Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
140. Danau Beku


__ADS_3

Rion tahan rasa penasarannya sampai akhirnya dia ketiduran. Dan Rion kebangun saat denger suara pintu mobil yang ditutup.


Brukkkkk!


Pria itu menegakkan duduknya, dan mencoba beradaptasi dengan lampu di dalam campervan.


"Ya ampun, aku ketiduran!" Rion mengerjapkan matanya, sesekali dia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Tega banget dia nggak ngebangunin gue!" Rion jadi kesel sendiri karena Rissa dengan tega meninggalkannya di dalam mobil van.


Dia pun keluar dari mobil.


Ternyata mobil mereka berhenti tepat di depan danau beku. Danau yang membeku dan biasanya digunakan buat orang-orang main ice skating di musim dingin seperti sekarang ini.


Tanpa mengenal rasa kasihan, udara dingin langsung menyapanya, saat dirinya turun dari mobil. Dari kejauhan terlihat Rissa bersama Thomas.


"Udah nyampe aja tuh orang?! cepet banget?" gumam Rion, dia berusaha menetralkan perasaannya yang kacau balau.


Pria itu mengedarkan pandangan dan menemukan mobilnya terparkir nggak jauh dari mobil van yang ditumpanginya tadi.


Rion rogoh saku di mantel bulu-bulunya, dia meraih sebuah kain rajutan yang akan melindungi tangamnya dari dinginnya es.


"Ariooon?!!" seru Thomas yang ngeliat sahabatnya lagi pakai sarung tangan.


Rion menghampiri Thomas yang menyematkan sebuah penutup kepala dari bahan rajutan pada Rissa. Dan hal itu membuat Rion nggak suka.


"Mau ngapain kita kesini? apa syutingnya masih lanjut? bukannya semuanya udah selesai? kenapa kamu bilang kitaasih ada pekerjaan?" asap putih keluar dari mulut Rion saat dia ngomong sama Thomas. Dia mencecar pria yang kini memasukkan tangannya ke dalam saku mantel berwarna hitam.


"Iya, kalau bukan soal pekerjaan mana mau seorang Arion bersenang-senang?" kata Thomas.


"Kita main ice skating!" lanjut pria yang masih punya darah blasteran itu.


'Ya gue juga tau. Kalau disini ya buat main ice skating! nggak mungkin kan kita mau main gundu di danau beku? think smart dong, Thomassssss' Rion ngedumel dalam hati.


"Aku udah sewain peralatannya!' Thomas menunjuk sebuah tempat yang mungkin dia udah nyiapin semuanya disana.


"Gue nggak mau! elu aja!" Rion balik badan tapi segera ditarik mantelnya sama Thomas. Dia membawa Arion agak menjauh dari Rissa dan Meisya yang kini disamperin sama kru lain yang kebetulan diajak sama Thomas.


"Kasian mereka, dateng kesini cuma buat kerja. Ini ibarat sekalian menyelam minum air---"


"Kembung dong!" serobot Rion.


"Itu istilah aja Arioooon!" Thomas gemes.


"Bantuin gue lah, gue pengen nyenengin dia. Nggak mungkin juga gue main ice skating bertiga, kasian Meisya cuma jadi obat nyamuk!" Thomas merangkul bahu Rion.


"Jangan rangkul-rangkulan, gue masih suka cewek!" Rion melepaskan tangan laknat Thomas.


"Ya gue jugaasih suka cewek, elu pikir gue----"

__ADS_1


"Gue udah selesein kerjaan, sekarang mana kunci mobil gue? gue mau pulang! gue nggak suka buang-buang waktu buat main!" Arion tetep pengen balik, hati dia nggak cukup kuat buat ngeliat Rissa dideketin sahabatnya sendiri.


"Ayolah, Arion----"


"Mana kunci?!" Rion menengadahkan tangannya.


"Main dulu sama kita disini!"


"Jangan sampe gue ambil paksa dari kantong elu, yaaaa?" Rion ngancem.


Sedangkan matanya ngeliat Rissa yang menghampiri seseorang yang membawakan sepatu khusus buat mereka menari diatas danau yang membeku.


Thomas yang ngeliat orang suruhannya membawa sepatu yang mereka sewa pun pergi ninggalin Rion.


Rion yang menyadari itu pun mengejar Thomas, "Heeeehhh, Thomaaaas!"


Thomasengabaikan teriakan sahabatnya. dia nyuruh Rissa buat duduk di sebuah kursi kayu dan memakai sepatunya.


"Semoga ngepas ya," Thomas membantu Rissa pskai sepatu.


Sedangkan Rion udah jengah banget ngeliat adegan yang menguras bak mandi, eh menguras emosi.


"Nih punya kamu!" ucap Thomas ngasih sepatu sama Rion.


Tapi Rion ogah nerima, "Aku nggak bisa! kalian aja yang main, aku duduk disini!"


'Sejak kapan gue bisa berdiri di atas seoatu yang lancipnya kayak pisau?' batin Rion.


Rion tuh ngerasa kalau, dia lebih baik pergi dari tempat itu, feelingnya udah nggak enak.


Sementara Mesya dan Risa yang jalan udah kayak pinguin, Thomas masih sok gentle dengan pegangin tangan Rissa buar dia nggak jatuh.


Suasana sebenernya rame, cuma ini mau menjelang sore jadi banyak yang udah pulang. Cuma orang kurang kerjaan yang main saat matahari mulai meredup.


Rion cuma melupat tangannya sambil terus memperhatikan Rissa yang menari-nari di atas danau yang licin dilapisi es yang tebal. Saking dinginnya tuh air danau sampai jadi kayak es batu.


Tapi mereka nggak tau kalau ada air di bawah lempengan es yang mereka pijak.


Angin berhembus membuatRion mendekap dirinya sendiri, tanpa sadar satu persatu orang telah meninggalkan tempat itu. Sedangkan Thomas, Rissa, Meisya dan beberapa orang kru yang ikut saat syuting iklan pun masih ketawa ketiwi, beberapa diantara mereka sampai jatuh karena saking licin dan berdiri dengan keseimbangan yang buruk.


"Perasaan gue nggak enak banget!" Rion kini berdiri dan berusaha memanggil Thomas.


"Udah sore, mereka nggak pengen pulang apa?!" Rion maju beberapa langkah.


"Thom, Thomaaaass?!" teriak Rion.


"Sini, Arion?!" Thomas malah melambaikan tangannya nyuruh Rion mendekat.


Rion mendongak, langit terlihat makin gelap, angin berhembus dinginnya sampai ke tulang-tulang.

__ADS_1


"Kunci mobil, Thom?!" Rion mendekat meminta kunci mobilnya.


Braaakkkkk!


Rion terpeleset, karena dia main jalan aja nggak ganti sepatu khusus.


"Aaawwwwkhh?!!"Rion mengusap pinggangnya yang sakit.


"Hahahahaha," Thomas malah ngetawain, tuh orang kemudian mendekat membantu Rion buat berdiri, "Kenapa lu?"


"Puas lu yaaak?!" Rion misuh-misuh.


"Udah sore, gue mau balik!" Rion keukeuh minta kunci mobil.


Namun tiba-tiba....


Sreeeettt!


Dari arah belakang Rion merasakan ada sebuah benda yang mengarah padanya, "Awasssss!" Rion mendorong Thomas ke arah samping kananya. Baik Rion maupun Thomas jatuh karena gerakan mereka yang refleks menghindar.


Jleeeepp!!


Sebuah pisau menancap di lapisan es.


"Astagaaaa, hampir saja!" Thomas mengusap dadanya.


Tapi Rion berpikir lain, siapa yang berani-beraninya melempar sebuah mata pisau ke arahnya. Mata elang Arion menelisik ke arah sekitar, sementara tangannya membantu Thomas untuk berdiri.


"Gila, siapa yang ngelempar barang tajem kayak gitu?" Thomas mau mendekati mata pisau yang tertancap di bongkahan es.


"Thomasss?! kamu nggak apa-apa?" Rissa terlihat sangat khawatir.


'Thomas?' Rion menaikkan satu sudut bibirnya.


'C'mon, Arioooooon! elu itu bukan siapa-siapanya Rissa. Elu nggak berhak marah...' Rion kembali berucap dalam hatinya.


"Nggak apa-apa, kita cuma kepleset ajah!" teriak Thomas.


"Sebaiknya kita kesana, ajak mereka balik!" Thomas nengok ke arah Rion.


Kali ini wajah Rion begiti tegang saat menyadari sesuatu.


Krekkk!


Krekkk!


Krekkk!


Ada satu bunyi yang membuat Rion membulatkan matanya.

__ADS_1


"RISSAAAA MENYINGKIRLAH DARI SANAAAAAAA?!!" teriak Rion histeris.


__ADS_2