Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
91. Menua


__ADS_3

Dorothy yang lelah pun lagi mandi dengan air susu dan beberapa taburan bunga. Dia berendam dengan nyamannya, membiarkan keempat tawanannya kelaparan.


"Malam belum berakhir, aku tidak sabar memperoleh umur panjangku lagi setelah ini. Hahahah,"


Krekkkk!


Rahangnya bunyi lagi.


"Aakkh! aku harus segera memperbaikinya, sebelum semakin memburuk," ucap Dorothy yang merasakan kalau rahangnya semakin sakit. Dorothy sadar jika, aura awet mudanya perlahan memudar. Di usianya yang sudah lebih dari 1 abad itu pun menunjukkan tanda-tanda penuaan. Bahkan yang lebih mengerikan, dia akan balik ke usianya yang sebenarnya.


Hanya karena ingin menghancurkan Abraham, dia sampai lupa kalau dalam kurun waktu 10 tahun. Dia harus menyerap energi dari 100 gadis muda yang masih ting ting.


"Sekarang aku mendapatkan empat gadis sekaligus, ini akan membuat kulitku mendapatkan kekencangannya kembali," Dorothy yang kini masih rendeman. Dia mengusap lengannya dengan tangan yang kini telihat urat-urat berwarna hijau yang mulai terlihat.


"Sekarang aku tidak menginginkanmu Abraham, karena sudah ada dua pria yang ingin ku miliki saat ini. Kau sudah terlalu tua untukku yang masih memiliki kecantikan yang sempurna," Dorothy memuji dirinya sendiri.


"Bahkan rembulan pun iri melihat kecantikan seorang Dorothy, haha," dia ketawa tipis-tipis, takut kesleo lagi.


Setelah airnya udah nggak anget lagi, Dorothy pun mulai bangun dan memakai baju terusan dengan kerutan di bagian perut dan lengannya. Dia memakai sebuah kalung dengan liontin berwarna hitam.


"Masih beruntung aku memiliki kalung ini, dia akan membuatku lebih bertenaga, disaat energiku semakin berkurang. Kalau bukan karena Anna yang bodoh itu, tentu aku tidak akan melupakan sesuatu yang penting, makan hati Rusa..." kata Odellia yang kini melihat dirinya yang terlihat lebih tua dari beberapa jam yang lalu.


"Cermin bodoh! wajahku seharusnya tidak setua itu!" umpat Dorothy, dia menyisir rambutnya yang panjang bergelombang. Meskipun dia tidak suka dengan tampilannya saat ini, wanita itu berusaha menata rambutnya. Dia kepang kecil rambutnya kanan kiri, kemudian diikat kebelakang. Dia biarkan rambut yang lainnya digerai gitu aja.


Sementara rombongan raja Abraham masih dalam perjalanan.


Mereka nggak ada waktu buat berhenti, nggak ada kereta kuda. Yang ada hanya sekawanan kyda yang ditunggangi tuannya.


Suara ringikan dan sepatu kuda bersentuhan dengan tanah, menjadi musik pengiring malam ini.


Pangeran Clift sebenarnya khawatir dengan raja Abraham, dia takut sang raja kelelahan.


Dia berusaha menyamai kuda sang raja, "Yang Mulia, maksudku Ayah..."


"Ya, pangeran?!" sahut raja Abraham.


"Ayah sudah melewati perjalanan yang cukup jauh, apakah Ayah tidak ingin istirahat terlebih dahulu?"

__ADS_1


"Nyawa puteriku sedang terancam, pangeran?! aku tidak ingin membuang waktu!" ucap sang raja yang masih memacu kudanya.


Pangeran Clift sangat paham perasaan sang raja, tentu dia nggak akan mau merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya.


Raja Abraham diikuti pangeran Clift dan juga para pengawal, tetap melanjutkan perjalanan menuju perbatasan kerajaan yang itu jauhnya bukan main-main. Untung Rion masih bisa gunain kekuatan supernya, meskipun dia juga merasakan kalau larinya nggak sekencang biasanya, tapi masih mending lah ya.


Sedangkan di sebuah menara.


Rissa mengerjapkan matanya, dia merasakan badannya lemes dan nggak berdaya. Secara Rissa ini kan habis pingsan, boro-boro ada makanan masuk ke perut. Baru mau dinner aja, dia langsung ngegeletak kena pecahan cangkir yang ternyata ada sihirnya. Jadi bisa kebayang, lapernya Rissa kayak apa sekarang.


Sekarang matanya melihat ke sekeliling, "Dia ngeliat dua orang diikat di sisi kanannya, puteri Odellia dan juga satu orang lagi yang dia bawa, saat mereka muncul dari dalam lemari.


Dan dia ngerasain kalau dibelakangnya ada seorang gadis lagi, yang dia nggak tau siapa.


"H-hey..." Rissa mencoba manggil puteri Osellia, tapi suaranya sulit sekali keluar, karena mulutnya yang diikat dengan sebuah kain. Mereka diikat dengan posisi duduk bersandar pada sebuah pilar.


"H-heeeey!" Risaa mencoba manggil lagi, tapi percuma, yang keluar cuma suara-suara nggak jelas.


'Astaga, dimana aku?' Rissa masih kreyap-kreyep.


'Rion? dimana Rion? harusnya aku, aku nggak pisah sama Rion! semakin lama di negeri ini, tubuhku semakin lemah...' Rissa berucap lagi dalam hatinya.


'Siapa dia? dia masih hidup atau?' Rissa udah ngebayangin yang nggak-nggak.


Tak!


Tak!


Ada sebuah gerakan kecil dari jari tangan si gadis itu yang bisa rasakan, seakan menepis pikiran buruk Rissa.


'Dia masih hidup?' batinnya.


Rissa berusaha melepaskan ikatan tangannya. Tapi ikatan ini terlalu kencang, sampai dia ngerasain pergelangan tangannya sakit bahkan kesemutan.


"KEMANA GADIS BODOH ITUUUUU!" suara teriakan bisa Rissa dengar samar-samar.


'Suara siapa itu?' batinnya lagi.

__ADS_1


Kali ini dia menggerakkan kakinya yang diikat juga.


"Aarrghhhh!" Risaa bersuara menahan sakit sekaligus perih.


Dan geraman itu sukses membuat Defne mengerjapkan matanya. Arah duduknya membelakangi Risaa. Jadi sulit buat Rissa manggil tuh orang buat sekedar ngomong 'Hey aku disini, ayok kita kabur!


"Rrggggh," suara Defne.


Mungkin Defne yang gerakin tangannya dan lumayan ngeganggu puteri Odellia yang lagi enak-enakan pingsan.


Puteri Odellia mulai menggeliat, mungkin dia mau ngulet, belum sadar dia sekarang ada dimana.


Rissa nengok, sampe lehernya pegel, "Rrrghh," dia mencoba memanggil puteri Odellia yang mulai sadar.


Dan pas matanya kebuka, dia ngeliat kaki nya diiket dan juga tangannya, agak panik. Dia berusaha ngeliat kanan dan kiri. Matanya membulat saat melihat Rissa yang juga dalam keadaan yang sama.


Mereka duduk sebelahan meskipun agak jauh, puteri Odellia menggerakkan kakinya nyoba buat ngelepasin.


Rissa cuma bisa gelengin kepala, 'Jangan lakuin itu, nanti kaki kamu lecet', pengen banget Rissa bilang gitu. Tapi ya udah, dia cuma bisa menyimpan ucapan itu dalam hati aja.


Tap


Tap


PRAAAAAAANGG!!


Ada benda jatuh, yang bikin ketiga gadis yang ditawan kaget berjamaah. Puteri Odellia menatap Rissa, mereka cuma lirik-lirikan aja.


"KEMANA SAJA DIAAAA?!! PERUTKU SUDAH LAPAR, TAPI MAKANAN BELUM JUGA ADA DI MEJA! DASAR GADIS PEMALAS, AAWKK!" teriak seorang wanita diiringi suara pekikan sakit.


PRAAAAANGGG!


Sebuah benda jatuh lagi, kali ini suaranya bukan barang pecah belah yang beli satu gratis satu, tapi lebih mirip benda semacam benda seng ataupun apapun itu yang suaranya lumayan nyaring.


Rissa mencoba mengingat, kapan terakhir kali dia berada sebelum tau-tau pingsan dan sadar di tempat aneh kayak gini.


'Ada seorang gadis, yang dipanggil oleh puteri Odellia. Namanya ... Anna? ya, Anna! apa mungkin gadis itu yang menjebak kita dengan permainan sihirnya?' Rissa menebak-nebak apa yang dialaminya.

__ADS_1


PRAAANGGGG!


Suara bantingan benda terdengar lagi, diiringi suara teriakan, "GADIS SIALAAAN!"


__ADS_2