
Cukup lama Rion berdiam diri di coffee shop, mikirin semua hal yang terjadi belakangan ini. Hubungannya dengan Thomas yang udah pasti akan renggang, tapi Rion udah nggak pedul dengan itu. Yang dipikirannya saat ini, gimana nyampein tentang pernikahannya ini pada sang mami.
'Kira-kira mami bakalan shock nggak yah?' dalam hati Rion.
Sepintas bayangan wajah sang mami mampir di pikirannya, dia menggelengkan kepala mengusir wajah serem maminya yang pegang wajan sama sutil buat ngegetok kepala Rion.
'Nggak nggak, mami gue kan baek. Itu bayangan ngawur itu!' Rion mencoba buat ber-positif thingking.
"Pertama yang harus gue kasih tau mungkin papi. Papi mungkin lebih bisa berpikiran jernih daripada mami," Rion lagi-lagi bergumam sendiri.
Setelah dirasa udah jenuh, Rion mutusin buat nyamperin Rissa dengan harapan Thomas udah pulang.
Sedangkan di Rumah sakit, Dera Prayoga yang masih tidur karena efek obat yang diminumnya pun membuat Thomas beranjak dari sofa.
"Besok lagi aja aku kesini," kata Thomas yang sedari datang sampai sekarang belum ngobrol sama papa nya Rissa, karena papanya Rissa masih tidur.
"Makasih udah jenguk papa ku..." Rissa menunduk sebentar.
"Aku pulang..." Thomas berbalik dan berjalan dengan langkah tanpa semangat.
Rissa duduk di sofa, dia tengadahin kepalanya ngeliat langit-langit. Dua hal baik datang kepadanya dan satu hal buruk harus diterimanya. Keberhasilan operasi papanya nggak bisa dipungkiri membuat rasa syukur menggema di hatinya. Dan bersatunya dia dan Rion dalam sebuah ikatan pernikahan juga membawa suatu kebahagiaan tersendiri meskipun semua itu terbungkus oleh rasa sedih dengan berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadii setelah ini. Tapi yang jelas, dia bisa membuat papa nya lega karena dia bisa melihat anaknya menikah.
Mungkin karena terlalu lelah dan banyak pikiran, Rissa pun akhirnya tertidur pada saat Rion datang ke ruang rawat papa mertuanya.
Rion mengelus kepala istrinya, "Kita berjuang bersama lagi, ya?" gumaman Rion sangat lirih.
Malam itu mereka berdua bersama-sama menjaga Om Dera, dan Rion ambil bagian ketika papa mertuanya itu terbangun dan membutuhkan sesuatu.
Beberapa hari berlalu...
Thomas sempet dateng ngejengukin papa nya Rissa dan kebetulan pas Rion nggak ada disitu. Soalnya RionĀ masih boalk-balik antara rumah sakit dan apartemen apalagi besok dia udah harus ngantor lagi, cari cuan lagi.
"Rion dimana?" tanya papa Rissa.
"Pulang, aku suruh istirahat. Besok dia harus balik kerja lagi, Pah..." jawab Rissa yang motongin apel buah papanya.
__ADS_1
"Harusnya kamu jangan disini,"
"Maksudnya gimana, Pah?" Rissa motongin apel.
"Kamu pulang dan urus suami kamu, kasian dia..."
"Terus yang ngurusin papa siapa?" Rissa yang udah motong-motong apel pun sekarang ngasih salah satu potongan buah itu pada papa nya.
"Papah sudah membaik.Disini banyak perawat, papa nggak akan terlantar. Kamu tenang saja, sudah diurus seperti ini sama kamu aja papa sudah bersyukur...."
Berhubung Rion udah nikah sama Rissa, kita panggil Om Dera jadi papah Dera aja ya. Biar lebih deket gitu, ehek!
"Jangan ngomong kayak gitu, Pah..." Rissa berusaha membuat papanya jangan sedih terus.
"Papah sudah mulai sehat, sekarang kamu pulang. Siapkan makanan buat suami kamu. Nanti papah yang telfon dia supaya nggak usah kesini. Jangan mengulang sejarah pernikahan anatara papa sama mama, Rissa..." Papa Dera yang sudah insyaf pun berusaha memberi wejangan yang baik.
"Sudah sana pulang...." lanjut papa Dera.
Papa Dera ngambil piring yang ada di tangan Rissa, "papa bisa makan ini sendiri,"
"Iya..." sahut papa Dera, dia kasih senyuman pada anaknya.
Setelah dipikir-pikir emang apa yang dikatakan papa nya ada benarnya juga. Semenjak papa nya dioperasi, Rissa terlalu fokus ngerawat papa nya sampai terkadang lupa buat ngasih waktu buat Rion.
Berbekal pasword yang udah Rion kasih, Rissa meluncur dari rumah sakit ke unit apartemennya. Sekarang Rissa udah masuk dan berjalan pelan seakan dia tamu di unit ini.
"Hem ... Rion?" panggilnya lirih.
Rissa meletakkan tasnya di dapur yang didesign sangat cantik lalu dia jalan menuju kamar milik pria yang kini menjadia suaminya. Setelah pintu dibuka, dilihatnya Rion lagi tidur dengan wajah yang sangat lelah. Padahal langit udah mau gelap, pria itu belum juga bangun.
"Aku masakin sesuatu aja, kasian pasti dia belum makan..."
Tapi baru juga Rissa berbalik, tangannya ditangkap dan ditarik sampa punggungnya kini menyentuh ranjang yang sangat empuk, " Awwkhh!" Rissa memekik saat matanya bertabrakan dengan pandangan mata Arion.
"Kamu---"
__ADS_1
"Kenapa datang mengendap-endap, hem?" tanya Rion.
Rissa bisa melihat wajah segar seperti orang yang baru aja mandi, "Jadi kamu nggak tidur?"
"tadinya nggak, tapi liat kamu aku jadi pengen merem." Rion kini melingkarkan tangannya di perut Rissa. Dia mendekat menyembunyikan kepalanya di leher istrinya. Dan itu membuat Rissa merinding karena nafas hangat yang menyapu kulitnya.
Rissa berusaha kabur, "Aku ... aku mau---"
"Mau apa?" potong Rion.
"Ganti baju. Aku dari rumah sakit," kata Rissa.
"Nanti aja, aku udah nyaman!" Rion malah semakin ngusel. Sejujurnya ini berat bagi Rion, dia harus sabar menunggu sampai keadaan mereka membuat semuanya mungkin terjadi. Minimal dengan seperti ini rasa kangen Rion bisa terobati.
Rion pria normal yang dekat dengan istrinya pasti menimbulkan perasaan yang lain, tapi dia berusaha sebisa mungkin menahannya. Dia akan tahan sampai Rissa mengijinkannya.
"Kenapa tiba-tiba datang? ada apa?" tanya Rion yang bikin dia geli.
"Buat ngeliat keadaan kamu,"
"Hem?" Rion makin ngusel.
"Pasti papah yang nyuruh kamu kesini, iya kan?" tebak Rion.
"Sebenernya iya, tapi aku emang udah ada niat buat kesini..."
Tanpa aba-aba Rion membalikkan badan Rissa supaya menghadap dirinya, "Buat kesini atau tinggal disini?" tanya Rion.
Meski ini bukan yang pertama kali bertatapan dengan Rion tapi pandangan mata itu membuatnya selalu gugup dan salah tingkah jika berada sedekat ini. Makin Rissa salting Rion makin mengikis jarak diantara mereka, Dia mengelus pipi istrinya dengan sangat lembut, "Aku kangen sama kamu," Rion dengan suaranya yang berat.
"Maaf----"
"SShhh," Rion mengusap bibir Rissa dengan ibu jarinya.
"Bukan kata itu yang ingin aku dengar, " Rion memandang Rissa dengan penuh kelembutan. Dia mendekatkan wajahnya sampai rasanya nggak ada jarak lagi diantara mereka.
__ADS_1
Sampai ada sesuatu yang aneh yang Rion rasakan....