
"Maaf," hanya ucapan itu yang bisa keluar dari bibir Rissa.
Thomas menghela nafasnya, dia mundur beberapa langkah, rasanya sebagian dirinya udah nggak napak lagi di bumi, "Kenapa? kenapa Rissa? kenapa Karissa?"
Air mata membasahi pipi Thomas, hatinya luar biasa sakit melihat kenyataan yang terpampang di depan matanya. Namun seketika dia menyadari kalau ini juga nggak akan terjadi kalau aja dia mau mendengarkan Rissa untuk mengganti Rion dengan model yang lain.
Thomas memegang dadanya sendiri yang sesak, dia menepuknya beberapa kali.
"Maaf, aku ... aku nggak bermaksud untuk---"
"Diam! di tempatmu..." Thomas mundur dan menunjukkan telapak tangannya pada Rissa.
Butiran putih turun dari atas langit, menemani ketiga orang yang entah sampai kapan alan berdiri di bawah langit malam.
"Harusnya aku nggak pernah mempertemukan kalian..." Thomas melihat kedua orang yang menorehkan luka yang sama padanya.
Thomas kemudian berbalik dengan langkah gontai. Rissa yang mau mengejar di tahan Rion, "Selangkah kamu maju, berarti kamu menyesali pernikahan kita..."
Rissa bingung harus gimana, dia serba salah. Akhirnya wanita itu hanya biaa meluhat punggung Thomas semakin menjauh. Sampai dia masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Rion berbalik masuk ke dalam rumah.
"Rion..." Rissa mengejar suaminya.
"Rion...?!" panggilnya lagi, tapi Rion nggak menjawab sampai akhirnya pria itu menunduk buat ngambil mantelnya.
"Rion? kamu mau kemana?" tanya Rissa yang merebut mantel milik suaminya.
"Aku nggak bisa ngeliat tatapan kamu buat Thomas!"
"Tatapan? tatapan apa?" Rissa nggak ngerti apa yang dipikirkan suaminya.
"Tatapan bersalah," kata Rion.
"Aku nggak ngerti,"
__ADS_1
Rion akan pergi tapi dia menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menyerang Rissa dengan bibirnya.
"Aaaarggh!" Rion merasa nyeri saat nggak sengaja bibirnya yang luka kepentok.
"Kamu nggak apa-apa?" Rissa khawatir.
Rion hanya bisa menggeleng, dia malu melihat wajah Rissa. Karena dia tau kalau dia terlalu nggragas untuk adu wajah, "Nggak apa-apa!"
Rion pergi ke kamar mandi buat ngeliat luka robek di bibirnya.
"Ssssshhh, Thomas kalau mukul nggak pakai koma, bibir gue sampe kuka kayak gini!" Rion membasahi wajahnya dan mengelap beberapa luka yang ada di wajahnya.
"Rion? kamu nggak apa-apa?" Rissa cemas menunggu di luar pintu kamar mandi.
Rion tadi ngibrit ke kamarmya Rissa dan nyelonong aja ke kamar mandi, dan sekarang dia sibuk bersihin wajahnya pakai air.
Mendengar desisan dari arah dalam, Rissa yang udah nutup pu tu depan pun sekarang memberanikan diri buat masuk dan ngeliat keadaan suaminya.
"Aku masuk!" Rissa memberi aba-aba sebelum dia menarik handle.
Wanita itu mengambil beberapa lembar itu dan mengeringkan wajah suaminya, "Kenapa laki-laki suka banget berkelahi? apa dengan melayangkan pukulan akan membuat kalian merasa lebih baik?
"Awwwwwh?!" Rion mengaduh saat Rissa menekan di beberapa lukanya.
"Kemarilah, akan aku bersihkan luka mu," Rissa mengajak Rion buat keluar dar kamar mandi.
Rissa dan Rion sekarang duduk di pinggiran ranjang.
"Sedikit perih, tahan ya...."Rissa mulai mengobati wajah Rion yang terluka.
"Jangan nangis," kata Rion ngeliat satu tetes dua tetes air mata meluncur deras di pipi Rissa.
"Aku hanya merasa sedih. Kalian itu dua orang yang bersahabat, tapi hubungan kalian sekarang malah kayak musuhan,"
__ADS_1
Rion memegang tangan Rissa, dia menghentikan aktivitas Rissa yang memberinya obat merah, "Itu cara kerja takdir, Rissa! Sedih dan bahagia itu selalu berdampingan. Aku udah mempertimbangkan segala resikonya, tentang Thomas yang suka sama kamu atau tentang restu yang belum kita dapatkan dari ibu kita masing-masing. Cinta yang besar, akan mengalami cobaan yang besar juga..."
"Dan masalah Thomas hanya sebagian kecil masalah yang harus kita lewati," lanjut Rion
"Cinta yang suci, akan mendapatkan ujian secara bertubi-tubi dan jauh dari kata mudah dan mulus-mulus ajah. Aku bisa ngomong kayak gini karena aku pernah ngeliat masa lalu mami ku. Dia mengalami banyak sekali penderitaan, tapi akhirnya mami bisa melewati itu bersama papi...." Rion mengingat mimpinya waktu itu.
"Kecuali kalau kamu memang mencintai Thomas---" ucapan Rion dihentikan secara paksa oleh Rissa yang menutup mulut suaminya itu dengan jari telunjuknya.
"Bukan kayak gitu,"
Rissa menurunkan lagi jarinya, "Aku hanya ngerasa kalau kalian nggak seharusnya berantem, apalagi itu karena aku..."
Rion membawa Rissa ke dalam pelukannya, "Ini yang membuatku waktu itu pergi dari kamu, Rissa. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi masalah, melihat oranglain akan terluka tanpa aku sadari aku menyakiti diriku sendiri. Aku menekan diriku sendiri, sampai aku ngerasa kalau nggak ada lagi yang aku ingin capai di dunia ini..."
"Sebenernya waktu itu aku pengengn banget jengukin kamu, liat keadaan kamu. Tapi aku nggak seberani itu, karena aku takut menyakiti hati banyak orang jika aku keukeuh mempertahankan perasaanku. Tapi ternyata takdir menginginkan hal lain, takdir mempertemukan kita berdua. Mengijinkan kita bertemu, dan itu membuat aku ingin sekali egois. Membuat aku menyingkirkan rasa yang juga dimiliki Thomas buat kamu, Rissa. Dan lihat? sekarang kita menjadi suami istri, dan itu takdir selanjutnya yang harus kita jalani," Rion membelai kepala Rissa.
"Ini awal dari perjuangan cinta kita, Sa. dan kita berdua harus kuat..." ucapan Rion membuat Rissa mengangguk.
.
.
.
Setelah berbincang panjang, Rissa dan Rion masing-masing membersihkan diri. Terutama Rissa, dia berganti pakaian dengan pakaian yang nyaman.
"Man, gue nggak balik. Gue lagi bantuin Rissa buat packing barang-barang buat diboyong ke apartemen gue?!" ucap Rion sembari melihat Rissa yang udah tidur di ranjang empuknya, wanita itu tertidur saat dielus kepalanya terus menerus.
Rion pun menutup sambungan teleponnya, dia menutup koper-koper yang udah diberesin sama Rissa.
Dengan perlahan Rion keluar dari kamar, dia duduk di sofa sambil nyalain tivi. Baru juga mukanya membaik, sekarang udah ditonjok lagi, beruntung dia beberapa kali bisa menghindar dari serangan Thomas yang udah kayak orang kesetanan.
Rion mengambil buku niikah yang sempat terjatuh, dia ngeliat namanya dan Rissa tertera disana. Rion pun melihat buku itu di tangannya, "Dari awal gue udah ngira bakal kayak gini. Thomas aja reaksinya udah kayak orang kesurupan, apalagi mami gue? udah dipastiin gue nggak akan selamat dari amukan mami!
__ADS_1
Dia memasukkan buku nikah itu ke dalam saku mantelnya, dia mengusapnya pelan lalu dia duduk dengan sesekali menyentuh sudut bibirnya yang terluka, "Perjuangan yang sebenernya itu meraih restu mami kamu Rion!" setelah mengucapkan itu Rion senderin kepala di sandaran sofa, dia memejamkan matanya.