
Malam harinya...
"Kita mau kemana?" tanya Rissa yang diajak Rion pergi dengan mobil miliknya yang saat ini dikemudikan Rion.
Rion cuma senyum sambil satu tangannya menggenggam tangan Rissa, dia mengecup punggung tangan itu.
"Kita mau kemana, Rion?" tanya Rissa lagi yang melihat ada yang beda dengan Rion.
"Ke rumahku," ucap Rion singkat.
"Rumah kamu?" segurat ragu terlukis di wajah wanita itu.
"Kenapa?"
Rissa menggeleng, "Nggak apa-apa, harus nya kamu bilang dari awal. Jadi aku bisa memilih pakaian yang lebih pantas..." kata Rissa yang kini memakai dress di bawah lutut dengan lengan panjang.
"Memangnya sekarang nggak pantas?" tanya Rion dia sama sekali nggak melepaskan genggaman tangannya.
"Aku tau kamu belum siap. Tapi cepat atau lambat, hari ini pasti datang. Dan aku mau kita hadapi bersama," lanjut Rion.
"Apa ini alasan ada luka di sudut bibirmu itu?"
Rion cuma senyum, dan menaikkan alisnya satu.
"Sudah aku duga!" Rissa melepaskan tangannya dari Rion, tapi genggaman tangan itu terlalu kuat.
Rion tetap menggenggam tangan istrinya itu sambil matanya tetap fokus ke jalanan. Tanpa Rion sadari liontin yang dipakainya dan tersembunyi di balik bajunya saat ini mengeluarkan cahaya berwarna biru, dan mengeluarkan sensasi dingin.
Hati Rissa berdegub kencang saat mobil mereka sudah sampai di sebuah bangunan yang Rion bilang kalau itu rumahnya.
"Kita sudah sampai," Rion mengajak Rissa untuk turun.
Sedangkan mami Reva yang kebetulan lagi lagi nyiapin makan malam, mendengar suara bel yang dipencet.
__ADS_1
"Udah, biar saya aja! mbak Rina lanjutkan panaskan ayamnya di microwave!" kata mami Reva yang saat ini berjalan menuju ruang tamu.
Papi Ridho yang lagi mrniruni anak tangga ngeliat istrinya yang jalan gitu ke depan, "Yank? mau kemana?"
"Buka pintu, ada tamu kayaknya!"
"Biar aku aja!" kata papi Ridho.
"Udah nggak apa-apa aku aja, udah tanggung jalan kesini," kata mami Reva.
Tapi papi Ridho mempercepat langkahnya, sampai dia bisa mengejar istrinya itu, "Udah aku aja yang buka!" papi Ridho menyentuh pundak wanita itu yang membuatnya menghentikan langkahnya.
Papi Ridho lanjut ke pintu depan sedangkan mami Reva hanya bisa mengendikkan bahunya, "Ya udah kalau gitu..."
Dia balik lagi ke dapur? Nggak!
Mami Reva melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, "Siapa yang dateng, Mas?" tanya mami Reva saat pintu rumahnya kini terbuka.
Papi Ridho bergeser, memperlihatkan sesosok anak muda yang kini menjelma sebagai pria dewasa, "Rion?! bener itu Rion?" mami Reva membulatkan matanya, ada binar bahagia disana, saat melihat anak semata wayangnya berdiri di ambang pintu.
"Nggak, nggak aku pasti mimpi?!" mami Reva mencoba mengucek matanya, tapi nggak jadi. Dia takut mascaranya rusak.
Dia ngeliat anaknya, langkahnya perlahan mendekat dengan senyuman mengembang, tapi langkah itu berhenti saat dia menyadari ada seseorang yang berdiri di samping anaknya. Dan perempuan itu semakin jelas saat papi Ridho membuka kedua pintunya lebar-lebar.
"Masuklah," kata papi yang menyuruh anak dan menantunya masuk ke dalam rumah.
Mami Reva yang shock melihat kehadiran Rissa pun segera menghentikan langkah anaknya, "Berhenti di tempatmu, Arion..." ucapnya dengan nada yang datar.
"Mami ... Rion pulang kesini dengan membawa menantu buat mami..." ucap Rion.
"Kami ... maksudku aku dan Rissa sudah menikah," lanjut Rion.
Mami Reva hanya mematung di tempatnya, menatap Rion dan Rissa secara bergantian.
__ADS_1
"Kamu nggak kaget? apa kamu udah tau hal ini lebih dulu?" tanya mami Reva pada suaminya.
"Aku juga baru tau semalam ketika Rion datang ke kantor," papi Ridho mencoba menjelaskan.
"Pantesa aja," gumam mami Reva dengan senyum getirnya.
"Mam, Rion---" Rion satu langkah maju, tapi maminya segera berbalik.
"Mas, kepalaku pusing. Aku ke atas dulu, aku mau istirahat..." ucap mami Reva pada papi Ridho dengan posisi membelakangi mereka.
"Mamiii..." panggil Rion, matanya berkaca-kaca saat mami nya mengabaikannya begitu saja.
"Katakan pada tamu kita, kalau sebaiknya mereka pulang..." mami Reva dingin, dia lalu berjalan menuju ke dalam.
Dan seakan semesta mengerti apa yang dirasakan sang mami, malam ini petir bergemuruh seperti amukan cahaya di langit yang diselimuti awan gelap.
"Maaam, Mamiii maafkan Rion, Maaam?!" seru Rion yang nggak berani maju satu langkah pun dari tempatnya berdiri saat ini.
"Biarkan mami mu, Rion! biarkan dia menata hati nya dulu, semuanya begitu mendadak. Pasti banyak hal yang dia rasakan," ucap papi Ridho dia mengusap bahu Rion.
"Masuklah dulu..." lanjut papi.
"Rrrrrghhhh," pekikan muncul dari Rion, seketika matanya memerah.
JEDERRRRRRRRR!
Petir menyambar.
"Papi, kami harussh pulangh!" ucap Rion saat merasakan badannya dingin seperti ditusuk ribuan es.
Rissa merasakan genggaman tangan Rion lebih kuat, dan seperti orang yang hipotermia, "Kamu kenapa?" tanya Rion.
"Sebelum hujan kita pulangh dulu ajah," kata Rion dengan gigi yang gemertak.
__ADS_1
"Ada apa? kamu kenapa?" papi Ridho mencegah anaknya untuk pulang.
Dan tiba-tiba....