Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
114. Akhirnya Ngomong juga


__ADS_3

Di dalem, nenek Ivanna dan nenek Rumi, menggelar acara syukuran kecil-kecilan atas kembalinya Rion cucu pertama mereka.


Semua keluarga dateng termasuk Om Karan dan mbak Luri yang bawa Kanaya juga bersama mereka.


Dan kesempatan ini digunakan Eza dan Slamet buat makan enak. Ya secara dua orang itu kan emang dari kalangan biasa, budget buat nongkrong aja suka pas-pas an, dapet durian runtuh kayak begini ya senengnya bukan mainlah mereka.


Meskipun ada kejomplangan strata ekonomi diantara mereka berempat, mereka tuh termasuk solid banget loh persahabatannya.


"Nambah lagi Nak..." nenek Rumi nawarin Eza dan Slamet yang makannya udah kayak orang terjebak di gurun pasir selama seminggu. Emang sengaja tuh mereka nggak makan dari kosan.


"Iya, Ne. Iya, Nek..." jawab dua sahabat Rion kompak.


"Makan yang banyak, supaya kamu bisa setrong lagi!" mami Reva nuangin sup buat anaknya.


"Rion masih kenyang, Mam!"


"Kasihan nenek kalau ngeliat kamu nggak makan. Liat tuh, dua temen kamu aja makannya lahap banget. Mami aja seneng liatnya," kata mami Reva bisik-bisik tetangga.


Eza pun ngokop minumannya yang berwarna kuning.


'Es jeruknya aja manis banget kayak pandangan Thalita ke gue!' suara batin Eza.


"Nyengir lu dikondisikan, Ja!" sindir Slamet.


'Masih untung di meja makan, kalau cuma berdua udah gue sumpel pake tisu tuh mulut jahanam!' Eza nggak mau nanggepin. Dia fokus aja ngambilin makanan enak.


"Untuk masalah kampus, sudah papi urus. Jadi kamu nggak usah terlalu terbebani harus dateng kesana. Kamu bisa konsul skripsi lewat daring!" kata papi.


"Thank you, Pih..." ucap Rion.


"Kami semua senang kamu sudah kembali ke rumah, jangan ilang lagi! kasian mami kamu," kata Om Karan.


"Dia seperti orang yang nggak punya harapan hidup denger anaknya jatuh saat mendaki gunung lewati lembah, dari dulu kita dselalu ditolong sama kakek Sarmin. Kamu harus ngucapin makasih sama kakek, Rion..." papi nambahin, dia nepok punggung Rion.


"Makasih, Kek!"


Pak Sarmin ngangguk, "Yang terpenting kamu sudah selamat..."


"Iya, Kek..." sahut Rion singkat.


"Om aja kaget, Rion! tau-tau dapet kabar tante kamu kalau kamu ilang. Tapi alhamdulillah, akhirnya kamu bisa berkumpul lagi bersama kami," ucap Om Dilan tiba-tiba ikutan ngomong.

__ADS_1


"Ya nggak jauh beda sama emak dan Bapaknya dulu. Noh, emaknya kan ilang di hutan. Sampe bikin nenek Ivanna nangis mulu tiap hari. Ya buah jatuh nggak jauh dari pohonnya lah ya, ya kan mbak? karma noh karma pernah bikin mama stres!" ucap tante Ravel merepet tanpa kasih jeda buat mami Reva motong pembicaraannya.


"Ck, dibilangin aku nggak suka dipanggil emak juga! dasar adek durhaka!" mami Reva ngelirik adeknya.


"Dia nggak inget aja, siapa yang nolongin waktu dia mau nikahan sama si Dilanda musibah! kalau bukan karena mbak mu ini yang menantang bahaya, mana mungkin kalian bisa nikah dan brojolin tuh bocah satu, Thalita," Mami Reva naikin satu sudut bibirnya.


"Ya tapi kan---"


"Sudah, sudah! lagi makan kok malah ribut, sih? nggak malu kalian udah tua, ribut di depan anak-anak?" nenek Ivanna geleng-geleng kepala.


'Mampus, calon mertua gue mulutnya pedes beud kayak cabe!' batin Eza yang bergidig ngeri.


"Pengen beser lu?" tanya Slamet yang ngertinya Eza bergidig itu karena pengen pipis.


"Ngomong sama elu mah susah, mulut mu ber bocor!" sahut Eza.


"Oh ya, Rion! tante Mona tadi pagi harus ikut Om Barra balik, soalnya ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal...." ucap nenek Rumi.


"Iya, Nek..." jawab Rion yang malu dengan perdebatan khas antara maminya dan tante Ravel. Rahasia keluarga hampir aja dibuka di depan umum, terutama di depan temen-temennya yang minim akhlak.


"Semuanya, aku udah selesai. Aku mau naik ke kamar," ucap Rion.


"Loh, kamu kan baru makan sedikit? kok udahan sih?" kata mami Reva.


Slamet dan Eza pun mengunyah dengan kecepatan diatas rata-rata, mereka langsung minum, tapi Adam nginjek kaki Eza yang udah mau berdiri.


"Biarin Rion pergi, nggak sopan kalau kita ikutan udahan..." kata Adam yang pikirannya masih tergolong normal dibanding kedua temennya.


Eza yang dibilang gitu pun nurut, dia juga nggak mau nih dicap calon menantu berkelakuan buruk di depan camer.


"Tante, kita mau nyusulin. Rion ke kamarnya," kata Adam yang tutur katanya paling sopan kalau urusan beginian.


"Oh ya, silakan! kamar Rion ada diatas, ikutin aja petunjuknya!" kata mami Reva yang pergi bantuin mbak Rina bawa cucian piring kotor.


Eza pun bergumam lirih, "Emaknya Rion---"


"Sebelum dikruwes congor lu, mendingan lu diem, Za!" Adam ngingetin jurus yang sering dipraktekin Rion, dia yakin itu jurus turun temurun dari maminya. Kalau papi nya Rion kan kalem.


Udah tuh mereka naik, menuju kamar temen mereka yang baru balik rumah sakit. Sebenernya mereka kan udah pernah kesini, jadi udah tau diman posisi kamar Rion, makanya pas mami Reva bilang suruh ikutin aja petunjuknya, Eza langsung keder. Kan ga ada juga tanda 'Kamar Rion' anak panah Kanan kiri atas bawah, kagak ada gaaaeeesss!


Tok!

__ADS_1


Tok!


Adam ngetok pintu sedangkan Eza main naik handle.


"Dikunci!" ucap Eza.


"Rion?" Adam manggilin nama temennya.


"Yooooon?!!" kali ini suara Eza.


Sedangkan Rion yang di dalem lagi liatin lionlin pedang miliknya pun lagi bergumam sendiri, "Apa gue harus tetep simpen barang ini atau--"


"Yoooon?! bukaaa pintunyaaa, ini gueee...?!" suara sumbang Eza kedengeran lagi.


Liontin yang disematkan pada kalung tali berwarna hitam, Rion masukkan barang itu ke dalam sakunya dan segera membuka pintu.


Ceklek.


Wajah tiga orang yang membuatnya kadang gedeg itu ada di hadapannya.


Rion yang habis buka pintu buka aja gitu biarin pintunya ngablak-ngablak.


"Kayak perawan aja lu, Yon pintu pake dikunci segala!" kata Eza dia yang masuk terakhir, jadi dia yang nutup pintu lagi.


"Lu kenapa si?" tanya Slamet yang nggak jelas nanya sama siapa.


"Lu nanya sama siapa, Slameeet?" tanya Eza.


"Lu berantem mulu, heran gue deh! duduk sono dipojokan!" Adam pun gedeg pada akhirnya.


"Jangankan Rion, gue yang lagi sehat walafiat aja stress liat lu berdua cekcok mulu," lanjut Adam.


"Ya gimana muke dia nyebelin!" kata Eza yang langsung leyeh-leyeh, sedangkan Rion masuk ke kamar mandi.


Rion yang beberapa saat kemudian keluar pun menggenggam sebuah apel dan melemparnya pada Eza.


Hap!


Untungnya kecepatan tangan Eza nggak perlu diragukan lagi, dia pun segera menangkap buah yang berwarna merah dan sangat menggiurkan itu.


"Lu tadi ke kamar mandi boker apa emang buat nyuci nih apel sih?" Eza nanyaaa mulu kek emak-emak mau kredit panci.

__ADS_1


"Gue nggak jorok kayak elu!" ucap Rion yang akhirnya termakan pancingan Eza.


'Ngomong juga kan lu pada akhirnya!' ucap Eza.


__ADS_2