Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
60. Pencarian Rissa


__ADS_3

Setelah Defne ambil sarung tangan, Defne dan Rion menunggangi kuda menuju kota, tentu tanpa sepengetahuan paman Peter.


Kuda yang ditunggangi Rion, itu kuda milik Defne. Ya hasil kerjanya menggembala domba dan menjual roti di pasar, dia belanjakan untuk membeli seekor kuda. Sedangkan kuda yang ditunggangi Defne milik paman Peter yang sebenernya udah lumayan lama dirawat sama Defne. Sebenernya Paman dan bibi Defne itu orang baik, mereka sayang dengan keponakan satu-sayunya itu. Makanya waktu Defne bawa pulang seorang bujangan, paman Peter mrndadak cemas. Takut-takut kalau Arion ini orang jahat yang akan memperdayai keponakannya.Makanya bibi Lucy langsung ngusir aja nggak pakai basa basi.


Sementara Rion membelah jalanan dengan berkuda, Rissa udah bangun dari tidur lelapnya. Pas ngeliat sekitar udah nggak ada  Maria, mungkin dia keluar beberapa saat yang lalu. Udah jadi kebiasaan kalau, begitu bangun langsung mandi. Rissa pun bergerak ke tempat sang puteri menghabiskan waktu untuk membersihkan diri dengan air hangat dan berbagai macam kelopak bunga.


Tapi karena Odellia itu mandi ketika matahari udah nongol, alhasil di kamar mandi belum tersedia air panas. Tapi Rissa nggak ngeluh, seberapapun dingin airnya dia tetep mandi.


Setelah Rissa menyelesaikan mandi kilatnya, Maria datangan wajah yang bingung, "Rambut anda basah, Puteri...." kata Maria.


"Maria, rasanya janggal kau memanggilku seperti itu. Jika tidak ada siapapun disini, panggilaku Rissa, itu akan membuatku lebih baik," kata Rissa.


"Baiklah, Rissa. Kenapa rambutmu basah? apa kau mandi sepagi ini?" tanya Maria.


"Iya, aku habis mandi...."


"Bahkan kau tidak memakai air hangat? apa kau tidak menggigil?" tanya Maria yang melihat Rissa memakai jubah mandi dengan rambut yang basah


"Mari saya bantu keringkan rambut anda..." ucap Maria yang mengajak Rissa duduk di depan cermin yang luar biasa gedenya.


"Puteri Odellia, meminta hanya aku yang melayani anda. Karena dia tidak ingin oranglain curiga...." kata Maria, dia begitu telaten mengeringkan rambut panjang Rissa dengan handuk.


Setelah urusan rambut selesai, Maria pun mendandani Rissa seperti puteri Odellia yang udah nggak tau nangkring dimana.


"Aku tidak suka terlalu kencang, Maria, rasanya nafasku sesak..." kata Rissa.


"Maaf, puteri Odellia suka sekali jika korsetnya diikat dengan kencang," Maria pun mengendorkan sedikit tali koset Rissa dan itu membuat gadis itu sedikit bisa bernafas dengan lebih baik.


"Sudah selesai," kata maria. Sebentar lagi anda harus sarapan pagi dengan yang mulia," kata Maria.


"Ah, bagaimana ini?" Rissa cemas, dia takut ketauan.


"Yang mulia malah akan curiga jika puterinya makan di dalam kamar terus menerus..." kata Maria.


Rissa melihat Maria sekilas, sebelum akhirnya harus melakoni peran sebagai seorang puteri.


Matahari pun akhirnya nongol juga. Rissa menarik nafasnya, dia mencoba setenang mungkin. Tapi bagaimanapun dia dan Odellia merupakan dua orang yang berbeda secara tutur kata maupun perilaku. Semoga sang raja tidak menyadari hal ini, sampai kedua gadis itu kembali ke posisinya masing-masing.


Rissa sudah stand by di meja makan dan sesaat kemudian sang raja pun datang, menikmati sarapan yang sangat menggugah selera.

__ADS_1


Rissa berdiri menyambut kedatangan raja Abraham, "Selamat pagi, Ayah..." Rissa mencoba menyapa raja, namun raja Abraham malah membuat kerutan di keningnya, keder dia.


"Ada apa, Ayah?" tanya Rissa yang sedang menyamar sebagai Odellia. Dalam hati ketar-ketir, jangan-jangan raja yang berada di hadapannya ini, tau kalau dirinya sedang menjadi Puteri abal-abal.


"Duduklah, Odellia..." kata sang raja.


Rissa ditatap sang raja, ia pun aedikit menunduk, "Ayah senang kau sudah disini sebelum dipanggil pengawal Ayah..."


Rissa hanya tersenyum, dan mengangguk takut salah ngomong dia.


Sarapan pun dimulai, waktu berjalan begitu lambat buat Rissa.


"Apa puteri ayah ini sedang tidak enak badan?" tanya sang raja.


"Ah, tidak Ayah. Aku sama sekali tidak sakit," sahut Rissa hati-hati.


"Hahaha ayah terlalu sayang padamu, Odellia..." kata sang raja.


Namun lagi-lagi ada sesuatu kejanggalan dimata raja Abrah, "Sepertinya warna rambut puteri ayah berubah?"


Rissa mengambil sebagian rambutnyandan melihat emang kan warna rambut Odellia agak merah, sedangkan rambut miliknya berwarna hitam, "Iya, aku mengubah warnanya, tentu dengan cara yang rahasia..."


Dan sarapan pun di mulai, nggak ada obrolan sedikit pun. Bahkan suara sendok dan garpu berdenting aja nggak ada. Semuanya benar-benar hening.


Sementara di sebuah penginapan. Markoneng , ya Odellia yang sebenarnya baru aja bangun.


"Annaaaaaaa..." panggil Odellia.


"Ya, puteri..." sahut Anna kaget, karena dia sedang melipat selimut yang habis dipakainya.


"Bilang pada Maria, aku ingin dibawakan apel potong..." Odellia setengah ngelindur.


"Maaf, Puteri ... tapi kita sedang tidak di kerajaan," ucap Anna.


"Hemmm?" Odellia kemudian bangun dan mengucek matanya.


Dia membuka matanya, "Astaga, aku sampai lupa. Aku kira semua ini hanya mimpi..." Odellia bergumam, sambil menertawakan kebodohannya.


"Aku aka mandi dulu..." kata Odellia.

__ADS_1


Singkat cerita, setelah sarapan Odellia dan Anna pun pergi ke pasar. Odellia pengen wisata kuliner, ceunah!


Emang bener-bener si Markoneng, ngapain juga wisata kuliner dinluar. Di Istana semua makanan tersaji, tinggal ngucap aja semua bisa tersedia. Cuma ya balik lagi, Odellia pengen ngerasain sesuatu yang lain, jalan-jalan tanpa adanya pegawalan. Padahal ini bisa menimbulkan masalah yang nggak pernah dia sangka sebelumnya.


Baik Anna maupun Odellia, meninggalkan bjau mereka dibpenginapan. Beratnjuga harus bawa-bawa terus.


Anna pun mencoba memanggil Odellia yang jalannya cepet banget, "Tuan----"


"Annaaaaaa, ingat jangan panggil aku dengan sebutan itu!" Odellia nyerobot, dia gregetan banget sama Anna.


"Ah, ya! maaf, tapi jangan cepat jalannya! kita bisa terpisah kalau seperti ini," kata Anna ngingetin.


"Iya iya, aku lebih tau soal itu dari pada kamu, Anna!" Odellia sotoy bener.


Situasi pasar yang ramai membuat Odellia sangat senang, dia bisa melihat para penjual kain.


"Motifnya sangat bagus..." puji Odellia.


"Motif ini akan sangat cantik jika bersentuhan dengan kulit anda, Nona..." mulut manis sang penjual, membuat Odellia semakin senang.


"Benarkah?" Odellia pun melilitkan kain itu sedikit ke tangannya.


"Tentu, kecantikan anda akan semakin terpancar," kata si penjual, gombel banget.


"Kau benar! ini sangat cantik!" Odellia manggut-manggut.


"Maaf, Nona. Tapi wajah anda mirip sekali dengan puteri raja Abraham..." ucap si penjual.


Odellia yang sengaja menggerai rambutnya pun agak menunduk, memalingkan wajahnya, "Anda terlalu memuji. Bagaimana bisa rakyat biasa sepertiku bisa mirip dengan puteri raja?"


"Anna bagaimana menurutmu?" tanya Odellia pada Anna, dia menunjukkan kain yang menarik hatinya.


"Anda sudah memiliki lebih dari 1000 motif terbaik dari segala penjuru di dunia, Nona..." bisik Anna.


Anna yang seakan memberi pengaruh buruk pun membuat si penjual melayangkan pandangan sinis padanya.


"Ehm," penjual itu berdehem.


"Maaf, kata kakakku, ibu kami sudah membeli motif ini bulan lalu, lain kali kami akan mampir..." kata Odellia yang menarik Anna menjauh dari si penjual kain.

__ADS_1


"Ayo, Annaaaaaa," kata Odellia yang kini memakai sebuah kain kecil transparan untuk menutupi hidung dan mulutnya, lalu dia kembali menyusuri pasar pagi ini.


__ADS_2