
Sementara dilain tempat dan situasi.
Om Karan langsung capcus ke rumah milik Reva dan Ridho.
Di ngetuk pintu dan memencet bel beberapa kali.
Dan setelah beberapa saat akhirnya pintu dibuka oleh mbak Rina.
"Rionnya sudah pulang?" Om Karan langsung todong mbak Rina dengan pertanyaan yang bikin dia bingung.
"Saya harus gimana ya?" batin mbak Rina.
Om Karan yang emang udah sering riwa-riwi kesini nggak segan-segan buat duduk tanpa ditawari, ala ala big bos gitu!
Apalagi mbak Rina kerja disini udah lebih dari 20 tahun, udah pasti hapal kerabat dan saudara majikannya.
"Bilang sama Rion, saya tunggu disini. Saya mau ajak dia keluar," Om Karan dengan tatapan datar tapi mencekam.
"Mbak Rina? tolong panggilkan Rion!" panggilan Om Karan membuyarkan sang ART.
"Begini, Pak..." Mbak Rina tampak ragu untuk menjawab.
"Dia tidak ada di rumah?" serobot Om Karan.
"Iya, Pak..."
"Kemana?"
"Saya tidak tau kemana, yang pasti Den Rion perginya dengan mbak Thalita. Pada bawa tas ransel gede!" mbak Rina gugup.
"Thalita? Thalita keponakannya Reva?"
"Betul, Pak..."
"Ya, Tuhan ... apa jangan-jangan Rion pergi untuk acara yang dia bilang tempo hari?" gumam Om Karan dalam hatinya.
Alhasil tambah puyeng itu kepala.
"Apa mereka pergi untuk mendaki gunung?" tanya pak Karan.
Pasalnya mbak Rina udah janji sama Thalita kalau dia nggak akan bilang ke siapapun pergi buat ikutan naik gunung sama Rion.
"Saya tidak tau, Pak..." Mbak Rina tertunduk. Dia serba salah.
"Cuaca sedang extreme akhir-akhir ini, apa Mbak mau tanggung jawab kalau ada apa-apa dengan mereka?!!" suara Om Karan naik kayak bledeg.
"Maaf, Pak. I-iya me-reka sedang naik gunung, Pak. T-tapi saya tidak tau t-tempat yang mereka t-tuju!" mbak Rina akhirnya mengaku.
__ADS_1
"Astagaaaa, Riooon!" seketika Om Karan kepalanya nyut-nyutan.
"Anak itu benar-benar nekat!" batinnya.
Karan Perkasa milih buat nggak mengabari pada Reva perihal anaknya yang kabur manjat gunung. Kalau Reva sampai tau, Karan yakin kalau wanita itu bakal kedebag-kedebug disana.
"Ya sudah, saya pamit!" Om Karan vangkit dari duduknya dan pergi dari rumah itu.
Dia masuk ke dalam mobilnya.
"Halo? Ridho?" Om Karan menelepon Ridho, dia menjelaskan apa yang dilakukan anaknya, Arion, "Tadi Reva nelfon saya, minta tolong buat ngecek keadaan Rion, tapi anak kalian itu nggak ada di rumah. Dia pergi mendaki gunung bersama Thalita, keponakan kalian!"
"Astagaaaaaa, anak itu!" Ridho nggak kalah puyeng. Pantas saja, perasaannya nggak tenang dari kemarin ternyata anaknya itu pergi untuk mencari bahaya.
"Saya akan segera pulang! saya punya firasat buruk," lanjut papi Ridho.
"Saya akan bantu cari Rion. Kalau bisa jangan beritahu Reva dulu, dia pasti akan sangat khawatir!" kata Om Karan.
"Pasti! terima kasih atas bantuannya," ucap Ridho.
"Hem, sama-sama!" sahut pak Karan sesaat sebelum menutup panggilan.
Namun ternyata, Papi Ridho yang mengira istrinya masih di dalam kamar mandi, dia sudah ada di belakangnya.
"Bantuan apa?" tanya mami Reva, membuat papi Ridho kaget. Dia memutar badannya, melihat istrinya yang sudah memakai piyamanya.
"Astaga, sejak kapan kamu muncul disitu, Sayang?"
Papi Ridho komat-kamit dalam hati, "Kamu harus kuat, Ridho!" ucap Ridho ngingetin dirinya sendiri supaya nggak bocor masalah Rion.
Mami Reva berjalan perlahan, dan papi Ridho pun mundur ke belakang.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku, hem? nggak semudah itu kau membohongiku buldozeerr!!!! tidaak Ridho tidaaaakkk, aku akan bikin kamu ngomong jujur!" batin mami Reva. Dia menatap suaminya dengan tatapan lain.
"Oh ya, sepertinya malam ini...." mami Reva memainkan intonasinya, seakan mengajak suaminya untuk berlatih taekwondo di atas kasur.
"Malam ini apa?" papi Ridho menelan salivanya saat istrinya menjulurkan tangannya, dia memainkan kacing piyama milik papi Ridho.
Papi Ridho sungguh lemah dalam keadaan seperti ini.
Dan ketika tangan kekarnya hampir menyentuh pinggang istrinya, Mami Reva sudah berhasil merebut hape sang suami, "Berhasil!" teriaknya.
Mami Reva berbalik dan ngeloyor pergi ke kamar mandi dan nggak lupa menguncinya dari dalam.
Papi Ridho yang baru sadar kalau hapenya direbut pun auto ketar-ketir, "Astagaaa, aku kira dia mau ngajak latihan taekwondo atau pencak silat, ternyata dia .... arrghhhh, licik sekali wanita ituuuh!" Ridho ngejar istrinya.
Dia gedor-gedor kamar mandi.
__ADS_1
Brakkkk!
Braaakk!
"Sayang? kamu ngapain di dalem?" pertanyaan bodoh meluncur dari bibir kangmas.
"Bego banget kamu, Ridhoooo! ngapain kau tanya kayak gitu!" papi Ridho geplak kepalanya sendiri.
"Kamu tuh mencurigakan, makanya AKU MAU NGECEK SIAPA YANG NELPON KAMU TADI...!!!" suara mami Reva puol kencengnya.
Mami Reva langsung buka hape kangmasnya, dia udah hafal polanya, jadi dengan sangat mudah dia akan tau siapa orang yang menelepon suaminya tadi, "Pak Karan?" Reva menyebutkan nama kontak yang tertera dalam riwayat panggilan.
"Ngapain dia telpon-telponan sama Dedek Karan? nggak biasanya!" gumam mami Reva.
"Sayaaaaangggg? Sayaaaaang?" papi Ridho masih gedar-gedor pintu.
Dan...
Ceklek.
Mami Reva keluar dari sana.
"Apa?" mami Reva naikin satu alisnya saat tangan suaminya mau ngambil hape yang dipegangnya.
"Nggak apa-apa,"
"Ngapain kamu telfon pak Karan?" mami Reva masih belum move on dari panggilannya dari dulu.
"Nggak ada apa-apa, cuma---"
"Aku nggak suka dibohongi!" mami Reva menatap suaminya.
Papi Ridho menghela nafasnya sebelum ngomong, "Rion...."
"Kenapa Rion?"
"Rion lagi naik-naik ke puncak gunung, tinggi ... tinggi syekaliiih!" jelas papi Ridho.
"APAAAAAA??? NAIK GUNUNG?" teriakan mami Reva bikin kuping papi Ridho ngang ngung pengeng bangeeeet.
"Iya, tapi lagi dicari sama pak Karan kok! tenang aja!" papi Ridho memegang kedua bahu mami Reva, berusaha nenagin wanita itu.
"DICARI GIMANAAA?" mami Reva frustasi banget mikirin Rion yang lagi nyari masyalah.
"Kamu tenang dulu, aku yakin Rion bakalan baik-baik aja. Dia pasti bisa jaga diri," papi Ridho merangkul istrinya, dia ngarahin mami Reva buat duduk di tempat tidur.
"Bisa jaga diri gimanaa? kamu tau kan? gimana bahayanya naik gunung? gimana kalau ada apa-apa sama Rion? apalagi Rion itu peka dengan hal-hal ghoib! astagaaa, sejak kapan dia ikut kegiatan mendaki seperti itu?" mami Reva merepet.
__ADS_1
"Nggak, nggak bisa. Pokoknya kita harus terbang ke Indonesia, malam ini juga! kita harus cari Rion, dia anakku satu-satunya! aku nggak mau terjadi hal buruk sama dia!" mami Reva berdiri, dia mu nyiapin koper.
"Astagaaaa, Rioooon! kamu mulai aktif ya, Naak? bikin papi mami mu pusing begini!" papi Ridho mau nggak mau terima nasib.