Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
69. Bukan Panah Asmara


__ADS_3

"Cepatlah pulang, Nak. Sebelum bahaya lain menghampirimu," ucap nenek Wati. Rissa hanya bisa mendengar suara neneknya, tanpa bisa melihat wujudnya. Ya memang karena nenek Wati hanya bisa berkomunikasi lewat mata batinnya tanpa bisa datang untuk menjemput Rissa yang nyasar di negeri dongeng.


"Nek ... nenek?" panggil Rissa, dan panggilan itu pun terputus.


Merasa percuma memanggil neneknya, Rissa pun melihat ke arah Catlyn, "Gimana nih?"


"Aku akan emmbantumu keluar dari sini, tapi sebelumnya kau harus bertemu dulu dengan Arion," kata si peri.


Sraakkkk


Sreeekkk


"Ada yang datang!" peri Keket lantas mengubah dirinya kembali menjadi seekor kupu-kupu, dia bersembunyi di bawah kolong ranjang Rissa.


Dan Rissa pun merebahkan dirinya lagi, dia pura-pura tidur lagi.


Pintu perlahan dibuka, "Masuklah ... bawa makanan itu..." dia mendengar suara Anna.


'Loh bukannya Anna harusnya sama Odellia? kenapa dia udah kembali ke istana?' batin Rissa. Tapi dia mencoba menormalkan raut wajahnya, agar tetap tenang dan nggak bikin orang curiga.


"Kalian pergilah, aku akan merapikan lemari milik puteri Odellia..." kata Anna.


"Baiklah," ucap salah satu pelayan yang lain.


Setelah memastikan nggak ada orang, Anna mendekatkan dirinya pada Rissa, "Akan kuurus kau setelah aku sudah berhasil menghancurkan Odellia," lirih Anna.


'Apa yang dia maksud? bukankah dia salah stau pelayan kepercayaan Odellia? kenapa dia ingin menghancurkan majikannya sendiri?' Rissa hanya bisa berucap dalam hatinya saja, tanpa bisa melihat bagaimana ekpsresi wajah Anna.


"Walaupun kau bukan Odellia, tapi wajahmu mirip dengannya. Dan itu akan membuat ratu ku murka melihat wajah ini, dan itu berarti kau pun harus lenyap dari muka bumi ini. tunggulah giliranmu, Rissa..."ucap Anna sebelum pergi meninggalkan kamar. Sedangkan Rissa masih pura-pura tidur. Sampai akhirnya ada bisikan dari peri keket, "Dia sudah pergi. Astaga, kau tidak aman berada di tempat ini..."


Rissa pun membuka matanya, " Puteri Odellia dalam bahaya, pangeran Clift harus tau soal ini," wajahnya cemas memikirkan orang lain.


Sedangkan di tempat lain, Rion lagi menysuusn strategi untuk menyusup ke dalam istana. Tentu puteri Odellia harus bersamanya, karena masuk ke dalam kastil yang segede itu, yang ada dia nyasar dan berakhir ditangkep para pengawal.


"Aku harus masuk ke dalam sana," kata Arion menunjuk Istana dari kejauhan.


"Hem," kata puteri Odellia yang malah memperhatikan kuku-kuku cantiknya.


"Hey, puteri. Elu dengerin gue apa nggak?!!" Rion sewot.


"Iya iya, akan kubantu kau untuk masuk ke dalam, itu hal yang mudah. Tapi sekarang aku ingin berbelanja makanan. Liburanku belum selesai," kata puteri Odellia yang berjalan menjauh dari kawasan Istana.


Rion yang melihat itu pun nggak kalah gedeg, "Nih cewek nggak sadar, kalau kemarin aja dia hampir dicekai orang apa ya?!" Rion mengejar puteri yang nyusahin. Elu juga same ajee Riooon...!


Dalam hati, dia belum siap buat kembali masuk ke dalam Istana. Rasanya liburannya melihat dunia luar masih sangat singkat, dia ingin sedikit lebih lama menikmati kebebasannya. Dia nggak sadar kalau kelakuannya yang ajaib ini akan mendatangkan malapetaka bagi dirinya maupun Rissa.

__ADS_1


"Puteri...?!!!" Rion menarik tangan Odellia.


Pemuda itu udah nggak bisa menyusun kalimatnya supaya enak di dengar, "Ini bukan waktunya liburan, ini waktunya elu bantuin gue masuk ke dalam istana?! Elu nggak bisa seenaknya nyuruh Rissa gantiin posisi elu sebagai seorang putrei. Rissa bisa kena masalah jika ada orang yang tau kalau---"


"Tenang saja, disana ada Maria yang akan selalu mendampingi Rissa, aku yakin tidak akan ada yang curiga!" puteri Odellia keukeuh.


Dan lagi berdebat kayak gini tiba-tiba satu anak panah meluncur.


Psiuuuuuuuu!!!!


Suara anak panah yang dilepaskan dari sebuah busur.


Rion yang instingnya masih tajam, dengan sigap menarik Odellia. Mereka jatuh ke tanah.


Jlepppppp!!!


Anak panah itu menancap pada sebuah batang pohon.


"Hhh ... hhh ... hh... " Odellia ngos-ngosan, mukanya pucet kayak orang lagi kena tipes.


Mata elang Rion menelusuri sekitarnya, "Ada yang nggak beres!" gumamnya,


Rion membantu Odellia buat bangun.


"Terima kasih," usap sang puteri, dia membersihkan bajunya yang kotor. Rion meninggalkan Odellia, dan mendekat pada panah yang hampir saja mengenainya ataupun Odellia.


Lagian siapa juga yang mau nyentuh, Rion juga mikir-mikir juga kali. Takutnya tangannya mau ngambil panah, eh ada panah lain yang meluncur mengenai tangannya, kan bisa berabe kalau gitu. Tapi kenapa pas naik gunung elu kagak mikir-mikir, Rioooonn? emak lu noh di rumah nangis bae, mikirin bocah sableng kagak balik-balik!


Odellia mendekat, dia melihat anak panah itu secara seksama. Ada sebuah cairan yang menetes dari ujung panah yang tertanjap di batang pohon yang keras. Tetesan berwarna itu hitam itu menetes ke bawah, dan kali ini Rion melihat tumbuhan atau rumput yang kena tetesan itu mendadak layu kemudian menghitam dalam waktu beberapa detik aja.


"Ini panah bukan sembarang panah, ini ada orang yang emang udah nargetin Odellia sebagai sasarannya!!' batin Rion.


'Kalau kayak gini, bisa jadi Rissa juga dalam bahaya,' Rion lanjut berucap dalam batinnya.


Arion memandang Odellia, "Kau lihat kan? ada seseorang yang ingin mencelakaimu? bisa jadi keberadaanmu di luar istana akan jadi malapetaka untukmu, sang puteri raja..."


"Bisa saja ini hanya sebuah kebetulan---"


"Astaga, mana ada orang manahin panah berancun buat main-main? ya ampuuuuun?!!!!!!" Rion tambah  gedeg, denger Odellia ngeyelan mulu. Lah kan satu spesies sama elu, Yon!


Arion menatap serius sang puteri, "Perasaanku mengatakan ----"


"Jika kamu menyukaiku?" serobot puteri Odellia.


"Haiiishhh, jangan bercanda!" Rion mumet ngadepin puteri Markoneng.

__ADS_1


"Aku tidak bercanda, kau begitu mengkhawatirkanku. Jadi aku hanya melanjutkan ucapanmu saja..." puteri Odellia ngeles aja kayak bajaj.


"Siapapun tidak ingin mati konyol seperti tadi, tuan puteri. Lagpula seluruh hatiku ini sudah milik Rissa, mengerti?" Rion menepuk dadanya yang bidang.


"Cih, terlalu berlebihan!" puteri Odellia berjalan meninggalkan Arion begitu saja.


"Hey, mau kemanaaaa?!!!" Rion setengah tereakan. Dia lalu mengejar puteri yang lagi pundung.


Sementara di dunia nyata.


Tante Karla, ibu dari Rissa bingung. Dia harus bagaimana.


"Sudahlah, kamu pulang saja. Lakukan hal yang harus kamu lakukan, urusan Karissa biar biyung yang mengurusnya. Lagi pula kasihan Kalila, dia pasti rindu sama mama nya..." kata bu Wati.


"Tapi----"


"Percaya sama biyung, Karissa pasti akan kembali. Hanya saja dia membutuhkan waktu sampai pusaran waktu kembali terbuka..." bu Wati mencoba memberi pengertian pada tante Karla.


"Ini pasti gara-gara anaknya Reva! astaga kenapa sih dia bisa temenan sama anaknya Reva?" tante Karla kesel.


"Sudah takdirnya, Karla. Dan kamu ataupun Reva tidak akan bisa menghalanginya," kata bu Wati.


"Sebelumnya Rissa nggak pernah kabur-kaburan kayak gini. Ini pasti anaknya Reva yang kasih pengaruh buruk sama Rissa, Biyung. Nggak anaknya, nggak emaknya, hobi banget bikin repot orang!" tante Karla merepet terus.


"Karla, harusnya kejadian ini membuat kamu introspeksi diri. Apakah kamu sudah memberikan perhatian lebih pada Karissa? apalagi ketika dia tinggal di rumah Nak Dera, apa kamu sering menemuinya?" ucapan bu Wati begitu menohok.


Tok!


Tok!


Tok!


"Bu, Bu Wati...?!!" suara laki-laki terdengar diiringi suara ketukan pintu.


"Ya sebentar!" seru bu Wati.


"Ada tamu, sebentar ibu bukain pintu dulu..." kata bu Wati pada tante Karla.


Bu Wati pun tergesa- gesa ketika seseorang mengetuk pintunya dengan nggak sabaran.


Krieeetttt...?!!


Bu Wati pin heran saat melihat seseorang, "Maaf, siapa ya?"


"Maaf, Bu? saya orang kepercayaan pak Dera. Apakah bu Karla ada disini?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu kesini mencari saya??!" tante Karla muncul di belakang ibunya.


__ADS_2