Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
Satu Tamparan


__ADS_3

"Kenapa? apa yang Reva tidak boleh tau?!" tanya Om Karan.


"Dan kamu, Rion? kenapa kamu pulang tampa kabar?" lanjutnya, menatap sang keponakan dengan tajam.


Sementara itu papi Ridho makin cenat cenut kepalanya, mau nggak mau dia nyuruh sepupu dari istrinya itu buat duduk, "Duduklah dulu, baru kita bicara..." suruhnya.


Om Karan duduk disamping Rion, "Sebenarnya ada apa?"


"Kenapa wajahmu sepeerti orang stress begitu Ridho?" Om Karan nggak mau basa-basi, dia pengen tau apa yang sudah terjadi.


"Biar aku saja, Pih yang jelasin..." ucap Rion saat ngeliat papinya pusing tujuh keliling.


"Sebenarnya, aku pulang karena aku udah resign pekerjaan, dan berniat untuk tinggal disini. Selain itu, aku juga sudah menikah, Om. Tepatnya sebulan yang lalu," ucap Rion, dia keliatan banyak menanggung beban.


"Hah? menikah? tapi dengan siapa?" Om Karan memastikan kalau dirinya nggak salah denger.


Rion memandang papinya menautkan jari-jemarinya, pria itu memejam sesaat. Dan mengangguk untuk memberitahu Rion kalau dia harus bicara jujur dan janfan ada yang ditutupi. Meskipun dalam hatinya menolak untuk percaya, tapi dia bisa apa. Semuanya sudah terjadi.


"Dengan siapa Arion?!" desak Om Karan, sebenernya dia udah mencari tapi. Tapi kali ini dia ingin dengar dari mulut amak yang selalu dia manja dengan berbagai barang mewah.


"Karissa Laquita, anak dari Dera Prayoga dan---"


Plaakkk!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Rion.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan, hah?" sekarang Om Karan mencengkram jaket hitam yang dipakai Rion.


Papi Ridho yang melihat itu bergerak, menjauhkan tangan Karan perkasa dari anaknya, "Nggak ada gunanya menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini?!"

__ADS_1


Om Karan mengikuti papi Ridho dan Rion yang berdiri, papi Ridho melihat wajah anaknya yang mengeluarkan darah di salah satu sudut bibirnya.


"Apa yang kamu pikirkan Rion? kau tau Dera itu siapa dan beraninya kau menikahi anak dari orang yang sudah mencelakai mami kamu sendiri?!" Om Karan begitu murka dengan Rion.


Seumur-umur Om Karan belum pernah semarah ini dengan Rion, apalagi mengangkat tangannya dan menyakiti. Tapi kali ini, apa yang dilakukan Arion sudah membuat hatinya terluka. Om Karan bisa membayangkan bagaimana sepupunya, Reva akan terluka mendengar berita ini.


"Aku tau aku salah, Om. Tapi saat itu, dia sudah diambang batasnya. Dia sudah berubah, dia menginginkan aku buat menjaga putrinya---"


"Dan kau mengiyakannya?"


"Karena aku mencintainya, Om..." ucapan Rion membuat papi Ridho makin pusing.


"Lihat, Ridho! begini kau mendidik anakmu? astagaaaa," Om Karan sekarang terduduk kembali. Dia memijit kepalanya, pusing.


"Saya pun kecewa! tapi nasi sudah menjadi bubur, dan yang bisa kita lakukan hanya mengolah bubur itu supaya menjadi bubur yang spesial pakai telor dan juga kerupuk beserta sambelnya!" kata papi Ridho.


Sebenarnya, papi Ridho juga kecewa dengan apa yang dilakukan Arion, tapi mau dia pukul anak itu sampai babak belur pun nggak akan menyelesaikan masalah. Apalagi ini hubungannya dengan sebuah ijatan suci, pernikahan. Mereka nggak bisa bermain-main dengan itu.


"Om kecewa dengan kamu, Arion! sangat..." ucap Om Karan.


"Maafkan aku, Om! maafkan aku, Pih?" kata Rion.


Papi Ridho akhirnya menceritakan saat mereka terjebak di dunia lain, dia memang sudah tau kalau Rion suka dengan gadis yang berusaha menolong putranya, menggantikan Rion yang menjadi sasaran para iblis.


"Nggak ada yang salah dengan perasaan itu, baik Rion ataupun Rissa. Keadaan yang membuat mereka begini," kata papi Ridho yang juga ingat bagaimana dia dengan susah payah meraih restu mertuanya, melawan semua orang supaya bisa bersatu dengan belahan jiwanya. Jadi dia paham dengan apa yang Rion hadapi saat ini.


"Kamu akan menghancurkan hati mami kamu sendiri, Rion! orang yang sudah berjuang hidup mati untukmu," Om Karan yang bangkit dan kemudian pergi.


"Maafkan Rion, Pih..." kata Rion yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Papi menepuk bahu Rion, "Sudahlah, semuanya sudah terlanjur terjadi..." papi Ridho mencoba menguatkan hati Rion.


Sedangkan malam itu Rion ikut dengan papi Ridho, bukan ke rumahnya. Melainkan ke rumah mertuanya, "Ini sudah terlalu malam. Mami pasti sudah tidur dan istrimu pasti mencari keberadaanmu. Jangan buat dia khawatir, sekarang turunlah. Besok bawa istrimu datang ke rumah kita..."


"Terima kasih, Pih..." ucap Rion sebelum turun dan berjalan menuju sebuah rumah yang terpampang nyata di depannya.


Sedangkan papi Ridho pergi menuju rumahnya dengan hati yang bimbang. Dia menyetir dalam perasaan yang gamang, dan masuk ke dalam rumah yang udah dimatikan semua lampunya. Papi Ridho masuk dengan pelan, dia takut membangunkan istrinya.


Pria yang mempunyai wajah yang awet muda itu, membersihkan dirinya baru kemudian berbagi selimut dengan istrinya, Reva.


"Baru pulang, Mas?" tanya mami Reva yang otomatis merangsek ke dalam pelukan suaminya.


"Iya, tidurlah. Karena aku juga mau tidur..." papi Ridho mematikan lampu tidurnya.


Besok paginya, nggak ada senyuman di wajah papi Ridho seperti biasanya. Dia lempeng aja.


"Kenapa? apa ada masalah?" tanya mami Reva.


"Nggak apa-apa," sahut papi Ridho yang menikmati sarapannya.


"Kok semalem pulangnya malem banget? apa iya kerjaan sebanyak itu? sampai nggak ada waktu lagi buat ngerjainnya? perasaan dulu aku jarang banget lembur," mami Reva memutar bola matanya.


"Karena kamu mengandalkan asisten kamu itu,"


"Hahaha, iya juga sih! ya gimana? bukannya bos harusnya kayak gitu ya?".mami Reva jadi inget gimana saat dia masih aktif di perusahaan.


"Ya nggak lah! masa iya kerjaan semua kamu bebanin sama asisten, bisa stress dia..." kata Ridho yang udah paham gimana menderitanya jadi asisten, sampai nikah aja nggak ada waktu buat honey moon.


"Aku udah selesai, nanti aku pulang cepat! kamu hati-hati di rumah!" papi Ridho bangkit dan mengecup kening istrinya. Dan segera pergi, karena melihat wajah Reba membuat hatinya berdenyut nyeri. Apalagi nanti malam dia akan mengundang seseorang ke rumahnya.

__ADS_1


"Astagaaa, mungkin ini karma!" ucap papi Ridho saat dia ingat kalau dulu juga dia menikah tanpa memberitahu ibunya.


__ADS_2