
"Bapak, Bu! Bapak seperti orang ketakutan, dia tidak mau keluar kamar selama seminggu ini!" kata laki-laki yang masih lumayan muda itu.
"Apa urusannya sama saya?!!" kata tante Karla naik satu oktaf suaranya.
"Saya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Dera Prayoga, jadi jangan nyuruh saya buat tengokin tuh orang!"
"Antarkan Ibu kesana," kata bu Wati pada orang yang mengaku suruhannya Dera, mantan menantunya.
"Biyung! ngapain Biyung ke rumah Dera? biar aja, biar rasain tuh orang!"
"KARLAAAA?!!!" bentak bu Wati.
"Biyung tidak pernah mengajarkan kamu menjadi orang yang pendendam! kalau kamu tidak ingin menolong dia, Biyung tidak akan memaksa. Tapi jangan halangi Biyung untuk melihat bagaimana keadaannya yang sebenarnya," lanjut bu Wati.
Selama ini bu Wati selalu bersikap lembut pada anaknya, tapi melihat tante Karla yang nggak punya rasa empati pada seseorang, membuat bu Wati menjadi marah. Dia merasa gagal mendidik anaknya itu.
"Kamu di rumah saja, Biyung akan melihat kondisi Nak Dera!" ucap bu Wati setelah mengambil dompet di kamarnya dan akan menaiki mobil mewah milik mantan menantunya.
"Tunggu!" sergah tante Karla, "Biyung nggak boleh kesana sendirian, aku ikut..." lanjutnya.
Sedangkan ditempat lain, hari ini Reva udah balik ke rumahnya sendiri. Walaupum Om Karan bilang kalau pintu rumahnya akan terbuka 24 jam, kapan pun mami Reva mengetuknya.
Karena sampai saat ini Rion masih belum ditemukan, pak Sarmin pun ikut bersma dengan mami Reva dan papi Ridho. Selain untuk memberi penguatan pada pasangan itu, rencananya pak Sarmin akan mencoba lagi untuk tetap mencari Rion dengan menggelar doa bersama di rumah itu.
"Udah kamu nggak usah beres-beres," papi Ridho sengaja nggak berangkat ke kantor. Dia mau nemenin istrinya hari ini, dia nggak mau mami Reva ngerasa kesepian dan kebayang-bayang wajahnya Rion kalau liat poto-poto yang nemplok di dinding. Ya elah sia abanggg....* dia kagak nyadar, mukanya plek ketiplek sama Rion. Kagak usah liat poto, liat muka suaminya aja pasti keingetlah itu sama anaknya.*
"Terus aku harus ngapain? kalau nggak boleh beresin koper?"
"Latian taekwondo aja," papi Ridho megang kedua bahu istrinya.
Mami Reva langsung ngeruwes bibir suaminya, "Bisa-bisanya mikirin taekwondo! anak sendiri aja belum ketemu!"
"Awwww awww, astagaa. Makin hari kalau ngeruwes makin ganas aja sih, Sayang?' papi ridho nutup mulut, nyelametin bibirnya.
Puk!
Mami Reva ngegeplak lengan suaminya yang segede lontong jumbo, "Lagian sempet-sempetnya mikir kesitu!"
"Udah akh, aku mau masak?!!" mami Reva ngibrit ke dapur.
Beberapa detik, mata papi Ridho ngedip-ngedip, "ASTAGAAAA GAWAAAATTT?!!'
__ADS_1
Papi Ridho langsung turun ke bawah, ngejar mami Reva. dia harus segera mengagalkan rencana istrinya itu.
Buru-buru papi Ridho turun tangga, sampai Thalitha naikin alisnya, "Ada apa Om Ridho sampai meluncur dari situ? masa kecil kurang bahagia," Thalita yang baru pulang ngampus ngeliat Omnya meluncur dari pegangan tangga pun cuma bisa gelengin kepala.
"Mungkin juga Om Ridho udah mulai stress, gara-gara Rion belum juga ketemu sampai sekarang. Kasihan banget liatnya," Thalita naik ke kamarnya dan segera ngunci pintu kamar.
Sat set sat set, papi Ridho nyampe juga di dapur.
Dia ngeliat mami Reva, lagi geratakan di kulkas.
"Hmmmm, nggak ada bahan-bahan yang pengen dimasak!" kata mami Reva. Ya iyalah, orang udah sebulan dia kagak balik rumah.
Seketika, papi Ridho ngerasa lega banget.
"Bikin cake ajal lah?!" kata mami Reva yang kini geratakan pertepungan dan segala kawan-kawannya.
'Astaga, sejak kapan dia punya niat bikin kue?' kata papi Ridho dalam hatinya.
"Ehm, sayang? kamu pengen kue? kita beli aja ya? sekalian belanja, kan kulkas dah pada ksoong kan? sekalian kita ajak Thalita,"
"Aku nggak ada mood buat belanja," kata mami Reva yang pengen banget nyusulin Rion.
"Kamu nanti capek,"
Tapi mami Reva yang suasana hatinya lagi nggak baik pun masuk-masukin bahan seenak dia, tanpa di ukur tanpa ditimbang. Nggak jauh beda sama bocil yang lagi main-main masak-masakan.
Sebelum tambah ancur, papi Ridho pun segera cuci tangan dan nyoba ngebantu istrinya.
"Pakai mixer ya, biar tangannya nggak capek..."
"Ya udah nih..." mami Reva ngasih adonan yang nggak tau bener apa nggak.
Dan dia cuci tangan dan ngeloyor aja gitu duduk di meja makan sambil melongo.
Papi Ridho yang ngerasa kalau dia udah bikin kesalahan karena udah ngerecokin hasil karya mami Reva pun hanya bisa melihat punggung istrinya yang naik turun, kayaknya dia lagi berusaha buat tarik napas dan buang napas, biar legaan gitu hatinya.
'Harusnya aku biarin aja dia ngelakuin apapun sesuka hatinya,' papi Ridho dalam hati.
Adonan yang udah dibikin istrinya itu, papi Ridho tuang dikit demi sedikit ke dalam pan yang panas. Dia lagi mau crepe cake, sambil matanya ngawasin istrinya yang masih duduk anteng.
'Segitu sayangnya kamu sama Rion ya, Va....' papi Ridho bergumam sambil tangannya dengan lihai membuat kulit crepe-nya.
__ADS_1
Sampai papi Ridho bikin whipped cream, mami Reva masih duduk. Nggak berubah posisi.
"Dia nggak lagi kesambet kan ya?" mata papi Ridho nggak lepas dari istrinya itu.
Dia tumpuk kulit crepe dengan dilapisi whip cream, layer demi layer dia susun sdemikian rupa. Dan terakhir dia taburin susu bubuk cokelat sejuta umat yang bungkusnya warna ijo.
"Nih udah jadi ... katanya makan yang manis bisa bikin suasana hati jadi lebih baik," kata papi Ridho.
Mbak Rina yang abis beli bakso buat Thalita yang sempet nitip waktu mbak Rina lagi nyapu di depan, pun ragu buat mendekat. Ngeliat majikannya lagi sedih duduk di meja makan, mbak Rina jadi ikutan sedih.
"Mbak? kok diem disini? ini bakso punyaku?" tanya Thalita.
"Astaga, mbak thalita, bikin kaget aja..."
"Mbak Rina aja yang kagetan, orang aku ngomongnya juga pelan," Thalita nggak mau disalahin.
"kalian kenapa ribut disitu?" tegur papi Ridho yang laita Thalita dan mbak Rina berdiri nggak jauh dari tempat mereka duduk.
Thalita yang udah ganti baju dan pegang bungkusan pun mendekat, "mbak Rina habis beliin bakso buat aku," dia duduk di meja makan berhadapan dengan om dan tantenya. Sedangkan mbak Rina ngambilin mangkok dan bantu nuangin bakso buat Thalita.
"Mbak, tolong bikinin es lemon tea buat saya," kata mami Reva.
"Baik, Bu..." sahut mbak Rina yang langsung gesit bikinin tiga gelas sekalian buat papi ridho dan juga Thalita.
"Kamu mau nyobain crepe cake-nya? aku potongin ya?" papi Ridho nawarin, mami Reva cuma angguk-angguk ayey.
"Mbak, sekalian bikinin teh anget buat pak Sarmin ya?" seru papi Ridho ketika mbak Rina naruh tiga gelas minuman mereka.
"Siap, Pak..."
Dengan keadaan yang lagi nggak kondusif, Thalita ngerasa kalau tantenya ini beruntung banget dapet suami sebaik om Ridho.
"Kamu mau? Thalita?" tanya papi Ridho yang mau ngambil piring kecil dan sendoknya.
"Nggak, om! buat tante Reva aja," kata Thalita yang nuangin saos nggak kira-kira.
"Nanti sore kita pergi keluar ya? sekalian belanja makanan buat yang nanti malam ngaji disini," kata papi Ridho.
"Kamu ikut ya, Thalita?" suruh mami Reva.
"Iya, Tante..."
__ADS_1
Papi Ridho cepetan pesen makanan buat mereka makan siang, selagi istrinya lagi makan kue buatannya.
'aku yakin, Va. Anak kita Arion pasti balik lagi ke rumah ini...' batin papi Ridho.