
Selama di perjalanan menuju rumah sakit, tangan Rion selalu digenggam sama emaknya. Mami Reva nangisss terus saat ngeliat keadaan putra semata wayangnya yang masih memejamkan mata.
Dulu dia dikejar setan dan sekarang pun masih dikejar sama setan, cuma bedanya sekarang Rion yang ngalaminnya. Bahkan Rion bukan cuma dikejar setan tapi iblis yang saling berlomba buat ngedapetin jiwanya.
'Salah apa sama kamu pak Dera? sampai kamu tega melakukan ini pada anakku. Kenapa dendam mu padaku tapi kau balaskan pada anakku?' batin mami Reva terus bergemuruh.
Mami Reva pun jadi inget gadis yang digendong Rion saat mereka di negeri para raja. Seandainya gadis itu bukan anaknya Karla, mami Reva pasti sennag karena anaknya udah mulai bisa dekat perempuan, dan artinya anaknya ini pria normal. Karena meskipun wajahnya ganteng, tapi mami nggak pernah liat ada perempuan yang deket sama anaknya itu.
"Kenapa aku nggak tau kalau yang jadi suami Karla itu pak Dera..." mami reva merasa dia orang yang bodoh. Di inget dengan foto yang mantan temennya itu unggah di media sosialnya. Tante Karla yang memakai baju pengantin dan menunjukkan cincin yang tersemat dijarinya tanpa menunjukkan wajah sang pengantin pria nya. Lalu dia mengganti statusnya dari 'lajang' menjadi 'menikah'.
Sedangkan papi Ridho yang mengikuti sebuah mobil ambulace pun terbeset-beset hatinya.
"Apa yang aku dan Reva alami dulu nggak ada apa-apanya dibandingkan Rion. Ini yang dulu pak Sarmin bilang? kalau kami harus menjaga Rion sebaik mungkin karena anak ini, anak istimewa?" gumam papi Ridho, satu tangannya pegang bibir dan tangan yang lainnya ngendaliin stir mobil.
Kejadian demi kejadian nggak bisa diprediksi sebelumnya, baru aja mau dapet calon mantu tapi ternyata gadis yang disukai sama Rion itu malah anaknya Dera Prayoga. Orang yang bikin mami Reva lari-lari dengan perut yang besar saat hamil Rion karena diuber sama setan. Bahkan orang yang membantu mereka saat itu, ternyata memiliki tujuan yang sama dengan Om Dera Prayoga.
"Padahal papi nggak masalah kalau kamu suka sama anaknya Karla, tapi kali ini dia anaknya Dera. Orang yang sudah membuat aku hampir kehilangan belahan jiwaku," papi Ridho mengusap wajahnya, frustasi.
"Maafin papi Rion..." gumamnya sambil memandang mobil yang membawa anak dan istrinya.
Akhirnya setelah sekian jam perjalanan, mobil mereka melambat saat memasuki area rumah sakit. Team medis khusus yang diminta Om Karan pun dengan sigap memindahkan tubuh Rion ke tempat tidur yang baru saat pemuda itu sampai di depan ruang Instalasi Gawat Darurat. Kedatangan Rion disambut sahabat-sahabatnya dan juga Om Karan.
"Syukurlah, akhirnya kalian sampai juga..." Om Karan memeluk sepupunya yang turun dari mobil ambulace.
Mami Reva cuma bisa nangis, "Akhirnya aku bisa ketemu sama Rion, hikssss..." dia nangis saat mendapat pelukan hangat dari saudaranya.
"Sayang," papi Ridho pun turun dari mobilnya.
Mami Reva melepaskan pelukan Om Karan dia beralih pada suaminya, "Rion belum juga bangun, Masss" tangisannya memilukan.
__ADS_1
Hati Slamet, Eza dan juga Adam pun teriris saat melihat keadaan Rion yang disokong oleh alat-alat medis.
"Maaf, Tuan Nyonya. Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan khususus!" ucap salah satu Dokter.
"Iya," papi Ridho mengangguk cepat.
"Kalian ikutlah dengan Rion, mobilnya biar orangku yang memindahkannya!" ucap Om Karan.
"Terima kasih,"ucap papi Ridho yang menyerahkan kunci mobilnya dan lanjut mendampingi istrinya yang setengah berlari mengejar tempat tidur Rion yang di dorong oleh para perawat.
Bukan hanya mami dan papi yang ikutin kemana Rion dibawa tapi juga para sahabat yang udah standby dari dua jam yang lalu pun ikut adegan dramatis ini. Sedangkan Om karan menadang mereka dari kejauhan sebelum dia nelpon orang suruhannya buat menghampirinya, "Cepat kemari!" ucapnya di telepon.
Sementara saat ini Rion dibawa masuk ke dalam suatu ruangan.
"Maaf, kami akan memeriksa keadaan Rion terlebih dahulu!" ucap Dokter yang masuk diiringi satu orang perawat yang menutup pintu.
Mami Reva langsung berhamburan ke pelukan suaminya. Papi Ridho mengecup kepala istrinya sekilas, "Rion sudah ditangani. Dia pasti akan segera sadar,"
Tentu orangtua dan juga Om nya Rion dulu yang masuk, setelah itu barulah para sahabat Rion sengaja dipanggil buat kasih Rion semangat dan barangkali dengan kehadiran teman-temannya itu Rion bisa segera siuman.
"Yon, lu nggak mau bangun Yon? gue belum terima sama kata-kata elu yang katanya skill gue belum nyampe! gue pengen kita tanding lagi buat manjat," ucap Eza yang sekarang duduk di samping Rion yang dipasangi alat-alat medis.
Disitu ada mami Reva yang langsung memancarkan sinar X saat mendengar kata "manjat" dari mulut Eza yang nggak ada akhlak.
Eza yang dilirikin pun langsung kicep.
"Kita keluar, Sayang..." papi Ridho menarik istrinya buat keluar dari ruang perawatan Rion.
"Kami tinggal dulu," ucap Om Karan yang cuma bisa menyembunyikan senyumnya. Dia melangkah keluar dan menutup pintu.
__ADS_1
Seketika Eza langsung lega saat pintu udah ditutup sempurna, "Huuuufhh, Slamet Slamet...." Eza ngelus dadanya.
"Heh, kenape lu sebut-sebut nama gue?" Slamet pun heran sama Eza.
"Dih lu kagak liat tadi? gue dipelototin tante Reva?"
"Abisnya elu aneh-aneh aja sih, ngomong manjat-manjat pas ada tante Reva. Lu amnesia? ini Rion kayak gini kan gara-gara manjat gunung bareng kita...." Slamet geplak lengan Eza yang udah berotot karena sering latihan kalau lagi stress saat Thalita susah nangkap sinyal cinta dari dia.
"Ya kan kali aja dia bangun karena denger kata-kata indah yang meluncur dari mulut gue?! mulut gue yang bau surga ini," kata Eza.
"kalau mulut lu bau surga, itu adik sepupunya Rion udah kecantol sama elu, sama rayuan gombal elu, Jaja!" Slamet nyahutin lagi.
Sedangkan Adam disi lain ranjang Rion pun hanya bisa ngomong, "Lu nggak kangen denger bachodan mereka, Yon?"
Slamet dan Eza yang denger ucapan Adam pun seketika berhenti dan langsung melow. Slamet yang mau nangis pun menyeka air yang keluar dari sudut matanya. Dia ngeluarin sesuatu dari tasnya.
"Gue udah ngecek tali pengaman, Yon! tali karmantelnya udah gue cek in semua, Yon! kan elu dulu nyuruh gue buat---" Slamet nggak bisa lanjutin kalimatnya. Sedangkan Eza yaang duduk di samping Slamet pun mewek.
"Lu nggak kangen sama tali ini, Yon? tali yang mengikat badan kita dan mastiin kita selalu Slamet kayak nama gue, Yon?" Slamet nunjukin tali yang biasa mereka gunain buat wall climbing.
"Gue sengaja nggak ngabarin temen kita yang lain, soalnya kalau mereka tau pasti elu langsung digerudug, Yon!" tambah Eza.
Setelah sejam ngoceh dan saling menimpali guyon, para sahabat pun pamit pergi.
"Kita pamit dulu ya, Rion? cepet sembuh!" ucap Adam.
"Gue juga pamit," sambung Eza.
"Jangan lama-lama tidurnya, Yon! kita semua nungguin elu buat tanding manjat lagi," kata Slamet.
__ADS_1
Satu persatu sahabat Rion pun meninggalkan ruang perawatan, ngasih waktu Rion supaya istirahat.
'Rion, bangun Rion...' suara seorang perempuan mengisi pikiran Rion.