
"Astagaa, kenapa lagi?" Rion gregetan banget nih sama Odellia.
"Karena ini jalan yang hanya boleh diketahui oleh keturunan dari raja! bisa saja---"
"Kami bukan penjahat, puteri...?!" Rion udah frustasi banget. Karena dia merasa badannya makin lama makin nggak enak. Bisa jadi karena dia terlalu lama berada di dunia yang bukan semestinya.
Tapi sang puteri nggak bergeming, dia masih ingat dengan perkataan sang raja jika jalur ini hanya boleh dilewati oleh puteri Odellia ketika dalam bahaya. Dan nggak ada yang boleh tau soal ini meskipun itu orang terdekat sang puteri.
"Ya sudah, aku dan Defne akan tutup mata selama kita melewati jalan rahasia. Bagaimana?" solusi dari Rion.
Puteri Odellia pun mengangguk.
Akhirnya setelah memberikan satu penawaran pada sang puteri, Rion dan Defne berjalan dengan mata tertutup. Defne yang mengenakansebuah ikatan rambut dari seutas kain pun menutup matanya. Dia nggak mau debat sama Markoneng, karena nggak akan menang juga. Bukannya aman malah mereka bisa ketangkep.
Setelah menekan batu yang ada pada dinding, dinding istana yang merupakan sebuah pintu raksasa pun akhirnya terbuka juga.
Kedua tangan puteri Odellia masing-masing memegang tangan Rion dan juga Defne. Karena nggak ada kain, Rion pun hanya mejamin matanya aja.
Pintu lantas tertutup kembali.
Dan obor di dinding pun menyala serentak, seakan mempersilakan tuannya untuk melewati jalan dengan penerangan yang cukup.
Sementara ketiga orang yang akan menjemput Rissa melewati jalur bebas hambatan, ada seekor kupu-kupu hitam mendekat mencoba membangunkan perempuan yang masih dalam pengawasan Maria.
"Rissa, Rissa bangunlah!" peri Keket yang lagi nyamar jadi kupu-kupu pun bisikin sesuatu di telinga Rissa.
Maria yang lagi duduk ngeliat ada kupu-kupu yang nemplok di bahu sang puteri pun berusaha mengusir serangga itu.
"Huusshhh, huusssss!!! pergi....!" Maria berusaha mengibaskan tangannya, menyingkirkan kupu-kupu itu.
Daripada kena gebug, peri Keket mending pergi. Sedangkan Maria yang ngeliat jendela sedikit kebuka pun menutup jendela rapat-rapat, "Malam ini dingin sekali!" ucapnya.
Kemudian nggak berselang lama, papi Ridho nyampe nih di depan kamar puteri Odellia.
__ADS_1
"Ini kamar puteri Odellia, kau berjaga. Dan jangan sampai mengantuk!" kata si senior, sok galak.
Beuh dalam hati papi Ridho pengen banget nimpuk tuh orang pakai sepatu. Dan ngomong-ngomong soal sepatu, mereka nggak ngeh kalau sepatunya papi Ridho beda sama sepatu yang para pengawal biasanya pakai. Untung gelap ya, Pih?
Papi Ridho mulai memposisikan dirinya bak patung hidup dengan pedang di tangan kanannya. Untung dia bukan cuma ambil baju pengawal tapi juga senjatanya yang bikin lumayan deg-degan, takut kebeset aja.
Papi Ridho berdiri tegak di depan pintu, sampai tuh senior kupret pergi dari situ. Dan nggak lama, keluarlah satu perempuan.
"Perutku rasanya sakit, aku ingin ke belakang dulu. Jangan ada orang yang masuk ke dalam kamar tuan puteri, kau mengerti?" ucap Maria.
Papi Ridho cuma ngangguk, nggak mau ngomong.
"Kau sedikit terlihat aneh!" kata Maria sebelum akhirnya juga pergi darisana.
Dan kesempatan ini nggak dibuang gitu aja sama papi Ridho. Ketika suasana sudah aman dia pun masuk ke dalam kamar sang puteri.
Sementara di luar. Si pengawal yang diambil bajunya oleh papi Ridho pun akhirnya tersadar juga.
Dia pergi dan berteriak, "ADA PENYUSUUUP!"
Seketika para pengawal lain pun berlarian mencari asal suara yang meneriakkan kalimat yang sama berkali-kali.
"Ada apa denganmu?! kemana pakaianmu?" tanya pengawal yang nggak sengaja berpapasan dengannya.
"Pakaianku dicuri seseorang! kita harus menangkap penyusup itu sebelum raja tahu soal ini!" ucapnya.
"Baiklah, aku memberi tahu yang lain. Kita harus bergerak cepat!"
Sementara pengawal yang diambil bajunya oleh papi Ridho balik buat ngambil baju gang lain supaya dia nggak dikira orang yang lagi stres, pengawal yang bertemu dengannya itu memberi tanda sebuah lonceng yang di bunyikan, sebagai tanda kalau semua pengawal harus waspada.
Puteri Odellia yang mendengar lonceng dibunyikan pun, berhenti dan mengatakan ini, "Pertanda buruk!"
"Pertanda buruk apa?"
__ADS_1
"Lonceng itu dibunyikan ketika ada sebuah ancaman untuk istana! itu berarti semua pengawal akan keluar dan mencari orang yang mereka anggap asing. Dan bisa saja mereka menangkap kalian!" kata Odellia yang mengajak Rion dan Defne untuk berjalan lebih cepat melalui lorong-lorong bawah tanah yang memerlukan tenaga lebih untuk menaiki tangga untuk mencapai kamar sang puteri.
Defne tetep nggak diperbolehkan membuka matanya, dia hampir terjatuh karena kakinya yang kepleset dari tangga, "Aaawwwkkh!" Defne memekik.
"Bisakah aku membuka penutup mata ini? aku tidak bisa melihat apapun!" kata Defne.
"Ya, menurutku akan sangat membahayakan kita berlarian di tangga dengan mata yang tertutup seperti ini, puteri Odellia!" kata Rion yang juga kesulitan mengimbangi langkah sang puteri.
"Tidak boleh. Kalian tidak boleh membuka mata, ini sudah menjadi janji seorang puteri terhadap raja!" puteri Odellia keukeuh.
Akhirnya posisi mereka yang menaiki tangga secara bersama-sama, berjejer. Sekarang mereka berganti posisi.Puteri Odellia paling depan, menggandeng Rion yang di belakangnya, dan tangan Rion memegang tangan Defne. Ini mah definisi, kalau ada yang susah kenapa dipermudah? begitu ya Markonenggg, ehek!
Peri Keket yang lagi menjelma sebagai kupu-kupu melihat keadaaan istana lagi nggak karuan, "Ada apa ini?" peri Keket bertanya-tanya.
pangeran Clift yang baru aja menginjakkan kaki di kamarnya beberapa saat yang lalu pun, harus mengakhiri acara berendamnya karena suara lonceng yang dibunyikan sebanyak tiga kali. Tadi katanya supaya raja jangan tau soal penyusup, lah ini kok pengawal tadi malah bunyiin lonceng. Yang itu artinya bukan cuma para pengawal aja yang bisa tau kalau ada ancaman untuk Istana, tapi raja juga akhirnya tau juga kalau keadaan sedang tidak baik-baikkkk sajaa. Piye tho Leeeee?
Pangeran Clift yang awalnya mauandi dulu, rendeman dulu biar temang karema abis marah-marah pun akhirnya cepetan pakai baju, otaknya langsung terkonek pada Rissa dan Dorothy. Dia takut kalau Dorothy melakukan sesuatu yang buruk pada Rissa.
Sedangkan Anna yang emang diancem harus membantu Dorothy untuk menghancurkan Odellia maupun Rissa mau nggak mau harua bergerak cepat. Dia memutar tubuhnya , hingga baju terusan berawarna krem yang dia pakai, sampai mengembang berbentuk seperti payung.
Dia menyilangkan tangannya di depan dada, dengan tangan kanan menggenggam sebuah jimat yang dia dapatlan dari Dorothy.
"Terbanglah, cari makanan kalian!" ucap Anna yang sekarang lagi di dalam hutan nggak jauh dari Istana. Sedangkan Dorothy melemparkan sebuah cahaya merah, sebagai tanda atau arah burung-burung itu mencari mangsanya.
"Hahahahahaha, kau tak akan bisa melawan seoarng Dorothy?!! hahahaaaa" Dorothy ketawa seperti orang yang kesetanan.
Sedangkan papi Ridho yang tau suasana lagi udah nggak kondusif segera mencari Rissa, "Dimana gadis itu? aku yakin Rion akan kesini untuk menjemputnya!" gumam papi Ridho yang kini melihat seorang gadis yang sedang berbaring di atas tempat tidur yang sangat mewah.
"Akhirnyaaa...!" papi Ridho bernafas lega saat melihat siapa yang dia temukan.
Tapi baru juga nemuin satu orang ada suara yang berbisik di telinganya, "Waktumu tidak banyak, Ridhooo!" suara pak Sarmin sukses membuat kedua lutut papi Ridho lemas seketika.
"Yassalaaaaammm, Rion aja belum ketemu! gimana nih?" papi Ridho gusar.
__ADS_1