
Rion harus cepat berpikir, "Nggak mungkin Rissa berpikiran pendek kayak gitu,"
"Jika kau ingat, dia pernah melakukan penyatuan melalui jari tangan kalian yang saling terhubung. Saat itu dia mentransfer setengah dari kekuatannya untukmu," kata Minetta.
"Itulah mengapa sekarang kau bisa mendapatkan busur dan anak panah ini,"
"Rissa pikir aku akan berpindah padamu seperti senjata yang selalu dia pegang ini. Tapi tidak, aku tidak berpindah. Aku akan musnah jika Rissa pun hilang dari muka bumi ini," ucap Minetta sedih.
"Tapi aneh, kenapa dia harus melakukan itu. Kenapa dia kirimkan anak panah ini dan menyuruhku datang kemari, ini nggak masuk akal!" Rion bingung dengan segala hal yang ditemuinya.
"Membuatmu semakin menjauh darinya," kata Minetta.
"Bukankah aku jiwa yang paling murni? Kekuatanku lebih besar darinya, harusnya para iblis itu mengejarku bukan Rissa,"
"Memang! tapi jika salah satu jiwa murni mau mengorbankan dirinya dan menyerahkan bola cahayanya, maka dia bisa menukarnya dengan satu permintaan," sahut Minetta.
"Apa permintaannya?" tanya Rion.
"Untuk berhenti mengejarmu sampai 70 tahun ke depan," Minetta kemudian terbang melewati Rion.
"Konyol! barter macam apa itu. Nggak sekalian jangan kejar aku sampai aku nit nit koit?!" Rion yang tadinya bingung sekarang malah kesel, dia berbalik dan menatap Minetta.
"Buat apa dia membuat permintaan macam begitu?" lanjutnya.
"Ya, karena dia merasa bersalah padamu!"
"Bersalah? bersalah karena apa? bahkan gue belum lama kenal sama dia," Rion mengintrogasi Minetta.
"Bukan hakku untuk menjelaskannya, yang jelas sebentar lagi pintu akan terbuka, kau bisa pergi dari sini," kata Minetta dengan wajah yang sedih.
"Kalaupun gue keluar dari sini, itu pun harus bersama Rissa! gue nggak akan biarin dia sendirian," Rion melangkah mundur, dan berbalik.
Dia berlari nggak tau arah dan tujuan, dia akan mencari Rissa sampai ketemu, "Elu terlalu meremehkan gue, Rissa! gue nggak selemah itu," Rion kecewa dengan berita yang diterimanya dari Minetta yang bisa dibilang dia guardian angel-nya Rissa.
Namun setelah berlari entah berapa lama, Rion mulai cengap-cengap, dia kehausan. Akhirnya dia ngerem dan melipir ke salah satu pohon yang ada serabut-serabut menjuntai ke bawah.
Nggak ada jam, handpone juga entah dimana. Tas yang dia gendong waktu pendakian juga nggak tau nyangsang atau nyangkut dimana, bikin dia nggak tau ini pagi, siang atau malem. Karena keadaan segelap itu. Kalau nggak ada bola ajaib atau bola cahaya biru yang mancarin cahayanya sampe itu hutan terang benderang aja, mungkin Rion abis digrogotin nyamuk saking gelapnya.
Sekarang Rion lagi istirahat, sekaligus mikir gimana caranya nemuin Rissa.
__ADS_1
Dia sengaja nyalain api unggun, tentu dengan sihir yang dia punya. Kali ini dia bisa minum air mineral dingin buat ngilangin rasa hausnya. Nggak tanggung-tanggung, dia juga manfaatin sihirnya buat bisa makan burger. Nggak sekalian makan geprek, Yon? bonjrot bonjrot dah lu di hutan.
"Gue harus temuin Rissa! gimanapun caranya, gue harus temuin dia..."
Dan...
Tes...
Tes...
Tes...
Ada tetesan air dari atas.
"Gerimis? masa iya di dunia kayak gini ada acara gerimis segala? siang malem aja nggak bisa dibedain!" gumam Rion.
Tapi daripada basah dan masuk angin, mending dia buat tenda yang anti air dan anti badai. Dia gerakin tangannya.
"Gue butuh tenda, beserta kasur udara yang super empuk. Gue nggak mau tau, pokoknya harus ada! hocus pocus!" Rion mengucapkan mantra perintah. Kali aja dengan mantra itu, dia berhasil mendapatkan apa yang dia mau.
Plukk!
"Apaan nih?" Rion mengambil sebuah segitiga berbentuk kuning.
Setelah diperhatikan, itu seperti tenda versi mini, bisa dibilang terlalu mini. Karena itu tenda nggak lebih besar dari telapak tangan Rion.
"Astaga, gue mintanya tenda buat gue tidur. Bukan main rumah-rumahan ginii! lu kira gue anak balita!" Rion kesel banget.
Sementara tetesan air itu semakin lama semakin banyak.
Rion buang gitu aja tenda mini itu ke tanah, dan tanpa disadari benda segitiga berwarna kuning itu bergerak-gerak.
Puuufffff!
Tenda mini sedikit demi sedikit berubah menjadi besar dan besar. Bahkan ukurannya lebih besar dari kamar Rion.
"Gede sih gede, tapi ini guedeeee banget! huufh, ya udahlah! daripada nggak ada!"
Bukan hanya tenda, tapi perlahan-lahan secara ajaib, di dalamnya ada kasur, meja kursi bahkan ada tivi. Yang jadi pertanyaannya itu tivi bisa nyala atau sekedar pajangan.
__ADS_1
'Sinyalnya nyolong darimaneee panjuuul? lu kira disini ada sinyal? sinar matahari aja kagak keliatan,' batin Rion.
Dia ngeliat keadaan sekitar yang beneran lebay banget. "Apa gunanya ada telepon rumah. Kabelnya aja kagak adaaaaaa, astogeeehh" Rion geleng-geleng kepala. Bukannya bersyukur lu, Rion. Dikasih lebih malah merong-merong bae.
Gerimis yang tadinya cuma 'tik tik tik' rintik-rintik, sekarang jadi 'bressss' ujan deres.
Liat tenda yang warnanya koneng dia pun keinget sama tendanya si Telolet yang warnanya kayak gini juga.
"Gue harap dia udah balik ke rumah!" gumam Rion.
Dan kalau nyebut rumah, dia jadi kangen suara repetan maminya, "Mungkin ini karma karena pergi nggak pakai ijin, lebih kecolong-colongan," gumam Rion sambil rebahan di kasur yang empuk.
"Maafin Rion ya, Mam!" lanjutnya, dia ngebayangin gimana hebohnya maminya kalau tau dia ilang dan nggak pulang-pulang.
"Semoga aja gue bisa keluar dari sini sebelum mami sama papi pulang dari Jepang!" Rion jadiin kedua telapak tangannya bantal buat kepalanya yang sangat berharga itu.
Pertama kali menginjakkan kaki di hutan ini, suasana lembab dan mencekam sangat terasa. Dan sekarang bisa turun hujan, ini merupakan suatu kemajuan, pikir Rion.
"Kalau bisa hujan kan berarti ada awan, kalau gitu bisa jadi matahari bisa muncul setelah ini," Rion yang semula tiduran sekarang duduk .
"Atau jangan-jangan, ini ada kaitannya dengan Rissa. Astagaaaa, gue berharap dia masih bisa bertahan..." Rion gelisah memikirkan Rissa.
Mencarinya di tempat penuh misteri ini nggak semudah membalikkan telapak tangan, semuanya harus dipikirin nggak asal sat set sat set jadi apa prok prok prok.
"Please kasih gue petunjuk buat nemuin elu, Rissa..." ucap Rion.
Rion bergerak, dia melihat situasi. Laki-laki itu mengernyitkan keningnya melihat langit ada sesikit semburat merah.
"Jangan bilang sesuatu yang buruk terjadi pada Rissa?!" Rion memegang dadanya.
"Rissa? Rissa, jawab gue kalau elu denger suara gue, Sa!" Rion mencoba mengontak batin Rissa.
Rion merasa kalau dia udah cukup istirahatnya, dia memanggil bola ajaib.
"The light comes to me!" Rion menggerakkan jari-jarinya.
"Beri aku petunjuk soal Risaa! buat apa elu disini, kalau elu nggak bisa nolongin majikan lu!" ucap Rion.
Namun ucapan Rion kemudian disahuti oleh seorang wanita, "Aku bisa memberitahumu!" ucapnya.
__ADS_1