Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
86. Mereka Hilang


__ADS_3

Ketika pria yang tampan menurut versinya masing-masing pun kompak bergerak ke arah sebuah cermin.


Disana terlihat seorang wanita muda dengan rambut berwarna abu-abu.


"Itu pasti Dorothy?!!" pangeran Clift menebak siapa bayangan wanita yang ada di dalam cermin.


"Hahahah, kau mengenaliku pangeran tampan? hmmm hah..." Dorothy menghirup napas panjang sebelun ngomong lagi, "Semakin hari kau semakin tampan pangeran, tidak heran banyak wanita yang menginginkan menjadi ratumu, kecuali aku...."


"Karena ada dua pria tampan dengan wajah yang hampir sama yang membuatku tertarik untuk memilikinya...." mata Dorothy melihat ke arah Rion dan juga papi Ridho.


"Cih, jangan harap kau bisa menjadi menantuku?!!!" papi Ridho menolak perempuan itu mentah-mentah. Karena meskipun wajahnya terlihat awet muda, tapi papi Ridho juga punya feeling kalau wanita yang ada di dalam cermin itu sebenernya wanita tua, kan dia juga udah dibilangin sama pak Sarmin. Pesona Arion emang udah melewati batas, dan bikin resah para wanita.


"Hahahahha, sekarang kau bisa saja menolak. Tapi nanti, kalian akan berebut menjadi pendampingku," Dorothy ketawa jahat.


Kesabaran pangeran Clift menipis, "Aku yakin kau yang menyembunyikan puteri Odellia, dan juga----"


"Dan juga mereka?" serobot Dorothy. Dia memperlihatkan keempat gadis dengan mulut dan tangan yang terikat.


"Yang tiga bener, yang satu aku nggak kenal!" kat Arion keceplosan.


"Hahahhaah, tentu kau tidak mengenalnya, tampan!" Dorothy bikin Aion tambah esmosi.


Dorothy kembali menghirup udara di sekitarnya, "Aku akan selalu awet muda berkat mereka," Kali ini Dorothy berusaha nggak ketawa lampir lagi, dia takut rahangnya kembali bermasalah.


“Kau boleh membawa kedua orang ini, dan lepaskan para gadis itu?!!” kata pangeran Clift, sedangkan Dorothy tertawa mendengar ucapan pangeran tampan.


“Heh! Penawaran macam apa itu?” Arion mendelik, dia nggak suka dengan pangeran Clift yang ngomong nggak pake dipikir.


Sedangkan papi Ridho diem-diem bae, mencium bau-bau persaingan antara anaknya dan juga pangeran Clift.


“Tunggulah, aku akan membuat permainan ini semakin menarik,” Dorothy kemudian menghilang.


“Rissaaaa, Rissaaaaa?!!” ucap Arion dan juga pangeran Clift berbarengan. Dan hal ini bikin papi Ridho yakin, kalau kedua pemuda yang ada di depannya mmeperebutkan orang yang sama.


“Siall…?!!” pangeran Clift meninju angin.

__ADS_1


“Pih, kita harus berbuat sesuatu,”


“Ya, Rion! Kita harus bergerak cepat…” papi Ridho setengah berpikir, “Dia sepertinya tertarik sama kamu, Rion. Coba kamu pancing supaya kita bisa mendatangi tempat Rissa dan yang lainnya ditawan,” kata papi Ridho.


“Tega banget papi numbalin anak sendiri?!” Rion kesel sama papi nya.


“Bukan numbalin, Cuma buat pancingan aja. Kita nggak mungkin disini terus,” kata papi Ridho yang kini ngerasain jari tangannya setengah kaku.


“Aku akan memberitahu raja soal ini, kalian disini saja jangan kemana-mana?! Aku akan segera Kembali, jangan coba-coba mendatangi Dorothy tanpa aku!” kata pangeran Clift yang wajahnya juga ada luka.


Setelah pangeran Clift pergi, Sekarang papi Ridho sama Rion pun duduk lesehan bersandar pada lemari baju.


“Huufhh, mau pulang juga adaaaa aja halangan rintangannya,” Arion mencemaskan keadaan Rissa. Baru juga ketemu, eh sekarang pisah lagi.


“Dulu mami mu juga pernah terjebak di dunia lain, tapi untungnya bisa disusulin papi, dan bisa keluar juga…”


“Kapan itu, Pih?” Rion jadi kepo.


“Dulu banget, waktu papi sama mami masih temenan…” papi Ridho jadi inget saat-saat dia menjemput mami Reva yang kesasar dengan bos yang ternyata mempunyai hubungan kekerabatan dengannya.


“Ngapain juga diceritain sama kamu, Rion? Nggak cukup sehari buat nyeritain kayak gitu. Dua kali dia kejebak di dunia ghoib,” papi Ridho ketawa nanggungin.


Mata papi ridho bergerak ke atas, seakan mengingat sesuatu, “Dan kejadian paling mengerikan ya waktu mau ngelahirin kamu. Mami kamu itu berjuang hidup dan mati, lagi hamil besar harus lari-larian sama papi di rumah sakit angker. Dan titik terendah hidup papi, bukan saat papi kehilangan pekerjaan.


Tapi saat papi harus melihat mami mu begitu ketakutan saat proses kelahiranmu yang begitu sulit. Makanya, kamu sampai saat ini nggak punya adek. Karena buat papi, cukup sekali aja, papi ngeliat mami mu begitu kesakitan seperti itu. Papi nggak sanggup, Rion…” jelas papi Ridho.


“Papi bucin juga ya?” Rion ngledekin.


“Mungkin,” sahut papi singkat, “Ah, kayak kamu nggak bucin juga, Rion!”


“Mana ada?!!” Rion gelengin kepalanya.


“Dasar bocah kamvret! masih aja ngelak di depan papi?! Kalau nggak bucin kenapa kamu malah ikut terjun saat gadis itu jatuh ke pusaran waktu? Hem?” papi Ridho bikin Rion nggak bisa nyautin lagi.


“Kamu itu bikin mami kamu nangis mulu tiap hari, tau nggak?” lanjutnya.

__ADS_1


“Mami?” Rion langsung kebayang wajah mami nya yang biasa merepet, kini malah murung dan sedih bahkan nangis.


“Maafin Rion ya, Pih?”


“Minta maafnya sama mami, Rion. Kamu nggak tau betapa terpukulnya mami, saat tau kamu ilang kesedot ke dunia lain! Walaupun mami seringnya marahin kamu, kamu harus tau kalau mami itu sayang banget sama kamu, Rion!” papi mencoba buat sedikit ngasih pemahaman sama Rion buat nggak


ngelakuin hal yang berbahaya lagi.


“Kamu jangan diem-diem ngelakuin kegiatan yang berbahaya kayak gini lagi, kamu liat kan akibatnya? dan sekalinya kamu berbohong kamu bakalan keterusan dan lama kelaman jadi kebiasaan,” lanjut papih.


“Iya, Pih…” Rion nggak mau ngebantah, kali ini dia emang salah.


“Kalau kamu hobi manjat, kamu bisa manjat pohon tetangga. Bantuin mereka kalau lagi panen manga, kan malah bermanfaat! atau kalau lagi gabut, kamu bisa manjat pohon pisang,”


‘Dikira anaknya monyet kali ya? Ngapain juga ningkring di pohon pisang? Ngidenya kebangetan papi gue!’ Rion dalam hati.


“Oh ya, kamu punya pedang ajaib, coba kamu hunuskan pedangmu saat wanita Bernama Dorothy itu muncul di cermin itu. Barangkali kita bisa membuka portal untuk berpindah tempat” ide dari papi.


Rion memandang pedangnya, lalu menoleh ke arah papinya, “Kok papi nyambung masalah kayak ginian? Rion kira cupu, ternyata suhu?!”


“Sembarangan kamu, Rion! Sebelum kamu, papi duluan ini yang ngalamin kesasar kayak gini…” papi nyenggol lengan Rion dengan siku nya.


Namun sesaat, papi ngerasa kalau jari-jemarinya makin kerasa kaku. Macam orang kesemutan.


“Kenapa, Pih?” tanya Rion saat melihat gelagat aneh dari papinya.


“Waktu papi nggak banyak, Rion! Lebih baik kita keluar dari Istana ini dan mulai mencari Rissa…” kata papi Ridho yang berdiri dan


stretching-in badan yang pegel.


Rion pun mengikuti papi nya, dia berdiri dengan pedang cahaya biru di tangannya. Pedang yang cahayanya mirip cahaya neon, “Kita coba buka lemari ini lagi, Pih…” kata Rion yang menatap sebuah lemari yang ternyata bukan sembarang lemari


Baru juga mau nyentuh handlenya, ada bunyi ‘Krekkk kreeekkk’ dari dalam.


Papi Ridho dan Rion saling melempar pandang, papi Ridho mengambil pedangnya. Begitu juga dengan Rion, dia mengangkat pedang cahaya biru, waspada.

__ADS_1


__ADS_2