Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
100. Nggak Butuh Jawaban


__ADS_3

Rion baru menyadari kalau dia melupakan sesuatu....


"Peri Keket?!" pekiknya.


"Astagaaa!" Rissa nggak kalah kagetnya denger satu nama yang familiar.


"Kita harus balik lagi!" ucap Rion.


Namun suara perempuan mengagetkan mereka berdua, "Tidak perlu. Kalian tidak perlu mencariku.." ucapnya.


"Cathlyn?!!" kompak Rissa dan Rion memanggil nama si peri baik.


"jahat sekali kalian hampir melupakan aku?!" peri Keket nemplok di tangan Rissa.


"Maaf, kami nggak bermaksud, keadaan sangat kacau---"


"Aku hanya bercanda, Rissa?!" serobot peri Keket.


"Lagian kamu itu kabur-kaburan terus kerjaannya!" Rion malah marahin si peri yang duduk dengan santainya.


"Kamu kemana aja?" tanya Rion.


"Aku dikurung di guci, masih untung aku bisa keluar disaat  yang tepat. Aku meminta teman-temanku untuk membukakan guci itu sebelum kastil dimakan api keserakahan Dorothy!" jelas peri Keket.


"Syukurlah kau bisa selamat, Cathlyn..." Rissa menatap sosok peri yang duduk dengan nyaman di punggung tangannya.


Sementara Rion mengendalikan kuda, peri Keket melontarkan satu pertanyaan, "Apakah setelah ini kalian akan pulang ke negeri dimana kalian berasal?"


Rion maupun Rissa kompak liat-liatan. Rissa kembali menatap peri yang melihatnya dengan wajah yang sendu.


"Tentu! tentu kami akan pulang..." ucap Rion dengan nada ketusnya, membuat siapapun yang mendengarkan bukannya sedih tapi malah jengkel.


"Rion..." Rissa mengingatkan.


Gadis itu menoleh sedikit ke belakang, dia harus mendongak untuk melihat garis rahang yang tegas milik Arion Putra Meawan, Rissa bisa melihat satu senyuman yang nyaris nggak terlihat.


Sekarang Rissa paham, Rion bilang kayak gitu supaya peri Keket nggak sedih. "Bukannya setiap ada pertemuan pasti akan menemukan jalan bagaimana caranya untuk berpisah?" ucap Rion tiba-tiba.


Ya, tidak ada satu daun yang jatuh tanpa seizin Tuhan. Semua hal yang terjadi udah atas kehendak-Nya, kita sebagai manusia cukup jalani dan percaya kalau semua kesulitan pasti bisa teratasi. Dan seperti yang Rion katakan, good things takes time. Semua hal yang baik membutuhkan waktu. Meskipun berliku, akhirnya Rion lebih dari sekedar tau kalau orangtuanya sangat sayang sama dia. Bahkan mereka rela mempertaruhkan nyawa demi menjemputnya kembali ke dunia nyata.


Sesosok wanita bergerak. Sesosok tubuh  yang udah sekian purnama terbujur dalam satu peti mewah yang diberikan sang raja.


"Aaaakkk!" sebuah tangan terulur, mencoba membuka penutup peti yang diberi beberapa lubang.


Brakkkk!!


Penutup peti terbuka.


Isabel bangun dari tidur panjangnya, "Dimana semua orang?" gumamnya.


Sementara sang raja sendiri baru nyampe di kerajaan saat matahari udah terbit, malah sinarnya udah nyengat banget di kulit. Puteri Odellia sebenernya siuman saat di kereta. Dia sempet nyari Arion. Dan raja pun menyesal udah sempat berpikiran kalau pemuda itu turut andil dalam penculikan puterinya.


"Dimana Arion?" tanya sang puteri.

__ADS_1


"Ada, kau tenang saja Odellia. Kita bahkan baru sampai Istana," ucap raja Abraham. Tapi  sejujurnya dalam hatinya kayak nggak tenang gitu, dia takut kalau Rion balik ke dunianya sebelum ngucapin salam perpisahan.


"Odellia...!" panggil sang raja saat putrinya itu nyelonong turun dari kereta.


Tentu para prajurit yang melihat sang puteri turun dari keretanya segera memberi jalan. Rion sedang membantu Rissa untuk turun dari kuda.


"Ariooon?!!!" pnaggil puteri Odellia.


Rissa yang baru napak tanah pun ikutan menoleh, melihat puteri Odellia yang berlari ke arah mereka.


"Aku kira kau sudah pergi..." ucap sang puteri.


namun tanpa mereka sadari ada pria lain yang mendekat ke arah mereka juga.


"Rissa..." suara pangeran Clift.


"pangeran...?" Rissa mengangguk memberi hormat.


Sedangkan Defne yang akan menghampiri Arion pun menghentikan langkahnya, ada perasaan lain yang Defne rasakan. Dia hanya bisa melihat Arion dari kejauhan. Mami Reva dan juga papi Ridho yang melihat ini pun hanya bisa memberikan Arion waktu.


"Liat kan? anak kamu itu bener-bener meresahkan para gadis!" ucap mami Reva.


"Ya, nggak jauh beda sama papinya .."


"Maksudnyaaa?" mata mami Reva memicing. papi Ridho hanya menunjukkan jarinya membentuk huruf V sambil nyengir ganteng.


"Awas kalau macem-macem?!" mami Reva ngancem.


"Iya nggak, sayang..." papi Ridho menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Bisa kah kita bicara sebentar?" tanya pangeran Clift.


Rissa tentu ngangguk pelan, ya dia ngertinya mau ngomong disitu. Tapi ternyata enggak, pangeran minta agak menjauh sedikit, karena dia mau ngomong mata katanya.


"Rion, aku kesana sebentar," Rissa pamit dulu sebelum pergi sama pangertan Clift.


"Astaga, mau ngomong apa sih mereka? pakek pindah tempat segala," Rion bergumam, sambil mata terus ngeliatin gadis yang udah bikin dia klepek-klepek. Sedangkan peri Keket berubah wujud jadi kupu-kupu dan dia nemplok di rambut Rissa.


"Ada kupu-kupu yang hinggap di rambutmu, rissa..." tangan pangeran terulur, mau nyingkirin tuh kupu-kupu.


Dengan sigap Rissa mencegahnya, "Tidak apa-apa, pangeran. Ini tidak mengganggu buatku..."


"Oh, begitu ... ehm," pangeran menurunkan tangannya lagi sekarang menatap Rissa dengan tatapan yang serius.


"Sebelum waktu memisahkan kita, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Jika aku...." pangeran menggantung ucapannya.


"jika apa pangeran?"


"Jika aku menyukaimu, Rissa. Meskipun aku sadar kita berasal dari dunia yang berbeda, tapi aku tidak ingin menyesal karena memendam perasaan ini sendirian..." ucap pangeran.


Rissa hanya tersenyum, karena apa yang dilontarkan pangeran sesuatu yang nggak butuh jawaban. Dia hanya ingin sekedar mengutarakan perasaannya aja.


Sedangkan nggak jauh dari tempat Rissa berdiri.

__ADS_1


"Arion....?1" panggil puteri Odellia.


"Ya..?" mata Arion tetep ngeliatin dan berusaha nguping apa yang lagi diomongin sama pangeran Clift sampe ngebuat Rissa senyum kayak gitu. roman-romannya ada yang panas tapi bukan kompor, ehek!


"ARION?!" kali ini puteri Odellia ngegas.


"Astagaaa, kenapa kau membentakku seperti itu?! bikin kaget orang aja?!" Rion mengusap dadanya.


"Itu salahmu jika kau merasa terkejut! lagi pula sejak tadi aku panggil nama mu tapi matamu tak hentinya melihat ke arah Rissa!"


"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan puteri?" tanya Rion.


"Aku hanya ingin berterima kasih, sudah menyelamatkan aku..."


"Ya, karena ada Rissa bersamamu! Aku tidak mungkin membiarkan penyihir itu mencelakainya," jawab Rion, pokoknya dia nggak mau PHP-in hati orang.


"Ternyata begitu?" puteri odellia serasa dijorokin ke lembah patah hati yang terdalam.


"Lalu bagaimana bisa kalian mengalahkan Dorothy,"


"Semua itu atas kuasa Tuhan, puteri ... Sekarang dia sudah menerima hukumannya sendiri. dia terkena mantra sihirnya yang awalnya ditujukan untuk ayahku, tentu tidak bisa dipungkiri jika ibuku juga memiliki peran yang sangat penting. Dia muncul disaat yang sangat tepat," jelas Arion.


"Aku menyukaimu!" ucap puteri Odellia dengan cepat.


"Aku hanya ingin menyampaikannya, aku tidak butuh jawabanmu. Karena tidak ada yang bisa menolak keinginan puteri odellia," lanjutnya.


Rion hanya bisa geleng-geleng kepala, dia benar-benar dibuat sulit dengan segala pesona yang dia miliki.


Dan dari kejauhan Rion bisa ngeliat Anna dan Alfrida berjalan ke arah papi nya.


"Tuan...?" Anna mengangguk hormat.


"Ya, anna. dan ... hey, kau sudah lebih baik Alfrida?" papi ridho berusaha menyapa gadis yang bersama Anna.


Dia hanya mengangguk dengan sedikit menunduk.


"Aku datang ingin mengucapkan terima kasih. kau telah menepati janjimu untuk menolong adikku," kata Anna.


"Tentu, kalian anak yang baik. Pantas menerima pertolongan..." papi Ridho mengusap kepala kedua gadis itu secara bergantian.


"Dan ini istriku," papi Ridho memperkenalkan mami Reva pada kedua gadis yang ada di hadapannya.


Kali ini mami Reva nggak cemburu, dia malah iba melihat kondisi kedua gadis itu.


Tak...


Tak...


Tak..


Suara langkah yang membuat semua orang terperangah. Sesosok wanita yang belasan tahun menghilang dan nggak pernah muncul sekarang berdiri di hadapan mereka.


"Ratu...?" gumam para prajurit.

__ADS_1


Raja yang baru aja turun dari keretanya pun nggak kalah kaget melihat istrinya berdiri menyambut kedatangannya saat itu, "Isabel?" gumam raja.


__ADS_2