
Telolet ikut bersama dengan Omnya, turun ke bawah. Sedangkan para pendaki lain tetep nginep satu malam lagi. Mova yang dituduh mendorong Lorenza pun nggak bisa apa-apa, sulit juga membuat mereka percaya. Lha wong nggak ada yang ngeliat kecuali Rion dan Adam.
Sementara Adam satu-satunya yang jadi saksi mata, hanya diam. Mova pikir, Adam shock melihat sepupunya yang jatuh. Tapi ternyata nggak. Dengan hilangnya Lorenza, sihir yang digunakan gadis itu pun hilang. Ya, sihir agar Adam mellihatnya seolah melihat sepupu pun hilang seketika. Jadi ya wajar, Adam nggak ngerasa kehilangan atau apapun. Dia menyangka itu Lorenza yang lain.
Mova nggak berani ngomong sama Adam, untuk bertanya ataupun berusaha menghiburnya, dia hanya bisa menyesali kejadian yang menimpa Rion. Dan Mova baru tau kalau Thalita itu sepupu dari orang yang disukainya selama beberapa tahun terakhir. Dan tanpa disadari ada asap putih seperti kabut yang mengelilingi mereka semua.
Sihir yang digunakan Rissa untuk menyamar sebagai Loren, perlahan mulai menghilang.
Kini yang ada di pikiran atau memori mereka semua, yang jatuh saat pendakian hanya Arion Putra Menawan.
Sedangkan sekarang Rion masih anteng tuh disenderin sama Rissa. Dia nggak gerak sama sekali, soalnya Rissa keliatan banget lagi nggak enak body.
Beberapa kali aja dia sempet ngelindur, dia bilang "Aku sendiri yang akan membayarnya,"
Dalam hati Rion, ini Rissa punya hutang ama siapa? pinjol, pay latter apa rentenir? bisa-bisanya kebawa mimpi segala. Kepo juga nih si Rion yakkk!
"Tolong jangan sakiti dia," Rissa ngelindur lagi. Udara disitu kebetulan dingin banget, tapi Rissa malah keringetan. Kerasa gitu sama Rion, suhu badannya Rissa ini mulai memanas.
Antara takut kalau Rissa kenapa-napa atau cari kesempatan dalam kesempitan, Rissa yang semula senderan di bahunya Rion sekarang ditarik, dipeluk sama Rion.
"Jangan sakit disaat yang nggak tepat dong, Sa..." kata Rion pada Rissa.
"Gue bisa manggil kang bakso nggak sih? dingin-dingin kan paling enak makan bakso, makanan yang lagi digemari papi," Rion si tukang makan nggak liat sikon banget mikirin bakso pas kejebak di dunia lain begini.
Rion naikin lagi jaketnya supaya nutupin badan Rissa. Udara makin dingin, Rion semakin mendekap gadis itu. Masih untung ada bola chaya yang biaa menerangi mereka berdua, kalau nggak? bisa amsyong mereka digrogoti nyamuk.
"Ck, susah banget sih keluar dari sini. Tolong dong tangan gue yang super saktiii, gue haus pengen minum kopi creamer-nya 2 sendok, inget pake gula jagung no callori! Oh ya, sama nasgor sosis juga..." Rion mencoba menggerakkan tangannya bak pesulap handal.
"Hyaakkk!" Rion nunjuk tanah di depannya
Nggak keluar.
Padahal dia berharap langsung 'trengtengtengtengteng tadaaaaaa' ada semua minuman dan makanan yang dia sebut tadi.
Seketika Rion kecewa.
"Masa iya cuma kayu bakar doang yang bisa dipanggil? atau mungkin permintaanku terlalu spesifik? oke deh, kita coba lagi..." Rion ngenes, kerongkongannya kering kerontang pengen minum.
"Soda!" Rion ngejembreng tangannya.
"Sodaaaaaa woooy, sodaaaa!!!" seru Rion lagi, kesel banget dia.
__ADS_1
Tapi Rion pantang menyerah, dia akan berusaha sampai dapat.
"Gue pengen susu kotaak!" Rion menngerakkan jari jemarinya, membentuk sebuah bola.
Glotraaaakkkk!
Akhirnya setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Rion berhasil. Ada satu susu kotak di tangannya.
"Cih, pilih-pilih banget! giliran minta susu aja dikasih!"
Rion kemudian menghilangkan dahaga yang dia rasakan dengan susu manis rasa strawberry.
"Gue duluan ya, Sa! siapa suruh elu tidur," ucap Rion.
Yang habis minum susu kok ya ngantuk, pengen tidur.
"Merem dikit nggak apa-apa kali ya?" Rion mikir-mikir.
Liat Rissa tidur nyenyak banget, dia pun jadi ketularan pengen ngeliyep.
"Gue nggak tidur kok, gue cuma meremin mata biar mata gue ngga perih..." Rion alesan aja, membenarkan tindakannya sekarang.
Tapi baru juga ngeliyep, ya kira-kira 10 menit Rion mencium bau-bau daging bakar.
Pas dia buka mata, "Rissa?"
Rion ngeliat wanita yang sedari tadi dipeluknya kini duduk membelakanginya.
'Ngapain dia? bakar daging? tapi darimana dapetinnya?' batin Rion.
"Ehem," Rion berdehem.
"Udah bangun?" tanya Rissa yang masih pucet, mungkin karena masih kerasa sakit lengannya.
"Oh ya, gue lupa belum benerin lengan sweater lu!" ucap Rion membenarkan posisi duduknya.
'Astagaa, Rioooon! please berhenti bersikap care sama cewek!' Rion bergumam dalam hatinya.
"Mau gue bantuin?" Rion mendekat dan melihat daging yang aneh banget bentuknya.
'Kok baunya bikin gue mual, ya?' Rion ngebatin lagi.
__ADS_1
"Lu masak daging apaan sih? kok baunya aneh!" tanya Rion.
"Apa iya aneh? perasaan nggak deh!" Rissa membolak balikkan daging yang ditusuk pakai tusukan sate versi jumbo.
"Gue pengen bantuin tapi, gue lagi nggak enak body. Jadi gue duduk disini aja ya," Rion pusing mencium aroma bakaran daging.
"Nggak ada makanan lain disini, jadi kita makan ini aja ya..." kata gadis itu datar.
'Ini hidungku yang eror apa gimana sih? gue nggak kuat banget ngecium baunya!' Rion ngoceh mulu dalam hatinya.
Rissa menata makanan yang akan menjadi santap malam mereka berdua diatas piring daun.
Rion yang melihat itu agak heran, kok bisa daging bakar yang lagi panas-panasnya, ditaruh di daun pisang yang diletakkan diatas telapak tangannya.
Fix ini Rissa lagi atraksi debus. Ya sebenernya nggak usah heran juga sih, kan dia bisa sihir. Bisa aja dia bikin tangannya sekuat baja, yang tahan panas. Tapi tetep aja diluar sihir atau apapun itu, Rion tetep ngilu aja liatnya, kalau maminya pasti udah ribut minta air es buat rendem tangannya itu.
"Udah jadi," ucap Rissa, dia menyodorkan daging panggang dengan kedua tangannya.
Rion nggak bisa menahan, perutnya begitu bergerjolak.
"Kamu nggak suka?" raut wajah Rissa langsung berubah.
"Bukan nggak suka. Cuma nggak tau buat gue nyengat banget baunya!" Rion menjauh saat Rissa menyodorkan satu tusuk daging buat Rion.
'Eee buseeeettt, ini daging apaan sih?' batin Rion.
"Aku udah bikinin, aku kira kamu pasti laper," Rissa masih memegang satu tusuk dan semakin dideketin ke mulut Rion.
Rion pengen maju, tapi nggak bisa. Kepalanya makin lama makin mundur, dia sampai kayang saking mundurnya. Nggak dong yaaaaaaa!
"Taruh aja sih, Sa. Ntar gue makan kok. Perut gue lagi begah, abis minum susu tadi," Rion nunjuk ke tanah. Pinter lu ya Yon nyari alesan bae!
"Ya udah kalau gitu!" Rissa mengarahkan daging bakar itu ke dalam mulutnya.
Dan satu hal janggal terlihat dimata Rion, Rissa begitu lahap memakan daging bakar itu. Rion memicingkan matanya saat melihat sesuatu di sudut bibir Rissa.
'Bukannya kalau kecap warnanya item ya? kenapa bibir Risaa kayak ada merah-merahnya? kayak darah, dia lagi sariawan apa gimana?' Rion dalam hati.
"Kamu mau?" tanya Rissa, menyodorkan makanannya pada Rion. Laki-laki itu memegang dadanya sendiri.
Dan tiba-tiba ada satu bisikan lirih yang Rion dengar, "Rion kalau kamu dengar aku, tolong jawab panggilanku!" suara perempuan yang sangat dia kenal.
__ADS_1
'Rissa?' Rion ngerutin keningnya, memastikan pendengarannya.