Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
92. Terowongan Rahasia


__ADS_3

Dorothy yang nggak nemuin Anna dimana-mana, seketika murka. Beberapa benda melayang di udara dan terhempaskan begitu aja di lantai. Yeuuh dasar, nenek sihir! ngamukan mulu kerjaannya!


Penyihir yang haus akan wajah dan penampilan yang awet muda pun ngerasa udah nggak bisa sabar lagi ngadepin kelakuan Anna, yang disuruh tapi leletnya minta ampun. Dia kagak tau aja, itu bocah lagi misi nyelundupin orang masuk ke dalam kastil tua tempat Dorothy leha-leha menikmati hidup yang dia bikin ribet sendiri.


"Aaarghhh!" tangan Dorothy gemetar macam orang tremor. Kalau orang udah aepuh atau udah nenek-nenek kan suka gitu ya, tangannya gemeteran pas ngambil barang gitu.


Dorothy yang pengen minum susu anget, mau nuang botol susu ke dalam panci, tapi gara-gara tangannya sedikut gemeteran jatuhlah itu botol kaca.


PRANGGGG!


Dan itu suara pecahan yang Rissa dengar.


"ANNA ANNA ANNAAAA!" Dorothy teriak.


Teriakan itu juga kini samar-samar didengar oleh puteri Odellia yang lagi disekap di menara atas. Bangunan kastil mini ini terdiri dari menara yang cukup tinggi, menyambung dengan bangunan yang digunakan Dorothy untuk menikmati umur panjangnya.


Beberapa ruangan digunakan untuk keperluan masak, tidur atau pun ngelamun. Dan sisanya ruangan dibiarkan kosong. Karena dia lagi ada tawanan, dia pun memilih untuk ngejogrog aja disitu, sambil makan enak tanpa bayar jasa yang masak. Bener-bener nggak ada akhlaknya ya nih orang!


Sedangkan di menara itu, puteri Odelkia menghela nafas panjang sambil ngerasain kakinya yang sakit.


'Anna? kenapa kau menjadi seorang penghianat?!' batinnya.


Dan Anna yang lagi dicari sama nenek sihir pun masuk ke dalam jalan rahasia. Di tengah hutan belantara ini Anna berhenti dan berjongkok. Dia menyingkirkan sampah dedaunan kering dengan tangannya, sampai terlihat sebuah lempengan kayu berbentuk kotak.


"Ini jalan menuju kastil itu..." ucap Anna.


"Jadi kita lewat jalan bawah tanah?" tanya papi Ridho yang segera dijawab anggukan oleh Anna.


"Ya, untuk menghindari sihir dari Dorothy. Ini jalan yang paling aman untuk dilalui," kata Anna yang udah sering bolak-balik di kastil tua itu.


Papi Ridho memandang Rion, dia menunjuk besi lempengan kayu itu.


"Kami ikut denganmu!" kata papi Ridho, yang kini menatap Anna serius.


"Di bawah ada tangga, berhati-hatilah!" kata Anna.


"Aku akan turun terlebih dahulu dan yang terakhir harus menutup lubang ini dengan lempengan kayu tadi," lanjutnya.


Dan Anna pun perlahan memasukkan tubuhnya ke dalam lubang berbentuk kotak itu dengan hati-hati. Badan yang kecil dan juga kurus dengan mudah menuruni tangga yang terbuat dari tali tambang dengan papan kayu sebagai pijakannya, Anna nggak lupa membawa lentera bersamanya. Emang jagoan juga nih Anna.


"Kamu dulu, Rion!" kata papi Ridho., karena dia melihat ada sosok lain yang berada di dekat kastil itu.

__ADS_1


Kalaupun ketauan, paling nggak si Rion udah sembunyi duluan pikir papi Ridho.


"Cepat Rion!" suruh papi setengah berbisik.


Pemuda tampan menawan itu pun mengikuti jejak Anna, dengan hati-hati dia masuk ke dalam lubang itu. Sedangkan Papi Ridho masih mengawasi sekitar.


"Itu orang bukan sih?" papi bergumam sambil matanya mengawasi seorang wanita yang berusaha memasuki kawasan kastil tua itu.


"Ada apa, Pih?" tanya peri Keket.


Papi menggeleng, "Bukan apa-apa!"


"Pih...!" seru Rion dengan suara bisik-bisik.


Papi nggak mau buang waktu, dia segera turun, tapi pas badan dia coba julurin ke bawah, 'Kok susah ya!'


"Hati-hati, Pih...!" kata Rion yang udah tau roman-romannya papi Ridho kurang keseimbangan. Tuh buktinya kakinya nggeter. Dia bingung mau turun model gimana, apalagi itu tambang kan goyang-goyang nggak stabil.


"Udah Rion pegangin! papi nggak usah takut!" kata Rion.


"Hehe, siapa yang takut? papi cuma lagi mikir gimana turun yang enak!" kata papi Ridho.


"Koprol aja koprol! atau lompat aja, ntar Rion tangkep dari bawah!" kata Rion.


"Nah ya, gitu!" kata Rion saat ngeliat papinya pelan-pelan tapi pasti turun dengan pegangan kayu kanan dan kirinya. Cuma pijakannya aja nih yang bikin papi agak ragu buat melangkah. Takut putus tuh tambang.


Dan pas udah sampai pertengahan Rion nyeletuk, "Loh, Pih? kok lubangnya nggak ditutup lagi?"


"Aaiishh, Rion! kok nggak ngomong daritadi? papi udah setengah jalan nih!"


"Anda turun saja, Tuan! biar aku yang akan menutupnya," kata Anna.


Papi Ridho lanjuutin turun sampai akhirnya dia berhasil berpijak pada tanah.


"Apa papi bilang? papi tuh bisa turun pakai tangga begituan!" ucap papi Ridho pasang wajah cool.


Rion cuma gelengin kepala, 'Allahu akbar, papi gue gini banget!'


Saat Anna otewe manjat, Rion segera mencegahnya, "Biar aku yang nutup!" katanya.


Walaupun dia gedeg sama tuh perempuan karena udah nyulik Risaa, Odellia dan juga Defne. Tapi ngeliat tuh perempuan dengan badan yang tipis begitu mau manjat lagi, Rion jadi nggak tega juga. Akhirnya dengan otot tangan yang kuat, Rion manjat sampai ke pucuk pucuk pucuk! Eh canda ya pucuk!

__ADS_1


Sreeekkkk!


Rion menutup lagi lubang rahasia yang menjadi jalan terobosan di bawah tanah menuju sebuah kastil yang kalau dilihat dari luar kayak bangunan angker dan nggak terawat.


Pantesan Anna bawa lentera, ternyata si dalam sini selain pengap juga gelap. Ya namanya juga jalan terobosan ya, oksigennya juga minim.


Mereka udah kayak masuk ke dalam goa, yang harus melewati lorong panjang. "Berani juga nih bocah lewat jalan nggak lazim kayak gini!" gumam Rion.


Anna masih setia dengan lenteranya. Dia menjadi penunjuk jalan saat ini, sedangkan papi Ridho dan Rion berjalan di belakangnya. Sampai mereka menemukan sebuah pintu yang menghubungkan terowongan dengan kastil.


"Jangan bersuara, atau dia akan menemukan kita!" kata Anna.


"Ya!" sahut papi Ridho.


Anna perlahan membuka pintu yang ternyata ada tangga lagi berbentuk melingkar seperti spiral. Tapi kali ini tangga yang dengan pijakan yang lebih kokoh.


Kalian disini dulu, aku akan ke atas. Aku harus memastikan kalau ratu sedang di kamarnya," kata Anna.


"Kami akan menunggu aba-aba darimu!" kata papi Ridho mendahului Rion. Takut kalau anaknya nanti malah nyap-nyap nggak jelas, dan menghancurkan semua rencana yang udah dibangun sedemikian rupa


"Baiklah!"


Anna meninggalkan lenteranya untuk papi Ridho dan juga pemuda yang disukai oleh Dorothy.


Anna naik ke atas, dengan perlahan tapi nggak pasti Anna terus berjalan sampai menyentuh lantai paling atas. Dan ia membuka pintu.


Papi Ridho mendongak, "Semoga malam ini kita bisa membawa Rissa keluar, Rion!"


"Semoga ya, Pih! Rion udah pengen pulang!"


"Bisa kangen pulang juga kamu!" Papi Ridho nepuk bahu anaknya.


"Ya kangen lah, Pih. Masa iya nggak kangen?" sahut Rion lirih.


Sedangkan Anna yang jalan dari arah bawah tanah pun kaget saat melihat dapur yang acakadul. Panci yang belum lunas kredit, piring hadiah sabun udah bercecer di bawah. Canda piring hadiah! Masa iya Dorothy makan pakai piring hadiah sabun? ngadi-ngadi emang yak!


"Kenapa barang-barang berjatuhan seperti ini?" gumam Anna, dia nyari barangkali ada kucing atau macan yang masuk ke dalam rumah.


"Sepertinya aku menyimpannya dengan baik!" lanjut Anna.


"Aku yang melakukannya?!" ucap Dorothy yang nggak ada angin nggak ada ujan udah berdiri di belakang Anna.

__ADS_1


Deg!


'Astagaaa, bagaimana ini?' jantung Anna berdebar.


__ADS_2