Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
54 Defne


__ADS_3

Sementara di dunia nyata tersiar kabar ada 7 orang yang dinyatakan hilang dalam kurun waktu 1 dekade, kemudian kembali dan mencari keluarganya.


"Nggak mungkin kan, Mas? Rion bakal ilang selama itu? kenapa dia nggak balik-balik juga?" kata Reva cemas.


Saat ini mami Reva maupun Ridho tinggal untuk sementara waktu di rumah Om Karan. Selain masih ada pak sarmin, kondisi mental mami Reva juga belum stabil. Meskipun kalau nongol tuh Rion, suka  diomelin tapi giliran ilang nangisnya nggak cukup 1 hari. Ya gimana ya, Mam? Anak atu-atunya!


"Berdoa aja, supaya Rion bisa ditemukan. Kita tunggu pak Sarmin kondisinya pulih, kalau aku kan masih muda jadi cepet recovery badannya. Kalau pak Sarmin kan udah sepuh. Kita yang sabar dulu aja, walaupun dalam hati aku juga khawatir sama Rion. Tapi setelah ngeliat Rion sehebat itu, aku sedikit tenang," papi Ridho udah rapi pakai jas, dia mau berangkat kerja.


"Kamu jangan kepikiran Rion terus, coba kamu keluar sama Luri. Jalan kemana gitu, biar pikiran kamu fresh..."


"Nggak ah, aku di rumah aja," mami Reva tiduran aja di kamar.


Papi Ridho matiin tivi di kamar pakai remote, "Jangan nonton terus. Berita akhir-akhir ini kurang bagus..." papi Ridho ngecup kening dan bibir istrinya.


"Aku berangkat, kalau urusan udah kelar, aku langsung balik kesini..." ucap papi Ridho sebelum pergi.


"Hati-hati," ucap lirih mami Reva.


Kebetulan pas papi Ridho pergi, tante Luri ngetok pintu dan masuk ke dalam kamar mami Reva.


"Mbak, aku bawain wedang ronde. Cuaca lagi ekstrem, biar badan mbak anget dan nggak gampang sakit,"tante Luri bawa mangkok putih yang dialasi pisin di tangannya.


"Aduh, kok bawain wedang ronde segala. maaf ya Luri ... aku disini malah ngrepotin kamu sama adek sepupu," kata mami Reva.


"Nggak lah, Mbak. Kita keluarga dan harus saling menguatkan, apalagi dalam kondisi seperti ini..."


"Adek sepupu beruntung punya istri kayak kamu, Luri..." mami Reva memuji ketelatenan Luri. Dia yakin kalau bukan Luri, pasti amburadul tuh rumah tangga. Secara tau ya, Om Karan kayak kulkas modelannya, bossy-marah-marah bae.


'Iya, tapi jauh dalam hatinya dia masih menyimpan nama kamu, Reva...' tante Luri sedikit ngebatin.


Tapi baru juga ngeliat wedang ronde, mami Reva keinget lagi tuh sama Rion, "Kalau dia ada disini, pasti dia serobot nih wedang Ronde. Rion suka banget sama wedang ronde... huaaaaaaa..." mami Reva makan sambil nangis.


"Aduh, maaf, aku nggak ngerti kalau ini kesukaaan Rion," tante Luri jadi merasa nggak enak.


"Nggak apa-apa, hiks .. tapi ini enak kok, makasih ya..." kata mami Reva.

__ADS_1


Habis selese makan wedang ronde yang langsung angetin perut, mami Reva tiba-tiba inget Thalita.


Tante Luri balik lagi ke belakang, entah mau bikin apa lagi dia. Kalau mami Reva, mending diem aja nggak usah acara nggak enak numpang makan di rumah orang, terus pakai acara masak segala. Nggak usah lah ya, daripada bikin dapur orang acak-acakan.


"Halo, Thalita? kamu dimana?" tanya mami Reva.


"Dirumah, Tan..."


"Kamu nggak kuliah?" tanya mami Reva.


"Ada nanti siang,"


"kamu jangan kelayaban ya, tante lagi nggak bisa pulang. Jangan nambahin pikiran tante..." mami Reva ngingetin keponakannya.


"Iya, Tan..."


"Ehm, udah ada kabar tentang abang Rion belum tante?" giliran Thalita yang nanya.


"Sampai detik ini belum ada. Doain ya, supaya Arion cepet ketemu, bisa kumpul lagi sama kita di rumah, hiks..." mami Reva mewek lagi, kalau soal anak mami Reva sungguh lemah.


"Bang Rion pasti bakalan cepet ketemu, soalnya dia nyebelin, Jadi nggak mungkin di terima di dunia lain," Thalita nyoba becandain tantenya.


"Siap tante..."


Sedangkan di dunia antah berantah.


Rion sedang duduk di sebuah rumah, tiga orang memandanginya dengan tatapan aneh. Dia hampir pingsan, makanya dia di bawa ke rumah gadis penggembala domba.


"Kenapa dia berpakaian seperti itu?" tanya seorang pria lebih tua dari papi Ridho.


"Dia ... ehm, dia baru selesai pertunjukan opera," kata gadis itu, menunjuk pakaian Rion yang aneh bin ajaib. Kedua orangtua gadis itu pun ngangguk. tipe-tipe orang desa yang nggak banyak pikiran negatif sama orang, nggak kayak elu, julidin mulu!


"Namun, dia nggak sengaja jalan-jalan disekitar sini dan pingsan karena kekurangan cairan..." lanjut gadis dengan rambut blonde.


"Nama saya Arion," Rion mencoba memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Arion? nama yang aneh," kata si ibuk yang make celemek di badannya, kayaknya dia abis masak.


'Coba kalau ada mami, bisa dikruwes mulut si tante ini...' Rion berucap dalam hatinya.


"Defne, ambilkan beberapa roti untuknya. dan suruhlah dia pergi, karena aku dan peter akan pergi ke ladang..." kata si ibuk, ngusir secara terang-terangan.


"Baik, Bi..." ucap Defne, Rion jadi ngerti nih sekarang. kalau gadis yang ada di hadapannya ini bukan anak dari pasangan suami istri itu.


Setelah paman dan bibi Defne keluar, Defne masuk ke dalam dan mengambil roti yang baru dikeluarkan dari panggangan tradisional dan menghidangkannya buat Rion.


"Makanlah, kamu pasti lapar! wajahmu pucat," kata Defne, nggak ada lembut-lembutnya. Beda sama Rissa yang nggak pernah bersikap ketus padanya.


"Terima kasih, awwwww!" Rion merasakan rotinya masih panas.


"Aku lupa bilang kalau rotinya baru keluar dari panggangan," kata Defne setelahnya.


Karena perutnya udah keroncongan dan kosidahan diwaktu yang bersamaan, Rion pun ogah nanggepin ucapan Defne. Dia melahap roti yang masih fresh itu dengan rakusnya. Bagi Rion, entah sudah berapa abad perutnya nggak dapet asupan.


"Makanlah dengan pelan. kau ini seperti gelandangan yang sudah lama nggak makan enak," sindir Defne, si mata biru.


"Astaga, mulutmu itu seperti cabe setan!" kata Rion kesel dicap gelandangan, kalau bukan karena masuk ke dunia para iblis tentu penampilannya akan selalu menawan dan terawat.


"Apa itu cabe setan? aku baru mendengarnya. apakah sejenis cabai yang dikeramatkan?" tanya Defne.


"Bisa jadi,,,"


Defne manggut-manggut, dia masih ngeliatin Rion yang lagi minum susunya, kesereten dia.


"Setelah makan, kau pergilah..." kata Defne. dan dengan susah payah Rion menelan minumannya sebelum menyahuti ucapan gadis dengan rambut lurus itu.


"Tapi gue nggak punya tempat tinggal..."


"Gue?" Defne mengerutkan keningnya, dia asing dengan kata 'gue' yang selalu Rion ucapkan.


"Maksudnya aku. Anggap saja aku pangeran langit yang  berasal dari khayangan dan terjebak di bumi. Aku sedang mencari temanku, Rissa. Tapi untuk saat ini aku belum memiliki tujuan yang jelas, kemana aku harus pergi. Jadi tolong bantu aku kali ini saja..." Rion menurunkan gengsinya untuk minta tolong pada Defne.

__ADS_1


"Please..." Rion menatap gadis di depannya dengan tatapan mengiba, benar-benar bukan Rion yang sesungguhnya.


"Pergilah, aku akan dapat masalah jika ketauan paman dan bibi," kata Defne ketus.


__ADS_2