Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
105. Musuh Bebuyutan


__ADS_3

Mendengar pintu ruangan yang dibuka, papi Ridho dan juga mami Reva pun auto nengok.


Dan...


Tadaaa...


Sosok menyebalkan yang pernah menjadi temen mereka yang berakhir musuhan pun datang.


"Karla?" gumam papi Ridho.


Beuuh, urusan cinta lama yang nggak kelar-kelar walaupun anak udah perawan dan bujangan pun bikin suasana jadi makin kikuk.


"Ck, jangan berhenti mendadak!" ucap seorang pria dari arah belakang tante Karla.


'Dera Prayoga?' batin mami Reva.


Dua orang yang mempunyai track record nggak baik di kehidupan mami Reva ini pun menjadi satu hal yang bikin mami Reva naik emosinya.


"Ngapain kalian kesini?" ucap mami Reva sinis.


Tatapan mami Reva menajam saat melihat sosok pria yang dulunya gagah dengan jas dan tampilan perlente, sekarang datang dengan baju casual jauh dari kata mewah.


Tante Karla maupun Om Dera perlahan masuk dan menutup pintu.


"Keluar," ucap mami Reva datar.


"Reva..." papi Ridho ngingetin istrinya.


"Lagian buat apa mereka datang kesini? buat ngeliat anak kita masih hidup atau nggak? iya?" mami Reva ngomong dengan ngeliat Rion yang dipasang alat-alat medis.


Sesaat mami Reva keinget tentang sesosok pria yang ingin menumbalkan Rion saat dia masih ada di dalam kandungan. Malam mencekam dimana kelahiran Rion yang ditunggui dan disambut para demit, bikin mami Reva nggak sudi ngeliat wajah orang itu.


Om Dera menggandeng tangan tante Karla, mereka berdua berhalan mendekat, "Maaf, Nyonya Reva---"


"Apa? apa kamu bilang? Nyonya? sejak kapan sapaan itu datang dari mulutmu yang penuh bisa itu?" mami Reva nyindir dengan nada yang ditahan, dia melihat tangan kedua orang itu yang bertaut. Itu artinya mereka punya hubungan. Baik Om Dera dan tante Karla menghentikan langkahnya.


"Heh, Reva?!! nggak usah sok nyindir-nyindir nggak jelas. Kami datang kemari untuk menjenguk anak kami, Rissa! ngerti???????!" ucap tante Karla dengan penuh penekanan di bagian akhirnya. Dia maju lagi pengen ngasih pelajaran fisika atau matematika sama perempuan yang udah nikah sama pria yang dia sukai tapi nggak balik menyukainya itu.

__ADS_1


Papi Ridho gercep ngelindungi mami Reva.


Sedangkan Om Dera nangkep tangan mantan istrinya, "Karla, ini rumah sakit! jangan berantem disini!"


"Heh, ini juga gara-gara kamu! coba aja kamu nggak---" ucapan Karla terhenti saat melihat kedua mata Om Dera.


'Jadi Rissa anak si karet nasi warteg ini?!!! astagaaaa, Rioooooooon! begitu banyak bintang dilangit kenapa kamu milihnya bintangbyang itu. Segitu banyakmya cewek di muka bumi ini kenapa kamu malah ketemunya sama anaknya si karet nasi warteg ini, Riooooooon!' mami Reva mendadak pusing.


"Jangan terpancing emosi," lirih papi Ridho yang ngeliat raut wajah istrinya udah merah padam.


Ya segala yang terjadi dalam hidup ini semuanya nggak bisa diprediksi. Kita nggak bisa mengendalikan unsur takdir. Meskipun dalam hati, papi Ridho masih nggak terima dengan apa yang dilakukan Dera Prayoga, tapi nggak mungkin juga dia nggebugin tuh orang disini.


Akhirnya dengan berat hati, papi Ridho cuma bisa ngelus lengan istrinya buat ngasih sedikit ketenangan, supaya jangan kedebag-kedebug seperti biasanya. Takut bikin Rion yang tiduran malah kaget, denger cekcok antara dua wanita yang memperebutkan dirinya dimasa muda.


Karla naikin sudut bibirnya karena nggak ada perlawanan dari musuh bebuyutannya itu.


"Lebih baik kita pindahkan Arion secepatnya. Aku nggak mau dia berada satu ruangan dengan orang yang menginginkan kematiannya," ucapan mami Reva ini mendapat sahutan dari Om Dera Prayoga.


"Maaf, aku---"


"Kita kesini buat jemput Rissa bukan buat ngurusin ocehannya tuh perempuan!"


"TERSERAH!" tante Karla yang gedeg sama mantan suaminya itu pun memilih buat nyamperin Rissa yang hanya dibatasi sebuah tirai dari tempat tidur anaknya mami Reva.


Om Dera mendekat, "Aku minta maaf, aku sudah berbuat salah pada kalian,"


"Bukan sekedar salah," papi Ridho mendahului istrinya buat menanggapi ucapan Om Dera.


"Tapi perbuatanmu itu hampir saja merenggut nyawa anak dan istriku," papi Ridho dengan nada yang tenang tapi mengena banget di hati.


Om Dera berlutut dan meraih kaki papi Ridho dan mami Reva.


"Aku minta maaf, aku tau aku ini sudah berbuat jahat pada kalian. Tapi aku sudah mendapat karmanya. Sekarang aku bukan siapa-siapa lagi, bisnis dan rumah tanggaku hancur. Dan putriku, dia celaka karena berusaha menggantikan anakmu yang jiwanya aku tumbalkan pada iblis!" ucap Dera.


"APAAAAA? JADI ORANG BERHATI BUSUK SEPERTIMU BERUSAHA MENCELAKAI ANAKKU UNTUK YANG KEDUA KALINYA? DASAR WONG EDAN! BEBEUGIG, BLEGUG SIA!" umpatan demi umpatan meluncur dari mulut mami Reva yang udah lost controll.


"Aku tau, aku jahat. Aku minta maaf, aku udah bertaubat..." Om Dera mengais maaf.

__ADS_1


"Berdirilah, jangan bersujud. Kami bukan Tuhan..." ucap papi Ridho, dia menarik istrinya mundur.


Mendengar kata sujud, membuat tante Karla menyibak tirai dan matanya membulat saat melihat mantan suaminya berlutut di hadapan papi Ridho dan juga mami Reva.


"MASSSS?!! APA YANG KAMU LAKUKAN? MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN MEREKA? KAMU SUDAH GILA YA?" tante Karla merepet bukan main.


"Kita pindahlan Arion sekarang, Mas! kita bawa dia ke rumah sakit lain. Aku nggak sudi ngeliat dua orang itu!" kata mami Reva.


"Iya, Sayang..." papi Ridho keluar, buat minta diproses segera pemindahan Arion ke rumah sakit terbaik yang ada di kota mereka.


"Bangun, Mas! jangan rendahkan harga dirimu yang udah nggak berharga itu!" bisik tante Karla, dia narik mantan suaminya buat berdiri.


"Inget, kita kesini buat menjemput Rissa! kalau tau kamu bakal minta maaf sama mereka, aku nggak bakal mau ditebengin sama kamu tadi!" lanjut wanita itu.


Mami Reva memalingkan wajahnya dari orang yang udah berbuat jahat terhadap keluarganya, dia memandang wajah anaknya.


'Kenapa kamu bisa ketwmu sama gadis itu, Rioon? kenapa Rion?' batin mami Reva.


Dia tau pandangan mata Rion saat memandang wajah gadis yang bernama Rissa. Pandangan seorang pria terhadap wanita.


Nggak lama papi Ridho dateng lagi menemui istrinya, "Semuanya lagi diurus. Kita akan bawa Arion pergi..."


"Kita juga bakal mindahin Rissa---"


"Sorry, tapi kita nggak nanya dan nggak peduli!" serobot mami Reva.


Sepertinya genderang peperangan mulai ditabuh lagi.


Setelah bebrapa saat menunggu dan berbagi udara dengan musuh bebuyutan, mami Reva pun akhirnya bisa memindahkan Arion di rumah sakit langganan Om Karan. Mami Reva sempet nelfon sepupunya itu supaya bisa bantuin ngurus ruangan di rumah sakit. Om Karan yangmemiliki pengaruh besar pun dimintai tolong bergitu ya langsung gercep.


Mami Reva melancarkan lirikan nggak mengenakan pada tante Karla saat tempat tidur Rion di dorong keluar dari ruangan itu.


'Awas ya kamu Reva! aku nggak akan ngebiarin anakku berteman dengan anakmu itu!' batin tante Karla.


Sementara Rion yang masih dipasang selang oksigen dan infusan pun masih terpejam. Dia nggak tau kalau kisah cintanya dengan Rissa terhalang restu orangtua.


Tubuh Rissa dan Rion memang sudah ditemukan, tapi pikiran mereka masih berkelana di awang-awang.

__ADS_1


'Maafin mami ya, Rion! lebih baik kamu hindari gadis itu, daripada sesuatu yang buruk akan terus mengincar kamu,' batin mami Reva yang ikut masuk di mobil ambulance.


Dia nggak mau terpisah dengan anak tunggalnya itu, sementara papi Ridho mengalah buat nyetir sendirian. Mengikuti mobil bercat putih di depannya.


__ADS_2