun sepertinya aku pun akan menolak perjodohan ini, karena aku sudah menyukai seseorang," lanjut pangeran Clift.


Harga diri puteri Odellia seketika runtuh saat itu juga. Dia mengira bahwa pangeran Clift yang menginginkan perjodohan ini. Dan dari pandangan pangeran, sepertinya puteri Odellia paham, siapa wanita yang dimaksud pangeran Clift.


Braakkkk!


Brakkkkk!


"Mungkin urusan cinta bisa dibicarakan lain waktu---" ucapan papi Ridho terhenti saat jendela yang segede gaban itu tiba-tiba kebuka karena dorongan keras dari luar.


Braaaaakkkkkk!!


Ratusan burung gagak masuk dari jendela kamar.


Kwakkk wakkk wakkk!


"Aaakkkkhhh!" mereka aemua memekik dan berusaha menghalau serangan dari burung-burung yang mulai mematuk badan mereka, terutama Rissa dan Odellia yang paling banyak di kerubungi burung.


Sreeeeeeeeettt!


Pangeran mengeluarkan pedangnya. Dia ayunkan pada burung berwarna hitam yang mengerubungi Rissa dan Odellia.


"Awwwkk!" Rissa yang masih mode lemes pun mencoba melindungi wajahnya dengan bersembunyi di lengannya yang dia tekuk.


Begitu juga dengan papi Ridho yang mengambil pedangnya dan mulai menghunuskan benda tajam itu pada ratusan burung yang menyerang mereka.


Kwaaaakkk wakkkk wakkk!


"Aarrrrghhhh!" Rion merasakan badannya sakit kenap patuk paruh burung yang runcing.


Dia menarik Rissa, Rion menjadikan tubuhnya pelindung gadis itu, walaupun dia harus merasakan kulitnya yang seperti ditusuk-tusuk benda runcing.


"Puteri Odellia, masuklah ke jalur rahasia! bawa Defne dan Rissa bersamamu" seru Rion.


"Lalu bagaimana dengan kalian?" tanya puteri Odellia merasakan kulitnya yang sakit dan perih.


"Kami akan menyusul!" kata Rion.


"Masuklah, dan bersembunyi disana!" bisik Rion pada Rissa. Pemuda itu menarik Rissa pada puteri Odellia.


"Defneeeeee!" seru Arion saat sebuah cahaya akan melewati tubuh ramping gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2