Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
89. Cahaya Putih


__ADS_3

Sementara Louis yang ditinggalin Rion berjam-jam, milih buat pulang. Dia nggak cepetan angkutin tuh karung-karung. Dan kali ini dia selamet nggak digangguin sama Etan yang ada disitu. Etan pengertian yakkkk?


"Astaga, kemana dia?" ucap Louis yang kini udah selesai dengan kerjaannya. Dan sekarang dia bimbang buat balik atau nungguin itu manusia yang udah berjam-jam nggak nongol juga.


Dan pas dia naik ke kereta kudanya, dia baru liat itu kereta kuda punya Rion, "Ck, ya ampuun, bagaimana bisa aku membawa dua kereta?" Louis berdecak.


Tapi ya udah lah, itu kan urusannya si Rion pikir Louis. Lagian dia juga udah selese bahkan dia ngerjain kerjaannya si Rion pula. Pundak udah pada pegel ceunah!


Louis memacu kereta kudanya dan pintu gerbang segede gaban kebuka saat Louis nyerahin surat jalannya.


"Wwwuuuuoooooohhh!" papi Ridho pegangan kuat. Sementara Rion berlari kencang menuju pintu keluar, daaaaan? Dia ngeliat gerbangnya kebuka.


Rion langsung capcusss. Rion ngerasa kalau larinya kali ini nggak secepet dulu. Nggak tau kenapa, apa mungkin karena dia nggak ada bola cahaya, dan cuma pegang pedang atau energinya terbuang banyak saat di hutan kegelapan. Pokoknya Rion cuma bisa usahain apa yang bisa dia perbuat saat ini.


Ini semua gara-gara Markoneng, coba aja dia nggak sok pengen holiday ke luar istana, pasti semua ini nggak akan terjadi.


"Riooon, kenceng banget kamu larinya? apa nggak peegeeeel itu kaki?" teriak papi Ridho, dia pegangan kenceng puol.


"Takut si takut, Pih! tapi jangan nyekek juga, pihhh!" Rion mencoba nepok tangan papinya yang pegangannya over.


"Maap, maap! sengaja!" ucap papi Ridho.


Rion mempercepat larinya.


Wuzzzzzzhhh!


Dia bahkan nyelip kereta kuda yang berpapasan sama dia tadi pas ngelewatin gerbang.


"JANGAN BIARKAN MEREKA PERGIIII!" teriak pengawal.


Tapi telat! Rion udah kabur duluan. Orang dia lari katak lagi dikejar anjing. Segala macam yang ada si hadapannya dilindas habis, untung aja tadi dia nggak nabrak tuh kereta kuda.


Tapi ngomong-ngomong kereta kuda, dia baru inget sesuatu.


"Astaaagaaaaaa, Louiiiiisssss?!!!" Rion mau ngerem tapi udah nanggung.


"Sorry, Jared! gue nggak amanah!" lirih Rion.


Papi nyeletuk, "Siapa itu jambret?"


"Jared, Pih! bukan jambret," Rion ngeralat ucapan papinya.


"Ntar aja kalau ada waktu Rion jelasin!" lanjutnya sambil mempercepat larinya, sampai itu angin yang berhembus aja insecure sama dia. Saking wasweswos wasweswos nya tuh bocah.


Konsentrasi tetep Rion tertuju padamu, eh pada kastil yang menjadi tempat Rissa di sandera. Peri Keket terus berpegangan, sambil terus nunjukin kemana Rion harus berlari.

__ADS_1


Sementara di Istana.


Raja sudah bersiap dengan kudanya. Dan pangeran Clift denger kalau ada beberapa pengawal yang lapor pada raja kalau tadi ada dua orang asing yang berkeliaran di Istana.


'Astaga, itu pasti Arion dan juga ayahnya!' batin pangeran Clift.


"Bagaimana bisa kalian gagal menangkap para penyusup itu?!!!" raja murka, tapi dia nggak mau ngurusin itu.


"Xander! kau berjaga disini! karena aku akan mencari dimana wanita penyihir itu bersembunyi!" ucap sang raja yang naik ke atas kuda miliknya.


"Baik, Yang Mulia. Jaga diri anda. Karena Dorothy bisa saja mencelakai anda, Yang Mulia!"


Dan dengan tergesa-gesa seorang dengan kudanya menghampiri sang raja. Pria itu pun lalu turun dan memberi hormat.


"Yang Mulia, kami sudah menemukan tempat persembunyian Dorothy. Dia ada di perbatasan kerajaan ini!" kata orang itu.


"Kita pergi sekarang!" ucap sang raja.


"Baik, Yang Mulia.."


"Aku ikut!" pangeran segera naik ke atas kudanya, tadinya dia akan menemui pria yang ada di kamar sang puteri, tapi nggak jadi. Kayaknya dua orang udah ngibrit duluan. Dan lebih baik dia mengawal raja dalam perjalanan ini.


Tentu sangat berbeda, Rion yang lari dengan sisa kekuatan dari pedangnya dengan raja yang mengandalkan kekuatan lari dari kudanya.


Rion kini berlari masuk ke dalam hutan.


Ada sebuah cahaya putih melewati Rion.


"Ridho? kalian harus mengikuti cahaya putih itu. Jika cahaya itu berhenti, maka kalian harus berhenti!" suara pak Sarmin di telinga papi Ridho.


"Siap pak haji!" jawab papi Ridho.


"Rion? kamu ikutin cahaya yang melewati kita itu, dan pastikan kamu selalu dibelakangnya. Kalau cahaya itu berhenti, kamu juga harus berhenti,"


"Ya, Pih!" Rion manut ae. Jari jemari papi Ridho yang tadinya agak kesemutan, entah kenapa sekarang lumayan membaik. Dia kagak tau aja kalau istrinya ngebiarin dia selama lima hari tanpa nutrisi apapun yang masuk ke dalam tubuhnya. Kalaupun tau nggak bisa ngelawan juga ya, Pih? mami Reva kan ras terkuat di rumah mereka.


Rion ngelewatin hutan yang lebat banget.


Sreeeeetttt!


Rion ngerasain kalau ada tumbuhan yang berduri yang sempet nyerempet ke tangannya, sampai lengan bajunya pun ikutan sobek.


"Aarrghhh!" Rion ngerasain perih di kulitnya.


"Hati-hati, Rion! hutan ini sepertinya nggak pernah dijamah manusia!" papi Ridho ngingetin.

__ADS_1


Soalnya hutan itu beneran lebat banget dan banyak tumbuhan liar ditambah track jalan yang nggak begitu jelas.


Rion sedikit melambat, di beberapa spot yang dia lihat membutuhkan sedikit kehati-hatian. Ditambah suasana malam yang kian mencekam saat mereka mendengar suara lolongan serigala.


"Ternyata masih ada hewan buasnya!" ucap papi yang masih nemplok di punggung anaknya.


"Kenapa? papi takut?!"


"Nggak lah! cuma serigala aja masa papi takut?! papi mu ini pria paling gentle yang pernah lahir di bumi!" papi jawab pede, padahal dalam hatinya juga ketar-ketir. Dia bisa silat dan segala macam bela diri kan buat ngelawan manusia, dan belum diuji cobakan sama binatang terlebih lagi serigala yang giginya runcing-runcing.


'Gentle Ridho!' batin si papi.


"Kalau papi milih, lebih mending ngelawan serigala atau ngelawan mami, Pih?" Rion nanya sambil lari menembus hutan mengikuti arah cahaya di depannya. Sesekali tangannya nyingkirin dedaunan liar.


"Pih? kok nggak jawab?" lanjut Rion.


"Ya mending ngelawan mami mu lah! lha kalau mami kan masih bisa dibujuk di rayu, lah serigala? kamu rayu gimana? yang ada dikoyak kamu sama dia!" kata papi Ridho.


Sedangkan Rion sempet-sempetnya ketawa, kurang asem emang nih bocah.


"Hahahahah," suara Rion bikin hutan yang sunyi senyap dan lembab itu jadi nggak begitu hening lagi.


Plaakkkk!


Papi ngegaplok pundak anaknya, "Tuman kamu! ngerjain orang tua yaaa?!!"


"Aduuuhhh! sakit tau, Pih!" Rion terus berlari.


"Kastil tua itu sudah mulai kelihatan!" ucap peri Keket, dia kenceng banget pefangan sama bajunya Rion.


Ngeliat si peri Keket yang kayaknya hampir jatuh, papi ngide buat masukin tuh peri ke dalam sakunya, "Pindah kesini aja, Ya? daripada kamu nanti jatuh"


"Terima kasih, Pih..." suara peri Keket yang lembut ngebuat papi Ridho berasa diucapin 'makasih' sama anaknya sendiri.


Sekarang peri Cathlyn atau peri Keket, dia duduk anteng di dalam saku baju kokonya papi Ridho.


"Rion!" panggil papi.


"Kenapa, Pih?" Rion masih fokus lari dengan kecepatan tinggi.


"Pedang papi ketinggalan!" seru papi.


"Terus kita mau balik lagi? nggak mungkin kan, Pih?" kata Rion.


Ya iya bener sih, nggak mungkin juga mereka balik lagi ke Istana hanya untuk ngambil pedang yang jatuh saat dia naik ke punggung Arion.

__ADS_1


Dan kastil dengan menara yang yang menjulang tinggi pun sudah semakin jelas di depan mata, namun cahaya putih itu berhenti.


"Reeeeeemmmm, Rioooooonnnn!" teriak papi, bikin kuping Riong peng-pengan.


__ADS_2