Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
128. Nyebrang Benua


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Mereka semua mengantar Rion ke bandara. Nggak ada liburan yang diimpikan Eza maupun Slamet. Mereka sejarang malah kaget, karena dihadapkan pada sebuah perpisahan dengan sahabatnya.


"Breng-sek banget lu, Yon! kenapa lu nggak cerita kalau mau nyebrang benua, heh?!!!" Eza memeluk Rion.


"Sorry..."


Eza melepaskan Rion, dan kini Slamet yang udah bleweran air mata, "Lanjut kuliah aja jauh banget! kayak disini nggak ada kampus yang bagus aja, Lu!"


"Kan gue butuh wawasan yang luas, lagian gue nggak kayak elu yang sibuk ngempanin pacar mulu!" kata Rion yang melepaskan Slamet dan giliran Adam yang memeluk sahabatnya.


"Kenapa lu nyuri start gue duluan? curang banget lu!" kata Adam.


"Hati-hati, jaga kondisi!" lanjut Adam.


Rion menjarak tubuhnya dengan Adam, dia nepuk pundak Eza, "Lu samperin gue kalau elu pada kangen!"


"Yono kalau ngomong sekate-kate! tiket buat nyusulin elu bisa buat kita hidup sebulan disini!" kata Eza.


"Tauk nih! dia pikir kita orang kaya?!!" tambah Slamet.


"Kecuali lu mau bayarin kita, Yon! gaskeun lah kita segera mengudara nyamperin elu!" tambah Slamet.


"Hahahah, ya ya bisa diatur!" jawab Rion.


"Jujur gue kesel banget tiap congor elu pada manggil gue Yono, tapi mulai sekarang gue bakal kangen dengan panggilan itu..."


Eza dan Slamet sedih ditinggal salah satu temen yang sering menyuplai kehidupan mereka.


"Udah lah jangan nangis, kayak perempuan aja lu!" ucap Rion berusaha buat kuat di depan temen-temennya, padahal dia juga sedih sebenernya.


Mami Reva hanya bisa melihat anaknya berpamitan dengan sahabatnya dari kejauhan, perasaan mami Reva pun sama sedihnya dengan teman-teman Rion. Dia hanya bisa dikuatkan dengan sebuah usapan di punggungnya, yang bukannya bikin tambah tegar malah bikin air matanya tambah deres.


"Yang sabar ya, Tan..." ucap Thalita ikutan menguatkan tante nya.


"Dimana Rion?" tanya Om Karan yang baru datang.


"Disana," tunjuk papi Ridho.


Mereka berempat pun mendekat ke arah Rion.


"Om..." lirih Rion.


Om Karan segera memeluk keponakannya yang akan pergi untuk melanjutkan pendidikan.


"Laki-laki harus kuat! kalau ada kesulitan disana, beritahu Om! mengerti?" Om Karan menepuk punggung Rion pelan, memberikan penguatan di hati pemuda itu.

__ADS_1


"Terima kasih, Om..." Rion melepaskan pekukan Omnya dan beralih pada satu wanita yang biasa menghiasi hari nya dengan teriakan dan omelan.


Rion mendekap mami nya, "Jangan nangis, Mam! lagian Rion pergi cuma sebentar, nggak lama kok..."


"Kalau gitu besok mami nyusulin kamu, mami nggak bisa jauh dari kamu, Rion!"


"JANGAN!"


"Kok jangan? kenapa? kamu nggak mau disusulin mami, iya? dasar bocah kamfret!" mami Reva malah merepet, dia geplak pundak anaknya.


"Awwwwhhhhh! maksud Rion, bukan gitu Mam! astagaaaa,"


"Maksud Rion, 'jangan' itu karena kasian sama paoi kalau ditinggal-tinggal sama mami. Rion nggak mau punya mami baru lho, Maaam!" Rion mencoba mencairkan suasana.


"Jangan ngomporin mami kamu, Rion! papi pites kamu!" papi Ridho nunjukin bogemannya.


"Aku kayak de javu sama ucapan Rion tadi," gumam papi dalam hatinya.


Ya, kalimat kompor mbleduk itu yang menjadi alasan mami Reva ikut ke jepang beberapa waktu yang lalu. Tujuan Rion bilang kayak gitu ya supaya bisa melancarkan acara panjat ginung yang kemudian berakhir tragis.


"Itu pesawat kamu, kan?" ucap Om Karan memutus perdebatan anak dan mami nya.


"Iya, Om..." sahut Rion.


Sebelum pergi, lantas dia memeluk papinya, "Jaga diri kamu, kabari setelah sampai!"


"Pasti,"


"Diiihhhh, siapa juga yang gratakan!" Thalita ngeles,npadahal selama Rion ilang Thalita sering guling-gulingan di kamar itu.


Rion melepaskan Thalita dan berjalan masuk, dia melambaikan tangannya sebelum bergabung dengan para penumpang yang memburu pesawat yang sama dengan dirinya.


Jangan ditanya, perasaan Rion jelas berat meninggalkan negaranya. Tapi dia juga nggak bisa kalau harus disini, berbagi udara dengan orang yang dia suka tapi dia juga nggak bisa melihat apalagi memiliki orang itu.


Rion kini sudah masuk dan duduk di kelas bisnis, dia memandang jendela sebelum akhirnya pesawat itu perlahan-lahan mulai naik ke atas, menembus gelapnya langit malam itu.


Rion sendiri ngga biaa memejamkan matanya, padahal hari sudah menunjukkan waktu dini hari. Dia menghabiskan waktu dengan menonton film kesukaannya.


Di belakangnya ada suara kresak-kresek padahal serau Rion orang-orang udah banyak yang tidur. Lagian nggak ada yang bisa diliat juga di luar, gelap total langitnya kan.


Rion mencoba mengabaikan suara-suara yang dia tau itu bukan suara orang yang lagi beraktivitas, dia pakai headset dan fokus aja nonton film.


Namun sialnya, sekarang dia kebelet pipis. Dan itu artinya dia harus bangun dari tempat duduknya dan pergi ke toilet.


Rion memegang liontin yang dia pakai dengan sebuah kalung berwarna hitam.


Suasana kabin yang sepi kaena udah pada molor semua penumpangnya, di tambah cahaya yang temaram membuat atmosfer yang berbeda dengan penerbangannya kali ini.

__ADS_1


Tapi Rion cuek aja, toh dia udah biasa kan kalau diganggu-ganggu sama syaithonirrojim. Dia masuk ke dalam toilet, dan saat lagi cuci tangan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Ya, sebentar!" ucap Rion yang lantas keluar, tapi eng ing eng...


Nggak ada orang.


"Nggak jelas!" gumam Rion.


Dia balik lagi ke tempat duduknya.


Tapi yang bikin dia ngerutin keningnya, saat film yang diputar bukan film yang dia tonton.


'Ini siapa sih yang usil ganti film yang lagi gue tonton?' Rion celingukan.


Dia melihat sesosok yang ngumpet di salah satu kursi di belakangnya, tapi bodo amat. Rion nggak mau ngerewes.


Rion lanjut ganti film action yang dia suka. Dan lumayan lama-lama bikin dia ngantuk.


Seperti hari-hari kemarin, Rion selalu tamplate mimpi yang sama. Sampai rasanya dia udah hafal setiap masuk ke dalam mimpi itu.


Setelah ini pasti sesosok makhluk hitam akan muncul di depan orang yang duduk di kursi roda, dia akan memekik seperti orang kesakitan dan tadaaaa Rion kemudian terbangun.


"Hhhh ... hhhh ... astaghfirullah!" Rion ngos-ngosan.


Dilihatnya jam masih menunjukkan pukul 3 pagi, dan perjalanannya masih jauh. Orang-orang pun masih pada molor.


"Sorry, saya bisa minta teh manis panas?" kata Rion saat melihat pramugari yang lewat.


"Baik, tunggu sebentar..." ucap si perempuan itu.


Rion masih cukup menawan dengan muka bare face-nya. Dia pergi ke toilet sebentar buat nyegerin mukanya yang tegang.


Beberapa kali Rion membasuh wajahnya dengan air, "Kenapa gue mimpi yang sama berhari-hari, apa stock mimpi gue udah abis?" gumamnya.


"Gue bisa stress kalau kayak gini terus!" ucapnya lagi.


Kemudian dia kembali lagi ke tempat duduknya.


"Minuman anda..." seorang pramugari memberinya satu cangkir teh panas.


"Thank you!"

__ADS_1


Pramugari itu balik ke tempatnya, sedangkan Rion mencoba untuk menyesap minuman panasnya, sambil nonton film lagi. Ya katena nggak ada aktivitas lain selain nonton atau dengerin musik. Dan Rion ngerasa kalau perjalanan kali sangat lama dan membosankan.


"T-tolong!" pekik seorang gadis yang duduk di sampingnya, tepatnya tepat di samping jendela.


__ADS_2