
Semua kenangan sewaktu dirinya kecil dengan papa nya terngiang diingatan Rissa. Meskipun nggak banyak kenangan yang tercipta diantara mereka berdua, tapi itu cukup membuat Rissa mempunyai ikatan batin antara seorang anak perempuan dan papa nya.
Rion mengusap punggung tangan Rissa, "Jangan putus doanya, ya?"
"Aku cuma takut, berpisah ketika aku belum siap..." ucap Rissa. Biasanya Rissa begitu tegar dan tenang, saat ini dia begitu kacau.
"Sshh, nggak akan! Aku yakin itu nggak akan terjadi," Rion mengecup sekilas tangan Rissa, dia membiarkan wanita itu bersandar padanya.
Lukman yang mengenal Rion dari jaman ababil pun ikutan sedih ngeliat temannya itu bukannya bahagia di hari pernikahannya tapi malah dirundung kesedihan. Nggak ada pesta, nggak ada riuh ramai keluarga dan kerabat.
Semua orang menunggu dengan cemas di depan sebuah ruangan yang menjadi penyelamatan banyak orang. Rion sendiri berharap semoga mertuanya itu bisa sembuh.
Apapun yang terjadi di masa lalu, biar menjadi sebuah pelajaran hidup. Dan dengan kejadian itu, Rion belajar arti menerima dan juga memaafkan.
Rissa dan Rion segera bangkit dari duduknya dan mendekat saat pintu ruang operasi itu kini terbuka. Rion langsung menanyakan kabar mertuanya.
Raut wajah dokter nggak panik atau apa, dia cenderung tenang, "The heart surgerry was succesfull (Operasi jantungnya berhasil)"
"Alhamdulillaaaaaah," ucapan syukur meluncur dari Rion maupun istrinya.
"We are waiting for mr. Dera to wake up, (Kita sedang menunggu tuan Dera sadar,)
" And he will be observed for 24 hours,( Dan dia akan diobservasi selama 24 jam kedepan)" lanjut dokter yang menangani Om Dera.
"Thank you, thank you so much?! (Terima kasih, terima kasih banyak?!)" Rissa mengangguk sopan. Senyum bahagia tergambar di wajahnya.
Lukman dan pak Sardi juga ikutan seneng denger kabar baik ini.Berhubung Om Dera juga sama sekali belum bisa ditemui, Rion nganterin Lukman dan pak Sardi ke apartemennya. Ya biar mereka bisa istirahat sebelum pada dipulangin besoknya, karena Lukman ada acara lamaran adiknya, jadi mau nggak mau besok harus balik lagi ke Indonesia, padahal kan pak Sardi belum jalan-jalan ya, ehek!
Rion pastiin di apartemen udah ada makanan dan minuman, kebetulan tadi sempet beli di perjalanan menuju gedung tempat Rion bernaung.
Rissa sengaja Rion ajak ke unitnya, sekalian makan bareng sama Lukman dan pak Sardi. Gimanapun Rion harus menjamu tamunya.
Rissa sebenernya masih pengen nungguin papanya, tapi Rion keukeuh nyuruh Rissa buat makan dan istirahat. Lagian hari udah mau menjelang malam, sedangkan mereka masih pakai baju pengantin yang daripagi. Masih untung lagi musim dingin, nggak ganti juga nggak kenapa-kenapa, nggak keringetan. Nggak asem kayak elu!
"Capek? kamu istirahat dulu aja di kamarku, biar aku yang nata makanan ini di meja," Rion sembari nunjukin belanjaan mereka.
"Nggak apa-apa, aku bantuin kamu aja..."
Mereka berdua yang lagi ngeluarin makanan yang abis mereka beli, eh datenglah si Lukman yang nyamperin mereka. Kalau pak Sardi mah langsung ngibrit ke toilet, beseran dia.
__ADS_1
"Kalian belum punya foto pengantin loh, selain yang di rumah sakit" kata Lukman.
"Foto?" Rion naikin alisnya.
"Iya yang waktu elu ijab qobul sengaja gue fotoin! kali aja elu butuh suatu saat nanti," kata Lukman.
"Gue tau ini bukan acara pernikahan yang seperti orang kebanyakan. But, this is ur day, kalian harus punya foto bersama setelah menyandang gelar suami istri," Lukman membuat gerakan merapatkan kedua tangannya, nyuruh Rion dan Rissa deketan gitu maksudnya.
"Nggak usah, lagian muka ku udah nggak karuan," bisik Rissa pada Rion.
"Tapi Lukman ada benernya juga loh. Mungkin sekarang emang bukan waktu yang tepat, tapi ini moment sekali seumur hidup. Jadi apa salahnya? kamu tetep cantik, dengan atau tanpa perona bibir dan yang lainnya..."
"Beuuuuhh meleleh hati adek, Baaaaang!" ucap Lukman yang seakan mewakili suara hati Rissa denger.
"Udaaaah, sini....?! ntar nyesel loh?!" Lukman menarik tangan Rion yang otomatis narik tangan istrinya juga.
Emang out of the box juga nih si Lukman, dia fotoin Rion dan Rissa di dapur. Ya meskipun dapur nya bersih dan juga elit ya, tapi tetep aja ada sengklek-sengkleknya juga nih si Lukman, ehek!
Lukman ngarahin supaya Rion dan Rissa deketan lagi, "Diem ya, 1 ... 2 ...3?!"
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
"Kaku banget lu kayak kanebo!" Lukman protes.
"Lu pacaran nggak sih?" Lukman berusaha byat nyairin suasana yang tadinya sedih dan tegang, biar Rion dan Rissa ada ceria-cerianya gitu.
"Senyum ya, jangan lupa! 1 ... 2 ...3," Lukman ngejepret lagi tuh, dapet serenteng foto pasangan itu.
"Sini gue liat dulu, ntar lu cuma foto kaki kita doang lagi?!" Rion mau liat hasil jepretan Lukman.
"Noh, lu cek sendiri aja?!"
"Man?! baground-nya kok aneh ya? dapur loh, Man?!"
"Ya emang di dapur?! lu daritadi nggak nyadar?"
__ADS_1
"Ganti, Man! Di ruang tamu, kek!" Rion balikin hape Lukman.
Dia jalan sambil gandeng Rissa.
"Masih untung gue fotoin?! tadi aja sok nggak mau, ck Rion ... Rion..." Lukman bergumam sendiri.
Sedangkan sekarang, Lukman jadi kang foto dadakan. Saat Lukman mau angkat hape miliknya, Rion mendadak angkat tangannya.
"Pake kamera gue aja, Man! bentar gue ambil!" Rion masuk ke dalam kamarnya dan dia kembali dengan sebuah kamera di tangannya.
"Nih, fotoin!" Rion ngasihin kamera ke Lukman.
Lukman cuma geleng-geleng kepala, "Oke, rapetin lagi ya, yang mesraaaa. Atuuuu, dua
.. ti- ti- tigaaaaaaa!" seru Lukman.
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
Lukman menjadi saksi moment bahagia teman sebangkunya, dan entahlah kapan moment itu datang menghampirinya, karema sampai detik ini dia masih mengidap jomblo akut. Dan bentar lagi roman-romannya mau dilangkahi adek perempuannya yang udah punya tambatan hati.
"Sini gue cek dulu. Ntar lu ngasal lagi ngambilnya!" Rion melihat hasil jepretan temennya itu, seiring dengan pak Sardi yang keluar dari kamar.
"Loh, pada ngumpul disini?" pak Sardi mendekat ke arah tiga orang yang lagi di ruangan yang sama.
"Habis motoin penganten baru, Pak!" sahut Lukman.
"Lama banget kayaknya di kamar mandi?" Lukman buka mantelnya dan naruhnya di sofa.
"Mungkin nggak cocok sama udara disini, aku masuk angin Man!" kata pak Sardi yang sebenernya nggak begitu jauh jarak umurnya dengan Lukman, tapi Lukman udah krbiasaan aja manggil Sardi dengan sebutan 'Pak'.
"Ya udah kita makan dulu aja, biar pak Sardi nggak masuk angin. Katanya pengen makan nasi padang?" kata Rion yang menjamu hangat pak Sardi.
"Kebetulan, perut sudah keruyukan daritadi!" kata pak Sardi.
Akhirnya Rissa bisa tertawa melihat keluguan pak Sardi yang belum 24 jam disini aja udah masuk angin.
__ADS_1
Rion meraih tangan Rissa, dia mengajaknya ke dapur yang bersatu dengan ruang makan.