
Suara kedebag kedebug membuat perhatian Rissa maupun papi Ridho teralihkan. Papi Ridho mengambil pedangnya, dia waspada.
Sementara, Rissa yang melihat kesempatan ini perlahan mendekat pada jendela yang besar, yang udah ditutup waktu itu sama Maria.
Mungkin kalau ada apa-apa gitu, dia bisa melompat lewat jendela. Yeuh Rissa mau akrobat lu? main lompat-lompat aja. Kagak tau apa itu kastil setinggi apa?
Braakkk!
"Hati-hatiii!" ucap suara wanita dari dalam lemari.
"Aduuhhh, ini kok ada kain-kain! gue buka mata yaaa?" kedengeran suara laki-laki.
Tapi papi Ridho nggak asing dengan aksen dan suara itu.
"Astaga, dikunci!" ucap seorang perempuan.
Brakkk, braaakkk!
Suara berisik berasa dari dalam
"Kau jangan berisik Defne!" suara perempuan mengingatkan.
"Disini sangat sempit!" keluh perempuan lain.
"Aku sedang berusaha membukanya!" kata perempuan yang suaranya mirip Rissa, gadis yang kini berpenampilan seperti seorang puteri.
Kreeeeeeeeeeeeeeet…
Perlahan lemari terbuka, Rissa makin lama makin mepet jendela,
dia sesekali melihat ke bawah.
“Kalian, sudah boleh buka mata!” ucap puteri Odellia yang
menarik Rion dan Defne keluar dari sebuah lemari.
Papi Ridho melongo, ngeliat tiga orang dewasa yang keluar
dari lemari baju.
Defne membuka ikatan tali di matanya sedangkan Rion membuka
matanya begitu aja begitu mendengar perintah dari puteri Markoneng. Seketika
matanya menyipit sebelum melihat seorang pria dengan setelan baju pengawal yang
mirip banget mukanya sama dia.
“Siapa kamu?!!!” Rion yang sadar ada orang lain disitu ya
pasti kaget banget lah, mata nya langsung nayri keberadaan Rissa yang mojok deket jendela. Puteri
Odellia dan defne pun melihat wajah sang pengawal, kemudian melihat wajah Rion,
‘lah kok mirip?’ batin kedua gadis yang udah kesengsem dan terjerat dalam
pesona seorang Arion putra Menawan.
Papi Ridho yang ditanya ‘Siapa’ oleh anaknya pun langsung merepet.
“Dasar bocah nakal, papih sendiri kamu nggak kenalin?!!!” kata papi Ridho yang
buka topinya supaya Rion mengenali wajah gantengnya. Dia mencoba mendekat dengan membawa pedang panjang yang tajam.
“Ini Papi? Nggak mungkin. Papi gue ada di alam nyata?!! Elu
pasti penyihir Dorothy yang menyamar sebagai papi Ridho.?!!” Rion nggak ngakuin
papinya sendiri .Apalagi dia yang mengaku sebagai papinya bawa pedang dengan baju pengawal, membuat Rion makin ragu. Pandangannya malah tertuju pada Rissa.
“Rissaaaa….!!” Rion menghampiri Rissa, dia menarik gadis
yang terlihat sangat pucat itu ke dalam pelukan.
"Akhirnya gue bisa nemuin elu, Sa..." Rion mengecup kepala Rissa singkat, "Elu tenang aja, ada gue disini!" Rion berusaha melindungi Rissa. Sedangkan kedua gadis yang lain tentulah panas panas panas.
__ADS_1
Papi yang melihat adegan itu pun hanya bisa berkedip, ‘Si Rion fix kena sawan!’ batin papi, yang nggak percaya dengan apa yang dilihat matanya.
Papi pun mendekat dan ngeruwes bibir anaknya, “Nih rasakan
jurus dari mami mu?!! Udah berani ya peluk-peluk perempuan.. ? hem?!! Orangtua khawatir,
disini kamu malah enak-enakan pacarana, iyaaa?”
“AAAAAAAAAwwwww?!!” Rion seketika melepaskan Rissa dan
tangannya kini mengusap bibirnya yang kena jurus turun temurun dari maminya
Reva Velya.
“Masih nggak ngenalin papi? Iya?” papi Ridho ngeluarin jurus
melintir jambang, “AAAAAAAAAwwww!” Rion memekik untuk sekian kalinya. Rambut
yang tumbuh di antara rahang dan telinga main di pelintir sang papi.
Namun…
Seketika tangan Rion menangkap tangan papinya dan melintir
tangan si papi ke belakang, “Jangan berpura-pura menjadi papi ku?!!”
“Elah nih bocah belum ngenalin papi nya juga! Revaa … Reva
punya anak gini amat!” papi Ridho yang dipelintir tangannya ke belakang pun
secepat kilat memelintir balik tangan Rion. Terakhir papi mendorong anaknya itu
agar menjauh darinya.
“Diam di tempat kamu!” ucap papi.
Dia kemudian membuka bajunya dan sontak ketiga gadis yang
ada disana kompak memekik sembari
“Hey!! Kenapa kalian teriak? bikin orangtua kaget tau nggak?”
papi Ridho yang melepaskan baju pengawal berikut celananya. Dia memperlihatkan
baju yang dia pakai dari alam nyata.
“Paaaapiiiii…?!!!” Rion baru percaya saat melihat sosok yang
memakai baju koko pink dengan celana slimfit warna hitam yang sangat modern.
“Baru kenal sekarang? Iya?” papi Ridho merapikan baju dan
rambutnya.
Setelah mengintip ternyata orang yang dihadapannya yang
memakai baju dari jaman yang sama dengannya membuat Rissa membuka menyingkirkan
tangan dari wajahnya dan mendekat.
“Jadi … anda?” Rissa jadi merasa bersalah karena udah nuduh pria
yang mirip Rion itu sebgaai penjahat.
“Iya, saya papinya Rion. Saya kemari untuk menjemput kalian,
waktu kita nggak banyak. Sebaiknya kita segera pergi dari Istana ini,” kata
papi Ridho.
“Heh, kalian berdua kenapa masih tutup mata?” papi Ridho
menegur puteri Odellia dan juga Defne yang kini menurunkan tangan mereka
melihat kedua pria yang berbeda usia, namun memiliki ketampanan yang sama. Awas
__ADS_1
Markoneng jangan kepincut sama papi Ridho, bisa dikruwes kamu sama mami Reva.
“Jadi---”
“Kalian tidak perlu takut, aku bukan orang jahat. Aku hanya
ingin menjemput anakku?!!” kata papi Ridho yang ‘ nyesss ‘ banget di hati
Arion.
“Syukurlah, papi bisa menemukan kamu, Rion!” papi Ridho
memeluk anak tunggalnya.
“Maafin Rion, Pih…” kata Rion tulus.
“Dasar bocah nakal! Harusnya kamu jangan melakukan kegiatan
yang berbahaya seperti itu, mami dan papi sangat mengkhawatirkanmu, Rion!” Papi
melepaskan pelukannya, hatinya lega karena saat ini dia udah ketemu sama bocah
kamvret yang bikin hari-harinya dipenuhi rasa cemas berkepanjangan.
“Kita nggak punya banyak waktu lagi, Rion! Papi, kau dan
Rissa harus keluar dari negeri ini, atau kita sama seklai nggak akan bisa Kembali…”
kata papih.
“Papi tau soal Rissa?” Rion memandang gadis yang emmakai
baju puteri raja.
“Tentu,” sahut papi Ridho singkat.
“Puteri, sebaiknya kau dan Rissa menyudahi pertukaran konyol
ini,’” papi Ridho memandang dua gadis dengan wajah yang begitu identik. Hanya warna
rambut yang membedakan mereka.
Puteri Odellia pun dengan berat hati mengajak Rissa untuk
menukar baju mereka, nggak mungkin Rissa akan pergi dengan gaun puteri raja
yang super ribet.
Dan disisi lain pangeran Clift mendapat kabar kalau saat ini
istana sedang diserang ribuan burung gagak misterius.
Tranggggg!
Pedang-pedang diayunkan untuk melenyapkan burung yang jumlahnya
bikin merinding. Langit yang gelap membuat para pengawal kesulitan untuk melawan
para burung yang mematuk tangan dan wajah mereka.
“Awwwwwwkkhh!” beberapa pengawal memekik menahan sakit,
melindungi bagian tubuh mereka.
Sang raja pun keluar dan berpapasan dengan pangeran Clift.
“Apa yang terjadi?” tanya raja Abraham yang diikuti ratu
Isabel dari belakang.
"Aku tidak tau pasti , Ayah. Yang jelas Istana ini sedang tidak aman! aku akan pergi melihat keadaan puteri Odellia!" ucap pangeran
"Pergilah," sahut raja Abraham.
Mendengar jawaban sang raja, pangeran pun menganggukkan kepalanya sesaat sebelum pergi menuju kamar puteri yang dijodohkan dengannya.
__ADS_1