Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
64. Sebenernya Kamu Itu Rissa atau Bukan?


__ADS_3

Setelah beberapa saat meninggalkan perempuan yang dia anggap sebagai Rissa, Rion baliki lagi ke kamar itu. Dia ketuk pintu sebelum akhirnya suara Rissa KW menyuruhnya buat masuk.


"Ehem, gimana? apa kepalamu masih pusing?" tanya Rion yang kemudian mendekat. Dia duduk di pinggir ranjang.


"Kepalaku sudah tidak sakit, terima kasih..." kata Rissa.


Dan disitu Rion agak keder, 'Ini Rissa kenapa ngomongnya pakai bahasa baku?' batin Rion.


Tapi ya udahlah Arion nggak mau overthingking cuma gara-gara bahasa yang Rissa gunakan, dia kagak tau aja yang didepannya itu bukanlah Rissa melainkan puteri Markoneng yang kabur dari kerajaan supaya bisa holiday sebagai rakyat jelata.


Tangan Arion mendekat, namun perempuan yang ada di depannya ini agak menjauhkan kepalanya. Tuh kan Rion jadinya mikir kalau Rissa nih mulai aneh.


"Kita harus secepatnya mencari jalan keluar, sebelum kita terjebak disini selamanya," kata Arion.


"Jalan keluar?"


"Jangan bilang kamu nggak mau balik ke alam nyata?" Rion menatap kedua mata Odellia tajam.


"Tentu, tentu kita akan mencari jalan keluar yang kau maksud itu!" Odellia mulai memperhatikan garis wajah Arion.


'Kenapa dia sungguh tampan dan menawan?' batin Odellia. Dia memperhatikan bagaimana cara Rion berbicara dan menatap dirinya.Yeuh Odel, lu mau jadi salah satu member pecinta makhluk yang namanya Arion? bayar iuran anggota dulu gih! kalau nunggak jangan harap bisa gabung sama kita-kita, ehek!


"Gue kira gue nggak bakal ketemu sama elu lagi, Sa..." ucap Rion tiba-tiba melow.


"Akh begitu ya? tapi takdir akhirnya mempertemukan kita kembali, benar kan?" Odellia menggenggam tangan Rion.


Rion ngangguk, "Iya dan gue bakal bawa elu pergi dari sini, Rissa. Elu percaya kan sama gue? walaupun gue udah nggak punya pedang cahaya biru lagi, tapi gue yakin banget kita masih punya kekuatan lain yang bisa bikin kita secepetnya nemuin jalan keluar," Rion merepet panjang lebar, dia menyambut genggaman tangan Odellia yang dia anggap sebagai Rissa.


'Biasanya nggak gini, biasanya ada setrumannya. Kok ini biasa aja?' batin Rion. Ini lagi anaknya mami Reva, emang si Rissa tiang listrik pake ada setrumannya segala.


Mata mereka bertemu dalam satu garis lurus, dan Rion masih mencari apa yang membuat Rissa begitu berubah. Rissa yang dulu bukan Rissa yang sekarang, ehek!


Makin lama itu dua orang makin deket,


Deg!


Jantung Odellia berpacu saat ini.


Sekarang makin deket, dan tinggal satu senti, tiba-tiba kepala Rion mundur ke belakang, "Sorry, Sa. Gue ... gue mau ke depan. Gue mau beli wedang ronde!" kata Rion yang kabur kaburan lagi.

__ADS_1


Sedangkan puteri Odellia cuma bisa melongo, 'lah kenapa dia kabur?' suara hati Odellia.


Sedangkan Rion yang di luar pun megangin dadanya sendiri, "Gue kenapa sih? bukannya ini bukan yang pertama, tapi kok gue ngerasa asing sama Rissa..."


"Atau gue harus bikin hubungan gue sama dia jelas dulu apa ya?" lanjut Rion.


Sementara di sebuah kastil.


Rissa mendadak gelisah, "Kenapa ya? kenapa aku kayak mencemaskan sesuatu..." Rissa bergumam sendiri.


"Jangan-jangan ada hubungannya sama Rion?" Rissa makin gelisah dan malam ini dia nggak bisa tidur dengan nyenyak.


Mungkin daripada nggak bisa tidur, Rissa lebih baik berendam air dingin. Emang nggak ada lawan perempuan yang satu ini, langit belum juga menunjukkan tanda-tanda akan munculnya sang matahari, tapi dia berani-beraninya ketemu sama air.


"Puteri Odellia, cepetan balik lagi kesini. Aku nggak bisa berlama-lama nyamar jadi kamu! aku harus nyari Rion..." Rissa baru kali ini pengen nangis, bukan karena dia lemah tapi dia bingung dengan situasi yang sedang dia hadapi.


"Aku harus mikir gimana caranya keluar dari istana, dan mulai mencari Rion! ah ya, besok ka pangeran Clift mau ngajak aku berkuda. Gimana kalau aku minta jalan-jalan keluar istana, dengan begitu aku bisa sekalian nyari Rion!" Rissa menghapus air matanya, dia kini menenggelamkan dirinya di dalam bak besar penuh dengan taburan bunga, sebelum akhirnya dia kembali kepermukaan untuk mengambil nafas.


Dan nggak jauh beda sama Rion, Rion yang awalnya nunggu nggak jelas di depan penginapan pun mengendap-endap masuk ke dalam. Dan ternyata Odellia yang dia pikir Rissa udah molor. Dan kesempatan ini digunakan Rion buat membersihkan dirinya di kamar mandi.


Badan udah seger, dia ambil tuh apel yang sempet dia beli di pasar. Dan pas dibuka, eng ing eng, apel itu busuk.


Rion pikir buat beli baju buat ganti, tapi setelah menimbang-nimbang. Mungkin uangnya hanya cukup buat bayar penginapan ini, "Ternyata nyari uang susah ya!" gumam Rion. Dengan badan yang udah seger dia jadi kreyep-kreyep, pengen tidur.


Rion yang duduk di kursi kayu pun nggak bisa menahan ngantuknya, lama-lama matanya terpejam juga.


Merasa kalau di ruangan itu dia nggak sendirian, Odellia pun terbangun dan melihat Rion tertidur di kursi yang nggak ada empuk-empuknya.


Odellia yang baru bangun tidur turun dari ranjang dan mendekat pada Arion. Dia menekuk kedua kakinya di lantai dan melihat wajah pemuda tampan di depannya.


"Bahkan wajahmu lebih tanpan daripada pangeran Clift," tanpa sadar tangan Odellia terulur, dia berusaha menyentuh wajah Arion.


"Emmhh!" sebuah tarikan nafas panjang dari Arion membuat Odellia mengurungkan niatnya dia kembali ke ranjang.


Namun tanpa Odellia ketahui, Rion mendengar ucapan gadis itu.


"Siapa pangeran Clift? dan nggak biasanya Rissa begitu agresif, dua nggak pernah menyentuhku lebih dulu," Rion bertanya-tanya.


Dia membuka matanya dan melihat perempuan yang bersamanya kini, kembali ke posisinya semula.

__ADS_1


Rion nggak mau banyak mikir, dia ngejar subuhan dulu. Walaupun lagi-lagi dia nggak tau kemana arah yang benar buat dia bersujud. Tapi Rion yakin, tuhannya lebih mengetahui apa yang dia tidak ketahui.


Dan melihat apa yang dilakukan Arion, Odellia menaikkan satu alisnya, 'Apa yang sedang dilakukannya?' batin Odellia.


Tapi dia kan lagi pura-pura tidur, jadi ya Odellia cuma bisa melirik sedikit apa yang tengah dilakukan pemuda yang bersamanya itu.


Setelah Rion selesai melakukan ibadah, Odellia pura-pura bangun. Padahal mah Rion udah tau kalau dia itu ya udah bangun daritadi.


"Elu udah bangun?" tanya Rion.


"Iya..."


"Mandilah, aku akan keluar..." Rion yang udah ganteng pun keluar lagi nyari udara pagi yang nusuk ke kulit.


"Sebenernya kamu itu Rissa atau bukan?" gumam Rion saat menutup pintu dari luar.


Markoneng pun mengunci pintu, takut ada yanng nyelonong masuk kan bisa berabe urusannya.


Dan Odellia yang nggak biasa mandi dengan air dingin pun hanya membasuh badannya alakadarnya.


"Kenapa dia bisa mandi tengah malam?" Odellia keinget Arion. Dia segera keluar dari kamar mandi buat memakai kembali pakaiannya.


"Astaga, aku baru sadar kalau ada tali yang harus diikat?!" Odellia menengok punggungnya yang tertutupi rambut panjangnya.


Tok!


Tok!


"Rissa? elu udah seleaai mandi?" teriak Arion.


"Ya, sudah!" jawab Rissa KW.


Dia pun segera membuka pintu. Dan terpampang nyata wajah ganteng Arion.


"Kita segera pergi dari sini," ajak Arion.


"Tunggu...!" Odellia menarik Arion masuk.


"Aku tidak bisa mengikatnya, tolong aku..." Odellia berbalik dan menyibak rambut panjangnya.

__ADS_1


__ADS_2