Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
102.Waktunya Mudik ya, Yon!


__ADS_3

Tubuh tua pak Sarmin sengaja di pindah ke kamar yang menjadi tempatnya tidur selama di rumah papi Ridho.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya papi Ridho.


"Bapak hanya terlalu lelah dan kurang istirahat," kata dokter.


"Kalau butuh diinfus, diinfus aja, Dok!" tambah papi Ridho. Dia beneran khawatir dengan kondisi pak Sarmin yang udah tua tapi masih harus direpoti urusan cari mencari orang.


"Ridho, urusan pak Sarmin biar saya yang mengurus. Sekarang kamu dan Reva pergi saja, menjemput Rion! kamu tidak usah khawatir, ada banyak orang disini yabg bisa menjaga pak Sarmin. Rion lebih membutuhkan kalian," ucap Om Karan menepuk pundak pria yang beberapa tahun lebih muda darinya.


"Jemput Rion!" lanjutnya.


"Aku ikut!" Reva mengharap suaminya yang ganteng dan menawan di setiap suasana itu supaya mau ngajakin dia juga.


Papi Ridho ngangguk, seketika terbitlah senyuman di wajah Reva. Senyuman yang udah lama banget nggak Ridho liat semenjak anaknya yang ilang saat mendaki hutan.


Nggak buang waktu lagi, papi Ridho yang sekian hari tiduran terus sementara jiwanya melayang bersama Arion pun diobatin dan dibalut lukanya oleh dokter.


Dia cepetan ganti baju dan siap-siap pergi menjemput Arion bersama mami Reva.


Sedangkan di dalam hutan.


Udah banyak orang yang membantu evakuasi Arion dan Karissa. Berita penemuan dua pendaki yang udah ilang selama hampir 3 bulan itu pun menemukan titik terang.


Rion yang masih belum sadarkan diri dengan masih pakai baju jadul dan lumayan aneh. Begitu juga dengan Rissa yang pakai baju terusan dengan kerutan di bagian lehernya berwarna putih tulang.


Rion dan Rissa yang ditemukan sekelompok pendaki pagi ini, di puncak gunung tempat mereka mau nancepin bendera. Salah satu orang turun dan menghubungi penjaga di pos terakhir yang gercep banget buat nelpon tim penyelamat buat ngangkut tuh dua orang yang tergeletak di atas puncak gunung. Kan terakhir mereka ilang disitu kan, dan dibalikinnya juga disitu juga. Nggak di atas genteng pak RT gitu, ehekk!


Tante Karla yang ngeliat diberita kalau ada dua pendaki yang ditemukan pagi ini pun langsung menghubungi team penyelamat. Dia mau mastiin kalau itu Karissa, anaknya yang juga ilang.  Tante Karla buru-buru keluar sambil nyangking tas.

__ADS_1


"Biyung, Rissa udah ketemu!" ucap tante Karla saking senengnya saat ngeliat bu Wati ada di meja makan bareng Kalila


"Alhamdulillah, akhirnya doa kita terkabul juga, Karla! Rissa bisa ditemukan, alhamdulillah ya Allah..." bu Wati nggak henti-hentinya mengucap syukur.


"Iya, Biyung. Tadi Karla liat tivi dan ada berita kalau ditemukan dua pendaki, laki-laki dan perempuan di puncak gunung dengan kondisi nggak sadar. Karla yakin, Biyung. Kalau dua pendaki itu Rissa dan anaknya Ridho yang bikin sial itu. Makanya, Karla mau kesana buat mastiin pendaki itu Rissa atau bukan. Dan kalau bener, Karla mau bawa dia pulang!" tante Karla merepet daritadi.


"Apa benar Rissa sudah ditemukan?" suara seseorang pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Dia Om Dera Prayoga, papa nya Rissa.


"Mau ketemu atau nggak itu bukan urusan kamu, Mas!" tante Karla mode judes.


"Ya jelas urusan aku, Karla! kamu jangan lupa kalau Rissa juga anakku juga," ucap Om Dera yang kondisi kesehatannya kurang baik.


"Hah, bisa enak banget ngakunya ya!" tante Karla naikin satu sudut bibirnya, nyindir.


"Dan siapa nih yang ngijinin kamu buat nyelonong masuk kesini, Mas? ini bukan rumah kamu ya, jadi tolong jangan keluar masuk seenaknya!"


"Walaupun kalian sudah berpisah, tapi nyatanya kalian masih menjadi orangtua Karissa dan Kalila. Kalian ini contoh dan panutan buat mereka.Tapi kalian malah seperti ini..." Biyung keliatan kecewa banget.


"Maaf, Biyung..." Om Dera nganggukin kepalanya sedikit.


"Biyung tidak pernah ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian berdua. Tapi kali ini kamu harus menurunkan sedikit ego kamu, Karla. Bagaimanapun Nak Dera ini papa nya Rissa, dan dia berhak mengetahui keadaan putrinya..."


Tante Karla langsung kicep ketika ibunya yang emang pendiem kini ngomong panjang kali lebar.


"Udah siang, Karla pamit, Biyung! assalamualaikum..." tante Karla cium tangan ibunya terus capcus pergi.


"Saya pamit juga, Biyung! assalamualaikum," Om Dera ngelakuin hal yang sama dengan mantan istrinya.


"Waalaikumsalam," sahut bu Wati, sembari melihat Om Dera yang ngejar tante Karla keluar.

__ADS_1


"Karla, tunggu...!!" teriak Om Dera. Dia segera masuk ke dalam mobil bersamaan dengan mantan istrinya itu yang duduk di belakang kemudi.


"Heh? ngapain ikut masuk?" tante karla yang mau pasang seatbelt sampe nggak jadi karena matanya melotot ngeliat ke sisi kirinya.


"Aku kan sudah bilang, aku mau ikut liat keadaan Rissa!"


"Terusss? dengan nebeng mobil ini gitu? deuh, kalau miskin, miskin aja nggak usah sok perhatian sama anak tapi nggak ada modalnya sama sekali," tante Karla melirik Om Dera sinis.


"Mobil ini juga aku yang beliin dulu sebagai kado ulang tahun kamu, kan? kalau kamu kaya, kamu juga udah ganti nih mobil yang udah kamu pakai lebih dari 5 tahun," Om Dera dengan nada santai, sambil ngusap dashboard di depannya.


Plak!


Plak!


Plak!


"Keluar! keluar sana!" tante Kara gaplokin mantan suaminya. Tapi tangan itu segera ditangkap Om dera.


"Nanti aku keluar kalau kita udah sampai di tempat Rissa. Iya, emang. Aku udah miskin iya aku udah miskin, puas? tapi ini bukan saatnya buat berdebat maslahin siapa yang miskin siapa yang kaya. Sekarang yang Rissa butuhin orangtuanya, bukan uangnya..." kata Om Dera sok bijak, padahal dia dulu suka menilai orang dari segi duit juga.


"Cih, emangnya dia pikir rumah sakit dibayarnya pakai daun?" gumam tante Karla, Dia pasang seatbelt dan nginjek pedal gas.


Untuk saat ini emang Om Dera lagi jatuh ke dalam jurang kemiskinan, kan emang semua hartanya yang udah ludes karena didapatkan dari hal-hal ghoib yang nggak semestinya. Jadi meskipun harga dirinya terlukai gara-gara ucapan mantan istri yang minim akhlak itu ya udah sih, terima dan tahan-tahanin aja. Yang terpenting dia bisa ketemu sama Rissa, anak yang rela mengorbankan dirinya sendiri untuk keselamatan ayahnya.


Sementara papi Ridho yang menuju titik yang sama dengan Karla pun hatinya sangat bahagia, karena apa yang diperjuangkannya selama beberapa bulan ini membuahkan hasil. Rion akhirnya ketemu juga. Waktunya mudik ya, Yon!


"Masih jauh, sayang! kamu tidur aja,"


"Nggak, Mas! aku takut kalau aku tidur dan aku bangun, terus ternyata semua ini cuma mimpi. Aku nggak mau, Mas. Aku nggak siap untuk itu," mami Reva menatap suaminya yang fokus nyetir.

__ADS_1


__ADS_2