Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
124. Jangan Nagih Utang


__ADS_3

Sekarang Rion lagi duduk berhadapan dengan Mova dengan masing menyedot minumannya.


"Ehm," Mova berdehem.


"Jadi gimana keadaan elu, Rion? semuanya oke, kan?"


"Oke, kok! seperti yang elu liat," ucap Rion.


"Syukurlah, gue seneng denger itu..." Mova menyesap minumannya lagi.


"Ehm, sorry. Selama elu dirawat gue belum pernah jengukin soalnya---"


"Tumben mbleret?"


"Gimana?" Mova ngangkat wajahnya yang daritadi dia sembunyiin terus.


Arion cuma senyum sekilas, saking cepetnya Mova aja sampe nggak percaya bisa ngeliat seulas senyuman dari bibir Rion, cowok yang selama ini dia taksir dari jaman mahasiswa baru.


"Sebenernya gue nggak tau kenapa elu bisa jatuh, tapi semua ngira itu semua salah gue. Gue minta maaf, Rion..."


"It's okey! lagian itu bukan salah elu kok, gue yang nggak hati-hati," ucap Rion.


Ya, Mova nggak inget ada satu perempuan yang berjalan di depannya saat itu. Karena Riss menggunakan kekuatan sihirnya untuk memanipulasi orang-orang. Dan setelah sihirnya hilang, teman-teman rombongan Mapala pun nggak ada satu pun yang inget sama dia.


"Tapi terlepas dari tudingan temen-temen, gue ngerasa nyesel banget nggak bisa mncegah hal itu terjadi sama elu. Sorry..."


"Ya udah sih, woles aja. Toh semuanya udah terjadi, bukan salah elu dan gue sekarang udah ketemu dan nggak kurang suatu apapun, that's enough..." kata Rion yang mau mutusin mata rantai penyesalan di hati Mova.


Mungkin Eza yang biasanya cekcok sama Mova pun, bisa iba ngeliat si Mova yang dirundung rasa bersalah sama Rion.


"Thank you ya, elu mau ketemu sama gue. Jujur ini sangat berarti buat gue, Rion..."


Rion cuma senyum dan ngejawab dengan singkat, "Ya..."


Rion nggak tau kalau di luar cafe itu ada Rissa yang kebetulan mau ngelamar kerja disana, tapi nggak jadi setelah ngeliat Rion ada di dalam dengan seorang gadis yang duduk membelakanginya.


Rissa mundur teratur, dia berbalik menjauh dari cafe itu.


Sedangkan Rion sendirinngerasa hatinya lagi nggak baik-baik aja, ketika dia berusaha melupakan seseorang. Eh, orang yang mau dilupain nongol di depan mata, dan bikin ambyar semua usaha yang udah dilakuin.


Sementara Rissa, nyari tempat lain buat dia nyari kerjaan. Dan alhamdulillahnya dia dapet tuh, kerja paruh waktu di sebuah restoran. Dia mikirnya yang penting ada pemasukan, dan yang penting pekerjaannya ini halal, masalah gengsi nomor sekian.


.

__ADS_1


.


.


Dari hari ke hari Rion berusaha ngelupain pertemuannya dengan Rissa. Dan mimpi buruknya terus aja berlangsung dan selalu template gitu mimpinya. Ada sosok hitam yang menyerap energi dari seseorang yang berada di kursi roda yang posisinya membelakangi dia.


"Rion? kamu okey?" tanya papi yang ngeluat anaknya kayak orang yang nggak fit gitu badannya.


"Oke kok, Pih..."


"Mungkin cuma kurang tidur," lanjut Rion.


"Syukurlah kalau nggak kenapa-napa," ucap papi Ridho yang menikmati sarapannya.


Rion hari ini mau sidang skripsinya, dia berpakaian rapi, dan itu membuat aura ketampanan yang udah permanen dalam diri Arion melekat semakin kuat.


"Semangat sidangnya ya, Sayang!" ucap mami.


"Makasih, Mam! Rion duluan, ya? Rion nggak mau telat!" Rion menyalami kedua orangtuanya secara bergantian.


"Semoga sukses! jangan lupa kabari mami ya?" mami Reva mencium kepala anaknya.


"Pasti," kata Rion yang masih datar-datar bae, tapi lumayan lah, masih mau ngejawab pertanyaan mami nya.


Pokoknya dia harus kasih first impression yang baik dulu buat dosen pengujinya.


Sampai di kampus, Rion segera menuju tpat sidangnya. Disana udah ada Slamet, Eza dan Adam yang merasa ketikung sama Rion.


Mereka aja masih belum selese garap skripsi gara-gara kebanyakan main, lah ini Rion yang abis ngilang 3 bulan gerakannya cepet banget kayak belut. Ucluk-ucluk udah selese aja tuh skripsi, lah mereka boro-boro sidang. Orang garap revisian hasil konsul aja belum kelar.


"Gue masuk dulu," kata Rion.


"Yon? lu kagak minta doa restu sama gueee?" tanya Eza setengah teriak.


Rion cuma geleng-geleng kepala.


"Dia kagak butuh restu dari elu, yang ada elu yang minta ajarin sama Rion, gimana supaya skripsi kagak banyak revisian," kata Adam.


Di dalam sana, Rion mencoba. mengatasi rasa gugupnya. Dia menyiapkan semua nya dengan sangat baik, bahkan para dosen pun terkesan dengan cara penyampaian Rion yang lugas dan nggak bertele-tele. Nggak kayak elu, mau pesen bakso kosongan aja njelimet gitu bahasanya. Bikin abang-abang baksonya keder. Moon maap, bakso kosongan yang dateng cuma mangkoknya aja,m dengan kuah bening seadanya, ehek! Elah kok kita bahas bakso? absurd banget dah.


"Terima kasih atas perhatiannya, selanjutnya saya kembalikan kepada moderator..." kata Rion.


Moderator yang merangkap sebagai dosen pembimbing Rion pun melanjutkan memandu sesi tanya jawab mengenai project skripsi yang dibuat Rion. Dan syukurnya berkat otaknya yang pinter, Rion bisa menjawab semua pertanyaan dengan tepat.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak ... terima kasih, Bu..." Rion menyalami dosennya satu persatu saat sidangnya sudah selesai.


Adam, Eza dan juga Slamet yang duduk di bawah mendadak berdiri saat pintu ruangan di buka. Mereka menunduk hormat, sebelum akhirnya masuk nengokin temen mereka yang lagi masukin leptop super tipisnya.


"Gimana, gimana sukses kan lu, Yon?" tanya Eza yang kepo tingkat dewa.


"Menurut lu?" Rion tersenyum tipis.


"Kalau dari raut wajah elu sih kayaknya elu gagal. Coba elu tadi sungkem sama gue, pasti elu bakal diberi kelancaran," kata Eza.


"Musyrik sungkem sama elu, Jaaa!" Slamet menimpali.


"Gimana pak Rendy kalau nguji? serem nggak?" tanya Adam kepo juga. Takut dia dapet pak Rendy juga pengujinya, soalnya doi terkenal orangnya ribet dan teoritis abis.


"Tergantung spek otak lu pada!" ucap Rion yang keluar dengan nenteng tas nya.


"Speeek otak gue kebetulan diatas rata-rata---"


"Yeeuuuuuh, Jaja! muji diri kagak liat kaca!" celetuk Slamet.


"Daripada elu?" Eza nggak terima sama ucapan Slamet.


Sedangkan Rion yang udah selese beres-beres pun pergi dari ruangan itu.


"Yon, Yonooooo? spill spill laaaaah sidang lu tadiiiiii!" Eza teriakan.


Mereka bertiga ngekorin Rion yang jalan cepet.


"Jalannya cepet amat sih tuh manusia?!! udah kayak lagi diuber utang aja!" celetuk Slamet.


"Yang suka ngutang mah kan elu, Met! kagak modal sok-sok an pacaran! sini duit gue 50 balikin!" Eza malah nagih utang sama Slamet.


"Kan gue bilang balikinnya dua minggu lagi! jangan nagih sekarang, emak gue belum ngirimin duit!" kata Slamet yang ngibrit ngejar Rion.


"Yon, makan-makan, Yooooooon!" sambung Slamet mencoba menyamai langkah Rion yang cepat


"Elu ngomong gitu dua minggu yang lalu, Slameeeeeetttt! tunggu lu, jangan kabur!"


"Makanya lu jangan nagih utang mulu, kalau nggak pengen liat gue kabur-kaburan!"


"Dompet gue udah sepi pe'aaaaaa!!!" teriak Eza.


"Gue yakin, hidup gue sepi tanpa bachodan mereka!" gumam Adam yang ikutan ngejar Rion. Fix, mereka harus makan-makan siang ini. Merayakan keberhasilan sidang Rion tentunya.

__ADS_1


__ADS_2