
Rion udah paling males nih kalau udah kayak gini, ada suara lain yang suka caper-caper. Kalau wujudnya bagus, kalau nggak?
Dan misalnya iya mau bantuin, nggak mungkin kalau nggak ada udang dibalik bakwan. Makhluk macam mereka pasti nggak akan bantuin secara gratisan. Ujung-ujungnya pasti mau imbalan, kayak elu-elu pada, ehek!
Rion balik kanan, ogah nanggepin. Padahal si sosok ini merasa kasian sama Rion yang kejebak ke alam mereka. Tempat berkumpulnya makhluk-makhluk tak kasat mata dari kasta terendah sampai kasta tertinggi, iblis.
"Aku bisa bantu kamu!" kata perempuan yang belum Rion liat sosoknya. Tapi kalau Rion udah nggak mood ya nggak mood, dia nggak mau nanggepin intinya sih.
Kemudian dia masuk lagi ke dalam tenda, yang dipikirin cuma Rissa, Rissa dan Rissa.
Namun tiba-tiba...
Bola cahaya biru datang.
"Ada apa?" Rion mengernyit.
Tanpa disuruh, bola itu menampilkan wajah Rissa yang sedang diikat tangan dan kakinya oleh akar pohon yang bergerak-gerak seperti gurita.
"Kenapa nggak daritadiiiiii!" Rion kesel banget.
'Ini kenapaa bola rada-rada eror sih, perasaan Rissa punya bola cahaya juga nggak gini-gini amat!' batinnya.
Image cowok dingin dan cuek yang udah dibangunnya sejak dulu, sekarang ambyar gara-gara satu cewek yang bikin Rion jadi merepet terus, macam maminya.
Rion melihat Rissa udah kayak nggak berdaya, mungkin energinya udah keserap banyak. Dia melihat gadis itu menunduk dengan rambut yang menjuntai menutupi wajahnya.
"Kenapa gue tuh suka lupa kalau gue ini sakti!kenapa juga gue mesti neduh kayak manusia biasa?!!" Rion merutuki kebodohannya.
Pemuda nan tampan menawan di segala suasana itu menggosokkan kedua telapak tangannya, yang kini terselimuti oleh cahaya biru, "Selimuti gue, jangan bikin gue basah karena air ujan, hocus pocus!"
Dan...
Bummmmpph!
Sebuah selimut mendarat di kepala Rion. Rion yang kepalanya ketutupan selimut pun cuma nahan kesel.
Sreeeeeet!
"Maksudnyaaa bukan selimut the real selimuuuut, combrrooooo!" Rion over gregetan.
'Astagaa, spesifik salah, terlalu umum juga salah!' batinnya.
Dia lempar tuh selimut ke tas kasur, dia ambil napas dan hembuskannya perlahan. Saking pelannya elu elu nggak bakal tau si Rion lagi napas atau buang angin, ehek!
Rion mengulangi ucapannya, "Wahai tangan saktiku yang super super sakti, noh di luar ujan, gue mau keluar. Tolong lindungi gue supaya nggak basah kuyup, nggak masuk angin dan nggak kena petir! hocus pocus!"
Dia menaruh tangan di atas kepalanya sendiri.
__ADS_1
Tringggggg lalalaa yeyeye lalala yeyeye
Ada cahaya yang menyelimuti tubuh Rion, sekarang dia mencoba menjulurkan tangannya ke luar.
Dan...
Tangannya sama sekali nggak basah, "Nah kalau kayak gini kan enak, nurut sama majikan!" Rion ngomong sendiri.
Rion mengeluarkan busur dan anak panah milik Risa. Dia berlari keluar dengan tubuh yang anti air.
Sebuah anak panah melayang dari langit dan di tangkap oleh Rion, seketika laki-laki itu menarik busurnya, "Jangan menghianati tuanmu! berikan aku petunjuk kemana aku harus berlari mencari Rissa! jangan lukai dia," Rion melepaskan anak panah yang terbuat dari cahaya merah.
Sekarang Rion berlari, berkeliaran di hutan untuk mencari Rissa. Laki-laki itu mengikuti jejak anak panah yang mengawang diudara.
Sementara sosok perempuan yang menawari Rion bantuan, dia pun terus mengikuti kemana laki-laki itu pergi. Rion yang tau kalau dia lagi dikintilin pun cuek aja.
'Pesona gue emang udah menembus batas!' batinnya.
Di terus berlari dengan kekuatan supernya, sampai akhirnya dia nemuin sebuah sungai yang mengalir dengan arus yang nggak begitu deras.
Baru juga mau nglewatin sungai itu, tiba-tiba muncul seekor buaya yang muncul dari dalam air.
Dia merangkak mendekati Rion, yang berdiri beberapa meter darinya.
'Haiiishhhhh, adaaaa ajaaa yang ngehalangiiiiin!' batin Rion.
Rion mengarahkan pedangnya, "Minggir nggak lu? atau gue klitikin pakai pedang cahaya gue?"
Namun...
Ting!
Buaya itu mengedipkan satu matanya pada Rion.
'Buset dah! buaya aja bisa kesengsem sama gue, apaaaalagi ini...' Rion dalam hati.
Buaya itu semakin mendekat, Rion makin mundur.
'Gue pancing nih buaya supaya ke tengah sini kali ya, ntar gue 'wuussshh' lompat setengah terbang ngelewatin tuh sungai,' Rion ngomong dalam hati, ya kalau diucapin ntar tuh buaya jadi ngerti. Kan sama aja boong!
Rion menyuruh bolanya untuk berpendar lebih terang, sementara dia terus berjalan mundur dengan pedang di tangannya.
Buaya yang tadinya merangkak kini berhenti, dia menggoyang-goyangkan ekornya dan dia berubah menjadi sesosok wanita yang cantik.
"Sudah lama aku tidak melihat manusia karena dikurung di tempat ini," ucapnya.
"Minggir! gue nggak ada waktu buat ngobrol sama elu!" Rion hendak bergerak.
__ADS_1
Namun dari dalam air tiba-tiba satu persatu buaya merangkak ke darat.
Ya, Rion tau ini bukan buaya yang sebenernya, Dia tetap awas melihat mereka semua yang datang dan mencoba mendekatinya.
"Minggir, atau kau dan semua kawananmu itu gue musnahin?" Rion menunjuk pedangnya, tapi perempuan dengan kemben warna biru itu ketawa.
"Semakin kau marah semakin aku suka!" ucapnya.
Dia memutari Rion, dan ketika dia akan menyentuk laki-laki bertubuh atletis itu tangannya kesetrum listrik, "Aawwwwkkhhh!"
Rion yang ternyata bukan hanya terlindungi dari air hujan, dia juga terlindungi dari tangan-tangan lucknut yang ingin menyentuh bahunya yang lebar.
"Rasain, kesetrum kan lu?" Riin merasa bangga dengan kekuatannya.
"Kasih tau sama semua pengikut lu itu, suruh minggir semua. Pangeran Arion mau lewat!" kata Arion yang berlagak seperti pangeran.
Sosok itu melihat ke belakang sekilas sebelum melayangkan senyuman pada Rion, "Itu soal mudah. Tapi setelah kamu mau aku undang buat makan bersama,"
"Sorry, gue lagi diet. Gue nggak boleh makan sembarangan! dah dah, minggir! gue nggak ada waktu," Rion menggerakkan pedangnya. Dia melihat keatas, warna merah hampir saja memudar.
Ketika Rion akan pergi wanita itu mengeluarkan satu tusukan macam konde dari kepalanya.
Sreeettt!
Konde itu berubah menjadi sebuah pedang. Mereka saling mengarahkan pedang satu sama lain.
"Makan bersama atau bertarung?" wanita siluman itu menawarkan pilihan.
"Nggak ada satu pun yang gue pilih, karena gue nggak punya waktu!" Rion akan bergerak, tapi pedang konde menghalanginya.
'Ck, sabar Rissa. Gue urusin nih kutu kamvret, baru gue lanjut nyari dimana keberadaan lu!' Rion menepelkan kalung di dadanya, berharap Rissa mampu mendengar suara hatinya yang terdalam.
Rion mundur beberapa langkah, saat wanita itu menghujamkan pedang kondenya, "Tidak ada yang boleh menolak seorang Sri Candani!" ucapnya dengan penuh kemarahan.
Sedangkan para buaya yang lainnya, diem nontonin orang lagi tawuran. Bocah sekolah kali tawuran!
Trangg!
Suara abang gendang!
Bukan!
Itu suara pedang Konde yang bersentuhan dengan pedang cahaya. Tanpa disadari, pedang cahaya Rion menyerap energi dari pedang lain yang bersentuhan dengannya.
Sreeetttt!
Rion bergerak ke samping, dia memberi sebuah hadiah luka di tangan wanita itu, "Ndang balio, Sriiiiii!" ucap Rion setengah meledek.
__ADS_1
"Tidak semudah itu!" Sri melemparkan pedang konde yang dipegangnya.
Wanita siluman itu menggerakkan tangannya menyuruh para pengikutnya untuk menyerang Arion, "Lakukan tugas kalian!" perintahnya.