
Rion terpaku pada sosok yang ada di depannya, sedangkan si peri Keket cukup pengertian, dia nggak ganggu dua anak manusia yang lagi gamang. Apalagi Rion, dia kayak disamber bledeg disiang bolong, denger sebuah fakta yang mencengangkan dari seorang Rissa. Kayak ggak masuk gitu di akalnya si Rion.
Misalnya orang lain yang ngomong tentang Rissa begini Rissa begitu, udah pasti Rion nggak bakal percaya, tapi ini laen gengs. Ini Rissa sendiri yang ngebeberin semuanya, apa nggak puyeng tuh si Arion? cenat-cenut lah ya pasti.
'Gue nggak tau, Sa. Apa iya gue bakalan tetep nolongin elu atau nggak, kalau gue tau elu anak dari orang yang berencana bikin gue wassalam dari dunia ini? gue nggak tau kesalahan apa yang mami gue perbuat sampe papa elu Dera Prayoga bisa sedendam itu, tapi apapun kesalahan mami gue, papi elu nggak berhak buat mengambil kehidupan orang lain, yaitu gue... ' ucap Rion dalam hati.
'Aku tau kamu bakal kecewa, aku tau kamu itu orang baik. Kamu tau Rion? mentransfer sebagian besar kekuatanku buat kamu bukan tanpa alasan, Rion. Aku melakukan itu agar raja iblis rugi mengambil jiwaku,Rion....' Rissa pun berucap dalam batinnya.
'Kasih gue waktu, Sa...?! saat ini gue bener-bener bingung dengan keadaan...' Rion bergumam lagi dalam relung jiwanya.
Mereka berdua terdiam. Tanpa ada yang berniat membuka pembicaraan, suasana mendadak menjadi canggung.
Sementara peri Keket udah berkeliling mengitari pagar besi yang dilapisi dengan mantra ajaib. Dia berubah kembali dari seekor kupu-kupu, menjadi sesosok peri.
"Aku akan mengubah diriku menjadi seekor nyamuk, mungkin dengan begitu aku bisa melewati celah dari pagar besi!" kata peri Keket.
"Terserah elu aja, Mau berubah jadi laler juga sakarepmu," kata Rion.
Sementara tangan Rissa mencoba memegang besi itu, dia udah sejauh ini. Dia nggak boleh goyah, dia bakal mengorbankan dirinya buat membayar hutang papa nya pada sang raja iblis, Mengkasihan sekaleeh kau, Rissa, berkorban untuk seseorang yang gila harta.
"Jangan sentuh apapun!" Rion memperingatkan Rissa, saat jemari gadis itu akan menyentuh besi yang bikin dia kesetrum.
Rion merasa energinya tersedot saat menyentuh besi itu, makanya dia spontan teriak supaya Rissa jangan sampai menyentuh sesuatu yang bakal melemahkan diri sendiri. Apakah itu artinya Rion masih peduli sama Rissa? Entahlah!
*'Rissa ... nak, kamu dengar nenek, Sayang?' suara neneknya terdengar di telinga Rissa. *
__ADS_1
Gadis itu celingukan, bukannya senang, raut wajah Rissa menjadi sangat cemas, 'Astaga, kalau benar ini suara nenek. Mama pasti udah tau kalau aku pergi dari rumah!' Rissa bergumam dalam hatinya
Sedangkan di lain tempat dan waktu yang berbeda pula.
Tante Karla udah nggak karuan, bagaimanapun dia seorang ibu. Feelingnya mengatakan kalau Rissa lagi dalam keadaan yang nggak baik-baik aja.
Pikiran tante Karla mengawang, keinget sama anaknya, "Rissa...." gumamnya lirih. dia lagi nginep di rumah biyungnya. Wanita yang udah nggak muda lagi itu duduk di pinggiran ranjang. Perasaannya beneran nggak tenang.
Tante Karla baru kali ini ngerasa khawatir sama Rissa. Anaknya penurut itu, nggak biasanya pergi dari rumah tanpa pamit, karena mantan suaminya bilang kalau kemarin- kemarin tuh anak ada kok di kamarnya, cuma katanya lagi nggak enak badan makanya jarang keluar. Tapi setelah ditungguin si Rissa kagak keluar-keluar tuh dari kamar, Karla mikir wah ada yang nggak rebes nih ama anak. Dan dibukalah itu kamar Rissa, dan kosong. Nggak ada orang, tempat tidurnya juga rapi gitu.
Tau anaknya nggak ada di kamar, dia merepet noh sama mantan suaminya,"'Loh, kok Rissa nggak ada di kamarnya? kamu itu bisa jaga anak nggak sih?!" Karla nunjuk muka mantan suaminya, laki-laki yang kini banyak menghabiskan waktunya di kursi roda. Bukan karena dia susah jalan, tapi karena Rissa yang nyuruh. katanya biar papa nggak capek, kan papanya lagi sakit kan.
"Heh?!! wanita pengeret?!! Rissa itu udah dewasa, dia bukan anak-anak lagi yang harus aku pelototin 24 jam. Lagipula beberapa hari ini bilang kalau nggak enak badan, mungkin dia lagi keluar bentar periksa ke dokter..." pria tua bernama Dera nggak terima dia ditunjuk-tunjuk sama mantan istri yang nggak ada akhlaknya itu.
"Andai nenek kamu masih ada, pasti dia bisa membantumu, Karla..." suara bu wati membuyarkan lamunan tante Karla, dia mengelus kepala anaknya.
"Memangnya kamu sering menghubungi dia?" pertanyaan bu wati begitu menohok, tante Karla jadi kicep.
"Kalau nenekmu pasti bisa menerawang kemana perginya Rissa, tapi kalau biyung hanya sekedar bisa dimimpikan. dan sekedar memanggilnya dengan kekuatan batin Biyung..." bu wati menggenggam tangan anaknya, yang udah nginep di rumahnya selama seminggu ini.
"Lebih baik kita sholat, kita berdoa supaya Rissa segera pulang. Kamu percaya kan, doa seorang ibu doa yang paling mustajab?" bu wati mengajak anaknya untuk menengadahkan tangan pada sang pencipta, bu Wati melihat Rissa yang terjebak dalam dunia setan.
Tante Karla mengangguk dan menurut dalam hatinya bertanya-tanya, 'Sebenernya kamu itu kemana, Rissaaaaa!'
Malam ini semua orang sepertinya memiliki firasatnya masing-masing.
__ADS_1
Mami Reva, sama sekali nggak bisa tidur, papi Ridho pun sama. rasanya ada yang menghimpit di dalam dadanya, bikin sesek.
Sudah 2 minggu ini sejak anaknya dinyatakan hilang, papi Ridho bener-bener nggak bisa tidur dengan nyenyak. Bayang-bayang Rion yang bertemu makhluk jahat membuatnya gelisah. Berbeda dengan mami Reva yang emang udah nggak peka lagi terhadap gangguan makhluk ghoib, papi Ridho lebih diberi vission atau penglihatan mengenai keadaan Rion yang entah di belahan dunia mana.
"Reva..." suara papi Ridho, dia mengelus lengan mami Reva yang duduk setengah rebahan, sedangkan matanya melihat ke arah tipi yang nggak pernah dia matikan. Dia nggak peduli kalau rekening listrik langsung melonjak drastis!
"Sayang..." papi Ridho yang tadinya rebahan, sekarang bangun dan mencoba buat ngajak ngomong mami Reva, yang melongo dengan pikiran yang ruwet gitu ya.
Mami reva diem, dia nggak jawab.
Baru mulut papi ridho mau ngomong lagi, ada telepon masuk ke dalam hapenya.
"Pak Karan? ngapain dia telpon jam segini?" papi Ridho bergumam dalam hatinya
Ngeliat istrinya lagi fokus ke layar tipi, papi Ridho pun menyingkir. dia swipe tuh hapenya,"Ya, halo..."
"Saya di luar!" ucap pak Karan, sedangkan papi Ridho masih nggak mudeng.
"Di luar?" gumam papi Ridho, "Sebentar, saya turun ke bawah..." ucapnya setelah agak konek.
Maklum, kurang makan, kurang tidur dan stress berkepanjangan membuat papi Ridho agak sedikit oleng, apalagi harus menjaga mami Reva yang nggak bisa lepas dari pertanyaan. 'Kapan Rion pulang? mami nggak akan marah, asal kamu balik ke rumah, Riooon...'
"Sayang aku turun ke bawah ya bentar," ucap papi Ridho setelah menutup telepon dari pak Karan.
Mami reva hanya menjawab, "ya..."
__ADS_1
Papi Ridho pun keluar dari kamarnya dengan langkah yang tergesa-gesa, "kalau nggak adasesuatu yang penting, mana mungkin dia datang kemari tengah malam begini,"