Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
106. Kenapa Semua Tentang Mami?


__ADS_3

Setelah sekian purnama bersama, dan berulangkali terpisahkan. Kini mereka harus kembali mengalami kejadian berulang, dimana mereka dipaksa untuk berjauhan dalam jangka waktu yang nggak bisa ditentukan.


Mendengar kabar kalau Arion udah ketemu dan dalam perjalanan menuju rumah sakit, keluarga mami Reva maupun papi Ridho semuanya berkumpul. Nenek Rumi, tante Mona dan Om Barra.


Semuanya udah tumplek jadi satu di rumah papi Ridho. Kata Om Karan, sementara mereka nunggu giliran aja siapa yang mau jenguk, soalnya Arion pasti masih belum bolehh ditemui banyak orang.


"Kenapa nggak ngomong sama saya kalau Arion itu hilang di hutan? saya taunya dari Mona yang kebetulan ngeliat pemberitaaan ada dua pendakinyang ditemukan, dan terpampang wajah Arion disana," nenek Rumi yang lagi kumpul di ruang tengah.


"Lha wong saya aja taunya karena pas banget main ke sini. Tau-tau ada banyak orang pengajian," nenek Ivanna


"Tuh Thalita yang setiap hari disini aja, nggak bilang-bilang sama neneknya. Emang bener-bener anak kita itu visi misinya sama, nggak mau bikin orangtua repot dan khawatir. Semuanya ditanggung berdua..." Nenek Ivanna nunjuk Thalita yang baru aja nongol, pulang dari kampus.


"Nenek...?" Thalita yang ngeliat rumah tantenya kumpul banyak orang pun keder. Dia salim tuh satu-satu, bahkan dari dalam Thalita liat ada papa dan mama nya yang bawa makanan dan minuman.


"Papa? kok papa ada disini?" Thalita malah nanya aneh.


"Ya emang kenapa? bukannya salim malah ngomen papanya kenapa papanya disini!" serobot tante Ravel, mamanya Telolet.


'Adduuuh, tadi papa liat aku dianter bang Eza nggak, yah?' batin Telolet.


Thalitha yang lagi ngebatin masih memperhatikan raut wajah papa nya, 'Kayaknya aman. Nggak ngeliat berarti!' Telolet ngomong dalam hati lagi.


"Thalita kenapa kamu bengong disitu? nih taruh nampan di belakang" tanya tante Ravel.


"Ehm, nggak bengong, Mah. Tapi ini kenapa pada kumpul? terus kemana mbak Rina? kok mama yang nyiapin minum?" Thalita bingung, tumben-tumbenan mama nya itu bisa menjamu tamu. Biasanya kan apa-apa panggil 'bibik' apalagi ini bukan di rumahnya.


"Mbak Rina lagi keluar sebentar,"


"Dan kenapa semua orang kumpul ya karena Arion udah ketemu..." lanjut tante Ravel yang nyuruh anaknya lanjut naruh nampan.


"Beneran, Mah? alhamdulillaaah!" Thalitablangsung lega banget denger abang sepupunya udah ketemu


'Bang Eza dan yang lainnya harus tau ini!' ucap Telolet dalam hatinya.


Buru-buru dia naruh nampan dan lari ke lantai dua. Tante Ravel yang ngeliat anaknya kedebag-kedebug pun nyenggol suaminya, "Tuh liat kelakuan anak kamu, Mas!"


"Ya nggak jauh beda sama mama nya," jawab Om Dilan enteng.


"Ckkk," tante Ravel berdecak.


Sedangkan di dalam kamar, Thalita nelponin Eza. Orang yang selalu nemenin dia biar nggak kena sawan di kampus perkara sering ngelamun. Thalita terbebani dengan rasa bersalah, karena dia ikut andil dalam vote siapa yang mau tetep naik ke puncak dan siapa yang milih buat turun.


"Halooooo," sapa Telolet.


"Bang Eza?!! Bang Rion udah ketemuuuuuuu!" teriak Telolet tapi bukannya dapet respon dia malah cuma denger 'krebeek-krebek' gitu.

__ADS_1


"Hapenya rusak apa gimana sih?" Telolet jauhin hapenya, liat apa ada tanda-tanda perlu diganti atau nggak.


"Halooo, bang Eza?!!" teriak Thalita saat dia kembali nempelin hape ke telinganya.


"Ha-ha-lo..." suara Eza malah kayak robot.


"Ck, kenapa sih? aneh banget suaranya!" Thalita mutusin panggilannya, lalu mencoba menghubungi kembali ke nomor Eza.


"Haloo? kenapa bidadariku?" suara renyah Eza langsung menyapa telinga Telolet.


"Kok tadi hapenya krebek-krebek sih?" tanya Telolet.


"Ya, biasa. Eror! kenapa-kenapa?" tanya Eza yang baru juga beberapa menit yang lalu nganterin Thalita pulang.


"Kangen sama gue ya?" lanjut cowok geje itu. Bukan kece ya, tapi geje.


"Dih, pede banget! guweh cuma mau ngasih tau kalau bang Rion udah ketemuuuu!" ucap Thalita antusias. Dia seneng banget.


"Iya udah tau. Ini gue mau meluncur sama anak-anak, mau nengokin Rion. Katanya sore ini Rion dipindah rumah sakit," kata Eza.


"Kok kalian udah tau duluan?"


"Slamet tadi di telfon sama Om Ridho. Dia minta tolong bawa barang-barang yang identik banget sama Rion. Papi nya butuh itu buat nge-calling Rion supaya bisa cepet sadar, dia pengen Slamet nungguin pas nanti Rion nyampe di rumah sakit!" jelas Eza.


"Udah dulu ya, bidadariku! bang Eza lagi di jalan. Ntar di tilang berabe nih, brenti sembarangan!" kata Eza yang main nutup telpon tanpa nunggu jawaban dari Telolet.


Sedangkan disisi lain.


Rion masih hanyut dalam mimpi yang membuatnya terombang-ambing nggak jelas.


'Aaakkjhhh!' Rion ngerasa kalau dirinya tersedot ke mimpinya yang lain.


Saat dia berada dalam gendongan mami.


'Emang dari kecil gue udah menawan banget elah!' Rion yang perutnya kayak diaduk-aduk masih sempet muji dirinya sendiri.


Dan dia ngeliat kalau bapak-bapak yang dipanggil oleh papinya, Pak Sarmin. Dia bilang kalau mami dan papi harus menjaga anak mereka, karena dia anak istimewa.


Baru dipuji dan pengen komentar, Rion kesedot lagi saat maminya pingsan pas tau Rion ilang di hutan.


'Kenapa semua tentang mami?' Rion pegangin perutnya, yang udah nggak karuan.


Mami Reva mengampiri mobil yang diparkir di luar sebuah rumah yang dia lihat waktu maminya gendong dia pas masih bayi. Cuma beda waktu aja.


"Kok dikunci? bisa pingsan anak itu kalau mobilnya dikunci dalam keadaan mesin mati!" mami Reva merepet.

__ADS_1


Dan ketika papi bilang kalau Rion anaknya jatuh dari tebing gunung, mami Reva pun pingsan.


Rion yang melihat itu beneran nggak tega, karena terlihat jelas di matanya kalau mami Reva itu meskipun dia suka banget marah-marah tapi nyatanya dia sayang banget sama anaknya.


'Mami, maafin Rion---' saat tangan Rion mencoba menggapai tangan maminya dia kesedot lagi ke sebuah mimpi yang lain.


"Maaaassssss!!!!" teriak mami Reva.


Baru juga napak ke cerita selanjutnya, kupingnya udah peng-pengan denger jeritan maminya.


Dia ngeliat papinya ngeluarin darah dari mulutnya. Hati Rion mencelos melihat itu.


'Sesayang itu mereka sama gue?!' batin Rion. Dia ingin menggapai tangan papinya tapi nggak bisa. Tangannya kosong.


Dia ngeliat ada Om Karan juga disana, disaat mami maksa buat nyebrang ke negeri dimana Rion dan papi Ridho berada, Om Karan tetep nggak ngijinin. Dan bukan hanya Om Karan, tapi neneknya Ivanna juga langsung mencegah apa yang dilakuin mami Reva.


Tapi jangan panggil Reva Velya kalau nggak bisa maksa orang. Keadaan papi Tidho makin gawat. Mulut papi tiba-tiba mengeluarkan suara seperti orang tercekik.


'Pakkk, tolong suami saya! saya harus masuk ke dunia yang sama dengannya! saya, saya nggak mau kehilangan mas Ridho! saya nggak mau! saya nggak mau...!" mami Reva panik.


'Apa ini waktu papi ditarik oleh Dorothy?' Rion pusing dan juga mual yanh nggak berkesudahan.


Dia masih ngeliat apa yang akan terjadi setelah ini.


Rion juga penasaran, gimana bisa mami Reva bisa dateng tepat nggak pakai nyasar.


"Ridho sedang ditarik oleh seorang penyihir," kata seorang kakek yang lagi-lagi Rion lihat dekat dengan orangtuanya.


'Sebenarnya siapa kakek ini?' batin Rion.


Papi Ridho segera dipindahin, keadaan lumayan kacau. Om Karan menggendong papi Ridho di punggungnya sementara mami Reva, dia ngedorong tiang infus.


Brakkk!


Papi Ridho segera di tidurin di kasur, di kamarnya. Bisa dibayangkan gimana hebohnya mereka semua yang ada di rumah. Sementara baju Om Karan basah darah dari mulut papi.


"Berbaringlah disamping suamimu, genggam jari jemarinya. Dan pikirkan wajahnya. Hanya wajahnya," ucap kakek itu yang mencoba membukakan portal ke negeri dongeng.


'Mami...' batin Rion teriris saat maminya kini mencari keberadaan papinya.


Rion melihat mami nya menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, mungkin inilah saatnya mami nya itu ikut berkelana menembus lorong waktu.


"Rion ... Rion, bangun Rion..." suara seorang perempuan berdengung di telinganya.


'Aaakkkkk,' Rion memekik tapi masih dalam hatinya. Bahkan dia menjerit pun hanya dalam hati.

__ADS_1


Rion seperti ditarik ke suatu tempat, dia merasa berputar-putar, 'Aaaaaakkkkk!'


__ADS_2