
Nggak ada bedanya dengan orangtua Slamet, emak dan bapak Eza pun sama.
Eza malah melongo pas ngeliat orangtuanya lagi tutupan selimut berdua.
"Bapak sama Ibu ngapain?" tanya Eza yang keder.
"D-ngin Za!" kata Bapak.
"Astaghfirullaaaah," Eza yang nggak kuat pengen ngakak tapi takut dosa. Ngeliat ibu sama bapaknya duduk di tempat tidur sambil kemulan selimut, yang keliatan cuma muka doang berdua.
'Segini aja kedinginan, apa lagi emak sama bapak di kirim ke Alaska?' batin Eza yang ngambil remot dan ngecilin suhu ruanganya.
"Za, ibu udah ndak tahan pengen pipis. Tapi nggak tau carane piye!" ucap Ibu Eza dengan logat medoknya.
"Ya ampun ya ampun, jadi daritadi ibu ngampet pengen pipis? Hahahahhaa," kali ini Eza nggak kuat pengen ketawa.
"Kok malah nguyu, piye tho si Eza, Pak?" ibu jengkel ngeliat Eza yang malah kepingkal-pingkal.
"Ngapurane, Bu. bukan maksud Eza mau ngetawain, tapi emang Eza ndak kuat!" Eza mencoba menormalkan bicaranya.
"Sini, bu. Biar tak ajarin carane pake closet!" kata Eza yang mebgajak ibunya buat masuk ke kamar mandi yang super kering dan mewah. Eza pun ngajarin gimana caranya gunain itu toilet.
Eza pun menutup pintu kamar mandi dan memberikan wajru ibunya buat mengeluarkan apa yang sudah diampet daritadi.
"Temenmu itu sugih banget, Za? kok bisa-bisanya bapaknya nginepin bapak ibu di hotel mewah banget kayak gini. Bapak aja sampe ngira kalau bapak ini mimpi lho, Za!" tanya Bapak.
"Yo pancene sugih, Pak! ( Ya memang kaya, Pak!)"
"Wesss anggap saja, Bapak sama Ibu lagi bulan madu!" celetuk Eza.
Ibu dan Bapak Eza maupun Slamet yang datang dari kampung yang jauh di mata namun dekat di hati itu pun, menikmati malam mereka di hotel mewah. Yang udah dijamin makan minumnya sama papi Ridho.
Sementara Rion masih ngawang-ngawang aja pikirannya di kamar. Dia kayaknya udah nggak niat pengen liburan atau semacamnya. Yang dia pengen saat ini cuma ketemu sama Rissa untuk yang terakhir kalinya.
Malam ini Rion memejamkan matanya, dia memegang liontin berbentuk pedang. Dia nggak tau kalau semakin lama liontin itu bersamanya, dia akan membuat sebuah ikatan terhadap diri Rion.
Rion yang memejamkan matanya tiba-tiba tersedot ke alam bawah sadarnya.
Zzzzzeep!!!
__ADS_1
Dia merasakan mual saat tiba di sebuah rumah.
"Rumah siapa? kok gue ada disini?" Rion memegangi perutnya.
Hidungnya yang mencung mencium aroma masakan dari arah dapur, dia merasa de javu sepeerti saat dia nemuin papinya masak saat maminya sakit.
Rion berjalan mengendap-endap, "Permisi?"
Pemuda itu terus berjalan, dia nggak mau diaangka maling karena masuk ke runah orang tanpa permisi.
Dari arah belakang dia melihat seorang gadis yang lagi mengaduk masakannya.
"Permisi..." Rion kembali bersuara tapi si gadis nggak bergeming.
"Gue yang abstrak atau dia yang buu--deg?!" ucapan Rion mbleret saat sosok gadis itu menoleh san tersenyum.
"Rissaaa?" gumam Rion.
"Kok papa kesini? nasi gorengnya sebentar lagi jadi kok," Rissa menatikan kompor, dan berbalik melepas celemek yang membelit badan rampingnya.
"Gue Rion, bukan bapak elu! gue nggak setua itu..."
Zzzzzzzeep!!
Dia menembus badan Rion. Seketika Rion merasa mual. Dia memegangi perutnya.
Zzzeeeppp!!
Rion bergerak dengan sangat cepat, dia bergerak mendekat pada dua orang yang berbeda usia.
Rissa mendorong kursi roda ke arah meja makan, "Papa tunggu disini ya? Rissa siapin nasi gorengnya!"
"Ternyata ini Dera Prayoga? orang yang udah membuat hidup gue dan mami sengsara?!" Rion berbicara sendiri. Dia menatap pria yang sekarang hanya bisa duduk di kursi rodanya.
Matanya penuh kebencian saat melihat pria yang kemudian menoleh padanya. Mata Rion membulat saat Om Dera Prayoga seakan melihatnya.
"Ada apa, Pah?"
Om Dera menggeleng, "Nggak ada apa-apa, cuma papa merasa malam ini lebih dingin dari biasanya!"
__ADS_1
"Ooh, Rissa kenapa..." Rissa menaruh sepiring nasi goreng rendah lemak di depan papa nya dan pergi ke arah kamar papanya dan mengambil sebuah syall.
Dia memasangkan syall itu ke leher papa nya, "Biar papa nggak kedinginan,"
"Sudah, sudah! lebih baik kamu duduk dan ikut makan, karena kalau makana sendirian papa jadi kurang berselera,"
Rissa pun mengambil bagiannya di dapur, dan kembali lagi dengan piring di tangannya.
Sedangkan Rion, dia berdiri memandang Rissa dan Om Dera secara bergantian.
"Seandainya elu bukan darah daging orang jahat ini, pasti semuanya akan berbeda, Rissa!" Rion berbalik. Dia nggak kuat melihat wajah gadis yang dia sangat rindukan.
Seandainya Rissa bukan anak dari Dera Prayoga, mungkin mereka nggak akan ketemu juga. Rion nggak sadar kalau perasaannya timbul karena melihat Rissa yang gigih untuk melindunginya dengan mengorbankan dirinya sendiri. Rion nggak sadar kalau cibtanua timbul lewat jalur pengorbanan, bukan karena dia ketemu lalu langsung jatuh cinta sama Rissa.
Dua perasaan yang membuat Rion bimbang, antara rasa benci dan cinta yang bagaikan minyak dan air yang kalaupun dipaksa berada di dalam satu wadah yang sama, nggak akan bisa bersatu.
Rion menormalkan nafasnya, dia berbalik melihat wajah Rissa yang tulus merawat papanya yang keliatannya kurang sehat.
Rissa dengan telaten memberikan obat untuk papa nya, dan mengantar pria yang duduk di kursi roda untuk kembali ke kamarnya. Rion mengikuti dari belakang, dengan perasaan yang campur aduk.
"Papa bisa sendiri, kamu istirahatlah..." kata Om Dera yang berpindah dari kursi ke tempat tidurnya.
"Selamat malam, Pah..." Rissa kemudian pergi dari kamar itu dan masih diikuti Rion.
Rissa membereskan piring yang ada di meja, dan mencucinya.
Rion berdiri di samping gadis itu, melihat apa aja yang dilakuinnya. Kali ini setelah selesai beberes di dapur Rissa keluar untuk mengunci pagar dan pintu. Rion ngekorin aja tanpa ngomong sepatah kata pun.
Sampai Rissa masuk ke dalam kamarnya pun Rion mengikutinya, dia berhenti saat Rissa masuk ke dalam kamar mandi. Rion menunggu di depan pintu sampai akhirnya Rissa keluar dengan wajah yang segar.
Gadis itu duduk di ranjangnya, dia mulai mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur. Rion ikut merebahkan dirinya di samping gadis yang kini tidur dengan posisi miring, membuatnya sekarang berhadapan dengan gadisnya.
'Sayangnya gue nggak bisa mengubah takdir, hiduplah dengan baik. Sampai nanti kita bertemu di situasi yang berbeda!' batin Rion.
Dua bola mata yang indah berkedip, Rion nggak sanggup buat nggak meneteskan air matanya.
'Maafin gue yang memilih buat pergi. Gue emang seorang pecundang, karena gue nggak bisa buat melukai banyak orang. Terlebih mami yang udah memperjuangkan hidupnya buat gue,'
'Selamat tinggal, Rissaaaaa!' Rion mengecup sekilas kening Rissa, sebelum dia kembali pada raganya sendiri.
__ADS_1