Masih Dikejar Setan

Masih Dikejar Setan
30. Belum Terjawab


__ADS_3

"Jadi kamu itu Rissa atau Lorenza?" suara Rion tiba-tiba di belakang Loren.


Gadis itu terdiam sesaat, sebelum akhirnya berdiri dan berbalik dengan wajah datarnya, "Ya...?"


"Bilang sejujurnya tentang siapa elu sebenarnya! Rissa atau Lorenza?" Rion menatap Loren tajam.


"Apa itu penting dalam keadaan seperti ini?" Loren balik bertanya.


"Apa susahnya menjawab pertanyaan gue? sampai kapan lu mau nyamar jadi Loren?" Rion agaknya terpancing esmosinya. Ya kayak emak elu yang lagi emosi sama kelakuan elu, Rion!


"Dengan kekuatan dan sihir yang elu punya, gue nggak heran gimana Adam bisa ngira elu itu Lorenza, padahal bukan," kata Rion.


Tatapan Lorenza yang datar, membuat Rion seketika merasa bersalah. Karena kesannya dia tuh lagi mengintrogasi seorang penjahat, padahal gadis itu yang membantunya mengenali diri sendiri.


"Terserah mana yang kamu percayai, Rion!" kata Loren, dia menengok ke belakang dan menggerakkan tangannya, api unggun itu padam seketika.


Rion kira gadis itu akan dengan mudah bilang siapa dirinya yang sebenernya, tapi nggak semudah itu buldozer!


Sekarang Rion ditinggalin gitu aja di luar, dengan segala pertanyaan di kepalanya yang belum terjawab.


Laki-laki itu pun hanya bisa membuang napas kasar, sebelum dia juga kembali masuk ke dalam tendanya.


Suara demit saling sahut bersahutan, nggak tau siapa yang lagi ngelawak. Tapi suara ketawa itu bikin kuping Rion beneran pengeng.


Area tenda nggak tau keapa udah kayak pasar kaget yang isinya Etan-Etan Lucknut. Bikin Rion yang puyeng mikirin Loren, tambah puyeng dengerin cuitan mereka yang bilang kalau sebentar lagi mereka akan satu dimensi bersama Rion. Yeuuuuh, ngehalu lu?


Segala yang ada dipikiran Rion bikin laki-laki itu nggak bisa tidur sama sekali malem ini. Jadi pas dia ngeliat Loren lagi duduk sendirian di depan api unggun itu, posisinya emang Rion belum tidur. Dia lagi main game sendirian di dalem tenda, ngusir perasaan yang nggak enak yang menggelayut di dalam hatinya.


Awalnya dia pikir, mungkin semua itu karena dia pergi tanpa pamit. Dan dia nonaktifin nomor hapenya dan beli sim baru, supaya nggak bisa ditelfon mami papinya.


Dan sekarang setelah mergokin Loren bicara sama seseorang yang menjelma menjadi asap, Rion makin nggak bisa tidur.


Dia meletakkan hapenya dan mengambil kalung berbentuk pedang, "Satu-satunya cewek yang bikin gue penasaran sampai ke ubun-ubun! apa yang bikin dia harus pakai acara nyamar kayak gitu?" batin Rion bertanya-tanya.


"Aarggh, lu bikin gue frustasi tau, nggak?!!" Rion kelepasan ngomong.


"Thalitaaaaaaaaa kita ke pasar, yuk?!" tiba-tiba Eza meluk dia kayak guling.

__ADS_1


Rion sontak mendorong Eza ke arah Slamet, "Thalita noh, Thalitaaaaa!"


"Ngagetin orang aja!" Rion ngedumel.


Dan pagi-pagi banget, mereka semua sarapan dengan apa yang mereka bawa dari rumah. Nggak ada yang niat buat masak, irit tenaga katanya.


"Hoaaaamphh, gue dong, Bang!" Telolet minta dibuatin minuman cokelat panas punya Rion.


"Buat sendiri!" sahut Rion yang menatap gadis disamping Telolet yang anteng aja minum air putihnya.


"Bidadariku pengen minum cokelat panas? bang Eza akan siapkan segera!" ucap Eza menyentuh dadanya, seakan sedang berbicara pada ratunya. Yang lain berasa mual liat kelakuan Eza yang moduuuuus bae.


"Ya, bikin dua yak? buat gue sama Loren..." Thalita malah kayak ngeladenin tuh manusia yang kegirangan. Eza menyentuh rambutnya, seakan dia pria menawan yang diperebutkan dua wanita yang pengen cokelat panas.


Dia ngambil cokelat sachet punya Rion, nggak modal banget emang tuh orang. Lah dia ngopi tuh aja hasil menyabotase kopi sachetnya Rion. Lagi sibuk bikin minuman, eh ada suara sumbang nyamber di telinganya.


"Za, gue juga cappucino dua. Buat gue sama Adam!" Slamet nyeletuk.


"Lu kira gue tukang kopi keliling? main pesen aja! bikin ndiriii!" Eza merepet.


Slamet yang emang niatnya cuma bikin Eza kesel, tertawa puas melihat raut wajah Eza yang dongkol.


"Roti..." Thalita nyodorin roti yang dia bawa pada Loren.


Loren menggeleng, "Buat kamu aja. Aku nggak biasa sarapan,"


"Tapi kita bakalan naik, ntar elu bisa pingsan kalau nggak makan..." ucap Telolet yang kali ini ada benernya juga loh.


"Silakan bidadarikuuuh!" Eza menyodorkan dua cup minuman buat Thalita.


"Makasih bang Ezaaaaaaa, bang Eza emang therbaekk deh..." Telolet sok manis.


Eza menyisir rambutnya dengan jari tangan, "Apa sih yang nggak, buat elu Thalita? jangankan cokelat panas. Elu minta segenap cinta dan hati gue aja, bakalan gue kasih semua!"


"Zaa, udah udah. Yang lain udah pada enek, kasian takutnya pada gumoh pagi-pagi..." Devan nyeletuk.


"Muke lu bikin gumoh! bikin esmosi deh!" Eza menimpali.

__ADS_1


Rion terlalu fokus sama Loren, yang duduk agak jauh nih dari dia sampai dia nggak ngeh kalau Mova nawarin dia cemilan.


"Rion...?" Mova manggil sang ketua.


Rion menggeleng, "Gue nggak biasa ngemil!"


"Tapi lu kan daritadi cuma minum doang,"


"Gue mau siapin tas gue dulu, Mov..." Rion ninggalin mereka yang lagi pada menikmati sarapan pagi di bawah langit subuh.


Sejak terakhir Rion ngomong sama Loren, aampai setik ini mereka berdua belum saling tegur sapa, bahkan buat sekedar bilang good mowning.


Kwaaaaak!


Kwaaaaak!


Kali ini kedengeran suara burung gagak yang aneh banget tiba-tiba muncul dan bikin Slamet lagi-lagi berkomentar.


"Kemarin burung kedasih, sekarang burung gagak? besok burung apalagi? kabar buruk apa yang bakal kita terima?"


"Lu ribet banget sih masalah burung? kita lagi di alam bebas jadi wajar ada banyak burung. Kecuali lu lagi di kosan sempit lu itu, ada burung yang nyamperin elu, nah baru itu patut dipertanyakan!" Adam nyeruput minuman panasnya yang masih ngebul.


"Ini kita kenapa bangun sepagi ini sih? nggak mungkin kan mau lanjutin pendakian pagi-pagi kayak gini? bisa menggigil gue! mana lagi dingin-dinginnya," tanya Telolet entah sama siapa.


"Karena bentar lagi kita mau liat sunrise! itu juga kalau kekejar!" Galuh menyahuti ucapan Thalita.


"Kaki lu udah sembuh?" Thalita nanya sama Loren, walaupun menyebalkan ternyata Thalita orangnya care juga sama temen.


"Udah kok. udah sembuh..." Loren menyahut, dia tau Mova sedang mengamatinya.


Dan mereka pun segera nyiapin tas, beberapa saat setelah Rion ngumumin kalau mereka bakal manjat sebentar lagi.


"Tendanya nggak di beresin?" tanya Telolet pada Eza.


"Biarin aja, nanti kita juga balik lagi kesini..."kata Eza yang nggak tau kenapa perasaannya jadi nggak enak. Padahal biasanya Eza bakal ngegombal dan modusin cewek setiap ada kesempatan.


"Ini nih pasti gara-gara Slamet yang kebanyakan ngomongin tahayul nih!" gumam Eza.

__ADS_1


Tanpa Rion sadari ada sesosok yang memperhatikannya dari jauh, "Sebentar lagi kita akan bertemu, Arioooon!"


__ADS_2