Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
112. Ijin


__ADS_3

Justin sat set banget. Rion yang sekarang duduk anteng di kursi pun satu tangannya megang cermin.


Krasss


Kresss


Krasss


Kresss


Rambut gondrong Rion yang demen banget dia kuncir itu pun akhirnya jatuh berserakan di lantai.


Rion menurunkan cermin yang dia pegang.


"Gue nggak boleh egois lagi," batinnya.


Pandangannya lurus aja kedepan, sampai Justin menyelesaikan pekerjaaannya. Wajah Rion yang emang udah ganteng, jadi keliatan tambah menawan di tangan orang yang tepat. Ya berarti pas! sesuai nama ya, kan?


Om Karan berpesan pada team medis, pokoknya apapun yang Rion minta turuti aja. Selama itu nggak mengganggu penyembuhannya. Dan selama ini alhamdulillahnya Rion juga nggak pernah minta yang aneh-aneh. Dia cukup kooperatif sebagai seorang pasien.


"Selesai," ucap Justin yang membuka jubah berwarna hitam yang digunakannya selama memangkas rambut Rion yang gondrong abiiiss.


"Silakan, lihat hasilnya..."


"Looking good!" ucap Rion ketika ngeliat wajahnya yang emang udah ganteng jadi makin ganteng berkali-kali lipat.


"Elu boleh pergi," lanjut Rion maen ngusir aja. Yeuuh, Rion bayar dulu! mau belajar ngutang lu, yaaaakk? ehek!


Karena Rion yakin kalau si tukang cukur tadi masuk ke dalam list tagihan rumah sakit, jadi dia usir aja tuh orang yang datengnya aja udah riweuh banyak banget yang dia bawa. Soalnya kali aja abis potong pengen ngecet rambut sekalian kan siapa tau.


Rion balik lagi ke tempat tidurnya, dan si Justin pun pergi meninggalkan Rion yang sendirian di dalam kamar rawatnya.


Tau-tau ada chat dari si Eza, dia bilang kalau bentar lagi dia kesitu.


Rion tiduran, dia nggak ngejawab itu chat dari temen yang hobinya ribut mulu ama Slamet.


Baru juga merem, dia denger kalau pintu kamarnya dibuka.


"Nggak ada siapa-siapa, Mas! mungkin temennya Rion udah pada ngandang ke rumahnya masing-masing," ucap mami Reva.


Rion yang sebenernya nggak tidur, pura-pura merem aja.

__ADS_1


"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya, Sayang. Kasian Rion lagi tidur," ucap papi Ridho.


"Dia nggak nyariin cewek itu kan, Pih?" tanya mami Reva.


"Mungkin aja mereka cuma temenan aja, Sayang. Jangan terlalu dipikir banget. Yang ada kamu stress sendiri," ucap papi Ridho.


"Bentar, bentar! kok ada yang aneh..." mami Reva naruh tasnya dan mendekat pada anaknya.


"Sejak kapan dia potong rambut? jadi rapi gini, mana jadi ganteng banget lagi anakku!" kata mami Reva yang narik suaminya buat ngeliat penampilan baru anaknya.


"Mungkin dia gerah. Jadi dia minta potong rambut," papi Ridho nyahutin enteng.


"Lagian, kamu kan protes mulu dia rambutnya digondrongin. Sekarang giliran dia udah potong rambut, kamu malah heran. Terus kamu maunya gimana?" papi Ridho meluk istrinya dari samping.


"Ya bagus kalau dia udah sadar diri, kalau rambutnya yang gondrong itu emang seharusnya dibabat. Kalau kayak gini kan bagus, mirip banget kayak kamu waktu masih muda..." kata mami Reva.


Lagi asik ngomentarin hasil tampilan baru anaknya, seorang perawat ngetok pintu dan masuk. Dia bilang kalau dokter ingin ketemu dan ngejelasin perkembangan kesehatan Rion sejauh ini. Ya udah, orangtua Rion capcus ikut sama perawat. Sedangkan Rion yang yakin kalau ruangan ini cuma ada dia, Rion pun perlahan buka mata.


'Setakut itu Mami,' batinnya.


Awalnya dia pengennya melawan restu, ya sewaktu mereka ada di dunia lain. Rion pikir, masa lalu biarlah masa lalu, toh yang jahat bukan Rissanya tapi bapaknya. Tapi setelah dia dikirim ke masa lalu mami Reva, dia baru tau perjuangan maminya itu sangat berat buat melahirkan dia. Bahkan dari muda, mami nya ternyata pelopor dikejar setan yang sesungguhnya, meskipun itu hanya puzzle masa lalun yang Rion ogah buat mengumpulkannya satu-satu.


Intinya, kalau dia keukeh dengan prinsipnya, dia bakal terpecah belah dengan sang mami. Contohnya kemarin, dia yang ngakalin maminya supaya bisa naik gunung, eh ternyata dia malah digondol iblis. Ya mungkin itu karma gara-gara nggak nurut sama orangtua, pikir Rion.


"Alhamdullah kalau seperti itu. Jadi, kapan Rion boleh pulang?" tanya papi.


"Tidak akan lama lagi, kami pasti akan segera mengabari jika Rion sudah diperbolehkan untuk pulang," kata dokter.


Mendengar kabar baik itu, sontak membuat papi dan mami melangkah ke ruang perawatan anaknya dengan perasaan riang gembira.


Dan ketika pintu kamar dibuka, disana Rion lagi duduk aja termenung.


"Sayang? kamu kebangun?" tanya mami Reva.


Rion cuma ngangguk.


"Mami seneng loh akhirnya kamu ngeuang itu rambut gondrong. Kayak gini kamu keliatan lebih fresh, lebih ganteng dan menawan seperti papi mu," mami Reva duduk di pinggir ranjang Rion. Sementara papi Ridho, dia narik kursi dan segera duduk.


"K-kapan, aku b-bisa pulang?" tanya Rion lempeng aja mukanya.


"Sebentar lagi, Sayang. Kamu nggak usah khawatir, hasil terapi kamu sangat bagus. Emang rumah sakit ini luar binasah ya, Pih?" mami Reva ceria.

__ADS_1


"K-kalau gitu, Rion m-minta pindah k-kuliah ke luar negeri boleh nggak, Mam?"


"Pindah kuliah gimana? kamu kan lagi semester akhir, apa nggak sayang? lagian kamu mau pindah kemana? jangan bikin mami khawatirin kamu terus-terusan, Rion! kamu kuliah disini aja, kamu bisa kabur ke gunung, apalagi di negeri orang?" mami merepet.


"Ak-ku selesein k-kuliahku disini dulu," kata Rion dengan nada datar.


Mami Reva gelelengin kepala, "Mami nggak bisa---"


"Nanti kita bicarakan lagi ya, Rion! yang penting sekarang kamu sembuh dulu, ok?" papi Ridho nyerobot sebelum istrinya nyap-nyap lagi.


Tok!


Tok!


Tok!


Ceklek!


Wajah Eza nongol, semua orang melihatnya dengan wajah yang tegang.


'Kok pada ngeliatin gue kayak gue? apa gue dateng disaat yang salah?' batin Eza.


"Masuk, Za...!" papi Ridho gerakin tangannya.


"Om, Tante...?" Eza salim dulu sama mami papi Rion.


"Wiih, rambut baru, Yon?" Eza keceplosan liat Rion yang makin kinclong dengan potongan rambut dengan poni yang menutupi jidatnya.


"Sendirian aja, Nak Eza?" tanya papi Ridho.


"Tadi sih rame-rame, Om. Cuma udah pada pulang, kalau saya sengaja balik lagi rencananya sih mau nginep disini, nemenin Rion yang kesepian ini," ucap Eza takut salah ngomong.


"Oh, bagus, dong! biar Rion ada yang nemenin ngobrol," kata papi.


"Berhubung udah ada temen kamu, mami sama papi pulang ya?"


"Mami pulang, Rion!" ucap mami Reva.


"Kami tinggal, Nak Eza..." pqpi Ridho menepuk bahu pemuda yang menjadi teman akrab anaknya itu.


Mami papi Rion pun akhirnya keluar dari ruangan itu. Rion hanya bisa menghela nafas.

__ADS_1


"Kenapa lu? bengek?" tanya Eza.


"L-lu yang b-bengek!" sahut Rion kesel.


__ADS_2