Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
78. Jangan Sampai mereka Curiga


__ADS_3

Masih jelas dalam ingatan sang ratu saat jiwanya ditarik secara paksa dari tubuhnya, dan dia hanya bisa melihat sang raja memeluknya sambil berteriak, 'Isaaaaabeeeeeel...!'


Lantas semua pelayan dan juga pengawal yang berjaga di depan kamar sang puteri kecil pun berhamburan masuk. Melihat sang raja yang menangis, mereka pun nggak bisa berbuat apa-apa.


Dan pelayan yang bertugas untuk menemani puteri Odellia pun kaget saat kembali ke kamar sang puteri yang di penuhi banyak orang. Pelayan yang seharusnya menjaga puteri Odellia malah diam-diam pergi buat wakuncaran (waktu kunjung pacar) sama salah satu pengawal yang udah tebar pesona dari dulu pun gemeteran takut saat melihat sang ratu yang diangkat dengan kedua tangannya.


'Ibuuuuuu....' puteri Odellia memanggil sang ratu.


Raja berhenti sejenak, 'Jaga puteri Odellia, aku akan kembali untuk menemuinya...'


Kilasan masa lalu pun berakhir, sekarang sang raja memasuki ruang rahasia di kamarnya. Disana tersimpan satu ruangan yang besar yang juga sama mewahnya dengan dilengkapi bebrapa lukisan seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut ikalnya. Ditengah-tengah ruangan ada satu peti kaca yang diberi banyak lubang. Disana tergeletak sesosok tubuh wanita.


"Isabeeeel," panggil raja. Dia mendekat melihat kecantikan istrinya yang nggak luntur dimakan usia.


"Aku akan menangkap Dororthy dan aku akan mengembalikan jiwamu yang melayang-layang! aku yakin, secepatnya kita akan bersama, ratu..." ucap raja Abraham. Dia membuka peti kaca.


Sang ratu yang melihat tubuhnya yang asli terbujur di dalam sebuah peti kaca bak sebuah boneka pun menangis.


"Kau harus melanjutkan hidupmu, Yang Mulia..." ratu Isabel menitikkan air matanya.


Selaras dengan ratu Isabel versi astral yang menangis, tubuhnya yang terbujur di dalam peti pun ikut mengalirkan air mata. Raja Abraham pun tersentak melihat kejadian yang sangat langka ini.


"Ratu ... ratu?!! Isaaabell...?!" raja Abraham mengusap air mata sebelum air itu menyentuh telinga sang ratu. Tangannya gemetar merasakan jarinya yang basah.


Disisi lain Rion dan Defne berjalan lebih dulu dari puteri Odellia.


"Astaga, mereka ini! ckk!" puteri Odelia kesel karena Defne yang nemploooook mulu sama Rion.


Rion yang ngerasa kalau si puteri Udel lagi pundung, langsung pegang tangannya. Maksudnya biar nggak kabur-kaburan. Soalnya ntar susah lagi dia buat nyari nih puteri yang sebenernya nggak bisa diem dan jauh dari kata introvert. Tapi dalam pikiran si Markoneng beda lagi, dia pikir kalau abang Rion teh udah suka dan tinggal ngomong 'abdi bogoh ka anjeun! ehek'.


Yeuuh, Markoneng! ngimpiii lu neng??? bangun, banguuuun! masak air sono biar mateng!

__ADS_1


Rion mah sabodo amat, puteri Odellia mau mikir nya A sampai Z juga dia nggak mau ambil pusing. Yang penting puteri Odellia mau nunjukin dimana kamar dia, dan cepetan deh tukeran sama Rissa.


"Awasssss!" Rion mundur saat dari jauh ngeliat ada banyak pengawal yang mau lewat.


Rion menarik kedua perempuan itu masuk ke dalam satu ruang yang ada di kastil itu. Diliat dari tempatnya sih kayak ruang serbaguna gitu. Banyak debu juga.


"Huaaaat---" puteri Odeliia mau bersin, tapi Rion langsung bekep puteri Odellia ke dadanya. Bukan mau meluk, tapi supaya suara bersinnya Markoneng nggak kedengeran dari luar.


"Suara bersin mu itu hampir membuat kita ketahuan," lirih Defne.


Rion segera melepaskan puteri Odellia, setelah gadis itu udah selesai bersin versi ditahan.


"Defne benar, kau harus menahan keinginan bersinmu itu. Atau mereka akan curiga kalau kita sedang menyusup di Istana ini,"


"Ini Istanaku, mana mungkin aku menyusup di Istanaku sendiri? kau jangan bercanda!" puteri Odellia menahan tawanya.


"Astaga, aku hampir tidak percaya jika kau ini puteri seorang raja, jika Arion tidak memberitahuku soal itu," Defne menimpali ucapan puteri Odellia.


"Kalian bisa tenang tidak?! jangan bertengkar terus, lama-lama kepalaku bisa nyut-nyutan kalau begini terus!" Rion berusaha menahan suaranya supaya nggak kelepasan.


Pemuda tampan itu melanjutkan ucapannya, "Mereka tidak akan mengenalimu sebagai puteri raja, melainkan sebagai seorang penyusup atau lebih parahnya lagi mereka mengira kau seorang penyihir yang merubah wajahmu seperti puteri Odellia!"


"Ya ya ya, aku akan lebih berhati-hati!" kata Odellia.


Defne hanya bisa menyembunyikan senyumnya. Puteri yang diagung-agungkan mereka ternyata memiliki sisi yang nggak terduga sama sekali.


Baru juga mereka mau keluar, tiba-tiba ada seseorang yang akan masuk. Mereka bertiga empet-empetan di belakang pintu yang berat dan gede itu.


"Beberapa obor api padam, kita harus segera menggantinya sebelum para pengawal senior memarahi kita!" kata salah satu yang lagi uplek nyari obor yang baru.


Baru juga puteri Odellia mau mangap, tangan Rion segera membekapnya, dia menggeleng. Puteri Odellia, menahan sekuat tenaganya tapi sayangnya...

__ADS_1


"Huaatttchiiih..." suara keluar dari mulut puteri. Dua pengawal yang sesaat dapetin barang yang mereka cari pun saling pandang. Sesangkan Rion udah memikirkan hal terburuk. Antara kabur atau melawan kedua pengawal yang mungkin akan berakhir menimbulkan kegaduhan dan memicu pengawal lain buat dateng nyamperin mereka.


Defne memberi kode, Rion supaya keluar dari ruangan ini mumpung pintunya ngablak-nganlak dan dua pengawal tadi lagi berdiri membelakangi mereka.


Rion mengangguk paham, dia berjalan tampa suara mengikuti Defne, nggak lupa dia traik tuh puteri Odellia supaya nggak ketinggalan. Takutnya dia malah nyaman sembunyi di pojokan pintu.


Sreeettttt!!!


Salah satu pengawal merasa ada sekelebat bayangan yang bergerak cepat di belakang mereka.


"Aku rasa rumor itu benar. Di ruangan ini ada roh jahat," kata salah satu pengawal.


"Mungkin juga! sebaiknya kita segera keluar dari tempat ini," sahut pengawal satunya.


Mereka pun segera keluar dari ruang serba guna. Sementara Rion, Defne dan juga puteri Odelliaa udah ngibrit duluan menuju lantai atas.


"Entah mengapa, aku merasa penjagaan di Istana ini tidak seperti biasanya," gumam Odellia yang didengar oleh Rion.


"Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi?" Rion bertanya.


"Mungkin saja!" puteri Odellia bergerak mendahului Rion dan juga Defne.


Mereka bertiga sedang menuju lantai paling atas. Namun baru aja menginjak tangga, ada beberapa pengawal yang mereka temui lagi.


"Ooooh, Shiiiiiit!" Rion menarik Odellia yang ngeloyor aja mau naik tangga tanpa melihat afa beberapa suara lanhkah dari atas.


Defne mengikuti Rion, mereka sembunyi di ruang terbuka di bawah tangga yang kebetulan lumayan gelap.


Mereka bertiga menutup mulutnya sendiri supaya nggak kedengeran suara napas mereka yang takutbya memicu kecurigaan.


Tanpa Rion ketahui, dua orang pengawal yang turun dari lantai atas tak lain dan tak bukan ialah papinya yang lagi diospek sama pengawal senior. Alih-alih dianter ke depan kamar sang puteri, si papi malah sengaja disuruh muterin kastil.

__ADS_1


'Daritadi nggak perasaan nggak nyampe-nyampe, feeling ku udah nggak enak nih!' batin papi Ridho yang udah ngerasa kakinya gempor.


Sedangkan pengawal senior yang lagi ngegojlog pengawal baru pun menarik satu sudut bibirnya, dia senang karena berhasil mengerjai juniornya. Dan berpikir, sang junior akan lebih hormat padanya setelah ini.


__ADS_2