
Hari yang dijanjikan pun tiba...
Hari itu Rion ijin nggak ngantor karena udah diteror mulu sama Thomas. Kalau hari ini mereka mau ketemuan sama orang dari pihak yang mau jadiin dia Brand Ambassador sebuah produk spre. Masih untung project rancangan sebuah gedung yang lagi digarapnya udah selesai, jadi Rion bisa santuy sejenak sambil menunggu project selanjutnya.
Dan tawaran Thomas ini sebenernya nggak banget buat Rion. Karena sejak kapan kang manjat sekarang jadi kang glosoran di atas tempat tidur sambil di poto-poto.
"Lu dimana, Broo?" Thomas nelponin mulu.
"Gue lagi di mobil menuju tempat yang lu udah share lokasinya, kenapa?"
"Kalau lu nelponin terus, gue puter balik nih?!" ancam Rion.
"Astagaaa, nganceman mulu jadi orang! ya udah gue tunggu," kata Thomas.
"Dasar bocah nggak sabaran!" Rion bergumam saat sambungan teleponnya dengan Thomas udah berakhir.
Kebetulan sekarang lagi musim dingin, salju ada dimana-mana. Rion menggunakan mantel berwarna hitam dengan syall yang melilit lehernya.
"Huuufhhhh," Rion meniupkan udara, menghalau rasa dingin yang menusuk kulitnya.
Matanya tetep fokus ngeliat ke jalanan, lalu mobilnya melambat dan berhenti di salah satu restoran yang terkenal disana.
Dengan gagahnya Rion turun dari mobil hadiah dari papi nya. Meskipun udah 5 taun kondiainya masih mulus dan bagus karena Rion pinter ngerawatnya.
Pria itu masuk ke dalam restoran, dan melihat Thomas yang melambaikan tangannya.
"Maaf, membuat anda semua menunggu..." ucap Rion menggunakan bahasag saat sudah sampai di meja Thomas.
Dan raut wajah Rion berubah saat melihat sosok wanita yang ada di hadapannya.
'Ini mustahil?!' ucapnya dalam hati.
Mereka semua berdiri menyambut sang model. Karena perlu kalian ketahui, bukan hanya tahu bulat yang bisa digoreng dadakan, tapi Rion juga bisa disulap jadi model dadakan.
"Arion? are you okay? (Arion? apakah kamu baik-baik ajeee?)" tanya Thomas so cool.
"Sure!" Rion senyum setengah terpaksa.
"Introduce, this is Karissa Laquitta. She is the public relations manager of the golden star company," Thomas memperkenalkan Rissa yang sekarang berhadapan dengan Arion.
"And this man beside me, Arion Putra Menawan. He will be the brand ambassador for your bed linen product, (Dan pria disampingku ini, Arion Putra Menawan Dia yabg akan menjadi brand ambassador produk sprei kalian)" lanjut Thomas.
"Karissa..." Rissa mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"It's a pleasure to meet you (senang berkenalan dengan anda)" ucapnya saat tangannya disambut Rion yang mukanya datar, dia menyembunyikan keterkejutannya di dalam hatinya.
"Thank you for having me! (terima kasih sudah menerimaku)" ucap Rion.
"Sebaiknya kita bicara tidak terlalu formal, silakan duduk!" ucap Thomas. Yeeuuuuuuh, Bang Thom-Thom kan situ yang mulai duluan! pengen kita jitak apa begimana neh?
Mereka semua duduk termasuk satu orang yang mendampingi Karissa.
"Saya dengar anda juga orang Indonesia, jadi mungkin akan lebih nyaman kita bisa menggunakan bahasa. Perkenalkan ini Meisya, dia salah satu team yang akan mendampingi anda selama pengambilan gambar," kata Karissa.
"Meisya..." gadis yang terpaut dua tahun dari Karissa pun mengangguk sopan.
'Jadi dia yang disebut adek sama Thomas? shiiit! kenapa dunia ini begitu sempit?!' Rion bergumam sendiri di dalam hatinya.
"Jadi, kita akan diskusikan bagaimana konsep tvc-nya..." ucap Thomas.
Tapi jujur aja, mata Rion yang setajam elang terus saja menatap wanita yang ada di hadapannya. Wanita yang pembawaannya setenang air dan seakan nggak mengenalinya sama sekali.
Mereka mulai masuk ke dalam obrolan seputar pekerjaan, dn disitu Rion nggak banyak berpendapat. Dia manut aja apa yang diinginkan oleh client yang dalam hal ini diwakilkan oleh Rissa.
"Bagaimana Arion? apa ada tambahan ide lagi? atau kamu sudah cukup nyaman dengan konsep yang kita bicarakan ini?" tanya Thomas.
"Tidak ada," kata Rion datar.
"Baiklah, saya kira semuanya sudah deal. Jadi, bagaimana jika besok kita sudah mulai untuk pengambilan gambar?" tanya Thomas pada client nya.
"Baiklah, kita deal Nona. Saya akan jamin, anda tidak akan menyesal bekerja sama dengan kami," Thomas menjabat tangan Karissa.
Rion hanya melirik tangan yang terpaut itu sekilas, kemudian dia menormalkan kembali pandangannya ketika jabatan tangan itu terlepas.
"Sepertinya pembahasan kita sudah selesai, jadi kau tidak perlu tegang seperti itu, Rion!" Thomas mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi udah kayak sidang paripurna.
Thomas melambaikan tangannya, "Please take our order! (tolong bawakan pesanan kami!)"
"Yes, Sir! (Baik, Tuan!)" ucap si pelayan pria.
Beberapa saat kemudian, makanan pun datang.
"Maaf, kita udah pesenin kamu makanan Arion. Soalnya kamu lamaaaa!" kata Thomas yang tumben-tumbenan pake kata 'kamu', niasanya juga 'elu-elu bae'.
"Santai aja!" Rion mencoba untuk teraenyum, meskipun berat.
"Oh ya, Rissa. Arion ini sahabatku selama merantau di negeri ini..." Rhomas mulai membicarakan hal-hal di luar pekerjaan.
__ADS_1
"Oh begitu," Rissa hanya menanggapinya dengan senyuman lembut. Wanita itu seakan baru berjumpa dengan Arion.
'Acting lu sangat luar biasa, Rissa. Bisa-bisanya tatapan mata itu seolah nggak pernah kenal sama gue!'
'Atau jangan-jangan dia amnesia gara-gara nyebrang dunia ghoib bareng gue?'
'Ah, nggak mungkin! nggak mungkin dia amnesia! buktinya gue, mami sama papi kan nggak amnesia juga! ini pasti dia cuma pura-pura nggak ngenalin gue!
Rion terus aja bergumam di dalam bayinnya yang terdalam, dampai nggak sadar kalau dia tetus menggulung pastanya tanpa ada niatan buat dimakan.
"Sampai kapan kamu menggulung pasta itu, Arion?"
"Sampai aku ingin memakannya," Rion mengurangi gulungan pasta nya dan menyuapkan ke dalam mulut.
"Kamu suka makanannya, Meisya?" pandangan Thomas beralih pada gadis disamping Rissa.
"Suka, Pak..." Meisya berusaha sesopan mungkin.
"Syukurlah, kalau begitu!"
Sedangkan Thomas yang ngeliat Rissa nggak kelar- kelar ngiris steaknya pun berinisiatif mengambil piring gadis itu dan menukarnya dengan piringnya yang udah diiris semua dagingnya.
"Makanlah..." kaya Thomas yang mencoba bersikap manis.
'Cih, kenapa aku yang dipesankan pasta! sedangkan mereka berdua maka steak! dasar kang modus!' Rion terus aja mengumpat Thomas.
"Terima kasih," Rissa memberikan senyumannya yang manis pada Thomas.
'Sedeket apa sih mereka? kenapa gue baru tau kalau Thomas deket sama cewek Indo? aiiishhhh, kalau gue tau orang yang bakalan gue temui Rissa. Gue nggak bakalan mau nerima tawaran konyol ini!' Rion makan dengan hati yang terpantau gagal move on.
Beberapa kali Thomas melemparkan candaan, baik Rissa maupun Meisya tertawa mendengar cerita lucu dari Thomas. Hanya Rion yang lempeng aja kayak jalan tol. Bahkan Rissa ngeliat aja nggak, dia fokus dengan cerita lucu yang dilontarkan Thomas.
Sampai akhirnya makan siang itu pun berakhir juga.
"Arion, gue mau nganterin Rissa dan juga Meisya!" bisik Thomas saat di parkiran.
"Hem," Rion cuma berdehem.
"Kami duluan," kaya Rissa menundukkan sekilas kepalanya, memberi salam terakhir pada Arion.
"Hati-hati," lirih Rion di tengah udara di luar sangat dingin, sedingin hati Rion saat ini.
Ketika Rissa, Meisya dan juga Thomas yang masuk ke dalam satu mobil, Rion masuk ke dalam mobilnya sendiri.
__ADS_1
Mobil Thomas perlahan menjauh dari area restoran, diikuti dengan mobil Rion di belakangnya.
"Kenapa gue jadi ngikutin mereka?!!" gumam Rion.